Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2010

abang

Ih abang, jangan memandang..
Aku jadi bimbang,
Dadamu yang bidang seperti menantang..

Ih abang, ini liat si aku bertandang
Ingin disapa salam sayang
Kalikali saja bisa terkenang
Kita tahu perjumpaan ini dilarang-larang

Ih abang, garis mukamu terbayangbayang
Padahal aku sudah jauh melayang
Melayang bersama angan
Angan bersama abang

Abang, tinggalah sedetik lagi.
Aku masih ingin menikmati rintik rindu ini.
Merasakan gelitik dustadusta yang tertindik di lubang hati ini
Melawan satu titik akhir, titik mati. Titik, mati.

saat sang waktu akhirnya tiba

... sampailah, suatu ketika dimana akhirnya aku rela melepaskannya, melihatnya terbang dengan kepakan sayap tanpa celoteh apapun darinya ...

dan saatnya, tiba. sekarang ini, dimana aku telah melayangkan pandang dan bayang jauh kebalik nirwana. aku melepasnya, tanpa salam perpisahan dan lambaian selamat jalan..

sebuah nama memikat

sebuah nama dengan makna yang ada di dalamnya.
cuma dua. dua rangkai kata yang membentuk insan dicinta.

Kita berjumpa di warung kopi yang buka semalam suntuk. Kita tidak berdua disana. tapi mereka tak peduli kita ada.

kau habiskan teh dalam gelas belingmu, yang kilaunya seperti bola matamu yang bergerak-gerak ragu. Kita membincangkan apa saja yang dapat diutarakan. kau ceritakan kisah namamu. Namamu yang sejak awal kutau, kukagumi. Unik kataku. aku ceritakan tentang hobiku. puisi, dan puisi kataku. Aku suka sajak. Kau bilang ingin dibuatkan sajak. Sajak berlagu merdu. Tak suka yang sendu-sendu, apalagi tentang rindu. karena rindu terasa pilu. Kamu tak mau. Tak mau merinduku. merindu harus berjarak, dan kau tak mau sajak kita berjarak.

Kubuatkan kau sajak, tentang langit yang berwarna pekat. yang kelak kan jadi hayat.
saat langit gelap tersibak, ada cahaya yang memikat. tak ada nadi lagi yang harus jadi korban tersayat.

24 menit berlalu, dengan sajak berlagu merdu, cinta kita tak lagi bersek…

balasan yang terlambat datang

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah karya milik senior saya, aris azhari gunawan: sepotong surat tanpa alamat*

Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,

Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.

Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum ter…

Menatapmu. lewat jendela maya.

Dunia maya. Milik mereka. Bukan kita.
Tapi kau disana, aku juga. Menyelaminya. Tiap saat bersama. Lewat maya, yg tak nyata. Tak heran jika rindu masih pada kotaknya. Karena tatap itu pada kamera, kuintip lewat jendela maya. Kunikmati rakitan kata, meski kutau bukan hatiku nakhoda melabuhkan goda. Lewat maya, jendela dunia. Kupahami makna: tak usang kau disana, meski tak bersama adalah takdir kita.

Penjara

aku dikurung malam,
tak lekang meregang
memberi ruang
merekahkan kebisuan

Kulelah menjilati rindu
Yang tak habis2 meski hati tinggal seonggok tersayati
Dimana kau belati, kini aku ingin mati
Karena pekat mengikatku
ku buta diserang cinta
yang didakwa meja hijau peradilan.

dijeruji itu kita bersama, sang adam. menikmati penjara meski kita tak diizinkannya berkata-kata
hanya mampu bermain mata
menebak-nebak makna yang tidak terkuak

Keadilan tidak pada kita, sayang.
kau dan aku digantung paksa.
dibunuhnya nadi yang sedang mengalir seirama
cekik hingga nafas tak lagi ada

Langsak rusak teracak-acak
Mimpi yang terucap melalui debu2 yang mengganggu
Kini terdekap nyanyian hujan
Kukecap nisan kisah kita
Ditimbunnya dengan doa-doa
Supaya kelak, kita dipersatukannya.

pagi, episode 2

Sudah cukup lama saya tidak duduk di berandapagi-pagi. Hari-hari saya cukup sibuk, hari ini pun sebenarnya saya tidak punya topik apapun untuk dituliskan. Saya hanya tidak bisa tidur lagi setelah bangun untuk shalat tadi pagi. Jadi, disinilah saya dengan radio, ballpoint dan notebook setia saya.

Saya mau senyum, karena tadi malam saya marah-marah. Marah-marah yang membawa saya ke alam sadar saya telah diperbudak oleh emosi yang hanya akan membuat saya lelah.

Keputusan saya duduk di teras pagi ini tepat ternyata. Langit sedang pandai berdandan. Ia tampak cantik. Biru muda dengan semburat jingga, bias mentari mulai mengintip, menunggu gilirannya untuk menghangatkan pagi. Semilir angin bertiup mesra, menyapa kaki-kaki kecilku yang telanjang. Mengibaskan rambutku yang terurai. Suara-suara burung menemani aku yang sendiri. Sepi sekali pagi ini, sesepi ruang hariku tanpa seorangpun berminat mengisinya.
Tapi aku tenang.. seperti pagi yang juga tenang dan aku belum mau membuatnya ramaii.

pagi

Kalau pagi datang, suhu tubuhku biasanya dibawah normal. Itu mengapa aku suka sekali duduk di beranda.
Cit.. cit.. cit.. terdengar olehku celoteh centil dari burung-burung kecil yang berterbangan. Beberapa yang sudah lebih dewasa hanya mampir untuk sapa dan selamat pagi dunia. Sisanya? Hanya gosip dan cerita saja.

Sambil sang surya menghangatkan tubuhku yang beku in. Kunikmati juga irama kaum manusia yang tertawa, berjalan sibuk atau malah dengkuran tanda mereka masih nyenyak dalam tidurnya.
Aku? Mencoba mencari sesosok yang aku kenal. Namun, sepertinya dia tak datang.

Suara sapu lidi mulai berpadu dengan rumput-rumput yang belum disisir rapi di halaman, suaru deru-deru mobil tersamar dibatasi ruang, kulihat bunga mulai menari bersama angin yang membantunya menggoyang tubuh sang mahkota.

Pagi itu damai. Manusia masih tersenyum, bunga masih mau menari, daun masih bergoyang gembira. Sebentar! Kudengar ada kokok ayam yang sepertinya agak kesiangan.. tapi tetap tidak mengurangi pesona sang pag…

benih - Kania dan Dian, dan sebuah balasan

ini adalah dua tulisan berbalas. tulisan pertama dari dua orang sahabat, yang katanya sih sok-sok ga ngerti puisi, tapi lihat deh hasilnya :)

terima kasih Kania dan Dian :)
------------------------------------------------------------

Benderang terang tidaklah gelap
Ketika badai endorphin menyerang
Merasuki liku amygdalaku
Turbulensikan jantungku
Hampir mati

Bayang selalu jatuh tepat di titik retinaku
Tanpa sadar singgah dihatiku
Perjalanan panjang
Menyegarkan kerongkonganku
Mengisi udara paruku
Memacu setiap tetes darahku
Hingga merusak hatiku

Ranting2 itu mulai tumbuh
Memunculkan daun-daun baru
Lambang kehidupan…
Natalitas meledak, mortalitas sesak
Seperti aku denganmu, terus hidup
I love you…

Salam sayang penuh cinta rimbun kasih,

Dian+kania

----------------------------------------------------------------

Siapa kata benderang tak bisa sisipkan gelap
kala enzim yang melesat gagal kuasakan raga
sumbat segala makna yang tersesat dalam labirin kata
mati kah kamu? Ku suri kini sendiri

kucuri juga tatap dari kejauha…

Malam jumat remang

rasanya sudah lama kita tak berdiam seperti ini. Tak seucapun kita berkata. Tapi dengar hati kita menyuarakannya. Kerinduan itu.

hanya kita bertiga yang merasakan getarannya. Getar persahabatan yang menggegam erat urat kepercayaan. Tali2 perjalanan yang mengikatkan memoir2 tak terlupakan, membiarkan bahasa2 yang tak seorangpun memahaminya. Hanya kita. Dan milik kitalah, misteri yang membahagiakan ini.

Dan kalanya tali2 pengikat itu mulai meregang, biarkanlah.. Sisakan ruang agar kita dapat bergerak. Harus ada nikmat yang tak menyesak. Hingga akan tercipta lagi tawa tawa yang tergelak.

Sahabat, kututup malam remang dengan senang. Melahap kenangan, tak kan ada habisnya bersama kalian. Bersama canda, juga air mata. Bersama dekap kala dekat, dan keluh saat jauh. Kulumatkan pengharapan, jika suatu saat kudapat bekukan waktu agar kekal nama kita di gurat hatiku.

-------------------

------------------------


*friendster menyelamatkan foto-foto kita :)*

Biola, tanpa dawai.

biola, tanpa dawai. Tanpa kata. bisu tak bersuara. Kupajang diantara tralis jendela. Malam mendulang, memainkan kenangan berulang-ulang.

Biola, tanpa dawai. kosong, melompong. Ompong, kini jadi lowong. Mampukah kolong awan, melengkapi ruang kopong?

Biola, tanpa dawai. bunyikan melodi sumbang. Biar nyanyi para kumbang. Kita lawan bunyi gamang. Biar lenyap bimbang.

Biola, tanpa dawai. rindumu telah habis dihempas.
tertunang hampa di atas kanvas.

-------------------

episode terakhir

mati2an aku berusaha melupakan pertemuan terakhir kita.
Teralu irrasional, irrelevant dengan apa yang nyatanya terjadi skarang!

Tapi ternyata justru episode itu yg mandek di otakku, membuatku sesak, dan entahlah, segelintir penyesalan akan ke'pamitan' ku.
Lalu, pada akhirnya, disusul rasa marah karena menyadari aku tidak begitu berharganya untuk kamu pertahankan.

4 tahun, 3 kali, dgn 2 wanita, 1 org ini melakukannya dengan sangat baik.

Manis, tapi sangat pahit pada akhirnya!

kalau aku pernah berkata kebersamaan memfasilitasi perasaan, mungkinkah ketidakbersamaan menjadikan ekstinsi perasaan tersebut? atau malah semakin membuat perasaan merintih menangis meraung meminta tempatnya kembali?

tidur lelaplah, sayang...

inginku mengucap slamat malam.
mengecup sedikit saja bibirmu.
mengharap kmu terlelap dalam tidurmu.

mari, kita kremasi rasa sedih itu, sygku..
biarkan jadi abu dan mengalir di lautan.. menjadi bagian keindahan sang samudera cinta..
klo memang ini adalah suatu pengorbanan atas nama kesetiaan, maka air mata tak jadi sia-sia.

bermimpilah tentang nirwana, sygku..
karena hanya di dalam mimpi aku dapat menggapaimu tanpa batas, tanpa pretensi dan tanpa takut kehilangan lagi

tidur nyenyak, sygku..
aku kan tetap berbaring di sampingmu.. memelukmu.. dan biarkan aku menikmati aroma tubuhmu.

karena mungkin..
itulah yg terakhir dalam hidupku untuk bersamamu..

jika

"jika ada satu pertemuan lg. izinkan aku, mendekapmu tanpa pretensi, mengecupmu penuh ekspresi dan izinkan aku mengatakan.. aku melepasmu.. sepenuh hati."

"tapi, jangan pinta aku tuk kembali. karena kuharap hal itu tak lagi terjadi."

morfin

pernah kucicip sdikit nikmatmu, hilangkan pedih & penatku
ringankan nyeriku, buat ku melayang krna nyamanmu..
tp kamu tak pernah biarkanku meninggalkanmu, kau jadikan dirimu canduku. hingga tak kuasa kupalingkan hati darimu, morfinku

hingga akhirnya..
terbuai kudalam pelukmu.. erat, hangat, nyaman tapi perlahan membunuhku..
Tak mampu kutinggalkan semua rasa senang dan tenang saat kau bersamaku..
Tapi kusadari, bukanlah kmu yg dapat kumiliki. dosa kita bila terus memaksa..

Kini aku bkn lg seorang morfinis, tp izinkanku merasakan nikmat terbang bsamamu, skali lg sblum aku mati karena racunmu..

masa bodoh

lemah, sayang.. tubuhku kehilangan daya saat kusadari tak sengaja kusayat hatimu..

lemah, sayang.. aku tak kuat bertahan saat luka yg membekas itu aku yg menorehkannya..

sayang, maaf.. airmata ini tak sembuhkan perihmu yang berdarah karena tajamnya silet lidahku yg tak terjaga..
hatiku ikut merintih saat kau palingkan wajahmu dari mataku, sayang..

kembali.. beriku pengampunan dari luka batinmu itu.. walau jalan berliku2 harus kuterjang untuk dapatkan itu. sungguh benar aku tak yakin mampu bila kau jauhi hati ini..

aku tak mau lg meragumu. aku ingin menikmatimu, merasakannya kasihmu, syg.. tak usahlah kita dengar bisik atau murka juga caci2 jijik yg muncrat dari mulut2 mereka itu syngku..

kemari lagi sayang, katakan itu lg, jgn dibaur dgn ragu.. aku sungguh merindumu, sungguh kurindu saat itu..

episode 4: dillema seribu tanya

tanya seribu tanya yg sudah ribuan kali kamu ulangi
tetap itu2 saja
tetap tentang cinta yg tak jelas arahnya mau kmana

Kmu tanya, tanya yg juga aku pertanyakan
Knapa aku, knapa kamu, knapa harus ada aku dan kamu yg menjadi satu frase bermakna cinta
cinta yg tak tentu mau dibawa kemana
memang kau pikir aku ini tahu jawabnya
jika iya, maka tak usahlah aku disini tertawa tawa
tertawa yg tak jelas artinya apa
mungkin pasrah atau bentuk kecewa
ini namanya dilema.
Mau kemana sama saja
sama hancurnya kita berdua.

Aku tak tau ujung cinta kita jadi apa
cuma saja, aku tahu kini kita masih bisa menikmatinya
maka, diam sajalah.
stagnan di zona nyaman, walau hati merasa terancam.
lebih baik
daripada kita mati bunuh diri
tak kuasa tahan pedihnya patah hati

jadi, simpan saja itu seribu tanya yg beribu kali kamu ulangi
biar saja, kita manjakan isi hati ini
beri waktt barang sedetik untuk menari2 diatas melodi
melodi yg sendu karena cemburu
atau merdu karena sedang pandai melagu
ah! kamu jadi candu
bisa benar2 mati aku tanpamu

episode 5: purna yang (tidak lagi) sempurna

sejak malam itu, untukku, purnama takan pernah lg sama. tak akan pernah menjadi sempurna seperti malam disaat melodi kita sedang ceria dipenuhi kasih cinta.
Kini, jiwanya telah hilang sebagian, telah dicuri walau sesungguhnya purnama tidak rela dipaksa memberi cintanya. tapi purnama tak mampu lakukan apa-apa. purnama tak lagi sempurna, stidaknya untukku.

Mungkin ini akhir dari dilema seribu tanyaku, dimana akhirnya sudah terlihat jurang kematian tempatku bunuh diri, bukan lagi hanya bayang atau tatapan ilusi. Ya, bukankah jiwa kita mati bersama disana? Sama2 terjun bebas pada suratan abadi dunia dimana habis daya kala kita coba menyangkalnya, mencoba mengubahnya sampai tersayat dan habislah darah yg mengalir dalam nadi kita. Henti sudah detak jantung di detik berikutnya, di detik yg melantunkan irama tersendu sepanjang masa kita berdua.
Melodi kenyataan. Melodi fakta dan realita yg tak lagi merdu.
Aku hanya tinggal menunggu waktu itu, yg pasti tiba. menunggu melodi itu kematian jiwa dan r…

malam kerinduan

Kita di sebuah ruangan tanpa lampu. Kmu mendudukan lilin itu dhadapanku. Kini yg terlihat hanya wajahku masih muram temaram. kamu terdiam. rindu itu sudah membludak, tak teredam seperti jg gairahku yg tak kunjung padam. ingin kucumbui tiap tiap senti dan pori kulitmu, kusesapi nyawa dan jiwa d ragamu.

Tapi.. sempat teredup smua hasratku untuk tetap melanjutkan langkahku.. karena kehampaan mulai merasuki aku, menyelimuti aku dgn rasa yg menyesakkanku. seolah kegagalan atas kata kebersamaan diperdengarkan berulang2 kpdaku. kita berdua sama2 tau, berapa berat beban yg akan dipikulkan di pundak kita. tapi tetap nekat saja kita mulai menyusuri terowongan yg disebutkannya sbagai misteri.

Lilinmu tinggal stengah jalan. sudah meleleh sbagian.. kita masih diam. tanganmu mulai membelaiku. perlahan. seolah aku ini porselen milyaran yg sangat berharga. aku mengecup belaianmu saat bibirku terulas jari2mu..

Kini kau dekapkan aku pada bidang dadamu.. kamu pelukku. Terkadang teralu erat. aku sesak tp ta…

luka

Lamat lamat aku nikmati.
Irisan demi irisan dari kata kata itu. Mengikatku semakin erat. Semakin kuat. pilu merambat, menyapa mayat yg bersemayam dengan jiwa tersayat.

Mana kini kau bilang cinta?
smua cuma racikan kata yang seolah jadikan aku permata?
Kini, terbalut luka kupejam mata.
Tak inginkah kau belai gurat senyum yang miris tersisa? Terlukis pedih menangis miris?
Tak adakah inginmu tuk balutkan darahku yg mengalir dari hati yg telah tercabik? Tak ibakah kamu?

Tak terasakah olehmu, tiap nafas yg tertiup sebutkan namamu
Dimana jiwaku menapaki hari bersamamu
Tak terdengarkah olehmu, nyanyian ombak itu kusampaikan untukmu
Bukan hanya diterang purnamamu, namun disetiap waktuku
Disaat ku melagu, meragu, bahwa memang rasa itu utuh untukku

harapku adalah nadi itu kita miliki bersama, satukan asaku dengan milikmu..
memang terpisah raga, tapi kuharap derap jiwa melangkah bersama..

Itu harapku

Bukan milikmu, karena nyatanya kau berjalan sendiri.
higga aku tak sanggup berdiri.

epsisode 6: last call; purnama yang terbias

purnama sudah benar2 gelap tak lg terlihat
Hanya bias-buas menggerogoti hati penuh harap-harap merayap
Terjerembab aku melahap
Pedih luka tersayat-sayat
Menjadi mayat

Sekali lagi, terpaksa kugadai rasa
harus lagi hilang asa
Putus terputus mengendus-ngedus nafas sisa
Kali ini, sudah saatnya
Saat purnama mengafankan cinta
Menimbun jiwa dengan doa
Agar keduanya dapat bertahan hidup dalam nestapa

yang tadi : akan menjadi yang terakhir

yang tadi ; akan menjadi yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi marahmu olehku yg terakhir
yang tadi ; akan menjadi gundahmu yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi malam suram kita yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi senyum pahit kita yang terakhir


...

Jangan khawatir, karena yang tadi ; akan menjadi kata sayangku yang terakhir..
Setelah ini ; mari kita akhiri, daripada terus ditusukki kisah berduri

Mari.
Selamat tinggal.

hari ini

Aku pakai baju anti sakit hati, pakai gaun dengan hias kemilau berwarna abu, yang tidak hitam, tidak putih. Pakai alas kaki, stileto sembilan senti. Yang berdiri saja harus hati2, bisa jatuh terguling2, patah tulang belakang & jadi lumpuh sampai mati.

Terakhir, aku pakai topeng. Karena yang kutahu, setiap hari adalah pesta topeng. Kali ini, topengku bergambar senyum paling lebar, sangat tulus, penuh kebahagiaan.

Pantas tidak disandingkan dengan gaun & sepatuku?

hadang rindu malam

Aku sedang berperang melawan rindu. Rindu terlarang, pda rasa yang terhadang. mungkin pernah terjalin, walau tau sama saja bunuh diri. Ditengah kelam sang rembulan, sembunyi malu tuk ungkap betapa luka masih nganga walau waktu telah jauh berlari. Kenangan tinggal bayang, tapi masih jelas melayang2 di angan. Dalam diam, kuharap sepi merayap. Tinggalkan aku yg meratap. Atap kegundahan halang menantang pandangan pada sang malam. Sang adam, ingatkah kau pada jiwa saat angin sampaikan gejolak yg terpaksa teredam?
Biar kucumbu malam, bergumul dengan makna kesendirian.

kota cinta

kupejam mata disela jantung kota. Detaknya menghantam. Peluhnya masih mengucur. Ku merasa damai ditengah ramai. Kala tak sejiwapun menyapa kota yang mulai mengantuk.
Malam menyibakan tirainya, tanda ia mau mulai pentas. Kunyanyikan lagu rindu pada sang dewa. walau nada dan suara teredam gelora asmara dua jiwa yang tak bersama. genggam hati ini, bawa nafasku dalam tidurmu. Jangan, kau bilang. Katanya, kini ada kepingan lain, yang mengisi lubang dengan sempurna. Maka, kusimpan lagi petikan senar, biar nantinya melodi bicara. Mungkin, pada insan yang sedang cemas menunggu kata terucap dari sukmaku.

Selamat malam. Kupejam mata ditengah bisingnya kota. Kita memang dua jiwa berbeda, yang seharusnya tidak berada pada ruas yang sama.

sejiwa dengan langit. menangis deras.

Dilepaskannya semua lara itu melalui airmata langit dan amarah sang semesta. dengan teriakan, dengan kucuran darah yang dilirihkannya dengan nyanyian. simpuhku diatas tanah tua yang basah. Yang setia sesap sakit hati langit sore ini.

Deras, namun selaras. kilat disambarkan saat terajam. Menjerit kala habis kata. Dalam gulir2, jiwa terkungkung hasrat tak kunjung terlepas. Melalui badai, disampaikan kecewa sang peri. dengan guruh, ditawannya hati yang gulana. Pergilah, tenang saja. Sesaat lagi, pelangi kan mulai berpesta.

senja yang manja

Melendot, mengelus manja si senja. Mencari2 alasan untuk terus disayang. Senyum kecil, meraung manis.. Minta digendong oleh kasihnya sang putra surya.

Warnanya memudar seiring malam memanggilny ke peraduan, berpendar sinarnya, jingga menyamar jadi merah dan hitam. Manja. Senja yang manja.
Kembalilah lagi esok sang jingga, sebelum kelam mengambil alih singgasananya.

untukmu, yang diseberang itu

Hey kamu yang di seberang sana. Yang kuintip tiap kali lewat depan jendela.. Tahukah kau, aku bergincu stiap pagi, berharap ku sempat lempar senyum manis padamu kala kita berjumpa.

Hey kamu, yang tak sengaja kucuri hatinya.. Tahukah, aku mengharap salam sapa ketika aku mondar-mandir depan jendela tuamu. Depan sapu biru yang berdiri malu-malu, tahu kalau aku tersipu jika kau sebut namaku.

Hey kamu, kapan kau mau katakan padaku, rasa yang dua tahun kau pendam itu? Jangan meragu, karena yang kupunya untukmu, adalah senyum dan sebuah kata. Kata yang akan melegakan sesakmu di malam kau menungguku :)

6 bulan : 4 jam

Tadi malam, kamu membayar enam bulan dengan empat jam. Enam bulan dengan empat jam. Perbandingan yang paling memilukan dan memalukan, sebenarnya. Tapi aku tidak tahu, kenapa rasanya empat jam tersebut melampaui enam bulan yang terbuang enam bulan penuh prasangka dan dendam, dibayar cukup lunas dengan empat jam yang dihabiskan dengan tawa canda.

Cukup.

Dan aku tidak meminta lebih.

Empat jam itu mengubur laraku dan juga kesalku pada dia yang lainnya. Dia yang seharusnya jauh lebih memperhatikanku. Saat ini. Aku lelah terus mengerti tanpa pernah dimengerti. Aku tak ingin meminta karena dia takan pernah memberi.

Lewat empat jam itu, aku tahu… kamulah yang terbrengsek… tapi kamulah yang terbaik. Rekor kita pecahkan lagi tadi malam, ditambah dengan satu lagi rekor baru. Terima kasih, aku sudah benar-benar melupakan semua kesalahanmu…

It’s a brand new start… kita langkahi jalan ini, sendiri-sendiri… namun kamu tahu, kita masih saling mengawasi u

dalam diam dan bisu

Diam dan bisu seolah selalu menjadi teman terbaik bagi aku
dan dirinya. Hanya dirinya. Dia yang kutatap dari meja seberang di kantin, dia yang
kukagumi saat dia menendang bola itu ke gawang dan mencetak gol-gol hebat, dia
yang hanya tersenyum sesekali, tapi bukan kepadaku, walau sebenarnya aku tahu
dia adalah orang yang humoris.

Diam dan bisu selalu hadir, seperti layaknya sahabat, tapi
hanya untuk kami berdua. Saat di keramaian pesta, saat gelak dan tawa
terdengar, saat orang-orang berteriak dan bernyanyi, bahkan kami berdua turut
di dalam kegegapgempitaan itu, diam dan bisu masih bisa merayap masuk diantara
kami berdua.

Diam dan bisu seolah mengawasi kami, tak pernah melepaskan
pandangannya, tak pernah membiarkan kami untuk saling mengucapkan satu kalimat,
bahkan satu kata. Diam dan bisu hanya mengizinkan tatapan-tatapan atau senyuman
basa-basi yang menandakan bahwa kami saling mengenal, atau mungkin saling
menganggumi.

Tapi, lagi-lagi diam dan bisu yang menengahi keberadaan
kami. Bahkan saat jarak…

kopi hitam semalaman

Malam itu aku duduk di beranda rumahku, bercakap dengan seorang kawan baru,
yang sebenarnya belum teralu aku kenal. Ditemani semilir angin, segelas kopi
tubruk yang hitam, dan percakapan basa-basi. Tawa-tawa kecil mulai mendatangi
kami, kekakuan mulai mencair… sampailah kami pada topik yang tak pernah lepas
dari kehidupan orang muda, cinta.

Aku dan dia sedang mengeluhkan kehidupan cinta kami masing-masing, dia
bercerita betapa kelamnya hari yang dia jalani dengan bayangan kekasih
terakhirnya yang terpaksa ia tinggalkan. Aku? Heh… hanya dapat menghela napas
panjang untuk menunjukan bahwa kisah yang kupunya juga sama gelapnya dengan
yang dia baru saja sampaikan.

Sejam kemudian, aku merasa telah mengenal dia dari beberapa tahun silam,
seluruh kehidupan cintanya terbongkar padaku, bahwa dia pernah benar-benar
jatuh cinta pada gadis berusia 6 tahun lebih muda darinya, polos, lucu, dan
mampu menyajikan lelucon hangat ataupun dongeng simpel yang akhirnya dapat
ditebak. Tapi, si gadis kecil tadi mampu memb…

sahabat saya

Dia adalah seorang sahabat dari saya. Seorang putri bagi beberapa pangeran dan seorang bagi semua orang. Cantik. Pintar. Berbakat. Ramah. Menyenangkan. Dan yang terpenting, dia bukanlah klise. Dia nyata. Hadir dan ada. Dia menebarkan kehangatan saat dingin menghantui saya. Dia membawakan cahaya, saat gelap mengecam saya dalam kelam. Dia memberikan sebuah senyuman yang meneduhkan disaat saya kehausan. Dia lakukan bukan hanya kepada saya, tetapi juga sekelilingnya. Saya kagum padanya, semua yang mengenalnya akan kagum padanya, akan melihat betapa hebat dirinya. Betapa ia sepertinya selalu tahu mengambil langkah mana demi kenyamanan dia dan semua orang, betapa ia selalu tahu apa yang pantas diucapkan saat diharuskan bertemu dan mengungkapkan pendapatnya, betapa ia tidak takut salah dan berani mengambil bungkusan risiko yang bisa saja membuat dirinya terjerembab. Dia mampu memaafkan dan memberikan pelajaran dari setiap kesalahan. Dia selalu menyenangkan.

Tapi tidak hari itu, bulan itu dan …

mentari

melati tak hentinya tanya bertanya mengapa pada dedaun kering yg hampir mati..
mawar tak jua terima mengapa harum harus bersanding dgn duri yg terberi..

matahari tak mengerti, mengapa ia harus sembunyi saat sang bulan berlaga, padahal ia lah sang penabur cahaya.. mengapa bulan yg dipuja, tetapi mentari yg terhina? katanya bersinar tralu terik hingga buta mata manusia, katanya sengat teralu panas, hangus pula smangat dunia. mentari tersedu, malah berbunga para hijau ditaman. bila matahari sedang penuh smangat, para pekerja mengamuk, mengumpat bangsat padanya.. tanah meretak retak tanda protes, air kabur mengumpat buat manusia kalang kabut kekeringan..

pada saat itu sang bulan berleha2, menunggu dirinya dipuja. oleh para wanita. oleh para insan yg sedang bercinta. oleh para penyair syahdu di dunia. oleh semua umat.

mentari iri, iri dgn sambut hangat pada sang bulan. tapi mentari baik hati.. ia tahu, dunia kan mati tanpa hadirnya, sang bulan tak bercahaya, dedaun tak makan. melati akan mati …

biar kugenggam hatimu, sahabatku

kemarikan sahabatku terkasih, biar kusambut tanganmu yg mencari2 pegangan. genggam saja syg, aku rela walau aliran darah harus tersumbat, sampai kram sudah jemariku, tak apa.. asalkan kau gantikan dengan damainya hatimu.

mungkin kau tak sanggup bersenandung tentang bebanmu.. aku juga demikian, tak jua temu sajak tepat tuk ringankan cemasmu, syg..
jadi genggam saja.. biar pedihmu aliri arteriku, biar terbagi jadi kau tak sendiri..

untukmu jua sahabatku yg lain, yg tak kalah dicintai oleh hati ini. Jangan iri bila tak kurengkuh bahumu.. walau tak kuikatkan jemariku pada milikmu, hati ini sudah terikat pada jiwamu.. ku rasakan getar2 kekecewaanmu pada dunia, ku selami mimpi2 yg kau rangkai menjadi buket indah. ku bersamamu stiap waktu..

Wahai para sahabatku,
menangislah padaku, kusediakan kau semangkuk waktu dan seporsi ksediaan tuk temani bulir2 airmatamu..

aku ingin menyuguhkan sesendok gula untuk kepahitanmu.. rasakan semuanya lewat arterimu, rasakan melalui rambatan udara yg membelai hatim…

episode 1 : biar kamu merindu

aku menerima apa apa yang kamu kasih. kasih makna kcintaan sarat tertuang dari hari haru yg kamu temani. kabur kabur untuk hadir, walau jerit2 tugas meraung2 pinta kamu jamah mereka.
tapi kamu pilih aku, katamu.


cuma 4 hari, kenapa terburu2? katamu lagi.
Kutarik 2 senti kanan dan 2 senti kiri bibirku, melukis senyum yg sekiranya tetap tak jawab pertanyaan yg ngiang ngiung layaknya nyamuk mondarmandir di telingamu.
terusnya aku buka mulutku, kubilang biar kamu tetap merinduku tuk kembali lagi dilain waktu.
sehabis itu..


Lima jariku melambai kearahmu, punyamu juga.. tapi sama2 tak ikhlas.
Aku melangkah menjauh, kamu tetap disitu dgn raut haru biru merinduku, sampai benar lenyap rupaku dari jangkau penyaksianmu

Dalam hati..
selamat jalan. sampai jumpa lagi. sampai aku akan banyak menerima apa2 yg kamu kasih.



*dedicated 4 people i do love, that welcoming me and my friends amazingly di tanah kelahiran bapakku. love yous. xoxoxo.

episode 2: Purnama di Pantai Parai

Malam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu.
Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga.

Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja.

Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata.
Sam…

episode 3: purnama kedua

Awalnya, kukira…
Saat kutinggalkan landasan kotamu, dan kupijakkan kakiku diatas tanah Jakarta, aku akan sudah melupakan purnama di Pantai Parai, melupakan melodi-melodi irama hati, meluapakan haru saat aku melambaikan jariku kearahmu sore itu… dengan kata lain… aku akan sudah mampu melupakanmu.

Tapi nyatanya…
Saat purnama sudah muncul lagi… memoriku berlarian menuju saat aku pernah memandang lukisan langit bersamamu.

Kita pernah menatap langit, melihat jiwa wulan yang sedang utuh.
Dimalam berangin itu. kita duduk. Tidak berhadapan, tidak juga berdampingan.
Tidak berdua, dan tidak mesra. kita sama-sama menikmati cantik rupanya.
Kita tidak saling berkata. Tidak bergandengan. hanya saja hati kita melantunkan irama yang sama.

Purnama kedua aku masih tetap cinta kamu, semoga saja itu jua yang kamu rasa.
Kini, kita juga tidak berhadapan, tidak berdampingan, malah jauh pula jarak yang ada. Tapi rasanya, hati kita masih bernyanyi melodi yang sama.
Malam ini iramanya sama-sama sendu
Sama-sama terbesit r…

selamat ulang tahun

13oktober2009
untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir..
tak kusampaikan ucap selamat panjang umur.. tak kuucap kata sayang.. tak kusematkan hiasan hati untukmu..

Tapi ternyata, bukan berarti aku mampu melupakan bahwa hari ini, ulang tahunmu..


*bang.. 25 tahun usiamu.. 4 tahun aku pinjamkan hatiku.. now, i moved.. i really do.. slamat menjalani hari2mu dengannya..

aku dan kamu, dan sebuah kata "ya"

setelah melalui banyak sekali pertimbangan, melewatkan cukup banyak momen.. kata "ya" yg ternyata hadir untuk menjawab pertanyaan yg slama 2 bulan ini mengganggu kenikmatan tidurmu..

ya, aku menjawabmu dengan satu kata yang membuncahkan seluruh kebimbangan, kekhawatiran dan ketidakjelasan yg membumbui sajian sehari2 kita. maka aku milikmu & kamu milikku. ya, saling memiliki adalah konsekuensi dari satu kata yg baru saja aku ucap.

kita tertawa. bahagia. sepertinya baru saja menemukan sang nirwana yg tadinya kupikir cuma khayal para insan iseng saja. tapi ternyata nirwana benar adanya.
kamu merasa lega. aku merasa bangga.

kita memberi cinta. smoga slalu dalam bahagia..
(Terimakasih rizki, untuk momen indah pada 18oktober09)

--Depok, 22 Oktober 2009--

Lelah

keluh kesah marah
sampai pasrah aku berserah
duduk merendah sampai berdarah

aku lelah
butuh celah
butuh desahkan setitik nafas

diam saja
tanpa perang bahasa dan juga jiwa
aku ingin semua mengalah

sekali saja
biar aku rasakan apa itu lepas
bebas
dikupas saja semua prasangka yang menekan
menahanku untuk merasakan kesegaran...






aku lelah....

(17 Desember 2009)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…