Thursday, December 23, 2010

kamu: ditunggu aku.

jingga.
siang.
senja.
malam.


satu lagi berlalu,
berapa sisanya hingga aku bisa mencumbu?

Friday, December 17, 2010

satu terakhir, sayang

keluarkan semuanya... jangan ada yang disimpan sendiri lagi”, lalu tangan itu memelukku erat.

Berapa lama lagi sisa waktunya? Benarkah hari ini sudah tiba? Aku meracau sendiri di dalam hatiku, masih tidak terima. Masih tidak tahu apa yang harus kulakukan agar waktu mau berdamai denganku dan berjalan lebih lambat. Sedikit saja. Sedikit lagi saja biarkan aku bersamanya.

Aku mendekapkan diriku lebih dalam lagi di pelukkannya yang sebentar lagi hanya akan menjadi sisa sisa bayang dari semua kenang yang akan terbungkus rapi di dalam brankas memori. Sebuah dekap yang sebentar lagi hanya akan menjadi cerita cerita yang menggoda untuk kembali di buka, namun akan memancing sedemikian banyak tetes air mata. Kenangan. Tentang dekapan.

Aku tak berkata apa-apa sepanjang perjalanan. Biarkan diam yang menyampaikan semua pesan kehilangan. Aku hanya ingin menghabiskannya dengan sebuah dekapan, dan menurutku... semua itu sudah cukup menggambarkan apa yang kita inginkan. Langit ikut menangiskan kepergianmu. Entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi selepas kau terbang menuju pulau di seberang.

Apa aku masih sanggup membuka mata?
Apakah aku masih bisa menghirup wanginya udara tanpa feromonmu yang terus menggodaku untuk selalu ada di sekitarmu?
Masihkah aku tertawa lepas seperti ketika kau melontarkan sepotong jenaka?

Bis ini berjalan teralu cepat, waktu juga serasa berlari.
Tunggu... tunggu... sebentar saja... aku belum puas mendekapnya...
Mengapa kita sudah sampai di terminal dua?

Sepuluh menit serasa sekejap mata, lalu kau datang dengan senyum yang tak dapat lagi kuartikan... lalu hanya lantai yang menjadi saksi kebisuan kita, seraya tangan kita tak ingin saling melepaskan, juga demikian adanya hati ini meneriakkan tak ingin adanya perpisahan.
Tapi sudah tiba waktunya... pukul lima, dan bis putih itu tiba,
Satu kecup saja sayang...

Dan laut pun resmi menjadi batas diantara kita.
Esok, tolong rambatkan suara.. agar aku tahu, kau baik-baik saja. Kita baik-baik saja.
Dan katakan, sampai jumpa... bukan selamat tinggal atau sejenisnya.




**

Monday, November 1, 2010

(pura-pura) mati suri - versi puisi

semaikan sepucuk mawar tanpa duri
jua beberapa kuntum melati
diantara pecahan dan keping rapuh hati
lain kali kita kembali menikmati wawangi sebuah memori

aku sedang mati,
mengamini doa penghantar jiwa ke surgawi
jangan ditangisi
tunggu saja, aku nanti kembali

tak juga kau lepaskan sebuah genggam
kau juga ingin sebuah senyuman
Lalu kau berikan sebuah dekapan
kesukaanku disepanjang perjalanan

sayang,
aku cuma mati suri
tunggu sebersit mentari
untuk bukamata dan menikmati denyut nadi
menapak misteri beriringan dengan jejak kita yang tak selalu berseri

hingga nanti,
setelah bermasa kita mengikat janji menikmati benci
mencipta bayi-bayi,
akhirnya kita berdua benar-benar dijemput mati, yang tidak lagi suri.

pura-pura mati suri

kamu seperti secercah kasa yang menghentikan aliran darah dari lukaku yang membelah arteri hingga aku nyaris kehilangan nadi. sebelum aku mati, sempatkan aku menikmati sebuah belaian.

nyatanya, stiap kata adalah doa yang tercurah, kita akan berpisah. namun aku kan tetap masih berkisah, tentang keelokan. kamu. aku. kita. cinta. atau bahkan keelokan penderitaan perpisahan.

meski lautan biru itu menantang mautku, sungguh aku tunggu detik yang sedang memburu nafsu rindu yang rimbun dan jadi purba di penghujung masa.

memangsa aku yang semakin nelangsa menanti menit untuk sedikit mengulum lipatan bibirmu yang kuapit dengan sepasang kata sayang yang merangsang dirimu untuk terus mendekap.

jam masih bisu. aku ragu. masihkah aku disemayamkan di benakmu? atau kau justru sudah melagu rindu lagi dengan kekasihmu yang dulu?

hari berlari dan aku sendiri. aku masih tak kuasa membenci. masih mengingat kita saling menguatkan dengan mengunci ketakutan di dalam hati. menikmatinya, katamu. kataku, menikmatinya.

dan kini sekian minggu sudah tersulam. kau akhirnya berkirim salam. Sebuah pertemanan yang pualam, sebuah kisah yang dalam. sebuah peluk yang akhirnya menjadikan tetes di pelupuk. terimakasih, aku terlelap setelah kau selipkan sepucuk mawar tanpa duri dan kuntum melati di patahan dan keping hati yang menuju makam.

Lalu kau menyekar, membawa doa dan senyum bagi jiwaku yang sedang mati suri. kau desahkan keluh kehilangan aku yang sedang mati. katamu, jangan dulu mati. nanti. nanti. nanti. masih ingin bersama menjajaki. nanti saja matinya.
lalu, nadiku kembali.

*

dan kamu masih seperti secercah kasa yang menghentikan aliran darah dari lukaku yang membelah arteri hingga aku nyaris kehilangan nadi. sebelum aku mati, sempatkan aku menikmati sebuah belaian.

aku. cuma mati suri kemaren sore. sudah pagi, mari sayang. sambut lagi hari ini.

Sunday, October 24, 2010

titik saturasi

kini sudah sampai titik, air mata tak lagi berarti.
tak ceritakan apa-apa lagi. hanya mengubur histori.

Wednesday, October 13, 2010

Kisah Cinta Pedansa

tajam tatap matamu yang meruncing perhatikan tiap jejak yang kupijak

erat genggam jemarimu tak biarkan selinap jarak

irama yang berdetak, seiring dengan langkah kita bergerak

tak paham apa yang kau ucapkan, yang kita butuhkan hanyalah merasakan.

eratkan. ketika regang mulai datang.

lepaskan. saat kau sudah tak kuat berpegang.

bebaskan.

bila kita tak lagi mampu bertahan.

dan lanjutkan, ketika kita masih ingin berjalan beriringan.

***

aku nikmati dentuman malam ini. meski bass-nya terasa teralu keras. namun, inilah yang kuinginkan, membiarkan diriku tenggelam dalam selimut malam, yang kelam. aku sedang sendirian, tak lepas memori tentang bidang dadamu yang kutatap sesiang tadi. tak dapat kuelakan tatap matamu yang tak lepas ketika kita sedang mencoba mengerti setiap ketukan.

sayangnya, kita hanya bisa bersama ketika itu. dan itu hanya sebatas kewajibanku sebagai seorang pedansa, dan kau adalah pasangan yang dipilihkan untukku.

kau tak lepas memandangku, sejak langkah awal kita beriringan memulai sebuah tarian, meski lagi-lagi aku tahu, ini hanyalah sebuah keharusan. bukan hasrat atau keinginan.

hmm.. aku menyeruput kopi dingin yang sudah tersaji sedari tadi. masih. aku membayangkan senyuman yang kau berikan ketika musik berhenti dan kita menyudahi.

ketika hormat menjadi sebuah penutup, maka tatap itupun tak lagi tertuju padaku.

entah. mengapa serasa ada yang terbelah di balik gaun merah dan senyumku yang kupaksa merekah.

kubayangkan matamu ditengah kerumunan tepuk tangan yang meriah. kunikmati setiap jentik jemarimu yang merengkuh nuraniku. Bolehkah? biarlah musik ini tiada terhenti, hingga kisah kita tiada bertitik.

ah!

lepaslah. dan biarkan aku menyibak lelah.

***

Depok. tengah malam.

untuk seorang pedansa.

-dedicated to my beloved crazy friends in dancesport ui yang sedang jadi fans berat angga. hahahaha-

self-disclosure terhadap 12 hal dalam hidup..

oke.. jadi sebelumnya saya cerita dulu sedikit yaa..

ini adalah tugas sahabat saya, tentang self-disclosure tapi menggunakan kreativitas emosi gitu. gak paham juga tujuannya apa. tapi intinya cukup seru.

judul tugasnya.. "i am from..."

ada 12 analogi yang harus dibuat.. berikut hasil self-disclosure saya :)

  1. (makanan favorite) saya adalah dari tiap bubuk dari tumbukkan biji kopi yang pahit dan berbaur dengan manisnya susu dan gula yang menjadikan saya lebiih terasa nikmat. tersaji panas dikala sore diguyur hujan yang deras, atau dinginnya menyejukkan ketika teriknya siang menghantui. Meski tak semua menyukai, tapi ada beberapa yang kecanduan untuk selalu menikmati.
  2. (pesan orang tua) Saya adalah dari senyum yang kadang tulus, kadang palsu. Meski tak semua yang ditampakan adalah kebahagiaan, tapi ada sebuah ketegaran yang terselip diantara dua bibir yang terkatup membentuk sebuah lekukan senyum. Senyum adalah bahasa universal untuk mengungkapkan rasa bahagia, juga untuk mengatakan bahwa ada sebuah kenyamanan. Dan saya ingin selalu menjadi alasan insan memberikan sebuah senyuman.
  3. (peristiwa) Saya adalah dari sebuah kelahiran. Dimana sebuah kehidupan dan perjuangan dimulai. Merasakan jatuh dan kegagalan, namun terus berjalan hingga dijemput oleh kematian. Saya adalah kelahiran yang meski ketika saya menangis, orang lain dapat bahagia menyambut seorang ‘aku’ dan kehadiran.
  4. (seseorang) Aku adalah dari cerita hidupnya. Ada kisah nestapa dan bahagia. Kadang jadi perkara, seringnya ingin membuat ia bahagia. Aku bisa jadi cerita dia, aku juga senang bercerita tentang dia. Aku adalah tawanya dan juga tetesan air matanya.
  5. (tempat yang aman dan damai) Aku adalah dari atap yang melindungi manusia dari hujan dan terik, aku adalah tembok-tembok yang menghalangi badai menerpa jiwanya. Aku adalah lantai tempat berpijak, dan aku adalah rumah yang menyediakan ruang untuk bersandar, untuk merebah, atau untuk bekerja. Aku adalah rumah yang sanggup memberikan kedamaian, juga pelajaran dari setiap dilemma yang menghadang.
  6. (barang berharga yang tidak akan diberikan pada siapapun) Aku adalah dari liontin perak yang meski bukan barang nomor satu di dunia, juga menempati posisi istimewa, aku tak berkarat, tapi juga tak mulia. Aku liontin perak yang tergantung dekat dengan hati yang terus mencinta. Aku liontin perak yang diberikan dengan penuh makna.
  7. (kejadian yang berulang setiap hari) Aku adalah dari matahari yang terbit dari ufuk timur dan terbenam di barat. Tugasku menerangi tanpa harus menuntut balas diterangi. Aku muncul di siang hari dan sembunyi ketika malam menyambangi. Aku tak harus selalu menyinari sebagai diriku, ada bulan yang bisa jadi perantara sinarku. Kadang aku dimaki, kadang dicari.
  8. (yang dilihat dalam perjalanan menuju kampus) Aku adalah dari penjual Koran. Aku berbagi ilmu yang bukan dari aku. Aku suka bercerita tentang apa yang terjadi, menyapa setiap pejalan kaki untuk sekiranya membeli Koran pagi ini. bukan hanya untuk mendapatkan rejeki, tapi juga ingin membagi misteri yang terjadi sehari ini.
  9. (tempat yang ingin didatangi kembali) Aku adalah dari pantai yang memiliki gelombang dan berdendang diantara sunyi. Aku memiliki butir pasir yang kecil namun berarti kita bersatu dalam sebuah melodi. Aku adalah bisik angin yang menyapa dan membelai halus setiap helaian rambut dengan kelembutan. Aku adalah karang yang diam tapi jadi sebuah pajangan yang menampilkan indahnya penampakan.
  10. (segi positif diri sendiri) Aku adalah dari kata-kata yang berbicara. Menyusun sebuah cerita. Mendatangkan sebuah kisah yang dapat mengubah arah atau menyibak lelah. Aku adalah dari bahasa, cara mengungkapkan rasa. Aku adalah dari puisi yang memiliki arti.
  11. (segi negatif diri sendiri) Aku adalah dari tetes air mata ketika hati tak sanggup menahan pedih. Sebuah isak yang meninggalkan sesak. Keluh diantara peluh selepas berpikir keras atau mengerahkan tenaga untuk bekerja. Aku adalah dari kegagalan yang tak berhenti menghampiri tapi dibalik ada pembelajaran untuk jadi pribadi yang lebih bijak.
  12. (harapan dalam hidup) Aku adalah dari cinta. Cinta adalah bahasa universal. Sebuah rasa yang akan melindungi, mampu membuat bahagia juga ada kisah berair mata. Tidak semua indah, tapi juga tak jadi sia-sia. Cinta membawa pada sebuah pengorbanan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, tapi meski demikian, cinta tak lekang dimakan usia.

hihih. ini sih iseng aja sebenernya, cuma ikut-ikutan Dian aja.. tapi karena emang hobi merangkai kata jadilah tugasnya seperti ini.. :D

ada yang mau ikutan bikin juga?? seru loooh.. :p

Thursday, October 7, 2010

Review psikologis: puisi sedih

lagi pengen sedikit berbagi..
hmm, seharian ini saya sedang 'iseng'.. tidak sengaja saya menemukan hal-hal berikut..

Mas Bamby Cahyadi, seorang cerpenis, mengatakan bahwa beliau membuat banyak sekali cerpen yang bertemakan kesedihan, kematian, kerinduan.

Delbin, salah satu teman saya di komunitas sastra facebook, juga mengatakan bahwa kebanyakan tulisannya bertemakan kesedihan.

Galih Pandu Adi, seorang teman juga di komunitas yang sama, tak lekang dari cerita-cerita kerinduan yang katanya adalah perih yang paling purba.

Tak jauh, pun tulisan saya bertemakan kerinduan dan kehilangan. saya bahkan dapat mengatakan, jangan-jangan saya ini masternya puisi rindu, juaranya prosa sedih, no satu dibidang kata tentang kehilangan. hahaha. ya, 90% tulisan saya mencurahkan sebuah kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Jarang, tentang kebahagiaan. bukan tak ada, namun seringnya sarana menulis ini saya gunakan untuk meluapkan apa yang tidak terungkapkan. hingga hadirlah tulisan-tulisan yang menguras air mata.

jika ingin terlihat sedikit cerdas, maka saya ingin mengulasnya sedikit dari teori psikologi (maklum, sudah semester tujuh di psikologi, ingin sedikit unjuk gigi tentang pengetahuannya yang minim hihihi), Sigmund Freud, bapak psikoanalisa ini, yang nampaknya sudah dikenal dimana-mana, mengemukakan beberapa jenis self defense manusia. represi, supresi, displacement, reaksi formasi, sublimasi, dan lain-lain (saya gak inget dan gak nemu juga di catatan kuliah saya yang super duper tidak lengkap! hehe). sublimasi adalah suatu cara yang digunakan manusia untuk defense dari hasratnya, misalnya kesedihan. sublimasi adalah menyalurkan hasratnya melalui cara-cara yang diterima di masyarakat, misalnya ya tulisan, lukisan, lagu, seni, dan olahraga (kalau freud sendiri selalu memandang dari segi seksualitas), namun tidak terbatas pada segi seksualitas saja. Hal ini juga nampaknya dapat berlaku di kehidupan para penulis.

penulis, yang hobby membuat cerita tentang kesedihan mungkin sebenarnya sedang melakukan sublimasi atas kesedihan, kepedihan, kekecewaan dan berbagai ke-an lainnya melalui tulisannya. daripada saya mengisap ganja dan fly, daripada saya menegak alkohol dan tipsy, daripada saya merokok dan asthma, dan daripada-daripada lainnya yang merupakan bukan cara yang dianggap 'tepat' oleh masyarakat ini membawa para penulis untuk menuangkannya dalam untaian kata-kata, baik puisi, prosa, cerita panjang, pendek, atau flash. lebih diterimakah? tentunya. Bahkan, seorang Bamby Cahyadi kini sudah dikenal melalui ceritanya di koran kompas, atau Ganz yang masuk ke sebuah artikel di Bali.

jadi, apakah semua penulis adalah orang yang tidak bahagia?
hmm, rasanya teralu tergesa juga jika melakukan generalisasi seperti itu.
Mungkin, penulis-penulis ini bukan orang yang menderita, namun karyanya hadir ketika ia harus menyalurkan kesedihannya. maka, jadilah tulisan-tulisan yang menggetarkan, sarat kesedihan.

Lalu, mengapa tidak menulis ketika bahagia?
sebenarnya, saya sendiri kehabisan kata-kata jika harus menuliskan mengapa saya cenderung menulis ketika sedang didera lara. entah, ketika bahagia saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tertawa daripada duduk depan layar dan merangkai kata. ;)

ya, saya tak tahu.
anggaplah saya ini sok tahu. Hihi


Salam!
Keep writing! :)

Tuesday, October 5, 2010

gelisah berpisah

.
.
.

detik melambat
bergerak merambat
hanya sekejap
hingga kata itu terucap

aku menyudah
kita berpisah
kau bergundah
aku berpasrah

dan biarkan air yang menitik itu menggambar luka yang aku derita
jika kau punya bisu yang bercerita, maka aku pilih tawa yang berpura

kita lupa punya janji-puji-kaji
kini yang ada hanya caci-maki-benci

ah!
mari berpindah kisah
kita sudah terlampau lelah
mari berpejam mata
langit sudah gelap gulita

esok lagi saja,
kita susun cerita bahagia
mungkin, sebaiknya tidak berdua

masih untuk Angga

ah angga, teganya.
kau hilang dimaya, apalagi yang nyata.
lalu.. lalu.. lalu..

lalu, aku bagaimana?

angga,
kududuk diam saja
menunggu siang malam terjaga
biar hati yang bicara
dimana akhirnya ia hentikan kelana

angga,
maukah sekali lagi kau dengar aku jujur?
kini aku mulai gugur
tak ditemani sebotol anggur atau mantra-mantra mujur
cuma ingin kau datang dan biar kata kita kembali melebur

cukupkah, angga?
kini tertarikkah kau untuk kembali menikmati sepi
atau malah inginnya kau berlari
mendekap aku yang sedang sendiri

pilihanmu, angga.
dan aku, hanya akan tetap menjaga.

Sunday, October 3, 2010

Untuk Angga, atau siapapun kini namanya

Hey Angga,
apakabarnya kau disana? Masih ingatkah kau dulu kita suka berbagi cerita?
Ya, memang hanya lewat maya, karena sungguhpun kau memang tak nyata ada.

Angga,
Ingatkah ketika aku keluhkan semua derita dan kau membalas dengan kata-kata yang buat aku tertawa?
atau ketika aku ucap syukur atas nikmat, kamu pun mengucap selamat dengan penuh khidmat.

Hey, Angga.
aku tahu kau hanya sebuah nama, dari seorang cinta.
Angga, atau siapapun namamu kau ubah, apapun alamatmu dikotak berisikan chip-chip temuan teknologi terkini, meskipun tak skali lagi saja kita mengucap kata dan tak ada lagi kisah-kisah yang di telaah, sungguhpun aku tetap jatuh cinta.

Untuk angga, yang kuungkap setelah sekian masa.
dan ternyata, masih dia yang sama dengan cerita cintaku sejak semasa sma.


sampai berjumpa lagi, Angga.
semoga lain kali, kita bisa bertatap muka dan saling bicara lewat bola mata yang tak usah lagi ada tipu daya.

**

Angga adalah cinta maya, di penghujung 2006 dan sepanjang 2007. cinta yang menemani saya sampai saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa di tempat yang menjadi mimpi saya..
Ia tak mau berkata siapa dirinya, sampai saya meraih mimpi, sampai saya settle dengan hidup saya. Begitu ktanya, maka saya bersabar..


Agustus 2007,
akhirnya angga membuka jati dirinya, dengan menyebutkan sebuah panggilan sayang, dari cinta dimasa sma sampai aku jadi dewasa.

angga, atau siapapun kau ubah namamu.
tetap saja, kau cintaku yang dulu :)

Wednesday, September 8, 2010

dasalogi rindu

#1
Hari Satu

jeda kini bersenyawa dgn kita
pisahkan raga tapi jiwa tak kuasa
menggantung ragu ditengah rindu
mengusik asa dalam aku tak berlirik

digenggamku terukir kata kau sempat mengucap janji, ini baru hari satu.
bila sampai ku menunggu hingga sepuluh hari kau tak kembali,
jua tak sampai secarik larik yang membisik rindu sudah menggelitik, maka biarkan aku mencari
setengah jiwa yang dibawa kau lari sampai ke ruang bertitik.

-----
#2
Rintik di Malam Dua

ini malam kedua,
aku terduduk diam ditengah gemeritik gerimis yang mencipta sepi semakin mengiris.
kita sudah bertukar pesan singkat, tapi rasanya waktu malah semakin melambat.

masih ada delapan,
baiklah. kunikmati dulu berbagai santapan, nanti baru kita bertukar lagi pesan-pesan tentang rindu dan cerita bertahan.

------
#3
ah!

ah! tiga malam..
t i g a.

kini aku bersemayam bersama para bocah yang memancing tawa, memamerkan baju-baju baru yang dibeli bersama saat diskon ditebar dimana-mana.
tapi rindu tak bisa ditawar-tawar, meski diganti dengan sanak saudara yang menuturkan cinta dan tunjangan hari raya.

ah..
mana kabarmu sayang??
sedari tadi aku menunggu-nunggu, tapi yang kudapat malah kabar yang semakin mengganggu.

------
#4
Jeda

hari ini terkubur sepi. kamu lenyap dimakan masa.
tak ada berita.


maka tak ada cerita.

-------
#5

disini ramai.
bagaimana disana?


nampaknya belum ada setitik rindu darimu, sedangkan milikku sudah hampir rimbun menggelitik batin ini.
aku sudah memilin kata, tak terungkap tersungkur mati dibalik nisan perkara
tak kuasa aku bertanya, ada apa disana, bermanjakah kau dengannya?
karena disini, belum mau aku terluka lunta menderu dera lara.


jadi aku memilih membisu, biar hatiku yang menerka, akankah surga atau neraka setelah kita kembali bersua.
-----

#6
Yang Tak Selesai

ingat sajak tentang rindu dulu?
yang kubuat saat kau tengah melaju dan aku menunggu?

ya, sajak tentang hari sebanyak dasa.
sajak tentang aku yang menanti sampai kau kembali.

sajak yang kini hanya semakin berjarak.
kita tak lagi di tapak yang sama untuk dijejak.

hari keenam. dan kisah kita tenggelam. aku berhenti menyulam cerita, yang ada hanya prasangka.
dan kini, kenang yang meluka.

Saturday, August 28, 2010

sebuah diskusi

ini bukan salah satu karya sastra, bukan puisi atau prosa. hanya sebuah pemikiran dari wanita tak ada kerjaan.

Permata sedang merenungi hidupnya, tidak bahagia, tapi sebenarnya tidak juga merana. hanya saja, jalan yang ditempuhnya agak berbeda. unik. atau radikal? ya, bebaslah masyarakat mau bicara apa. ada yang memujinya karena keberaniannya, ada juga yang menumpahkan sumpah dan serapah atas apa yang dipilihnya. beberapa lainnya, cenderung tak perdulikan apa yang dijalaninya. urus masing-masing karena semua sudah sibuk dengan hal nya sendiri. individualis.

dan ia sudah cukup dewasa untuk mengerti risiko yang mungkin ia harus tanggung atas perlakuannya.

baru hari ini ia berfikir.
mengapa ia melakukannya? ia bukan manusia yang terlahir jahat, ia dibesarkan di keluarga terhormat. lalu, apa yang menjadikannya laknat?

ia termenung, parasnya putih bersih dan pakaiannya yang sedikit terbuka tertiup angin, berhasil memajang bahu indahnya yang disembunyikan dibalik kardigan abu. mengapa ia harus memilihnya? meski ia tahu betul kepada siapa hati pria itu diberikan. dan bukan untuknya.

lalu?
ya, mereka hanya menikmatinya.
meski disana, wanita itu terluka menanti pejantannya untuk kembali dalam dekap peluk setelah tahun berganti angka dan purnama sampai bosan menyapanya yang masih sendiri saja. prianya tak kunjung pulang membawa sayang. tak pernah tahu ia bahwa diseberang lautan, sang pria berbagi kemesraan.

dan sang Permata tahu, meski sang pria bersamanya, sang wanita itu bukan dirinya. bukan ia pemilik rusuk yang dicintainya.

dan ia hanyalah wanita. yang mencoba bahagia, meski caranya tak biasa.

Permata masih mencari jawabnya..
mengapa ia masih bertahan menjadi wanita kedua yang menyakiti sesama kaumnya. kaum yang hanya bisa dipilih, tanpa bisa pernah memilih.
dan salahkah, bila Permata sekali menjadi penjahat untuk menjadikan dirinya merasakan cinta?

sang diri

Kamu pertanyakan seribu kali mengapa aku masih menyimpan semua rasa ini. Semua rasa yang katanya tak akan pernah aku terima balasnya. Kamu bingung, tapi tetap disini bersamaku. Entah jua kau menikmatinya atau sekadar basa-basi. Entahlah, dan saat ini aku sedang tak ingin mengerti.

Kamu pertanyakan juga apa rasanya kehilangan. Dan aku terdiam, mengingat apa yang aku rasa waktu sebelumnya, saat aku dipaksa mengatakan perpisahan meski rasanya harus mengiris luka di nadi sendiri. Mataku tak jelas menatap kemana. Ah, peduli amat. Begitulah kehilangan. Tak habis seribu kata jika aku harus memaparkannya. Intinya, hilang. Kehilangan.

Lalu kau bercerita tentang wanita. Kau pertanyakan tentang mereka. Kenapa ini kenapa itu dan aku menjawab sepengetahuanku. Itu saja, mungkin berbeda-beda setiap wanita. Tapi mereka senang dipuja, percayalah.

Dengan semilir angin malam yang pastinya akan membuat perutku kembung semalaman, dan segelas teh tawar hangat, aku dan kamu berbagi cerita tentang masa lalu. Juga tentang wanitamu. Lalu kenapa kau bersamaku?

Lagi-lagi, bukan saatnya aku harus mengerti.

Aku terbiasa menikmati apa yang ada saat ini. Esok adalah misteri. Mungkinkah kau masih ada atau bisa saja tinggal kenang yang membayang.

Dan kamu adalah hidupku hari ini. Bukan bagian dari masa laluku yang tak akan terulang, semanis apapun cerita yang tercipta, bukan masa depan yang masih hidup dalam angan yang melayang. Kamu, aku, disini hari ini. Jadi, nikmati saja dengan hati.



Wanitamu, diseberang sana.
Maafkan sang jalang ini.

Wednesday, August 25, 2010

Oicha, malamku yang sempurna

rasanya baru semalam kita menikmati lampu-lampu yang temaram, mencoba mencari sebuah cerita untuk direkam. sebuah cafe terkenal di pinggiran kota Jakarta menjadi pilihan kita untuk tertawa dalam pekatnya malam dan deru kendaraan yang berkejar ingin segera sampai ke peraduannya.

dan aku bersamamu. menikmati musik romansa yang dilantunkan, tapi nampaknya kita malah sibuk sendiri membuat lagu lain untuk cerita kita dengan sebersit gelak tawa dan celoteh-celoteh manja.


ah, Oicha..
akan sangat kurindukan masa-masa aku menatapnya dengan penuh melas agar kau berhenti menjahiliku dengan jemarimu yang berkeliaran di sekujur lekuk tubuhku.

ah, Oicha..
akan sangat kehilangan senyum darimu saat aku bergelayut manja di lengamu yang menggoda..

ah, Oicha..
akan sangat memimpikan belai lembutmu yang mampu menenangkan gundah yang membuncah ketika kuingat, esok adalah misteri yang tak terpecah.



mungkinkah ketika fajar mulai menyapa semesta, kita masih dalam melodi yang sama?
ketika kau biarkan aku bersandar di bahumu, dekapmu seolah bisikkan..


"tenanglah.. saat kau buka kedua mata, kita masih akan tetap saling mencinta meski aku harus pergi ke negeri tetangga."







*Oiche: malam (irlandia)*
--------------------------------------

Oicha adalah Dia..
siapa dia? ya, anggaplah dia adalah malam saya yang sempurna, karena pagi adalah misteri. namun ia selalu memastikan bahwa kelak saya membuka kedua mata, rasa itu akan terjaga meski ia harus melangkah jauh entah kemana.

terimakasih untuk setiap malam yang kau buat jadi gemerlap..

Lenggok


biar aku berdansa
seiring ritma dan irama yang samar terdengar telinga
dengan raga yang sudah setengah jiwa
juga jemari yang ragu berlaga

biar aku melangkah
menyusuri lagu yang berdebu
menatap bayang binar mata yang menyiar
sebuah asa yang kini mulai pudar

biar kulekuk tengkuk dan lutut
menyamai hati yang mulai beringsut
pandang yang mulai berkabut
dan kita yang sudah kalut

-------------------------





depok. pagi. 26 agustus 2010.
ditengah gigilnya jemari dan tebal selimut yang gagal menghangatkan

Monday, August 16, 2010

kisah tentang aku, kamu, dan malam

Malam, terimakasih. kau biarkan dia menjamu aku dengan sejumput pelipur jemu yang termangu. aku terkaku-kaku melihat laku yang tak lazim di mataku.

akan kupastikan, aku merindu malam-malam seperti ini. masa yang mana harus kukayuh sampai berpeluh untuk menatap wajahmu yang menggodaku untuk menyimpan bayangnya di dinding benakku. agar selalu kutau rupawan dari kasih dalam kemesraan.

malam, terimakasih lagi. kau hidangkan dirinya untuk aku nikmati dengan hati. semoga dia juga tersenyum menjalani gulir detik bersama di tengah angin yang menghembus dan dingin mengcengkramku. bukan, dia tidak memberikan sebuah pelukan, hanya sejumput kekhawatiran. dan malam, sungguh kini aku memikirkannya.

sayang, bersenanglah denganku.
jika ragu mulai menghantuimu, maka berilah waktu untuk menjawab berbagai tanya yang mengganggu. hingga akhirnya ada masa kau yakin untuk bersamaku.
tak perlu terburu, kita nikmati saja hari yang tersisa selama masih bisa bergandeng menapak jalan yang sama.

sajak-sajak belum selesai

aku bukan mengungkungmu, hanya memelukmu.

***

ditengah gersang, dia oase yang menyegarkan dan hembuskan kehidupan
disiang kala matahari berdiri menantang, kau tiupkan angin-angin surga yang menyejukkan.

***

bayang, aku hanya bisa mengikutimu karena lampu-lampu hanya senang menyoroti ragamu. paras yang sempurna yang jadikan daya tarik setiap insan yang menatap ke arahmu.
dan aku, masih jadi bayang.

***

kukalungkan senyum di malam itu. saat kau merangkulkan bahagia di pundak kananku.
masa-masa itu, dimana kita tertawa karena canda yang hanya dimengerti kita berdua.

roda ini melaju teralu cepat, angin juga bertiup teralu lebat. aku serasa terbang dan melayang, tapi seperti mati karena jadi hilang kendali. tak perduli dengan apa yang akan terjadi di sekelilingku ini. dengan lantunan lagu yang berdentum hebat di telingaku, aku mendengar bisik dari dalam diri yang terus bertanya apa yang gerangan akan terjadi dalam hitungan sekian hari.

mungkin, kamu akan jadi bayang. bukan hanya kenangan yang dalam angan.

Monday, July 26, 2010

Surat untuk Senja

Senja jingga, hari ini aku tak sempat menyapamu. aku terburu mengejar gerbong-gerbong yang dipadati insan yang akan pulang ke peraduannya.

Biasanya, aku bisa sedikit mengintip dari balik kaca jendela dari sepanjang perjalananku menjejak rel-rel yang berjajar rapi tak pernah mendekat, tapi jua tak pernah menjauh satu sama lain. Stagnan saja mereka di tempatnya masing-masing. Menjalani tugas meski kadang sudah teralu letih memikul beban yang sama-sama saja setiap waktunya. Hanya saja, kadang dari lintasan yang berlawanan arah.

Senja, jinggamu terlewatkan dari pandanganku. Pupilku tak berhasil menangkap potret indahmu waktu tadi. Meski mungkin, esok masih ada kesempatan lain untuk aku memandangi warnamu yang menggelitik batinku untuk slalu mengagumimu.

Senja yang jingga, kucerita sedikit ya.
Tadi dikereta, semua jendela jadi cermin. Ada yang mencoba untuk menengok apa yang ada dibalik kaca, namun sia-sia. Yang ada hanya pantulan rambut panjang yang tergerai lurus sempurna, tubuh mungil dengan kaus kebesaran dan membawa sebuah tas khas perempuan jaman sekarang. Matanya sedikit mencekung, ada semburat kelelahan atau kekecewaan atau kekhawatiran atau ketakutan atau justru sebuah harapan. mata itu mencoba mencari sesuatu dibalik cermin, tapi yang ia lihat hanyalah dirinya yang masih kebingungan, tanpa jawaban.

Ia kecewa, sebesar apapun usahanya membesarkan bola matanya untuk mencuri-curi pandang apa yang ada dbalik sang kaca, dia hanya akan semakin melihat dirinya. Hingga akhirnya ia menundukkan kepalanya, sekejap terpejam untuk menikmati gelap yang pekat karena semua cahaya dihalangi kelopaknya. Ia menunggu hingga ia sampai ditempatnya turun untuk kembali memijak tanah, dan pintupun terbuka pada sebuah tempat tujuannya. Ia tersadar, bahwa ia hanya perlu bersabar, menjalani waktu diatas rel yang berkejar dengan gesek kereta untuk hingga akhirnya menghantarkan pada yang ia sedari tadi ia ingin ketahui. Apa yang ada dibalik kaca.

Senja, ia adalah aku. aku yang akan hanya menjalani waktu-waktu di dalam gerbong yang melaju hingga waktu menghantar aku padamu, jingga. Tunggu aku sekejap lagi, senja. Aku sudah mencapai siang. Sebentar lagi kita jumpa.

*midnite. 260710*
Dibatas malam yang meresah, aku butuh ruang untuk berkeluh kesah dan membiarkan mataku membasah..

Friday, July 9, 2010

eksistensi

ini adalah salah satu blog post dari personal blog saya, bahasanya akan berbeda dengan post-post puitis lainnya di blog ini.. tapi kadang saya berfikir, ada hal-hal yang juga ingin saya share, gak bisa lewat serangkaian kata-kata indah itu..
membaca ini, akan seperti mengenal Nanda yang berbeda.. dengan karakter yang beda (haish, jangan-jangan saya ini mengidap Multiple Personality Disorder.. :P)

well, just read.. and enjoy :)

gue lagi seneng mikir.
*nah loh,, pada seneng kan nih.. jarang-jarang gue mau mikir.. :p*

kalau kemaren pemikiran gue adalah:
"jika benar wanita diciptakan dari salah satu tulang rusuk pria yang akan menjadi pasangannya, terus kenapa masih ada pria yang poligami ya? berarti tu cowo keilangan dua sampai empat rusuk dong ya?"

terus nambah lagi nih..
"katanya rejeki, jodoh, dan mati itu di tangan Tuhan, dan manusia diciptakan berpasangan, maka logikanya jumlah cewe dan cowo itu harusnya seimbang.. kecuali mendekati kiamat? nah.. sekarang kan cewe udah 3x lebih dari pria tuh.. maka ada kemungkinan cewe yang gak dapet pasangan dong?"

ya, pemikiran luar biasa dan bombastis gue itu dikomen sama emak gue di fb dengan kalimat yang juga gak kalah bombastisnya:
"dibikinnya dari tulang ikan yang banyak durinya kali, nak.."
ya ampun.. gubrak banget deh gue dengernya. hahaha..

belom selese dengan pertanyaan tersebut..
hari ini gue ada pemikiran lagi..
pernah denger Nietze, Soren Kiekergard, atau J.B Sartre? klo belom, silahkan buka buku filsafat eksistensialisme karya bapak Fuad Hassan. hahaha.. engga dink, ya intinya mereka adalah para filsuf yang membahas tentang eksistensialisme manusia. tapi ketiganya, menyatakan bahwa kehadiran orang lain itu merupakan ancaman terhadap eksistensialisme diri sendiri..

bingung?
baik, gw coba jelaskan ya..

anggaplah kalian punya temen selebritis kelas dunia yang ngetopnya naudzubila lailahailallah dah.. yang kemana-mana selalu jadi pusat perhatian orang...

sebel gak sih lo, lo jalan berdua nih sama si seleb-super-ngetop-naudzubila-lailahailallah itu, tapi yang disapa, yang diliat, yang disamperin, yang dimintain foto, dimintain tandatangan, dimintain duit (eh klo yang ini mah syukur alhamdulillah yak.. hahah), cuma si selebsuperngertopnaudzubilalailahailallah itu? sometimes, lo jadi akan merasa gak dianggap.

contoh diatas menjelaskan betapa eksistensi si seleb itu mengalahkan eksistensi lo. taruhan, dari sepuluh orang yang ada disana, cuma 1 atau 2 yang sadar bahwa ada lo bersama si seleb.
eksistensi lo: TERANCAM!

tapi, hari ini gue sampai pada pemikiran lain, based on my experience..

ada saatnya dimana kita ingin merasa dibutuhkan, karena dengan demikian.. kita merasa berguna.. :)
sehingga pada akhirnya, kehadiran orang lain itu justru mempertegas eksistensi diri kita sendiri.

ya, itulah sedikit pemikiran gue ditengah malam yang agak dingin ini.. hehhee..
semoga berguna :D

Wednesday, June 30, 2010

selamat menikmati

for laughter we've shared every night,
for talks in day when sun is bright,
for hands holding me in the dark,
for shoulder i borrowed because im tired,
for teasing me and make me laugh,
i love you, and i am saying it from the heart

kata-kata itu mengalir begitu saja. sejenak setelah kebersamaan kita harus diakhiri lantaran bulan sudah mulai mencapai tempatnya yang tertinggi dan jarum jam yang tak mau mengalah dan tak jua hendak menghentikan detaknya.

tidak apa, dalam benakku.
hari ini memang sudah teralu larut untuk dinikmati, meski aku selalu menyukai sinaran bulan penuh yang mampu menerangi mega yang sudah pekat oleh malam. esok jua, ketika langit mulai memerah dan matahari kembali dari peraduannya, aku akan kembali melihat wajahmu yang berseri setelah mandi pagi, lengkap dengan kemeja birumu yang sedikit kebesaran tapi kau teralu malas untuk membawanya ke tukang jahit di seberang jalan sana. aku akan menemukanmu dengan wajah yang terbilas wudhu subuhmu, dengan senyum yang berhasil memamerkan deretan putih rapih gigimu yang selalu membuatku ingin ikut memberikan seringai kecil. aku akan menemukanmu yang sudah wangi dengan khasmu yang selalu membuatku tak sanggup lepaskan angan tentang bagaimana rasanya berdekapan denganmu.

malam itu. theater empat di salah satu sinema di pinggiran kota jakarta menjadi pilihan tempat kita membuncahkan kerinduan atas pertemuan yang harus tertunda tiga hari lamanya. hanya tiga hari dan rasanya kerinduanku sudah bisa dipanen seperti padi-padi yang sudah menguning dan siap untuk ditumbuk menjadi beras. dan kerinduanku, sudah siap kau lahap untuk kita kenyangkan dengan segenap kenang dan kemesraan,

sebuah film action komedi yang bermain di layar lebar. dibintangi dua selebritis terkenal dunia, kita menikmatinya. bukan karena sinema yang terus berkejar dengan waktu yang terus berpacu, nafas kita juga saling memburu.
lalu, kau menggenggamnya.
"bolehkah?", izinmu.
kujawab dengan membiarkan jariku menyelinap ruang diantara jejarimuu untuk kau belai kemudian. dan aku, mendekap lenganmu untuk sekian saat.

aku tak ingin kau melepaskanku, karena kugenggam kau erat di dalam hatiku.

kekasihku, jika masanya tiba kau memilih untuk pergi, maka aku membebaskanmu..
melangkahlah, dengan keyakinan yang tak tergoyah, untuk meraih segenap apa yang kau perjuangkan.. dan percayalah, tak ada yang sia-sia.

hidupku adalah hari ini. maka malam ini, kumenikmati.
tak ingin aku tenggalamkan mimpi yang mungkin harus terbunuh mati oleh kisah-kisah tak pasti dimasa nanti.
dan biarkan waktu lampau tak lagi merenggut masaku kini. karena disini, aku hidup bersamamu. karena dimasa kini, kau memberiku nafas yang mungkin tak lagi kumiliki nanti.

dan kini,
aku mencintaimu.
bukan lampau, dan aku tak berjanji untuk nanti.
yang ada.. masa kini, dan disini.
selamat menikmati.

Wednesday, June 23, 2010

lima bait


//1//
tidak banyak bicara adalah satu dari sifatmu di malam-malam awal kita bertemu. tatap malu-malu juga satu dari atribut yang selalu aku kenakan setiap aku bertemu denganmu. dulu. semua itu hanya ada di kisah masa sebelum waktu menumbuhkan rasa yang tak sengaja tertanam. meski tak kau izinkan berbuah dan hanya sampai daun yang merimbuni, guguran rindu seolah tak pernah puaskan jejak yang pernah kita pijak.

//2//
waktu mulai berkejaran dengan nafsu kita untuk terus saling bertemu dan mengusir jemu. meski hanya diisi dengan alur tak tentu, atau nafas berderu ingin dekapmu. juga bibir yang selalu ingin memburu kata rindu darimu. senyum kecil yang jahil. tepuk yang manjakan mata yang mengantuk. bisikan yang menggetarkan di tengah malam yang berisik. kamu yang aku selalu aku nantikan untuk kujamu dengan segala peramu.

//3//
malam yang sepi dan kau katakan hati itu memilihku. hanya saja tak izinkan untuk aku miliki. siapa yang peduli, yang pasti hati kita terpilin kasih yang putih. lalu, masa bergulir begitu saja mengiringi setiap buih dari debur cinta yang saling berkejar di samudra penghidupan. meski harus mengarunginya dengan koci yang tak teralu megah, kita mendayungnya seirama dengan lembayung yang terayun.

//4//
dan pada akhirnya, aku tak perlu lagi pertanyakan. karena liku perjalanan sudah aku lumpuhkan.
disinilah. aku menyulam lagi benang cerita yang akan menghangatkan hati layaknya sebuah baju penghangat di musim pendingin.

//5//
aku cinta kamu. lagu-lagu bersyair cinta aku dendangkan, tarian-tarian menggoda di pamerkan. hati penuh rindu aku persembahkan.

ini untukmu, kekasihku.
jangan terburu. kita nikmati saja waktu yang menyisakan cemburu dihati insan yang mengganggu.

Thursday, June 10, 2010

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

Sunday, June 6, 2010

surat kedua

aku sedang duduk di pengayun pada taman yang berlapangkan luas dengan serendeng bunga-bunga merah yang sedang merekah. indah. ada tetes-tetes yang mengembun di dedaun yang masih hijau, begitu pun pada yang mulai menguning tanda sudah cukup umur.
dengan berbalut syal jingga yang dulu kau beli di Ancol dulu, aku merasakan kehangatan yang masih sama.

Pangeran, sudah semi lagi. sudah dua surat aku tulis untukmu, tapi tak kunjung juga aku terima balas darimu.
mana?
sejak dipertengahan gugur aku menggurat kata-kata untukmu, sampai kini tak jua ada secarik larik yang katakan kau merindu. aku menunggu. apa mungkin karena memang surat itu, tak pernah sampai di tanganmu, tak pernah kata demi katanya kau baca dengan bola mata yang bergerak-gerak mengikuti memori kita yang dialiri sejuta rasa. ya, mungkin saja saat pria tua itu menyampaikan sebuah amplop berwarna gading ini, kau sedang tak ada di tempat, hingga surat ini hanya diletakkan dimeja tempat dulu kau pajang pigura gambar kita berdua.

dulu. dulu. semua cerita tentang masa dahulu.
sepertinya hanya aku saja yang tinggal dimasa sebelum "aku" sekarang. mungkinkah kau juga terjebak dalam mesin waktu hingga rasanya meski tahun-tahun berlalu, kisah itu masih berlaku?
mesin waktu. aku tersenyum membayangkan apabila nyata adanya sang mesin waktu, dengan emisi yang bisa membawa aku kembali ke tahun-tahun penuh lagu yang kita dendangkan berdua. tidak hanya di tepi pantai yang landai. tapi juga di serigai kota yang gemerlap, di warung tenda, di motor tua, di beranda. lagu-lagu yang menjadi satu. satu dengan mimpi dan harap kita yang terlahap masa.

Pangeran,
aku kedinginan.
ternyata, meski surya sudah menerangi daratanku, tapi ada angin yang masih menusuk tulang-tulangku.
ya, pangeran..
dia memang sudah menghangati sebagian dari aku, tapi setengahnya, masih mencarimu.


*tulisan ini adalah kisah berlanjut dari "balasan yang datang terlambat"

Friday, June 4, 2010

sera-ku

kemari, sayang..
aku ingin sekali membelai rambutmu..
ingin aku memanjakanmu,
memberimu hidup dengan segenap kasih di hatiku.

sayang, kau begitu rapuh, tapi sorot matamu nyatakan semangatmu
kau memang menangis, tapi tak berarti kau lemah dan menyerah..

sini, sayang.. mungkin kau hanya lelah
dan mungkin, sedikit panas untuk hangatkan gigil tubuh mungilmu..
izinkan aku peluk, sayang...
dan terlelaplah dalam genggamku..
bermimpilah tentang taman.. kau aman..


*untuk baby sera, my baby cat yang baru saja dibawa mamanya ke depan kamar kosan aku*

aku dan dansa

haloo teman-teman pembaca setiaku.. :D

well, saya mau cerita ah..
sebenarnya selain suka sekali menulis, tentang apapun, saya juga berkecimpung dalam kegiatan dancesport. niat awalnya sih emang cuma buat olahraga dan berkeringat, tapi ternyata jatuh cinta juga sama dancing.. :)

saya baru gabung dancesport sekitar 1,5 tahun.. belum bisa dibilang jago, cuma emang bisa aja. social dance lah, klo buat kompetisi saya emang masih belum qualified.. ;)
nah, beberapa waktu kebelakang saya lagi sibuk banget sama urusan kuliah, jadi selama 1,5 bulan saya bolos latian (kira-kira 6 pertemuan).. baru kemaren saya dateng lagi dan menikmati musik serta gerakan-gerakan lagi. ihiy, so excited.. latian vienna waltz untuk perform agustus nanti di kampus saya.. :)

tapi, efek buruknya adalah.. dua hari ini saya gak bisa menggerakan leher saya secara fleksibel karena kyanya ototnya ketarik dan sangat sakit.. :(
fiuuuhh, gak apa-apa sih.. karena saya senang sekali bisa kembali ke dunia dansaaaa.. :D



apa yang didapat kemarin sebanding semua..
capenya, senengnya, sakitnya dan puasnya..

:)

oya, tapi saya belum menulis lagi nih.. kapan yaaa?

Thursday, June 3, 2010

jejak pasti

ada kalanya, aku hanya ingin berjalan mengikuti tapak yang telah tercipta.
lelah sudah aku menualangi kota tanpa tanda, dan harus terus menebak serta mencipta berbagai muara.

aku akan terus melangkah.
pada tempatnya.

Sunday, May 30, 2010

surat (bukan) cinta biasa

suatu hari, aku pernah menulis surat cinta. surat cinta bersajak sebagai hadiah ulang tahun adikku. Lalu, kau juga minta satu. Jangan yang berat-berat, yang sederhana saja. Maka, kubuatkan kau selembar surat cinta seperti yang kau minta.
Surat cinta dengan kertas biasa, tinta biasa, bahasa biasa. Tapi, sungguh tertuang cinta yang bukan biasa disetiap lariknya yang berucap lewat kata.

Bukan cinta biasa, seperti lagu siti nurhaliza kesukaan kita. Ya, sungguhpun aku merasa, tak pernah ada cinta yang biasa. apalagi jika untukmu, yang memang kuakui luar biasa.

Disana, dia banjiriku dengan sejuta puja, tentang parasku yang terjaga, tentang apapun dari diriku yang dia anggap slalu istimewa. dia sembahkan aku sesaji rasa, hujani dengan kata cinta, hanya untuk menunggu aku ucap kata 'ya'. jika aku tak salah, sudah sampai tahun kedua, dan hatiku masih sama. Masih tak bisa menerima. Tahun kedua, dan hatiku memang bukan untuk dia.

dan, kini. Kau. Berapa lama kita bersama? Sebut, satu saja puja tentang apa saja dariku. Pernah. dua kali, cantik katamu. yang lalu tak pernah kau akui.
Bulan-bulan berlalu, ternyata hati tanpa kuduga berkata padaku, ia memilihmu.
kau yang senang mencubitiku, mengejekku, dan menunjukkan kau memperhatikanku lewat caramu.

Lewat lengan yang tak berhenti jahiliku,
Lewat tatap yang selalu mengawasiku,
lewat hati yang masih ragu, meski sudah kau akui.. kau juga menyayangiku.

Dengan semua itu, kau tabur senyum dibibirku, temani setiap detik sepiku..
Dan dengan semua itu, buat aku.. yakin mencintaimu :)

Tuesday, May 25, 2010

rampai melati di pelaminan

kubiarkanlah waktu mengejar
meninggalkan kita dalam ketertinggalan
dalam sejumput penyeselan yang tak terungkapkan
kutuangkan segala kepasrahan.

bila saatnya, kita dipertemukan
maka kurasa tabir tersibak menjawab segala pertanyaan
namun, jika kita bukanlah jadi kehendak Tuhan
maka kuserahkan segala asa dan angan

Tuhan,
mohon kabulkan apa yang akan aku sampaikan..
--------------------------------------------

kuritmekan nada-nada yang terdengar dari kamar belakang. rupanya sedang ada perayaan. tapi aku memilih disini untuk menyepi karena aku sedang tak mood berbasa-basi. kini aku harus menyapu ragu, membasuh peluh yang mengeluh. dalam diri ini kudengar ada yang mengaduh, seperti keluh. nada-nada yang mengaduh ini lama-lama buatku tersentuh.

kudekatkan telingaku untuk mendengar lebih jelas apa yang terjadi di benak ini. aku mengetahuinya, seperti menyadarinya ada yang tak pada tempatnya, jadi ngilu-ngilu. kubuka lebar-lebar kelopak mataku agar aku dapat jelas menilai apa yang gerangan mengerang begitu garang di lubuk terdalam. kuraba luka yang menganga di permukaannya. dalam. sudah mengering, tapi masih tinggal disana.

kusimpuhkan diriku diatas sajadah tua pemberian ayahku, memilih untuk pasrah dan berserah. saat darah sudah tak lagi bermakna sebagai harta yang tak boleh dijarah.

Tuhan, dengarkan dia dalam doanya. bahagiakan kami dalam keterpisahan.
sebentar lagi, aku akan melihat sebuah undangan pernikahan.

--------------------------------------------------

serampai melati terangkai dan semat di sanggul pengantin wanitamu. kebaya putih yang membalutnya membuat ia tampak suci dan manis. dan akulah disini yang menangis. bukan miris atau teriris. hanya ingin mencoba menepis gerimis yang membasahi kelopak mataku.

setelah hari ini, setelah ijabmu selesai diucapkan dalam satu tarik nafas yang tak dibubuhi serpihan ragu, setelah kau kecup mesra kening wanita disampingmu dengan mengamit lengannya yang kau lingkarkan cincin emas bertuliskan nama kalian,
sungguh.. aku yakin..




aku akan sangat merindukanmu.




dan aku akan terus di persimpanganku menuju rumahku. dimana kekosongan yang kan mengisi penuh di dalamnya.

------------------------------------------------------------------
suara gaduh itu masih mengaduh di dalam peluh.

Monday, May 24, 2010

Perjalanan Sastra

saya suka menulis... entah sejak kapan saya menulis. seingat saya, jaman SD pun saya membuat puisi-puisi yang kemudian menurut saya gayanya memang anak SD sekali. sederhana.
lalu kemudian, saya menulis hal lain.. keseharian saya.. buku diary, sejak saya kelas 6 SD saya membuat catatan harian di dalam diary dan hal ini berlangsung sampai saya kelas 3 SMA (totalnya mencapai 18 buku). selepas itu, saya mulai melakukan blogging.

biasanya saya menulis keseharian dalam bahasa yang sederhana dan ketawa-ketawa saja, lalu entah darimana saya mengenal jenis tulisan sastra. awalnya, yang saya baca adalah karya-karya milik Kahlil Gibran, seputar cinta... bahasa Kahlil ini mengalir bagai air yang banyak buih-buihnya, harus dipikirkan kenapa bisa begini dan begitu.. lalu, saya beralih bacaan menjadi raditya dika, yang sangat ringan dan isinya memang komedi. sempat terpikir untuk menjadi penulis seperti itu, tapi gagal. saya memang tidak berbakat melucu. :)

pada dasarnya saya suka membaca..
dan saya suka menulis. tidak perduli orang lain suka atau tidak pada tulisan saya. karena menulis adalah cara saya mengekspresikan rasa. rindu khususnya, maka tulisan saya lebih banyak berceritakan tentang cinta dan kerinduan itu sendiri.

saya membaca notes sepupu saya di facebooknya, lalu saya melihat sebuah komentar yang saya anggap begitu cerdas dalam mengupas puisi yang ditulis oleh kakak spupu saya, maka pada suatu kesempatan, saya bertanya padanya tentang orang ini. Hudan Hidayat. begitu namanya, dan saya add saja dia dalam friendlist saya.

saya mulai menulis sastra. dengan gaya bahasa yang kata teman-teman saya "abstrak" dan mereka tidak sepandai itu untuk mengartikannya.

saya menulis sastra, cerita dalam gaya bahasa yang menggunakan analogi. grogi awalnya mencoba "pamer" karya ini pada Bang Hudan, yang sekarang jadi guru saya dalam menuliskan sastra.

dan disinilah saya sekarang, dengan kehadirannya yang terus memberikan saya semangat untuk menulis, adalah blog ini yang merangkum tulisan saya sejak tahun 2008 :)

ya, saya kagum dengan tulisan saya, banyak orang menyukai tulisan saya, guru saya menyukai tulisan saya, tapi.. tetap.. setiap orang punya selera.

pasti ada saja yang menganggap saya berlebihan dalam memilih kata atau bukan seleranya membaca sastra. tidak apa. karena menulis adalah ungkapan jiwa saya :)

terima kasih abang Hudan Hidayat, seorang penulis Indonesia yang sangat rendah hati untuk sekedar mampir membaca coretan-coretan kecil milik saya.. :D

Sunday, May 23, 2010

puisi cinta

kala sinar itu menghampiri untuk ucap slamat pagi, kulihat surya tertawa untuk mengirimu dalam meniti hari..

dan, segenggam melati yang seraya membuat hati jadi wangi,
sayang, tersenyumlah dan berikan aku pelangi

Monday, May 17, 2010

surat cinta untuk Opick

untuk cinta yang memang tak pernah sempurna, namun tak pernah jadikan hari sebagai lara..

sayang,
sadarkah kau usiamu bertambah satu lagi di hari ini?
kurasa sudah saatnya, kita menjalin dua hati yang terus bisikkan hasratnya untuk saling memeluk tubuh itu dimalam berbintang yang gemilang.
sayang,
kabarkan usiamu pada dewi-dewi langit yang sedang curi-curi menatap
katakan pada mereka, mengenai kata-kata yang selalu kau dekap
tak mampu terungkap
karena kau malu mengakui
bila rasa kita sudah rimbun di masing-masing hati
sayang,
kemarikan pergelangan tangan milikmu
berhentilah menatapku dengan sejuta ragu
biarkan terpejam, nikmati khidmat malam
kan ku s'limuti kau dengan puja yang kusulam
sayang,
lelapkan..
tenggelamkan jiwamu yang menggemuruh
rusuh
ku sandarkan damai jiwaku pada milikmu
agar senyum yang selalu kau rengkuh
dalam sisa nafas dan deru jantungmu yang memburu
kualiri sepenuh hati & cintaku..


selamat ulang tahun, adikku..

Sunday, May 16, 2010

gantung diri

dan biarkan aku sampaikan
apa yang lama terpendam, terkunci rapat dalam lemari penyimpan yang mulai berdebu pekat
dalam suara yang sedikit tercekat..

kukabarkan berita...
selama ini cuma aku yang menyimpan sejuta kata
sejuta kata yang berakar satu makna..



ayah, maaf aku sudahi semua sandiwara ini.
kusudah putuskan nadi dan tak lagi ingin jadi budak kemudi nuranimu.
tak mau aku sendiri dibukit sepi, bila iya aku harus tetap disini.
maka biarkan aku jadi mayat yang terbujur kaku dengan meninggalkan liku dan tanggalkan laku yang tak sesuai dengan harapmu.

dan ibu.
biarkan aku menjadi bayang dalam sebuah malam
jadi kilau yang kilapkan bola mata coklatmu yang indah
dan biarkan aku hidup, di dalam arterimu...

karena nyata hadirku..
hanya buihkan sendu yang menderu tak berujung..

selamat jalan.
tali ini, akan habiskan semua perkara yang jadi lara.
-------------------------------------------

*hahahahha.. saya menulis asal lagi.. haduuuh, kemana gairahku yaa???*

Wednesday, May 12, 2010

cerpen 6 hal :o

Huaaaa.. dan saya masih belum menuliskan satu katapun..

enam.. halaman..

memangnya enam itu berarti pendek? apa indikator dari dimensi pendek dan panjang? apa maknanya jika enam halaman tapi isinya hanya ngalor-ngidul gak jelas, gak kena..

baiklah..
ini hanya pembelaan saya yang hanya bisa menulis cerita PENDEK. dua paragraf. dua halaman paling top.

seruput serbuk kopi

Kuseruput kata kata yang mengalir di layar yang sejak pagi kupandang. pahitnya mulai menggerogoti kerongkonganku, manis gulanya mulai pudar karena kini yang keteguk hanyalah ampas-ampas dari secangkir kopi yang semalam kuseduh untukmu. kopi yang kau tinggal di laci batinku.


aku kepahitan. tapi aku tak jera dipahitkan oleh bubuk rayumu. yang nantinya akan kunikmati lewat ampas yang kau tinggal di meja penantianku.


*image taken from http://me-ander.blogspot.com/2007/03/time-for-cup-of-coffee-to-wake-you-up.html*

Friday, May 7, 2010

jeda

baru saja. sepertinya baru beberapa waktu yang lalu saya merasa menemukan cahaya lentera itu lagi. saya merasa diterangi lagi seperti sebelumnya. namun, tampaknya saya salah. itu bukan lentera.. hanya lilin. yang kini sudah meredup dan akan segera padam.

ada jarak lagi. ada jeda lagi. ada kosong lagi.
setelah satu paragraf padat yang sarat makna dan kata. maka kita sampai lagi pada jeda yang membisu. yang membiarkan kita merindu akan adanya kata lagi setelah berminggu-minggu. berapa minggu? entahlah. karena dalam dua belas minggu, aku dan kamu akan menjadi gagu. kita akan kaku. katakata beku. mati layu.

ini masanya. masa kita mencipta jarak. harusnya memang ada jarak.

dua belas minggu. aku menunggu kamu.
:')

sebuah perjalanan

hidup ini menempuh banyak jalan. belok. lurus. simpang. atau apapun bentuknya. dan wajib hukumnya kita memilih.

ini jalan saya. dan itu jalan kamu. begitulah manusia hidup. kadang kala, ada masanya jalan dilaluinya berdua. berdampingan.

ya. saya sebenarnya tidak ingin berpuisi atau bersajak disini. karena saat ini saya sedang mengalami writer's block, while seharusnya saya menulis sebuah cerpen untuk sebuah sayembara yang deadlinenya adalah tanggal 16 nanti.

cerpen 6 hal. ya, dan mengisahkan tentang perjalanan. rasanya ide tentang apa yang akan dituangkan sudah meloncat-loncat ingin segera dituliskan, namun entah kenapa kumpulan kata malah sedang tidak bersahabat dengan saya. huuff..

perjalanan. sastra dan perjalanan. akan menjadi tema yang manis bila saya berhasil menemukan kunci untuk memulainya.

doakan saya ya!

Monday, May 3, 2010

untuk om saya

saya lagi iseng buka-buka blog saya jaman tulisannya masih ALAY. hahaha. tapi disalah satu post saya menemukan puisi ini. ini adalah untuk seorang om saya yang udah tenang di surga. :)

Om Darma.. i love you..

-----------------------------------------------

Aku termenung dalam lamunan panjangku

Resah hatiku rindu dirimu

Matamu seakan tajam menatapku

Tanganmu seolah erat merengkuh tubuhku

Tapi tanpamu bukanlah belenggu

Aku tau kau masih mau aku maju

Kami memang ada di surgawi

Tapi kamu adalah pelangi

Warnai kelam hati ini

ommie,, kau adalah inspirasi dalam
sunyi pagi ini…

Saturday, May 1, 2010

Mega Hadiyanti K. & Nanda Sani : tanpa judul

dibalik tirai kerinduan kusematkan doa keselamatan, kala tapak2 yang menjajaki kehilangan tujuan akan kecintaan, keraguan mengambil alih singgasana kerajaan tuan.
Bersembunyi hamba dibalik kekalutan, dimana terkalungkan sebesit pengharapan.

Tuan, kulayangkan sepotong surat tak berisikan, biar tuan yang tuliskan, kisah panjang yang tidak sempat tertunang.
kosong

tidak lagi ilusi-ilusi menari di dalam.
ambang terus mengambang
aku layangkan kaki-kaki telanjang terus berlari mencari isi sejati
kokoh kau lenyap diantara pasti
tuan, adakah kau mencari?
akankah kau kembali?
atau ini hanya terus menjadi ilusi-ilusi yang tak mengisi
tak beruang
tak beruang

harapan hanya terus mengetuk ruang yang sengaja tak ku hiraukan
Ku jemput malam sepi menyanding hampa bersamaan.
Menyelami kenangan dan angan yang tinggal dalam sangkar bayang kehilangan.
Jika semua dapat terulang, tuan dan aku adalah manifes dari kebahagian.

Kisahnya dilayangkan saja, tuan. Biar melanglang diatas pelataran mimpi yang sudah usang. tuan pasti dengar angin2 itu sampaikan kata sayang, meski ruang tuan abaikan.
kelak jika semua rasa yg hilang menjulang terbang bebas bersama layang-layang, bisa kita nikmati indah udara atas di tempat yg berbeda dengan terpaan kenangan yang sama. entah menjadi rindu atau hanya sebuah masa lalu. kini, terbanglah engakau dan bayangan. Jangan dulu kau sisakan bahan-bahan pembuat rindu... biar ku tenang dalam sepi yg datar.

Bukit kenangan itu tampak indah, tuan. Hanya saja, kapan kita mampu mendakinya hingga tak cuma dipandang selayang.. Ku ingin memegang tangan tuan, dengan elusan sayang..
Tuan, selamat malam.

Aku harus segera pulang.
entah mau diapakan rasa-rasa yg hilang pergi berkeliaran. tidak tahu, biar waktu menjawab semua tanyaku. kali ini saya harus pulang. saya ingin pulang .

another colaboration : FIRASAT

mungkin saya itu harus dipancing kali ya untuk nulis. heheh. jadi hobinya kolaborasi. coba deh dibaca yang ini :)

inilah hasil kolaborasi jari dan imaji
antara mega hadiyanti khairunnisa dengan nanda sani
sebuah tulisan dengan alur entah kemana :P
di ambang akhir malam dan awal hari :)



FIRASAT?



sore
diambang terang dan gelap
diantara nyata dan bayang
sesuatu jatuh menghentakku dari sudut atas kiri kamar yang tersorot sisa-sisa cahaya lelah,
braakkkkkkkkkk...
gambarmu yang terpampang rapi terjun bebas kelantai putih kosong di depanku
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kutatap lekat, ada hasrat untuk mendekap.. Tapi ku hanya diam meratap..
sosokmu, matamu yang besar kini membuatku gusar, seperti ada magnet2 elektro yang mengakibatkan rusaknya detak jantungku di detik ku melihat sorot itu. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

henti tatapku terpaku ditempat dimana bayang-bayang memutar
antara ketakutan dan keinginan tahuan
ada apa disana?
ditempatmu?
puluhan hari setelah kabar menjadi sesuatu yang mahal
ketika hilang menjadi sesuatu yang akrab menyaru hobi
Ada apa, kasihku?
(mega hadiyanti khairunnisa)

Mungkinkah desiran darah dalam nadiku ingin sampaikan sesuatu? Saat lidahku jadi kelu dan tak mampu membuat lagu..
Kamu disana, di ruang yang tak terbayang, ada apa? ada apa?
Aku menunggu, kasih.. Bila saja memang tak lagi ada frasa yang dapat rangkaikan makna, biarkan sepi yang menjadi mediasi firasat kita. Dalam sunyi, sendiri.. kutanya pada hati. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

mungkinkah ini hanya kiriman rindu?
atau memang sesuatu telah terjadi padamu?
bayangmu kabur lalu samar tak manenentu...
kudekap tanya. kutitp doa.
semoga ini hanya rindu. hanya rindu.
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kuangkat pigura itu. Sudah tampak usang, sedikit berdebu dengan lumuran rindu. Dulu kupajang dengan kasih sayang. Kini, Rindu itu jadi terlarang. Sayang, kemarikan sisa rasa yang terjaga, biar ku lelang daripada terbuang.
Ah! Pasti kubermimpi, mana pula mungkin kau ingat aku. Disana kau bersamanya, kekasih. Bersamanya. Hingga kupupus malam sepi bersama perih yang menghunus.
Bukan.. Ini bukan rindu. Kutak mau ini rindu. Ini.. ini apa, kasihku?
(nanda sani)

hempas nafasku semoga tak menjadi bahan tawa rindu yang menjulang.
akan ku apakan firasat yang datang seenak jidat?
mau diapakaan harapan yang tak beruang?
sudah ku tutup semua pintu untuk menerima rindu.
aku tidak mau.
sulitkah firasat ini terjawab?
butiran-butiran kaca ini minta ku apakan?
entah, lagi-lagi entar selalu jadi pelarian.
disini aku ketakutan.
sementara kamu disana hangat bersamanya.
bersamanya.
(mega hadiyanti kharunnisa)

kumendekap sang tanya seraya menunggu waktu menjawab segala rasa.
Belingbeling itu mengerling, memohon agar ia tak ditimbun di bawah pohon kerinduan, yang jadi potongan2 kenangan yang terlupakan.
Tidak. Pigura itu masih kusimpan. Biar lelap dalam hayatku yang menggenang. Biarlah, nanti juga namanya tinggal jadi bayang.

(nanda sani)

Thursday, April 29, 2010

baiklah, kali ini bukan puisi atau prosa :)

baiklah. ini berawal dari kisah saya sambil ngobrol dengan seorang kawan. katanya blog ini isinya koq puisi semua.

ya, namanya juga buku sastra kan.. heheh. tapi baiklah, mungkin ada baiknya kalau saya juga menceritakan kisah-kisah dibalik penulisan puisi ini. gak semua sih, karena toh saya gak berniat curhat panjang lebar di blog ini.

tadi siang, saya chat dengan seorang penulis lagi, nama di FB dia adalah Pohon Kopi Putih. saya juga gak tau koq filosofi namanya seperti itu, tapi nama aslinya adalah Radnan. dia penulis yang juga hebat. menurut saya, seorang penulis dikatakan hebat saat mereka mau membuka mata melihat tulisan dari penulis lainnya untuk kemudian memberikan komentar, pujian atau kritik yang memotivasi dan membangun "junior" atau "rekan"nya.

dan itulah yang terjadi pada saya dan tuan Kopi ini.
saya meminta kritik untuk tulisan saya. sayangnya, memang tadi koneksi lagi dudul dan akhirnya kami disconnect di tengah pembicaraan.

baru satu hal yang sempat terucap.
"pengembangan tema"

ya, saya sangat mengakui dan menyadari bahwa tulisan saya berangkat dari satu tema. cinta, perpisahan, kesedihan. dan kenapa akhirnya tidak berkembang, karena hampir semua tulisan berbasis pengalaman. :p
(jadi saya baru paham, hidup saya penuh tekanan juga. hahahah)

baiklah. saya akan mencoba untuk mengembangkan tema. dan saya yakin saya bisa :D

Monday, April 26, 2010

kepingan memoir


malam ini purnama. seperti purnama yang sudah-sudah, aku cuma memandangnya sendiri. beberapa waktu lalu, biasanya kulekatkan bola mata untuk tatap bulat penuh bercahaya itu dengan sedikit harap bisa menemukan celah untuk mendekapnya. tapi, akhir-akhir ini, purnama hanya ku kilas saja. karena aku akan merindu bila teralu lama membiarkan tatapku hanyut dalam memori kita.
"kita?"
apakah makna yang terselip di dalam rangkaian huruf yang membentuk kata kita?
aku kamu dan purnama.

masih. bukan hanya kamu yang ingat guyon yang membuat wajahku ini merah padam. tapi aku juga ingat, ikat janji yang hanya mampu terjalin lewat hati dibalik semua mimpi. karena mimpi untuk bersama adalah tabu diucapkan di depan mereka. hanya di dalam lubuk, terpendam tak terucap. tak apa. yang terpenting adalah terasa.

malam ini. entah kenapa kita berjumpa. memang, dua pulau yang memisah tak mampu bersatu untuk temu tubuh kita atau izinkan bola mata saling menatap. hanya rangkai-rangkai rasa yang menjadikan kita nyata. berapa lama? berapa lama kita harus saling membisu untuk akhirnya mengucap rindu?
berapa wanita yang perlu kau cinta untuk akhirnya menemukan bahwa bukanlah mereka yang kau puja. dan berapa lama aku harus menunggu untuk ungkapkan kemelut lagu sendu yang selama ini kulantunkan dalam asa yang tak terjaga.

"maaf, aku begitu takut bersamamu. karena kita tahu. kita tak boleh melewatinya lagi."
"kau main-main denganku?"
"justru karena aku tak pernah main-main denganmu, maka ketakutan itu bersarang disini. di dalam hati ini. aku ingin melampaui. tapi tak mungkin terjadi"

------------

purnama, mana hak-ku untuk mencinta tanpa dosa?
aku sudah kehilangannya, bersama seorang wanita ia berbahagia. ya, maka kusembahkan senyum tanpa rahasia akan aku mencintanya. masih. namun ku lepaskan karena aku tahu bersamanya dia akan temukan kehidupan bebas nestapa.

lalu, kedua kalinya. haruskah aku lagi-lagi berdosa karena mempunyai rasa? kusimpuhkan pula benih itu, tak kutabur agar tak usah berkembang. namun, nampaknya tak kuasa aku bila harus menahan rindu. biarlah tabu, tapi aku hanya ingin dalam dekapmu.

kini, haruskah aku menunggu dirinya yang masih berputar dalam labirin hatinya? mencari jawab yang tak tahu tanyanya apa?

-------------------------

untukmu,
kurindu. semoga sebuah pesan pendek mampu lukiskan betapa memori kita yang juga tak panjang itu berarti untukku.

dan masih. aku mengenang purnama kita yang terakhir.
dengan dekap eratmu disela-sela angin yang terhembus, berpacu dengan buru nafasmu yang seolah katakan "aku tak ingin lepaskanmu."

tapi inilah kita. disini kita mengucap cinta dan juga selamat jalan.

ingatkan aku, kita slalu bersama. dan hanya kata itu yang kita punya.
---------------------------------

malam.
dengan denting gitar yang terpetik. senar-senar yang kau rayu dengan merdu. sambil menyulut mild yang terburu. sebuah bait terlantun..

"Oh kasih, janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu di sini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepi"


air mataku menitik. ku hanya bisa dekap kamu lewat tatap.
"maaf, pesawatku jam delapan. dan itu akhir dari semua perjalanan"
----------------------

sungguh. aku benci harus melihat arlojiku. kini jarumnya sudah mendekati angka tujuh. dan kau masih tak kunjung menjemputku. pesawatku akan tinggal landas pukul delapan. kamu dimana?

--------------------

lalu kuhampiri tubuhmu. demam. tinggi. pasti karena malam tadi kita menikmati sinaran itu bersama, sedangkan jaketmu kau sematkan di tubuhku. kau pasti sakit. atau kau pura-pura sakit sehingga tak perlu mengantar kepergianku?
aku menangis. hanya bisa kupeluk kamu. sekali lagi. sebelum smua benar-benar pergi.
----------------

aku sudah di tempat dudukku.
selamat tinggal. aku benci harus meninggalkanmu dalam sepi.
semoga lain waktu, ada masa untuk kita saling melagu.
aku sayang kamu.

Wednesday, April 21, 2010

sajak tiga: Galih Pandu Adi dan Nanda Sani

akhirnya, setelah sekian lama aku "bolos" nulis, aku mulai lagi nih.. emang harus ada pancingannya dulu.. :p

seorang Galih Pandu Adi, seorang penulis yang emang aduhai saya kagumi ini, ternyata masih mau berbalas puisi sama saya. hihihi..

so here it is, our third poems. enjoy! :)
-------------------------------------------------------
sajak tiga.

"aku seperti menelan maut, saat puntung rokokmu itu kau sulut. sebagaimana sayap izra'il mengepak tinggi. lalu kepalaku merasa terjuntai dari langit-langit kamarmu. ada yang berdesah. seiring gerak arloji. sebuah nama ia sebut? kau atau aku." (Galih Pandu Adi, 2010)

"Masa bodoh, siapa saja yang tersebut. Kau. Aku. Kita. Itu satu. Satu makna. Seperti langit-langit yang hanya menatap sedari tadi, tanpa satu kata yang terlontar, seperti angin-angin yang membisikkan eja-eja kata namamu.
rokokku habis tersulut. aku sekarang berlutut. " (Nanda Sani, 2010)

"maka akankah kau cukupkan ini seperti daun pintu yang patah saat bulan tengah mengeja gelisah kita? kepul rokokmu masih tergantung. perlahan menjadi payung dalam arakan melati dan tudung keranda. kitapun sama-sama luput mereka. apa yang sedari tadi merayap di kolong ranjang kita." (Galih Pandu Adi, 2010)

"hanya terseok dan ngeok kayu-kayu rapuh yang tak kunjung patah. disela kepul asap yang mewabah, kau titip pedang sebilah, juga dengan potongan hati yang terbelah. entah, aku pun mulai jengah" (Nanda Sani, 2010)

"jika jengah alamatkan resahmu di atas tungku. mari mulai menanak.. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Lalu kita habiskan sepiring resah. dimalam sengit, kita terpingit gundah. " (Nanda Sani, 2010)

"selesai semua itu juga kau seduh gelisah tak tentu. langit tak beranjak ke mana-mana. ia masih saja di atas. tak terjangkau. "(Galih Pandu Adi, 2010)

"dan kita masih disini. tak tentu arah, kemana melangkah. yang pasti hanya aku, dan angan tentang kau" (Nanda Sani, 2010)

"maka kita kenangkan saja jejak-jejak juga sajak-sajak saat malam makin tua dan runtuh di kolong ranjang kita. karena telah ku ketuk pintu dari takdir atas namamu. dan kau terus berjalan, melewati gang-gang sepi sampai pintu terbuka dan percakapan di mulai kembali. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Kita mulai episode baru. Dengan hembu nafas yang berderu-deru, nampaknya hasratku mulai memburu. Merindu kepul asap rokok mild dari sakuku. Kita duduk saja. Mencari satu kata untuk jadi awal sandiwara." (Nanda Sani, 2010)

"ya, inilah percakapan kita yang takkan mampu dipahami oleh sesiapun juga. sekalipun ini sandiwara bukankah ini garis yang telah tercoret di dinding kita. aku mencipta peta dari sana tanpa kompas atau arah angin. ku hidangkan secangkir kopi dan kita sama-sama mengendap bersama ampasnya" (Galih Pandu Adi, 2010)

"kututup percakapan malam dengan mata terpejam. Biar lekat dalam pekat. dinding kita yang terpeta, menjadikan cerita tak berujung lara." (Nanda Sani, 2010)

cappucino dingin

sore itu. ya, saya terduduk di sebuah pojokkan kafe. ditemani segelas cappucino dingin dengan cream cantik diatasnya, dan sebuah oreo cheesecake yang saya gemari.

saya sendiri. melihat lalu lalang jalanan yang dipadati para pendatang. mereka pasti punya urusannya sendiri-sendiri. seperti saya, yang juga sedang duduk membenahi hati.

dia hanya teralu baik. teralu manis sehingga membuat hati menangis. Lalu, saya mentertawakan diri saya sendiri ditepi gerimis. Ya. rasa yang mulai terkikis untuknya, karena digantikannya oleh benih-benih yang tadinya aku pikir akan kembang mekar jadi mawar. Oya, mawar. indah berduri. Indah bukan hari-hari perjalanan kita? namun, duri yang saya tiduri ternyata mulai membuat saya perih.

sepertinya, baru beberapa waktu yang lalu kita berjalan di trotoar sepi itu, menyusuri sabtu yang sebenarnya kelabu. abu-abu untukku. karena memang tak pernah ada bening yang tersuling.

dan, hari ini.
saya yakin, yakin untuk membuatnya tampak jelas. dan ternyata, begitu tersibak. hitam itu disana. saya tidak suka kopi hitam, saya menyukai susu. perjalanan ini seperti susu dan kopi. Manis dan pahit. Cappucino dingin. karena pada akhirnya, kebekuan yang menjadi teman sepiku disini.

Masih rintik, dan air mata ini mulai menitik. izinkan aku menangisi kepergianku, menangisi akhir dari manis dan getir. karena artinya, sebentar lagi adalah hambar yang hanya boleh ditawar.


-18april10.rumah-

Friday, April 16, 2010

hati yang merdeka

tirai kelam sudah kusibak dengan cahaya. cahaya yang dipancar dari kedua bola mata. bola mata yang bicara. meski kata bukan medianya.

kugantung senyum dan kalung syukur. belur sudah habis babaknya. kini tergiur menempati ruangnya. menikmati likaliku alur yang teratur.

ku pasangkan tiang hati ini. kupasung ragu yang menderu. dipelatar altar kusulam doa menjalar. menyelam nada, juga asmara berkobar.

kukibar nikmat atas kebebasan. kala mencinta bukan alasan untuk jadi teraniaya.

patung dalam abu

aku jadi patung dalam abu.
bukan meragu, tapi tak jua aku dapat melagu.
keping rayumu menyumbat alir2 dalam nadiku. memenuhi ruang2 dalam labirin waktuku. menyesatkanku dalam lamun dan rindu.

Berpuluh minggu kau hanyutkan aku.
Ku tenggelam dalam samudera hatimu.
Entah kapan bisa kumelabuh, karena perahuku sudah tak lagi sanggup dikayuh.
Tubuhku sudah berpeluh, juga gaun yang mulai kumuh.

Jika bukan aku yang meragu, mengapa aku masih mematung dalam abu?
tak ingin kujemput hitam, tapi tak jua kulihat bayangnya putih. aku mulai letih. Sebentar lagi bisa jadi perih.

aku bosan mematung dalam abu.
Bisakah kau tuang ragu dalam tungku?
Biar terbakar semua api-api cemburu.

Thursday, March 25, 2010

abang

Ih abang, jangan memandang..
Aku jadi bimbang,
Dadamu yang bidang seperti menantang..

Ih abang, ini liat si aku bertandang
Ingin disapa salam sayang
Kalikali saja bisa terkenang
Kita tahu perjumpaan ini dilarang-larang

Ih abang, garis mukamu terbayangbayang
Padahal aku sudah jauh melayang
Melayang bersama angan
Angan bersama abang

Abang, tinggalah sedetik lagi.
Aku masih ingin menikmati rintik rindu ini.
Merasakan gelitik dustadusta yang tertindik di lubang hati ini
Melawan satu titik akhir, titik mati. Titik, mati.

saat sang waktu akhirnya tiba

... sampailah, suatu ketika dimana akhirnya aku rela melepaskannya, melihatnya terbang dengan kepakan sayap tanpa celoteh apapun darinya ...

dan saatnya, tiba. sekarang ini, dimana aku telah melayangkan pandang dan bayang jauh kebalik nirwana. aku melepasnya, tanpa salam perpisahan dan lambaian selamat jalan..

Saturday, March 20, 2010

sebuah nama memikat

sebuah nama dengan makna yang ada di dalamnya.
cuma dua. dua rangkai kata yang membentuk insan dicinta.

Kita berjumpa di warung kopi yang buka semalam suntuk. Kita tidak berdua disana. tapi mereka tak peduli kita ada.

kau habiskan teh dalam gelas belingmu, yang kilaunya seperti bola matamu yang bergerak-gerak ragu. Kita membincangkan apa saja yang dapat diutarakan. kau ceritakan kisah namamu. Namamu yang sejak awal kutau, kukagumi. Unik kataku. aku ceritakan tentang hobiku. puisi, dan puisi kataku. Aku suka sajak. Kau bilang ingin dibuatkan sajak. Sajak berlagu merdu. Tak suka yang sendu-sendu, apalagi tentang rindu. karena rindu terasa pilu. Kamu tak mau. Tak mau merinduku. merindu harus berjarak, dan kau tak mau sajak kita berjarak.

Kubuatkan kau sajak, tentang langit yang berwarna pekat. yang kelak kan jadi hayat.
saat langit gelap tersibak, ada cahaya yang memikat. tak ada nadi lagi yang harus jadi korban tersayat.

24 menit berlalu, dengan sajak berlagu merdu, cinta kita tak lagi bersekat. Bola mata saling menatap. tak usahlah lagi kita berucap. yang kau tahu, ku tahu. Hanya ingin selalu didekap.


*kamarku di vila banjarwaru. 21maret2010*

Wednesday, March 17, 2010

balasan yang terlambat datang

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah karya milik senior saya, aris azhari gunawan: sepotong surat tanpa alamat*

Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,

Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.

Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.

Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.


Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…

Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.

Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…

Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true

Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.

Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.

Depok, 17 Maret 2010
*sendirian di sebuah kosan yang penghuninya sedang latihan futsal*

Wednesday, March 10, 2010

Menatapmu. lewat jendela maya.

Dunia maya. Milik mereka. Bukan kita.
Tapi kau disana, aku juga. Menyelaminya. Tiap saat bersama. Lewat maya, yg tak nyata. Tak heran jika rindu masih pada kotaknya. Karena tatap itu pada kamera, kuintip lewat jendela maya. Kunikmati rakitan kata, meski kutau bukan hatiku nakhoda melabuhkan goda. Lewat maya, jendela dunia. Kupahami makna: tak usang kau disana, meski tak bersama adalah takdir kita.

Saturday, March 6, 2010

Penjara

aku dikurung malam,
tak lekang meregang
memberi ruang
merekahkan kebisuan

Kulelah menjilati rindu
Yang tak habis2 meski hati tinggal seonggok tersayati
Dimana kau belati, kini aku ingin mati
Karena pekat mengikatku
ku buta diserang cinta
yang didakwa meja hijau peradilan.

dijeruji itu kita bersama, sang adam. menikmati penjara meski kita tak diizinkannya berkata-kata
hanya mampu bermain mata
menebak-nebak makna yang tidak terkuak

Keadilan tidak pada kita, sayang.
kau dan aku digantung paksa.
dibunuhnya nadi yang sedang mengalir seirama
cekik hingga nafas tak lagi ada

Langsak rusak teracak-acak
Mimpi yang terucap melalui debu2 yang mengganggu
Kini terdekap nyanyian hujan
Kukecap nisan kisah kita
Ditimbunnya dengan doa-doa
Supaya kelak, kita dipersatukannya.

Thursday, March 4, 2010

pagi, episode 2

Sudah cukup lama saya tidak duduk di berandapagi-pagi. Hari-hari saya cukup sibuk, hari ini pun sebenarnya saya tidak punya topik apapun untuk dituliskan. Saya hanya tidak bisa tidur lagi setelah bangun untuk shalat tadi pagi. Jadi, disinilah saya dengan radio, ballpoint dan notebook setia saya.

Saya mau senyum, karena tadi malam saya marah-marah. Marah-marah yang membawa saya ke alam sadar saya telah diperbudak oleh emosi yang hanya akan membuat saya lelah.

Keputusan saya duduk di teras pagi ini tepat ternyata. Langit sedang pandai berdandan. Ia tampak cantik. Biru muda dengan semburat jingga, bias mentari mulai mengintip, menunggu gilirannya untuk menghangatkan pagi. Semilir angin bertiup mesra, menyapa kaki-kaki kecilku yang telanjang. Mengibaskan rambutku yang terurai. Suara-suara burung menemani aku yang sendiri. Sepi sekali pagi ini, sesepi ruang hariku tanpa seorangpun berminat mengisinya.
Tapi aku tenang.. seperti pagi yang juga tenang dan aku belum mau membuatnya ramaii.

pagi

Kalau pagi datang, suhu tubuhku biasanya dibawah normal. Itu mengapa aku suka sekali duduk di beranda.
Cit.. cit.. cit.. terdengar olehku celoteh centil dari burung-burung kecil yang berterbangan. Beberapa yang sudah lebih dewasa hanya mampir untuk sapa dan selamat pagi dunia. Sisanya? Hanya gosip dan cerita saja.

Sambil sang surya menghangatkan tubuhku yang beku in. Kunikmati juga irama kaum manusia yang tertawa, berjalan sibuk atau malah dengkuran tanda mereka masih nyenyak dalam tidurnya.
Aku? Mencoba mencari sesosok yang aku kenal. Namun, sepertinya dia tak datang.

Suara sapu lidi mulai berpadu dengan rumput-rumput yang belum disisir rapi di halaman, suaru deru-deru mobil tersamar dibatasi ruang, kulihat bunga mulai menari bersama angin yang membantunya menggoyang tubuh sang mahkota.

Pagi itu damai. Manusia masih tersenyum, bunga masih mau menari, daun masih bergoyang gembira. Sebentar! Kudengar ada kokok ayam yang sepertinya agak kesiangan.. tapi tetap tidak mengurangi pesona sang pagi.

Lalu, matahari mulai pegal dan ingin berdiri. Sekalian memberikan pengumuman bahwa tuan siang telah datang. Kini.. mereka yang tadinya tertawa mulai berkeluh akan panasnya dunia. Bunga menunduk tersengat sinar... dan burung-burung tadi sudah kembali kerumah masing-masing.

Pagi itu singkat. Tapi, aku tak perlu bersedih.. karena esok, kuharap pagi akan tetap seindah ini. “selamat jalan pagi...”.
Kini tubuhku sudah hangat, aku masuk dulu yaa.. makan siang sudah ada.. “selamat makan”

benih - Kania dan Dian, dan sebuah balasan

ini adalah dua tulisan berbalas. tulisan pertama dari dua orang sahabat, yang katanya sih sok-sok ga ngerti puisi, tapi lihat deh hasilnya :)

terima kasih Kania dan Dian :)
------------------------------------------------------------

Benderang terang tidaklah gelap
Ketika badai endorphin menyerang
Merasuki liku amygdalaku
Turbulensikan jantungku
Hampir mati

Bayang selalu jatuh tepat di titik retinaku
Tanpa sadar singgah dihatiku
Perjalanan panjang
Menyegarkan kerongkonganku
Mengisi udara paruku
Memacu setiap tetes darahku
Hingga merusak hatiku

Ranting2 itu mulai tumbuh
Memunculkan daun-daun baru
Lambang kehidupan…
Natalitas meledak, mortalitas sesak
Seperti aku denganmu, terus hidup
I love you…

Salam sayang penuh cinta rimbun kasih,

Dian+kania

----------------------------------------------------------------

Siapa kata benderang tak bisa sisipkan gelap
kala enzim yang melesat gagal kuasakan raga
sumbat segala makna yang tersesat dalam labirin kata
mati kah kamu? Ku suri kini sendiri

kucuri juga tatap dari kejauhan sana
dimana bola matamu bergerak-gerak, mencari bayang yang terbiasa kau cinta
panjang, jalan yang terpampang
layaknya kisah kita yang membesit terkenang
bukan hanya nama yang aliri pembuluh arteriku
lamat lamat ini jadi keramat yang menggoreskan tinta-tinta pertautan kita
retak hatimu, remuk milikku

kelahiranmu yang kan desahkan nafas pengharapanku,
kala semi gugurkanmu walau kini ku melaju salju
bersamamu, tak kenal waktu.
I love you too…

Kecup sayang, peluk kasih,,

Nanda Sani..

---------------------------------

Malam jumat remang

rasanya sudah lama kita tak berdiam seperti ini. Tak seucapun kita berkata. Tapi dengar hati kita menyuarakannya. Kerinduan itu.

hanya kita bertiga yang merasakan getarannya. Getar persahabatan yang menggegam erat urat kepercayaan. Tali2 perjalanan yang mengikatkan memoir2 tak terlupakan, membiarkan bahasa2 yang tak seorangpun memahaminya. Hanya kita. Dan milik kitalah, misteri yang membahagiakan ini.

Dan kalanya tali2 pengikat itu mulai meregang, biarkanlah.. Sisakan ruang agar kita dapat bergerak. Harus ada nikmat yang tak menyesak. Hingga akan tercipta lagi tawa tawa yang tergelak.

Sahabat, kututup malam remang dengan senang. Melahap kenangan, tak kan ada habisnya bersama kalian. Bersama canda, juga air mata. Bersama dekap kala dekat, dan keluh saat jauh. Kulumatkan pengharapan, jika suatu saat kudapat bekukan waktu agar kekal nama kita di gurat hatiku.

-------------------

------------------------


*friendster menyelamatkan foto-foto kita :)*

Biola, tanpa dawai.


biola, tanpa dawai. Tanpa kata. bisu tak bersuara. Kupajang diantara tralis jendela. Malam mendulang, memainkan kenangan berulang-ulang.

Biola, tanpa dawai. kosong, melompong. Ompong, kini jadi lowong. Mampukah kolong awan, melengkapi ruang kopong?

Biola, tanpa dawai. bunyikan melodi sumbang. Biar nyanyi para kumbang. Kita lawan bunyi gamang. Biar lenyap bimbang.

Biola, tanpa dawai. rindumu telah habis dihempas.
tertunang hampa di atas kanvas.

-------------------

Wednesday, March 3, 2010

episode terakhir

mati2an aku berusaha melupakan pertemuan terakhir kita.
Teralu irrasional, irrelevant dengan apa yang nyatanya terjadi skarang!

Tapi ternyata justru episode itu yg mandek di otakku, membuatku sesak, dan entahlah, segelintir penyesalan akan ke'pamitan' ku.
Lalu, pada akhirnya, disusul rasa marah karena menyadari aku tidak begitu berharganya untuk kamu pertahankan.

4 tahun, 3 kali, dgn 2 wanita, 1 org ini melakukannya dengan sangat baik.

Manis, tapi sangat pahit pada akhirnya!

kalau aku pernah berkata kebersamaan memfasilitasi perasaan, mungkinkah ketidakbersamaan menjadikan ekstinsi perasaan tersebut? atau malah semakin membuat perasaan merintih menangis meraung meminta tempatnya kembali?

tidur lelaplah, sayang...

inginku mengucap slamat malam.
mengecup sedikit saja bibirmu.
mengharap kmu terlelap dalam tidurmu.

mari, kita kremasi rasa sedih itu, sygku..
biarkan jadi abu dan mengalir di lautan.. menjadi bagian keindahan sang samudera cinta..
klo memang ini adalah suatu pengorbanan atas nama kesetiaan, maka air mata tak jadi sia-sia.

bermimpilah tentang nirwana, sygku..
karena hanya di dalam mimpi aku dapat menggapaimu tanpa batas, tanpa pretensi dan tanpa takut kehilangan lagi

tidur nyenyak, sygku..
aku kan tetap berbaring di sampingmu.. memelukmu.. dan biarkan aku menikmati aroma tubuhmu.

karena mungkin..
itulah yg terakhir dalam hidupku untuk bersamamu..

jika

"jika ada satu pertemuan lg. izinkan aku, mendekapmu tanpa pretensi, mengecupmu penuh ekspresi dan izinkan aku mengatakan.. aku melepasmu.. sepenuh hati."

"tapi, jangan pinta aku tuk kembali. karena kuharap hal itu tak lagi terjadi."

morfin

pernah kucicip sdikit nikmatmu, hilangkan pedih & penatku
ringankan nyeriku, buat ku melayang krna nyamanmu..
tp kamu tak pernah biarkanku meninggalkanmu, kau jadikan dirimu canduku. hingga tak kuasa kupalingkan hati darimu, morfinku

hingga akhirnya..
terbuai kudalam pelukmu.. erat, hangat, nyaman tapi perlahan membunuhku..
Tak mampu kutinggalkan semua rasa senang dan tenang saat kau bersamaku..
Tapi kusadari, bukanlah kmu yg dapat kumiliki. dosa kita bila terus memaksa..

Kini aku bkn lg seorang morfinis, tp izinkanku merasakan nikmat terbang bsamamu, skali lg sblum aku mati karena racunmu..

masa bodoh

lemah, sayang.. tubuhku kehilangan daya saat kusadari tak sengaja kusayat hatimu..

lemah, sayang.. aku tak kuat bertahan saat luka yg membekas itu aku yg menorehkannya..

sayang, maaf.. airmata ini tak sembuhkan perihmu yang berdarah karena tajamnya silet lidahku yg tak terjaga..
hatiku ikut merintih saat kau palingkan wajahmu dari mataku, sayang..

kembali.. beriku pengampunan dari luka batinmu itu.. walau jalan berliku2 harus kuterjang untuk dapatkan itu. sungguh benar aku tak yakin mampu bila kau jauhi hati ini..

aku tak mau lg meragumu. aku ingin menikmatimu, merasakannya kasihmu, syg.. tak usahlah kita dengar bisik atau murka juga caci2 jijik yg muncrat dari mulut2 mereka itu syngku..

kemari lagi sayang, katakan itu lg, jgn dibaur dgn ragu.. aku sungguh merindumu, sungguh kurindu saat itu..

episode 4: dillema seribu tanya

tanya seribu tanya yg sudah ribuan kali kamu ulangi
tetap itu2 saja
tetap tentang cinta yg tak jelas arahnya mau kmana

Kmu tanya, tanya yg juga aku pertanyakan
Knapa aku, knapa kamu, knapa harus ada aku dan kamu yg menjadi satu frase bermakna cinta
cinta yg tak tentu mau dibawa kemana
memang kau pikir aku ini tahu jawabnya
jika iya, maka tak usahlah aku disini tertawa tawa
tertawa yg tak jelas artinya apa
mungkin pasrah atau bentuk kecewa
ini namanya dilema.
Mau kemana sama saja
sama hancurnya kita berdua.

Aku tak tau ujung cinta kita jadi apa
cuma saja, aku tahu kini kita masih bisa menikmatinya
maka, diam sajalah.
stagnan di zona nyaman, walau hati merasa terancam.
lebih baik
daripada kita mati bunuh diri
tak kuasa tahan pedihnya patah hati

jadi, simpan saja itu seribu tanya yg beribu kali kamu ulangi
biar saja, kita manjakan isi hati ini
beri waktt barang sedetik untuk menari2 diatas melodi
melodi yg sendu karena cemburu
atau merdu karena sedang pandai melagu
ah! kamu jadi candu
bisa benar2 mati aku tanpamu

episode 5: purna yang (tidak lagi) sempurna

sejak malam itu, untukku, purnama takan pernah lg sama. tak akan pernah menjadi sempurna seperti malam disaat melodi kita sedang ceria dipenuhi kasih cinta.
Kini, jiwanya telah hilang sebagian, telah dicuri walau sesungguhnya purnama tidak rela dipaksa memberi cintanya. tapi purnama tak mampu lakukan apa-apa. purnama tak lagi sempurna, stidaknya untukku.

Mungkin ini akhir dari dilema seribu tanyaku, dimana akhirnya sudah terlihat jurang kematian tempatku bunuh diri, bukan lagi hanya bayang atau tatapan ilusi. Ya, bukankah jiwa kita mati bersama disana? Sama2 terjun bebas pada suratan abadi dunia dimana habis daya kala kita coba menyangkalnya, mencoba mengubahnya sampai tersayat dan habislah darah yg mengalir dalam nadi kita. Henti sudah detak jantung di detik berikutnya, di detik yg melantunkan irama tersendu sepanjang masa kita berdua.
Melodi kenyataan. Melodi fakta dan realita yg tak lagi merdu.
Aku hanya tinggal menunggu waktu itu, yg pasti tiba. menunggu melodi itu kematian jiwa dan rasa yg meninggalkan asa.

Dilema bukan lagi suatu permainan yg menyenangkan, bukan lg tekateki yg harap temukan jawabnya. sudah jelas kini. Kelak kau tinggal datang bawa satu tangkai kembang mawar bagi persemayaman abadiku, dimana selaput hitam atas nama kekecewaan yg menjadi kain kafanku. Itu saja. sama seperti yg slalu aku minta saat jantungku masih berdenyut bersamamu. Saat dimana jiwamu menghangatkan bekunya hatiku, saat raga tak berjumpa tapi melodi kita selalu sama.

senyumku berarti pasrah.
menatap purnama yg tak lg istimewa, karena separuh jiwanya telah diambil paksa.
Dan purnama tak pernah lagi sempurna, sejak rasa menyanding hampa.
semoga saja, pelaminan kita sudah siap di surga.

nandasani, ciawi, 240909 ; pagi

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks