Thursday, March 25, 2010

abang

Ih abang, jangan memandang..
Aku jadi bimbang,
Dadamu yang bidang seperti menantang..

Ih abang, ini liat si aku bertandang
Ingin disapa salam sayang
Kalikali saja bisa terkenang
Kita tahu perjumpaan ini dilarang-larang

Ih abang, garis mukamu terbayangbayang
Padahal aku sudah jauh melayang
Melayang bersama angan
Angan bersama abang

Abang, tinggalah sedetik lagi.
Aku masih ingin menikmati rintik rindu ini.
Merasakan gelitik dustadusta yang tertindik di lubang hati ini
Melawan satu titik akhir, titik mati. Titik, mati.

saat sang waktu akhirnya tiba

... sampailah, suatu ketika dimana akhirnya aku rela melepaskannya, melihatnya terbang dengan kepakan sayap tanpa celoteh apapun darinya ...

dan saatnya, tiba. sekarang ini, dimana aku telah melayangkan pandang dan bayang jauh kebalik nirwana. aku melepasnya, tanpa salam perpisahan dan lambaian selamat jalan..

Saturday, March 20, 2010

sebuah nama memikat

sebuah nama dengan makna yang ada di dalamnya.
cuma dua. dua rangkai kata yang membentuk insan dicinta.

Kita berjumpa di warung kopi yang buka semalam suntuk. Kita tidak berdua disana. tapi mereka tak peduli kita ada.

kau habiskan teh dalam gelas belingmu, yang kilaunya seperti bola matamu yang bergerak-gerak ragu. Kita membincangkan apa saja yang dapat diutarakan. kau ceritakan kisah namamu. Namamu yang sejak awal kutau, kukagumi. Unik kataku. aku ceritakan tentang hobiku. puisi, dan puisi kataku. Aku suka sajak. Kau bilang ingin dibuatkan sajak. Sajak berlagu merdu. Tak suka yang sendu-sendu, apalagi tentang rindu. karena rindu terasa pilu. Kamu tak mau. Tak mau merinduku. merindu harus berjarak, dan kau tak mau sajak kita berjarak.

Kubuatkan kau sajak, tentang langit yang berwarna pekat. yang kelak kan jadi hayat.
saat langit gelap tersibak, ada cahaya yang memikat. tak ada nadi lagi yang harus jadi korban tersayat.

24 menit berlalu, dengan sajak berlagu merdu, cinta kita tak lagi bersekat. Bola mata saling menatap. tak usahlah lagi kita berucap. yang kau tahu, ku tahu. Hanya ingin selalu didekap.


*kamarku di vila banjarwaru. 21maret2010*

Wednesday, March 17, 2010

balasan yang terlambat datang

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah karya milik senior saya, aris azhari gunawan: sepotong surat tanpa alamat*

Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,

Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.

Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.

Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.


Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…

Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.

Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…

Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true

Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.

Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.

Depok, 17 Maret 2010
*sendirian di sebuah kosan yang penghuninya sedang latihan futsal*

Wednesday, March 10, 2010

Menatapmu. lewat jendela maya.

Dunia maya. Milik mereka. Bukan kita.
Tapi kau disana, aku juga. Menyelaminya. Tiap saat bersama. Lewat maya, yg tak nyata. Tak heran jika rindu masih pada kotaknya. Karena tatap itu pada kamera, kuintip lewat jendela maya. Kunikmati rakitan kata, meski kutau bukan hatiku nakhoda melabuhkan goda. Lewat maya, jendela dunia. Kupahami makna: tak usang kau disana, meski tak bersama adalah takdir kita.

Saturday, March 6, 2010

Penjara

aku dikurung malam,
tak lekang meregang
memberi ruang
merekahkan kebisuan

Kulelah menjilati rindu
Yang tak habis2 meski hati tinggal seonggok tersayati
Dimana kau belati, kini aku ingin mati
Karena pekat mengikatku
ku buta diserang cinta
yang didakwa meja hijau peradilan.

dijeruji itu kita bersama, sang adam. menikmati penjara meski kita tak diizinkannya berkata-kata
hanya mampu bermain mata
menebak-nebak makna yang tidak terkuak

Keadilan tidak pada kita, sayang.
kau dan aku digantung paksa.
dibunuhnya nadi yang sedang mengalir seirama
cekik hingga nafas tak lagi ada

Langsak rusak teracak-acak
Mimpi yang terucap melalui debu2 yang mengganggu
Kini terdekap nyanyian hujan
Kukecap nisan kisah kita
Ditimbunnya dengan doa-doa
Supaya kelak, kita dipersatukannya.

Thursday, March 4, 2010

pagi, episode 2

Sudah cukup lama saya tidak duduk di berandapagi-pagi. Hari-hari saya cukup sibuk, hari ini pun sebenarnya saya tidak punya topik apapun untuk dituliskan. Saya hanya tidak bisa tidur lagi setelah bangun untuk shalat tadi pagi. Jadi, disinilah saya dengan radio, ballpoint dan notebook setia saya.

Saya mau senyum, karena tadi malam saya marah-marah. Marah-marah yang membawa saya ke alam sadar saya telah diperbudak oleh emosi yang hanya akan membuat saya lelah.

Keputusan saya duduk di teras pagi ini tepat ternyata. Langit sedang pandai berdandan. Ia tampak cantik. Biru muda dengan semburat jingga, bias mentari mulai mengintip, menunggu gilirannya untuk menghangatkan pagi. Semilir angin bertiup mesra, menyapa kaki-kaki kecilku yang telanjang. Mengibaskan rambutku yang terurai. Suara-suara burung menemani aku yang sendiri. Sepi sekali pagi ini, sesepi ruang hariku tanpa seorangpun berminat mengisinya.
Tapi aku tenang.. seperti pagi yang juga tenang dan aku belum mau membuatnya ramaii.

pagi

Kalau pagi datang, suhu tubuhku biasanya dibawah normal. Itu mengapa aku suka sekali duduk di beranda.
Cit.. cit.. cit.. terdengar olehku celoteh centil dari burung-burung kecil yang berterbangan. Beberapa yang sudah lebih dewasa hanya mampir untuk sapa dan selamat pagi dunia. Sisanya? Hanya gosip dan cerita saja.

Sambil sang surya menghangatkan tubuhku yang beku in. Kunikmati juga irama kaum manusia yang tertawa, berjalan sibuk atau malah dengkuran tanda mereka masih nyenyak dalam tidurnya.
Aku? Mencoba mencari sesosok yang aku kenal. Namun, sepertinya dia tak datang.

Suara sapu lidi mulai berpadu dengan rumput-rumput yang belum disisir rapi di halaman, suaru deru-deru mobil tersamar dibatasi ruang, kulihat bunga mulai menari bersama angin yang membantunya menggoyang tubuh sang mahkota.

Pagi itu damai. Manusia masih tersenyum, bunga masih mau menari, daun masih bergoyang gembira. Sebentar! Kudengar ada kokok ayam yang sepertinya agak kesiangan.. tapi tetap tidak mengurangi pesona sang pagi.

Lalu, matahari mulai pegal dan ingin berdiri. Sekalian memberikan pengumuman bahwa tuan siang telah datang. Kini.. mereka yang tadinya tertawa mulai berkeluh akan panasnya dunia. Bunga menunduk tersengat sinar... dan burung-burung tadi sudah kembali kerumah masing-masing.

Pagi itu singkat. Tapi, aku tak perlu bersedih.. karena esok, kuharap pagi akan tetap seindah ini. “selamat jalan pagi...”.
Kini tubuhku sudah hangat, aku masuk dulu yaa.. makan siang sudah ada.. “selamat makan”

benih - Kania dan Dian, dan sebuah balasan

ini adalah dua tulisan berbalas. tulisan pertama dari dua orang sahabat, yang katanya sih sok-sok ga ngerti puisi, tapi lihat deh hasilnya :)

terima kasih Kania dan Dian :)
------------------------------------------------------------

Benderang terang tidaklah gelap
Ketika badai endorphin menyerang
Merasuki liku amygdalaku
Turbulensikan jantungku
Hampir mati

Bayang selalu jatuh tepat di titik retinaku
Tanpa sadar singgah dihatiku
Perjalanan panjang
Menyegarkan kerongkonganku
Mengisi udara paruku
Memacu setiap tetes darahku
Hingga merusak hatiku

Ranting2 itu mulai tumbuh
Memunculkan daun-daun baru
Lambang kehidupan…
Natalitas meledak, mortalitas sesak
Seperti aku denganmu, terus hidup
I love you…

Salam sayang penuh cinta rimbun kasih,

Dian+kania

----------------------------------------------------------------

Siapa kata benderang tak bisa sisipkan gelap
kala enzim yang melesat gagal kuasakan raga
sumbat segala makna yang tersesat dalam labirin kata
mati kah kamu? Ku suri kini sendiri

kucuri juga tatap dari kejauhan sana
dimana bola matamu bergerak-gerak, mencari bayang yang terbiasa kau cinta
panjang, jalan yang terpampang
layaknya kisah kita yang membesit terkenang
bukan hanya nama yang aliri pembuluh arteriku
lamat lamat ini jadi keramat yang menggoreskan tinta-tinta pertautan kita
retak hatimu, remuk milikku

kelahiranmu yang kan desahkan nafas pengharapanku,
kala semi gugurkanmu walau kini ku melaju salju
bersamamu, tak kenal waktu.
I love you too…

Kecup sayang, peluk kasih,,

Nanda Sani..

---------------------------------

Malam jumat remang

rasanya sudah lama kita tak berdiam seperti ini. Tak seucapun kita berkata. Tapi dengar hati kita menyuarakannya. Kerinduan itu.

hanya kita bertiga yang merasakan getarannya. Getar persahabatan yang menggegam erat urat kepercayaan. Tali2 perjalanan yang mengikatkan memoir2 tak terlupakan, membiarkan bahasa2 yang tak seorangpun memahaminya. Hanya kita. Dan milik kitalah, misteri yang membahagiakan ini.

Dan kalanya tali2 pengikat itu mulai meregang, biarkanlah.. Sisakan ruang agar kita dapat bergerak. Harus ada nikmat yang tak menyesak. Hingga akan tercipta lagi tawa tawa yang tergelak.

Sahabat, kututup malam remang dengan senang. Melahap kenangan, tak kan ada habisnya bersama kalian. Bersama canda, juga air mata. Bersama dekap kala dekat, dan keluh saat jauh. Kulumatkan pengharapan, jika suatu saat kudapat bekukan waktu agar kekal nama kita di gurat hatiku.

-------------------

------------------------


*friendster menyelamatkan foto-foto kita :)*

Biola, tanpa dawai.


biola, tanpa dawai. Tanpa kata. bisu tak bersuara. Kupajang diantara tralis jendela. Malam mendulang, memainkan kenangan berulang-ulang.

Biola, tanpa dawai. kosong, melompong. Ompong, kini jadi lowong. Mampukah kolong awan, melengkapi ruang kopong?

Biola, tanpa dawai. bunyikan melodi sumbang. Biar nyanyi para kumbang. Kita lawan bunyi gamang. Biar lenyap bimbang.

Biola, tanpa dawai. rindumu telah habis dihempas.
tertunang hampa di atas kanvas.

-------------------

Wednesday, March 3, 2010

episode terakhir

mati2an aku berusaha melupakan pertemuan terakhir kita.
Teralu irrasional, irrelevant dengan apa yang nyatanya terjadi skarang!

Tapi ternyata justru episode itu yg mandek di otakku, membuatku sesak, dan entahlah, segelintir penyesalan akan ke'pamitan' ku.
Lalu, pada akhirnya, disusul rasa marah karena menyadari aku tidak begitu berharganya untuk kamu pertahankan.

4 tahun, 3 kali, dgn 2 wanita, 1 org ini melakukannya dengan sangat baik.

Manis, tapi sangat pahit pada akhirnya!

kalau aku pernah berkata kebersamaan memfasilitasi perasaan, mungkinkah ketidakbersamaan menjadikan ekstinsi perasaan tersebut? atau malah semakin membuat perasaan merintih menangis meraung meminta tempatnya kembali?

tidur lelaplah, sayang...

inginku mengucap slamat malam.
mengecup sedikit saja bibirmu.
mengharap kmu terlelap dalam tidurmu.

mari, kita kremasi rasa sedih itu, sygku..
biarkan jadi abu dan mengalir di lautan.. menjadi bagian keindahan sang samudera cinta..
klo memang ini adalah suatu pengorbanan atas nama kesetiaan, maka air mata tak jadi sia-sia.

bermimpilah tentang nirwana, sygku..
karena hanya di dalam mimpi aku dapat menggapaimu tanpa batas, tanpa pretensi dan tanpa takut kehilangan lagi

tidur nyenyak, sygku..
aku kan tetap berbaring di sampingmu.. memelukmu.. dan biarkan aku menikmati aroma tubuhmu.

karena mungkin..
itulah yg terakhir dalam hidupku untuk bersamamu..

jika

"jika ada satu pertemuan lg. izinkan aku, mendekapmu tanpa pretensi, mengecupmu penuh ekspresi dan izinkan aku mengatakan.. aku melepasmu.. sepenuh hati."

"tapi, jangan pinta aku tuk kembali. karena kuharap hal itu tak lagi terjadi."

morfin

pernah kucicip sdikit nikmatmu, hilangkan pedih & penatku
ringankan nyeriku, buat ku melayang krna nyamanmu..
tp kamu tak pernah biarkanku meninggalkanmu, kau jadikan dirimu canduku. hingga tak kuasa kupalingkan hati darimu, morfinku

hingga akhirnya..
terbuai kudalam pelukmu.. erat, hangat, nyaman tapi perlahan membunuhku..
Tak mampu kutinggalkan semua rasa senang dan tenang saat kau bersamaku..
Tapi kusadari, bukanlah kmu yg dapat kumiliki. dosa kita bila terus memaksa..

Kini aku bkn lg seorang morfinis, tp izinkanku merasakan nikmat terbang bsamamu, skali lg sblum aku mati karena racunmu..

masa bodoh

lemah, sayang.. tubuhku kehilangan daya saat kusadari tak sengaja kusayat hatimu..

lemah, sayang.. aku tak kuat bertahan saat luka yg membekas itu aku yg menorehkannya..

sayang, maaf.. airmata ini tak sembuhkan perihmu yang berdarah karena tajamnya silet lidahku yg tak terjaga..
hatiku ikut merintih saat kau palingkan wajahmu dari mataku, sayang..

kembali.. beriku pengampunan dari luka batinmu itu.. walau jalan berliku2 harus kuterjang untuk dapatkan itu. sungguh benar aku tak yakin mampu bila kau jauhi hati ini..

aku tak mau lg meragumu. aku ingin menikmatimu, merasakannya kasihmu, syg.. tak usahlah kita dengar bisik atau murka juga caci2 jijik yg muncrat dari mulut2 mereka itu syngku..

kemari lagi sayang, katakan itu lg, jgn dibaur dgn ragu.. aku sungguh merindumu, sungguh kurindu saat itu..

episode 4: dillema seribu tanya

tanya seribu tanya yg sudah ribuan kali kamu ulangi
tetap itu2 saja
tetap tentang cinta yg tak jelas arahnya mau kmana

Kmu tanya, tanya yg juga aku pertanyakan
Knapa aku, knapa kamu, knapa harus ada aku dan kamu yg menjadi satu frase bermakna cinta
cinta yg tak tentu mau dibawa kemana
memang kau pikir aku ini tahu jawabnya
jika iya, maka tak usahlah aku disini tertawa tawa
tertawa yg tak jelas artinya apa
mungkin pasrah atau bentuk kecewa
ini namanya dilema.
Mau kemana sama saja
sama hancurnya kita berdua.

Aku tak tau ujung cinta kita jadi apa
cuma saja, aku tahu kini kita masih bisa menikmatinya
maka, diam sajalah.
stagnan di zona nyaman, walau hati merasa terancam.
lebih baik
daripada kita mati bunuh diri
tak kuasa tahan pedihnya patah hati

jadi, simpan saja itu seribu tanya yg beribu kali kamu ulangi
biar saja, kita manjakan isi hati ini
beri waktt barang sedetik untuk menari2 diatas melodi
melodi yg sendu karena cemburu
atau merdu karena sedang pandai melagu
ah! kamu jadi candu
bisa benar2 mati aku tanpamu

episode 5: purna yang (tidak lagi) sempurna

sejak malam itu, untukku, purnama takan pernah lg sama. tak akan pernah menjadi sempurna seperti malam disaat melodi kita sedang ceria dipenuhi kasih cinta.
Kini, jiwanya telah hilang sebagian, telah dicuri walau sesungguhnya purnama tidak rela dipaksa memberi cintanya. tapi purnama tak mampu lakukan apa-apa. purnama tak lagi sempurna, stidaknya untukku.

Mungkin ini akhir dari dilema seribu tanyaku, dimana akhirnya sudah terlihat jurang kematian tempatku bunuh diri, bukan lagi hanya bayang atau tatapan ilusi. Ya, bukankah jiwa kita mati bersama disana? Sama2 terjun bebas pada suratan abadi dunia dimana habis daya kala kita coba menyangkalnya, mencoba mengubahnya sampai tersayat dan habislah darah yg mengalir dalam nadi kita. Henti sudah detak jantung di detik berikutnya, di detik yg melantunkan irama tersendu sepanjang masa kita berdua.
Melodi kenyataan. Melodi fakta dan realita yg tak lagi merdu.
Aku hanya tinggal menunggu waktu itu, yg pasti tiba. menunggu melodi itu kematian jiwa dan rasa yg meninggalkan asa.

Dilema bukan lagi suatu permainan yg menyenangkan, bukan lg tekateki yg harap temukan jawabnya. sudah jelas kini. Kelak kau tinggal datang bawa satu tangkai kembang mawar bagi persemayaman abadiku, dimana selaput hitam atas nama kekecewaan yg menjadi kain kafanku. Itu saja. sama seperti yg slalu aku minta saat jantungku masih berdenyut bersamamu. Saat dimana jiwamu menghangatkan bekunya hatiku, saat raga tak berjumpa tapi melodi kita selalu sama.

senyumku berarti pasrah.
menatap purnama yg tak lg istimewa, karena separuh jiwanya telah diambil paksa.
Dan purnama tak pernah lagi sempurna, sejak rasa menyanding hampa.
semoga saja, pelaminan kita sudah siap di surga.

nandasani, ciawi, 240909 ; pagi

malam kerinduan

Kita di sebuah ruangan tanpa lampu. Kmu mendudukan lilin itu dhadapanku. Kini yg terlihat hanya wajahku masih muram temaram. kamu terdiam. rindu itu sudah membludak, tak teredam seperti jg gairahku yg tak kunjung padam. ingin kucumbui tiap tiap senti dan pori kulitmu, kusesapi nyawa dan jiwa d ragamu.

Tapi.. sempat teredup smua hasratku untuk tetap melanjutkan langkahku.. karena kehampaan mulai merasuki aku, menyelimuti aku dgn rasa yg menyesakkanku. seolah kegagalan atas kata kebersamaan diperdengarkan berulang2 kpdaku. kita berdua sama2 tau, berapa berat beban yg akan dipikulkan di pundak kita. tapi tetap nekat saja kita mulai menyusuri terowongan yg disebutkannya sbagai misteri.

Lilinmu tinggal stengah jalan. sudah meleleh sbagian.. kita masih diam. tanganmu mulai membelaiku. perlahan. seolah aku ini porselen milyaran yg sangat berharga. aku mengecup belaianmu saat bibirku terulas jari2mu..

Kini kau dekapkan aku pada bidang dadamu.. kamu pelukku. Terkadang teralu erat. aku sesak tp tak melawan..

Biarkan rindu ini mengalirimu.. basahi aku.. dalam terang lilin temaram, yg hilangkan sang muram.
Hingga aku yakin, bersamamulah kulahap malam..

luka

Lamat lamat aku nikmati.
Irisan demi irisan dari kata kata itu. Mengikatku semakin erat. Semakin kuat. pilu merambat, menyapa mayat yg bersemayam dengan jiwa tersayat.

Mana kini kau bilang cinta?
smua cuma racikan kata yang seolah jadikan aku permata?
Kini, terbalut luka kupejam mata.
Tak inginkah kau belai gurat senyum yang miris tersisa? Terlukis pedih menangis miris?
Tak adakah inginmu tuk balutkan darahku yg mengalir dari hati yg telah tercabik? Tak ibakah kamu?

Tak terasakah olehmu, tiap nafas yg tertiup sebutkan namamu
Dimana jiwaku menapaki hari bersamamu
Tak terdengarkah olehmu, nyanyian ombak itu kusampaikan untukmu
Bukan hanya diterang purnamamu, namun disetiap waktuku
Disaat ku melagu, meragu, bahwa memang rasa itu utuh untukku

harapku adalah nadi itu kita miliki bersama, satukan asaku dengan milikmu..
memang terpisah raga, tapi kuharap derap jiwa melangkah bersama..

Itu harapku

Bukan milikmu, karena nyatanya kau berjalan sendiri.
higga aku tak sanggup berdiri.

epsisode 6: last call; purnama yang terbias

purnama sudah benar2 gelap tak lg terlihat
Hanya bias-buas menggerogoti hati penuh harap-harap merayap
Terjerembab aku melahap
Pedih luka tersayat-sayat
Menjadi mayat

Sekali lagi, terpaksa kugadai rasa
harus lagi hilang asa
Putus terputus mengendus-ngedus nafas sisa
Kali ini, sudah saatnya
Saat purnama mengafankan cinta
Menimbun jiwa dengan doa
Agar keduanya dapat bertahan hidup dalam nestapa

yang tadi : akan menjadi yang terakhir

yang tadi ; akan menjadi yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi marahmu olehku yg terakhir
yang tadi ; akan menjadi gundahmu yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi malam suram kita yang terakhir
yang tadi ; akan menjadi senyum pahit kita yang terakhir


...

Jangan khawatir, karena yang tadi ; akan menjadi kata sayangku yang terakhir..
Setelah ini ; mari kita akhiri, daripada terus ditusukki kisah berduri

Mari.
Selamat tinggal.

hari ini

Aku pakai baju anti sakit hati, pakai gaun dengan hias kemilau berwarna abu, yang tidak hitam, tidak putih. Pakai alas kaki, stileto sembilan senti. Yang berdiri saja harus hati2, bisa jatuh terguling2, patah tulang belakang & jadi lumpuh sampai mati.

Terakhir, aku pakai topeng. Karena yang kutahu, setiap hari adalah pesta topeng. Kali ini, topengku bergambar senyum paling lebar, sangat tulus, penuh kebahagiaan.

Pantas tidak disandingkan dengan gaun & sepatuku?

hadang rindu malam

Aku sedang berperang melawan rindu. Rindu terlarang, pda rasa yang terhadang. mungkin pernah terjalin, walau tau sama saja bunuh diri. Ditengah kelam sang rembulan, sembunyi malu tuk ungkap betapa luka masih nganga walau waktu telah jauh berlari. Kenangan tinggal bayang, tapi masih jelas melayang2 di angan. Dalam diam, kuharap sepi merayap. Tinggalkan aku yg meratap. Atap kegundahan halang menantang pandangan pada sang malam. Sang adam, ingatkah kau pada jiwa saat angin sampaikan gejolak yg terpaksa teredam?
Biar kucumbu malam, bergumul dengan makna kesendirian.

kota cinta

kupejam mata disela jantung kota. Detaknya menghantam. Peluhnya masih mengucur. Ku merasa damai ditengah ramai. Kala tak sejiwapun menyapa kota yang mulai mengantuk.
Malam menyibakan tirainya, tanda ia mau mulai pentas. Kunyanyikan lagu rindu pada sang dewa. walau nada dan suara teredam gelora asmara dua jiwa yang tak bersama. genggam hati ini, bawa nafasku dalam tidurmu. Jangan, kau bilang. Katanya, kini ada kepingan lain, yang mengisi lubang dengan sempurna. Maka, kusimpan lagi petikan senar, biar nantinya melodi bicara. Mungkin, pada insan yang sedang cemas menunggu kata terucap dari sukmaku.

Selamat malam. Kupejam mata ditengah bisingnya kota. Kita memang dua jiwa berbeda, yang seharusnya tidak berada pada ruas yang sama.

sejiwa dengan langit. menangis deras.

Dilepaskannya semua lara itu melalui airmata langit dan amarah sang semesta. dengan teriakan, dengan kucuran darah yang dilirihkannya dengan nyanyian. simpuhku diatas tanah tua yang basah. Yang setia sesap sakit hati langit sore ini.

Deras, namun selaras. kilat disambarkan saat terajam. Menjerit kala habis kata. Dalam gulir2, jiwa terkungkung hasrat tak kunjung terlepas. Melalui badai, disampaikan kecewa sang peri. dengan guruh, ditawannya hati yang gulana. Pergilah, tenang saja. Sesaat lagi, pelangi kan mulai berpesta.

senja yang manja

Melendot, mengelus manja si senja. Mencari2 alasan untuk terus disayang. Senyum kecil, meraung manis.. Minta digendong oleh kasihnya sang putra surya.

Warnanya memudar seiring malam memanggilny ke peraduan, berpendar sinarnya, jingga menyamar jadi merah dan hitam. Manja. Senja yang manja.
Kembalilah lagi esok sang jingga, sebelum kelam mengambil alih singgasananya.

untukmu, yang diseberang itu

Hey kamu yang di seberang sana. Yang kuintip tiap kali lewat depan jendela.. Tahukah kau, aku bergincu stiap pagi, berharap ku sempat lempar senyum manis padamu kala kita berjumpa.

Hey kamu, yang tak sengaja kucuri hatinya.. Tahukah, aku mengharap salam sapa ketika aku mondar-mandir depan jendela tuamu. Depan sapu biru yang berdiri malu-malu, tahu kalau aku tersipu jika kau sebut namaku.

Hey kamu, kapan kau mau katakan padaku, rasa yang dua tahun kau pendam itu? Jangan meragu, karena yang kupunya untukmu, adalah senyum dan sebuah kata. Kata yang akan melegakan sesakmu di malam kau menungguku :)

Monday, March 1, 2010

6 bulan : 4 jam

Tadi malam, kamu membayar enam bulan dengan empat jam. Enam bulan dengan empat jam. Perbandingan yang paling memilukan dan memalukan, sebenarnya. Tapi aku tidak tahu, kenapa rasanya empat jam tersebut melampaui enam bulan yang terbuang enam bulan penuh prasangka dan dendam, dibayar cukup lunas dengan empat jam yang dihabiskan dengan tawa canda.

Cukup.

Dan aku tidak meminta lebih.

Empat jam itu mengubur laraku dan juga kesalku pada dia yang lainnya. Dia yang seharusnya jauh lebih memperhatikanku. Saat ini. Aku lelah terus mengerti tanpa pernah dimengerti. Aku tak ingin meminta karena dia takan pernah memberi.

Lewat empat jam itu, aku tahu… kamulah yang terbrengsek… tapi kamulah yang terbaik. Rekor kita pecahkan lagi tadi malam, ditambah dengan satu lagi rekor baru. Terima kasih, aku sudah benar-benar melupakan semua kesalahanmu…

It’s a brand new start… kita langkahi jalan ini, sendiri-sendiri… namun kamu tahu, kita masih saling mengawasi u

dalam diam dan bisu

Diam dan bisu seolah selalu menjadi teman terbaik bagi aku
dan dirinya. Hanya dirinya. Dia yang kutatap dari meja seberang di kantin, dia yang
kukagumi saat dia menendang bola itu ke gawang dan mencetak gol-gol hebat, dia
yang hanya tersenyum sesekali, tapi bukan kepadaku, walau sebenarnya aku tahu
dia adalah orang yang humoris.

Diam dan bisu selalu hadir, seperti layaknya sahabat, tapi
hanya untuk kami berdua. Saat di keramaian pesta, saat gelak dan tawa
terdengar, saat orang-orang berteriak dan bernyanyi, bahkan kami berdua turut
di dalam kegegapgempitaan itu, diam dan bisu masih bisa merayap masuk diantara
kami berdua.

Diam dan bisu seolah mengawasi kami, tak pernah melepaskan
pandangannya, tak pernah membiarkan kami untuk saling mengucapkan satu kalimat,
bahkan satu kata. Diam dan bisu hanya mengizinkan tatapan-tatapan atau senyuman
basa-basi yang menandakan bahwa kami saling mengenal, atau mungkin saling
menganggumi.

Tapi, lagi-lagi diam dan bisu yang menengahi keberadaan
kami. Bahkan saat jarak kami terpaut tidak sampai satu meter, kami tetap
ditengahi oleh diam dan bisu. Sampai suatu hari, dia menentang mereka berdua.
Dia mulai menunjukkan bahwa mereka tidak bisa selamanya menang, mereka takluk
padanya. Suara, kata dan kalimat mulai hadir menyapu diam dan bisu, bahkan kami
tertawa. Dan seketika kami lupa akan hadirnya diam dan bisu pada kehidupan lalu
kami. Tawa, canda, harapan dan kehangatan menjadi bagian dari kami, seolah
mereka takan pernah pudar dan pergi meninggalkan.

Diam dan bisu tidak mau tinggal diam, mereka telah teralu
lama menikmati keberadaannya ditengah-tengah kami. Diam mulai mengajak bisu
untuk berdiplomasi dengan perbedaan, kenyataan, dan rasa sakit. Mereka semua
tidak senang kami berada di kehidupan baru kami yang tidak lagi memperdulikan
mereka.

Lama mereka menyusun strategi, dan kini… gerilya mereka kembali
menang. Mereka kembali menjadi sahabat kami, merasuk kembali ke jiwa kami, ke
dalam harinya, hariku. Dia diam melihatku, aku bisu saat bertemu dengannya.
Perbedaan ada di depan matanya, kenyataan memaksa aku mengakui keberadaannya.
Dan akhirnya, rasa sakit diam-diam mengalir dalam darah kami, menyanyat nadi
dan urat kami, hingga akhirnya… kami mati tanpa kata apalagi tawa. diam membuat bisu. dan bisu adalah diam.

kopi hitam semalaman

Malam itu aku duduk di beranda rumahku, bercakap dengan seorang kawan baru,
yang sebenarnya belum teralu aku kenal. Ditemani semilir angin, segelas kopi
tubruk yang hitam, dan percakapan basa-basi. Tawa-tawa kecil mulai mendatangi
kami, kekakuan mulai mencair… sampailah kami pada topik yang tak pernah lepas
dari kehidupan orang muda, cinta.

Aku dan dia sedang mengeluhkan kehidupan cinta kami masing-masing, dia
bercerita betapa kelamnya hari yang dia jalani dengan bayangan kekasih
terakhirnya yang terpaksa ia tinggalkan. Aku? Heh… hanya dapat menghela napas
panjang untuk menunjukan bahwa kisah yang kupunya juga sama gelapnya dengan
yang dia baru saja sampaikan.

Sejam kemudian, aku merasa telah mengenal dia dari beberapa tahun silam,
seluruh kehidupan cintanya terbongkar padaku, bahwa dia pernah benar-benar
jatuh cinta pada gadis berusia 6 tahun lebih muda darinya, polos, lucu, dan
mampu menyajikan lelucon hangat ataupun dongeng simpel yang akhirnya dapat
ditebak. Tapi, si gadis kecil tadi mampu membuat temanku ini duduk diam selama
enam jam untuk mendapati si kecil ketiduran diwaktu mereka ngobrol lewat sms. Katanya,
tatapan si kecil tadi mudah sekali dibaca, kekaguman pada dirinya, yang
menjadikannya lebih kuat setiap hari, lepaskan beban kekhwatiran dalam lubuk
hatinya. Temanku hanya tertawa tipis, mengingat kenangan mereka, miris dan
menipu diriku serta dirinya sendiri dibalik senyum tadi. Kutanyakan pada dia, kenapa
mereka berpisah? Temanku terdiam, entah tak tahu mau menjawab apa atau tidak
ingin dirinya mengingat lagi alasan menyakitkan itu. Aku pun menebak-nebak
dalam hati. Tapi gagal… tak kutemukan sedikitpun celah untuk mendapatkan
jawabannya.

Si kecil tadi, diakuinya, merupakan seleranya yang jauh melenceng, jauh
dari kriteria dewasa, tapi itu yang dia cari. Dia cukup lelah dengan
kedewasaan, dia butuh seorang yang masih bisa berimajinasi, larut dalam
khayalannya. “dari dulu aku ingin menjadi putri”, ceritanya pada temanku di
suatu malam, respon temanku, yang kebetulan sudah teralu sering dalam dunianya
orang dewasa adalah “mimpi tuh yang realistis”, tapi si kecil menjawab “mimpi
tuh ga perlu realistis, namanya aja mimpi, boleh suka-suka dong”. Temanku diam
sejenak, berfikir… “iya juga ya? Mimpi kok realistis?”. Seketika dia berubah menjadi
orang yang lebih “muda”.

Tapi, lagi-lagi temanku tersenyum tipis, miris. Dia bilang, dia sayang si
kecil, tapi dia tidak mampu melakukan apapun, mereka berbeda dalam satu hal.
Aku sempat bingung, tentu saja mereka berbeda, usianya saja terpaut cukup jauh
darinya, pemikirannya juga berbeda, dia begitu dewasa, begitu complicated.
Sedangkan si gadis manis ini, khayalannya saja masih sebatas ingin menjadi
seorang putri seperti di dalam dongeng. Begitu polos…

Aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada diriku, bahwa perjuanganku
juga berat, perjuangan melawan ombak-ombak besar dan bergelombang dalam arungan
samudra percintaanku. Walaupun pada ujungnya, aku tahu semua itu menjadi suatu
pelajaran paling berharga dalam hidupku.

Aku, seorang wanita yang kata teman-temanku memiliki sejuta pesona untuk
menarik pria manapun yang melihatku, tapi entah mengapa aku melihat diriku
biasa-biasa saja, bahkan teralu biasa, selalu gampang ‘melirik’ pria
disekelilingku, walau teman-temanku mengatakan merekalah yang melirikku, bahkan
beberapa mengatakan dengan berlebihan bahwa mereka bukan hanya melirik, tetapi
memerhatikan gerak-gerikku. Ironisnya, aku malah jatuh ke dalam cinta seseorang
yang sudah dimiliki orang lain, parahnya, aku tak mampu berpaling. Memalukan.
Itulah aku, beberapa bulan menjalani hubungan tanpa ikatan dengan pria si
pendua, perang dingin dengan kekasihnya yang tidak mengenalku, berperang dengan
nuraniku yang mengatakan aku salah. Akhirnya aku berpisah, namun aku masih
tidak berpaling. Perasaan terdalamku masih untuk dirinya, hingga beberapa tahun
berikutnya, dia kembali. Kembali untuk pergi selamanya. Bukan mati, karena
sebenarnya mati lebih baik daripada dia meninggalkan aku untuk wanita lain.

Selanjutnya, aku menjalani hidupku seperti biasanya, setidaknya itulah yang
terlihat oleh beberapa orang. Aku berhasil menemukan pria, yang kalau
kubanding-banding, jauh lebih baik daripada dia yang hanya menjadikan aku si
nomor dua.

Beberapa saat setelah itu, pembicaraan aku dan temanku hanya sedikit mengajak
kata-kata. Kami lebih banyak menyertakan diam dan tenggelam dalam kenangan
masing-masing. Seolah masa lalu mengejar kami kembali, menarik kami, memaksa
kami untuk merasakan lagi rasa senang, sedih, gundah dan gulana masa itu.
Gambaran-gambaran beberapa waktu kebelakang seolah bermain-main di depan kami,
menari-nari, menunjukkan dirinya kembali,

Beep. Tiba-tiba suara dari handphone temanku memecah kesunyian yang daritadi
ikut ‘nimbrung’ bersama kami. “dia”. Gumam kecil suara temanku, suaranya lebih
berat dari yang tadi kudengar. “pertanyaan kecil, simpel, selalu seperti itu
caranya mencairkan kebekuan diantara kami. Begitu tertebak. Klasik. menarik”.
Lalu dia diam lagi, meletakan telepon genggamnya, matanya menunjukan
sinar-sinar keinginan menjawab setiap tanya kecil yang dilontarkan gadisnya.
Tapi dia mengurungkannya, mengubur dalam-dalam, menimbunnya dengan sejuta
alasan yang menurutnya logis, yang menurutnya, bukan menurut si kecil, lebih
baik dilakukan. “kami berbeda” lalu dia kembali membisu.

Aku, yang sedari tadi hanya melirik kearahnya, akhirnya mengeluarkan
kata-kata yang tak pernah aku susun sebelumnya, “semua didunia ini diciptakan
berbeda, karena jika semua sama, aku tidak sanggup membayangkannya, betapa
membosankan hidup ini. Kemana pun kamu melangkah, kamu akan bertemu dengan
orang yang memiliki wajah yang sama, baju yang sama, rumah yang sama,
pemandangan yang sama. Ah… pasti juga akan membingungkan bukan, harusnya kamu
bersyukur karena kamu berbeda, perbedaan kalian akan saling melengkapi. Kamu
kolot dan dewasa, dia begitu polos dan lugu, lucu, masih banyak imaji yang akan
membuat kedewasaanmu lengkap, lengkap karena kamu tak pernah meninggalkan
masa-masa kecil dan indahmu melalui imajinya, dia pun akan dewasa dalam dunia
khayalnya, menjadi putri yang hidup dengan pangeran yang dapat mengajarkannya
kebijaksanaan, bukan hanya keindahan khayal, tapi caranya menerima kenyataan
yang kadang tidak sesuai dengan khayalan. Kalian akan lengkap jika bersama”

Tapi dia hanya diam… lama. Sampai akhirnya dia mengucapkan “tapi, kami
akan lengkap tanpa perbedaan itu”. Aku berfikir sebentar dan mulai mengerti…
mereka berbeda keyakinan, tentu. Apa lagi yang tidak bisa ditolerir?

Selesai aku menguliahi dia dengan segala kesoktahuan aku, dia hanya
tersenyum “terima kasih”. Aku membalas senyumnya. “kamu tahu? Kadang menjadi
yang kedua, merupakan yang lebih spesial daripada yang pertama, yang kedua,
walaupun terdengar seolah ada di peringkat dua, kadang menjadi perhatian utama.
Kamu pernah tidak berfikir mengapa dia menjadikanmu yang kedua? Karena kamu
spesial, kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang pertama, kamu
pernah terfikir mengapa dia tak mau melepas dirimu? Karena dia takut kehilangan
kamu, takut tidak pernah menemukan lagi sosok se-spesial kamu. Karena
menurutnya, kamulah yang menjadi pelengkap dalam hidupnya. Namun, mungkin tetap
saja keegoisan yang menang. Pria, mereka memang seperti itu, ingin menunjukkan
bahwa dirinya tangguh dan mampu meraih apapun yang mereka inginkan. Dia bangga
bisa memiliki dua, diantara mereka yang untuk mendapatkan satu saja, harus
menyeret harga dirinya, menjatuhkan lawan-lawannya, dan menerima akhirnya
mereka kalah. Apalagi, kau yang didapatkannya. Kau yang begitu istimewa, bahkan
disemua mata lelaki, siapapun akan tertarik padamu”. Aku hampir tersedak
ludahku sendiri. Mencoba memahami apa yang baru saja lelaki ini katakan padaku.
“satu yang salah pada dirinya, dia akhirnya memilih membiarkanmu pergi dari
hidupnya… itu bodoh” dia melanjutkan. Aku merasakan darah mengalir begitu
cepat, membuat jantungku harus bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.

Dia tersenyum lagi… “aku melakukannya juga, Sandra”. Akhirnya dia
menyebut namaku, Sandra. “aku pria bodoh yang menduakan, lalu membiarkannya
pergi… hilang bersama masa laluku. Tapi dia kembali datang, membayangiku,
setiap malam, meminta aku menebus dosaku padanya. Sampai pada akhirnya, aku
bisa mengusirnya lagi, kedua kalinya, karena gadis kecil tadi. Yang hanya dapat
ku kagumi, tanpa dapat aku miliki. Tapi, dengan dia hidup dalam anganku, dia
akan tetap sempurna, seperti apa yang aku inginkan. Dan aku menyukainya tetap
seperti itu”. Mungkin kini dia telah melupakan bayanganku, bayang yang selalu
gentayangan menagih janjinya yang tak pernah dia tepati, bayang yang selalu
menghantarkan rinduku padanya. “aku juga sudah melupakannya, Dimas. Dia telah
pergi tertiup angin yang berhembus kearah masa lalu. Menenggelamkannya didasar
lautan kegelapan, tertimbun pasir di pantai kesedihan. Aku akan terus naik ke
gunung, dimana aku akan merasakan kesejukan karena hijau dan rindangnya
pepohonan, tempat dimana aku akan melihat dunia dengan pandangan yang lebih
luas, meninggalkan jauh pantai dan laut kesedihanku. Dia dibelakangku. Jauh.
Aku mendaki bersama penjagaku, seseorang yang selalu setia menemaniku,
menungguku dalam langkah yang tertatih menginjak bebatuan gunung, menggegam
erat tanganku saat aku harus melalui lekukan terjang dan curam. Kami akan
mencapai puncaknya, bersama.” Dan aku tersenyum.

Malam itu, semilir angin dan dua gelas kopi hitam yang telah habis
diseruput kami telah membawa kami pada perenungan kisah masing-masing. kami,
mampu melihat lebih dalam untuk kisah lawan, membukakan pintu terang untuk
kami. Kehitaman cinta kami, telah diseruput habis seperti kopi hitam yang ada
di dalam gelas tadi. Hanya akan ada ampas yang dibuang, menyatu dengan tanah,
terkubur, dan mungkin… hanya mungkin, akan diam dihalaman rumah kami,
menemani kami dalam kebahagiaan.

sahabat saya

Dia adalah seorang sahabat dari saya. Seorang putri bagi beberapa pangeran dan seorang bagi semua orang. Cantik. Pintar. Berbakat. Ramah. Menyenangkan. Dan yang terpenting, dia bukanlah klise. Dia nyata. Hadir dan ada. Dia menebarkan kehangatan saat dingin menghantui saya. Dia membawakan cahaya, saat gelap mengecam saya dalam kelam. Dia memberikan sebuah senyuman yang meneduhkan disaat saya kehausan. Dia lakukan bukan hanya kepada saya, tetapi juga sekelilingnya. Saya kagum padanya, semua yang mengenalnya akan kagum padanya, akan melihat betapa hebat dirinya. Betapa ia sepertinya selalu tahu mengambil langkah mana demi kenyamanan dia dan semua orang, betapa ia selalu tahu apa yang pantas diucapkan saat diharuskan bertemu dan mengungkapkan pendapatnya, betapa ia tidak takut salah dan berani mengambil bungkusan risiko yang bisa saja membuat dirinya terjerembab. Dia mampu memaafkan dan memberikan pelajaran dari setiap kesalahan. Dia selalu menyenangkan.

Tapi tidak hari itu, bulan itu dan beberapa hari kebelakang.
Matanya menyilaukan kepiluan, tapi sedikit orang yang mampu membacanya. Rautnya menampakan kekecewaan, namun tak semua kaum peduli akan hal itu. Saya tahu, saya diberi tahu olehnya, karenanya saya peduli. Bukan... bukan berarti saya tidak peduli jika tidak diberi tahu, tapi dia memang mampu menyembunyikan semua resah itu di dalam hati.

Kebebasan adalah yang dia dambakan. Penghargaan yang dia butuhkan. Pengertian yang ia tanyakan. Bukan semata-mata kekhawatiran tidak beralasan yang membuatnya jadi terkekang dan tidak mampu bergerak. Bukan kata tanya yang jawabannya hanya iya dan menjadikan dirinya terpojokkan.

Ia lelah dengan segala manut dan patuh yang tidak pernah dibalas dengan kepercayaan. Ia kecewa dengan sapa dan segenap perhatian yang hanya dianggap sebagai suatu kewajiban, bukan hal yang patut diacungi jempol. Ia ingin menunjukkan sayang tetapi tidak pernah ia mendapatkan balasan kasih sayang. Ia ingin lari tapi apa daya terikat kakinya dititik tersebut. Titik kelelahan hingga akhirnya hanya menerima, tidak lagi mencoba bangkit. Ikuti saja alur, yang mungkin, dia harapkan, aman.

Tapi, apakah manut dan patuh merupakan jalan keluar dari segala permasalahan yang dia hadapi? Apakah terkekang menjadi satu-satunya hal yang ia tidak mampu ia kalahkan? Apakah pasrah memberikan jawaban dari ronta dan teriakan hatinya yang merindukan datangnya kebebasan? Apakah berdiam adalah alasan dia untuk menyerah pada kepercayaan yang tidak pernah ia kecap?

Segenap bakat itupun hanyut hilang entah kemana, mungkin hanyut di lautan impian, mungkin terbang teralu tinggi bersama angan-angan yang tidak sempat diperjuangkan, mungkin juga, terkubur begitu dalam di tumpukan harapan yang terabaikan.

Ia menangis pada saya. Saya tak mampu berkata-kata. Hanya mencoba mengelus lembut kulitnya, mendekap tubuh rapuhnya. Tapi tak mampu merengkuh kepingan hati yang hancur di dalamnya. Saya tidak mau ikut hancur bersamanya, karena saya harus membantunya bangkit mengejar kereta impian yang telah lebih dulu melaju meninggalkan raganya. Jiwanya haruslah tetap hidup, barulah dapat saya merangkulnya... berlari bersama menyusuri ladang kehampaan hingga akhirnya menemukan sebuah padang rumput hijau yang penuh dengan harapan. Dimana ketekunan, kesabaran yang pada akhirnya membuat bibit menjadi buah. Ada keyakinan didalamnya. Tidak menyerah menjadi komposisinya. Lama memang, maka itu dibutuhkan usaha dan juga dukungan agar tidak ada rasa ingin pergi dan menyerah.

Dia adalah penanam bibit yang akan menjadi buah. Buah segar dan enak rasanya. Berkualitas tinggi dan akan mahal harganya. Saya akan menjadi air, tanah dan pupuk yang mendukungnya agar berkembang sehat. Memberinya pengertian akan arti tekun, kesabaran dan keyakinan bahwa bibit yang ia tanam akan ia tuai.

Saya tahu dia bisa, dia tahu dia bisa dan saya yakin, semua orang tahu dia pasti bisa.

mentari

melati tak hentinya tanya bertanya mengapa pada dedaun kering yg hampir mati..
mawar tak jua terima mengapa harum harus bersanding dgn duri yg terberi..

matahari tak mengerti, mengapa ia harus sembunyi saat sang bulan berlaga, padahal ia lah sang penabur cahaya.. mengapa bulan yg dipuja, tetapi mentari yg terhina? katanya bersinar tralu terik hingga buta mata manusia, katanya sengat teralu panas, hangus pula smangat dunia. mentari tersedu, malah berbunga para hijau ditaman. bila matahari sedang penuh smangat, para pekerja mengamuk, mengumpat bangsat padanya.. tanah meretak retak tanda protes, air kabur mengumpat buat manusia kalang kabut kekeringan..

pada saat itu sang bulan berleha2, menunggu dirinya dipuja. oleh para wanita. oleh para insan yg sedang bercinta. oleh para penyair syahdu di dunia. oleh semua umat.

mentari iri, iri dgn sambut hangat pada sang bulan. tapi mentari baik hati.. ia tahu, dunia kan mati tanpa hadirnya, sang bulan tak bercahaya, dedaun tak makan. melati akan mati seperti dedaun kering. mawar tak lg wangi tetapi tetap berduri.

mentari tak butuh puji, karena dirinya percaya diri..

biar kugenggam hatimu, sahabatku

kemarikan sahabatku terkasih, biar kusambut tanganmu yg mencari2 pegangan. genggam saja syg, aku rela walau aliran darah harus tersumbat, sampai kram sudah jemariku, tak apa.. asalkan kau gantikan dengan damainya hatimu.

mungkin kau tak sanggup bersenandung tentang bebanmu.. aku juga demikian, tak jua temu sajak tepat tuk ringankan cemasmu, syg..
jadi genggam saja.. biar pedihmu aliri arteriku, biar terbagi jadi kau tak sendiri..

untukmu jua sahabatku yg lain, yg tak kalah dicintai oleh hati ini. Jangan iri bila tak kurengkuh bahumu.. walau tak kuikatkan jemariku pada milikmu, hati ini sudah terikat pada jiwamu.. ku rasakan getar2 kekecewaanmu pada dunia, ku selami mimpi2 yg kau rangkai menjadi buket indah. ku bersamamu stiap waktu..

Wahai para sahabatku,
menangislah padaku, kusediakan kau semangkuk waktu dan seporsi ksediaan tuk temani bulir2 airmatamu..

aku ingin menyuguhkan sesendok gula untuk kepahitanmu.. rasakan semuanya lewat arterimu, rasakan melalui rambatan udara yg membelai hatimu.. lewat deru2 kereta para ksatria, lewat hembus2 angin, lewat molekul2 yg menghantarkan kecintaanku pada kalian..

kugenggam erat jemarimu yg basah karena panik mengambil alih waktumu, aku terpejam tapi kulihat kegundahanmu. genggam saja sayang.. ku bagi bahagia miliku untukmu, agar senyum itu dapat kunikmati lagi..

sahabatku yg satu lagi..
kerengkuh hatimu walau tak satu sentipun kusentuh tubuhmu.. kucoba balut lukamu dgn perban2 pengertian dan empati akan sakit hati..
kemari sayang.. kupeluk kamu.. walau tak seujung jaripun ku menyentuh kulitmu.. terasa, sayang? jika belum, berikan aku sejumput waktu agar kita bisa bertemu dan kulingkarkan lenganku memelukmu..

episode 1 : biar kamu merindu

aku menerima apa apa yang kamu kasih. kasih makna kcintaan sarat tertuang dari hari haru yg kamu temani. kabur kabur untuk hadir, walau jerit2 tugas meraung2 pinta kamu jamah mereka.
tapi kamu pilih aku, katamu.


cuma 4 hari, kenapa terburu2? katamu lagi.
Kutarik 2 senti kanan dan 2 senti kiri bibirku, melukis senyum yg sekiranya tetap tak jawab pertanyaan yg ngiang ngiung layaknya nyamuk mondarmandir di telingamu.
terusnya aku buka mulutku, kubilang biar kamu tetap merinduku tuk kembali lagi dilain waktu.
sehabis itu..


Lima jariku melambai kearahmu, punyamu juga.. tapi sama2 tak ikhlas.
Aku melangkah menjauh, kamu tetap disitu dgn raut haru biru merinduku, sampai benar lenyap rupaku dari jangkau penyaksianmu

Dalam hati..
selamat jalan. sampai jumpa lagi. sampai aku akan banyak menerima apa2 yg kamu kasih.



*dedicated 4 people i do love, that welcoming me and my friends amazingly di tanah kelahiran bapakku. love yous. xoxoxo.

episode 2: Purnama di Pantai Parai

Malam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu.
Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga.

Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja.

Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata.
Sampai kudongakkan kepalaku menatap hitamnya langit, yang malam ini ditemani purnama.
“kenapa tidak ada bintang malam ini?” kubilang begitu
“mendung” jawabmu
Aku nyengir jail, “bukan itu, karena bintangnya ada dihatimu”
Lalu sunyi berubah jadi bahak.
[seandainya kau mau petikkan beberapa untukku], batinmu
[aku benar-benar ingin petikkan beberapa bintang untuk hatimu], batinku
“kalian gila… asal jangan benar-benar jatuh cinta saja”, dia masih tertawa.

Kita : …. [berharap rasa itu tak benar-benar nyata]




Nandasani, Ciawi, 250809

episode 3: purnama kedua

Awalnya, kukira…
Saat kutinggalkan landasan kotamu, dan kupijakkan kakiku diatas tanah Jakarta, aku akan sudah melupakan purnama di Pantai Parai, melupakan melodi-melodi irama hati, meluapakan haru saat aku melambaikan jariku kearahmu sore itu… dengan kata lain… aku akan sudah mampu melupakanmu.

Tapi nyatanya…
Saat purnama sudah muncul lagi… memoriku berlarian menuju saat aku pernah memandang lukisan langit bersamamu.

Kita pernah menatap langit, melihat jiwa wulan yang sedang utuh.
Dimalam berangin itu. kita duduk. Tidak berhadapan, tidak juga berdampingan.
Tidak berdua, dan tidak mesra. kita sama-sama menikmati cantik rupanya.
Kita tidak saling berkata. Tidak bergandengan. hanya saja hati kita melantunkan irama yang sama.

Purnama kedua aku masih tetap cinta kamu, semoga saja itu jua yang kamu rasa.
Kini, kita juga tidak berhadapan, tidak berdampingan, malah jauh pula jarak yang ada. Tapi rasanya, hati kita masih bernyanyi melodi yang sama.
Malam ini iramanya sama-sama sendu
Sama-sama terbesit ragu, bukan pada rasa cinta yang kita punya.
Namun pada realita yang membelenggu,
Yang tidak satu lagu, membuat kita jadi semakin kelabu.

“kita berjalan diatas mimpi, tapi bukankah mimpi seringkali menjadi titik balik harapan yang berubah menjadi kenyataan?”, pendapatmu begitu.
Ya, aku tahu kamu mencoba mencari-cari cara agar ini bukan jadi suatu perkara.
Tapi ini adalah nyata. Mimpi kita, dibunuh oleh realita. Tak ada harapan.
Begitu pesimis aku dibuat oleh fakta yang ada.

Kamu terdiam, mengakuinya.
Aku juga paham benar konflik yang ada disini
Kamu dan aku... mengerti...
Tapi mampukah jiwa kita menerimanya?

Nandasani, depok, 060909

selamat ulang tahun

13oktober2009
untuk pertama kalinya dalam 4 tahun terakhir..
tak kusampaikan ucap selamat panjang umur.. tak kuucap kata sayang.. tak kusematkan hiasan hati untukmu..

Tapi ternyata, bukan berarti aku mampu melupakan bahwa hari ini, ulang tahunmu..


*bang.. 25 tahun usiamu.. 4 tahun aku pinjamkan hatiku.. now, i moved.. i really do.. slamat menjalani hari2mu dengannya..

aku dan kamu, dan sebuah kata "ya"

setelah melalui banyak sekali pertimbangan, melewatkan cukup banyak momen.. kata "ya" yg ternyata hadir untuk menjawab pertanyaan yg slama 2 bulan ini mengganggu kenikmatan tidurmu..

ya, aku menjawabmu dengan satu kata yang membuncahkan seluruh kebimbangan, kekhawatiran dan ketidakjelasan yg membumbui sajian sehari2 kita. maka aku milikmu & kamu milikku. ya, saling memiliki adalah konsekuensi dari satu kata yg baru saja aku ucap.

kita tertawa. bahagia. sepertinya baru saja menemukan sang nirwana yg tadinya kupikir cuma khayal para insan iseng saja. tapi ternyata nirwana benar adanya.
kamu merasa lega. aku merasa bangga.

kita memberi cinta. smoga slalu dalam bahagia..
(Terimakasih rizki, untuk momen indah pada 18oktober09)

--Depok, 22 Oktober 2009--

Lelah

keluh kesah marah
sampai pasrah aku berserah
duduk merendah sampai berdarah

aku lelah
butuh celah
butuh desahkan setitik nafas

diam saja
tanpa perang bahasa dan juga jiwa
aku ingin semua mengalah

sekali saja
biar aku rasakan apa itu lepas
bebas
dikupas saja semua prasangka yang menekan
menahanku untuk merasakan kesegaran...






aku lelah....

(17 Desember 2009)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah menyibak kata bahkan saat kembali bertatap muka matamu telah menjelma luka. Maka aku datang saja tanpa reka-reka atau rencana. Memilih leleh di sudut waktu, mengingkari rindu dari denyutmu. Sampai kau datang, aku pergi bersama lesap angin yang enggan” (Galih Pandu Adi, 9 Febuari 2010)

“kurasa diam lebih bermakna. Bahasa kita berbicara dengan caranya yang tak biasa. Ya, kelelahan atas semua kosakata yang ujungnya tak jua berhasil merajut cerita. Hening. Ketenangan yang kita cari, sedikitnya kudambakan dari pertemuan atas kepedihan, dimana dapat kau lihat ku mengibar bendera duka. Jika, kau pikir angin dapat membiaskanmu, maka jangan lupakan jejakmu yang masih terpampang oleh lukisan berdebu.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

"sedang yang terlempar disini hanya sepi. saat kau diam, desaf nafasku hanya gundah yang tertahan. kitalah yang batu sekarang. mengekal di segala bisu. tapi merinduimu takkan sanggup ku kabarkan lewat bahasa apapun. tapi kenangan benar-benar menyergapku pada potret yang kian usang. potretmu..." (Galih Pandu Adi, 10 Febuari 2010)

"aku menunggu, kapan lagi kau ungkapkan rasa yang tertimbun di lubukmu. izinkan aku menyulam kenangan agar angan tak lagi jadi bayangan. aku cukup lelah menatap dinding yang tak balas tatapku, terpojok bimbang, meragu untuk menggapai bintangmu. kuakui, kristal rinduku masih berkilau seperti matamu yang dulu" (Nanda Sani, 10 Febuari 2010)

"ya, aku tak cukup mampu menenun duka menjejak ke ruang tamu. di rumahmu itu, aku memilih menjadi dinding yang mengintai resahmu. saat kau mematung di depan album, aku seperti habis di keras musim. jika saja pertemuan tak punya nasib. pasti tidaklah kita yang terkutuk di muka langit. tapi bukankah perjalanan telah memilih ujung-ujungnya sendiri. aku seperti mampir saja dan pergi dengan mencuri air mata. kita sama-sama luka dan nganga." (Galih Pandu Adi, 2010)

"semoga saja, tetes darah pengorbanan atas kebersamaan yang telah ditelan sang masa, tak menjadi sia-sia. lain kali kusediakan pelaminan di teras rumahku, agar kali berikutnya kau berkunjung dengan luka yang terobati, kau dapat duduk dengan nyaman, menyandingkan asa dan cinta yang pernah di susun bersama. sebelum duka dan derita menjadi bagian dari makna perjalanan ini. jalan buntu, yang mengujung." (Nanda sani, 2009)

-------

"duh.. kau yang rimbun di ranah tandus kotaku. pelamin kita adalah hujan di bangku taman. kucecap rindu yang lindap di ujung bibirmu saat lampu kota semakin berwarna kering dan pucat. barangkali, kita memang tak perlu banyak meredam laju waktu di pigura usang. karena kita bunga manten yang disingkap doa di altar keramat.)" (Galih Pandu Adi, 2010)

"kutunggu bias jingga mengisi kosong diujung pencarianku. kala rintik itu membasuh basahku, kutitip salam rindu pada kelabu yang mendayu-dayu. jika rambatnya tak sampai ditempatmu, kubisikkan pada angin yang menggesek pada daun jua tuk sampaikan dengan segera. ditengah ramai yang membisu ada kenangan yang terpajang. yang kan meminang apa yang terpampang. kubalas kecup rindumu, diujung raut lukis kata selamat jalan padamu." (Nanda Sani, 2010)

"jarak kita kian memanjang. aku jiwa yang resah diujung pematang. saat anak-anak kita yang angin mematahkan dahan, juga leher-leher saat bisik percakapan. adakah jalan menuju pulang? saat laju musim tak mampu lagi kita ramalkan. sampai saat kugait punggungmu kelak." (galih Pandu Adi, 2010)

"tak lihat kau laut terbentang, karang karang menjadi garang. menunggu kakak yang tak pulang-pulang. biar kulahap angin malam sendiri, tertepa sepi yang meranggas,menggerogoti hati sampai mati di ladang gersang. ku bawa selimut siang, agar terpa matari tak buatnya jadi hidung belang." (Nanda Sani,2010)

"Begitulah kutuk dari percakapan. kita datang mengulum habis denyut bulan. sampai angin yang enggan, menyibak kita di trotoar penuh asap. sedang kau masih menenun debu yang tersisa dengan dendam. diluar pagar aku menatap jarak dan mereka-reka setiap pertemuan. entah aku atau kau yang menjadi pencuri. barangkali memang kata yang melempar kita pada detak muara luka. " (Galih pandu Adi, 2010)

"aku mau tinggalkan semua lara, biar air alirkan damai disekujur sayat luka. kala kau lambaikan, disitu pula kehilangan dipetakan dengan sempurna. lalu, kau melangkah menjauh. melengkapkan nganga yang sudah nanah. lihat tidak, ada pelangi yang warna warni setelah datangnya badai yang murka? itulah hati kita, semoga saja kelak warna kan sembuhkan dekap kelam sang nadi cinta." (Nanda sani, 2010)

"barangkali kita bertemu di persimpangan untuk kemudian berbelok pada gang yang berbeda. saling menyayat atau menggenapi lubang-lubang di tubuh kita. aku tak melihat apapun selain warna usang yang makin memudar. entah jika tak ada warna. barangkali satu warna saja cukup menggarami luka. membuatnya mengering dan kita menyimpan bekasnya ditubuh kita. kau pasti temu itu nadi cinta, karena kau turut pula dialirinya." (Galih Pandu Adi, 2010)

"maka kurasa warna itu adalah abu. karena semua kini serba tak pasti. kemana sebenarnya simpang yang kita tuju. mana akhir dari segala tanya yang menggundahi kita. ataukah, lebih baik kita berdiri disini saja. tak maju, tak mundur, tak berbelok arah. tak jua kita dipersatukan, setidaknya tidak dipisahkan? kita kulum malam dengan tatap tanpa salam." (Nanda Sani, 2010)

"barangkali kita musafir yang tak perlu tahu ujung apa yang kita tuju. arah kita cuma dua. hanya kiri dan kanan, langkah kita pun dua hanya kedepan atau kebelakang. maka berjalan saja, menuju pintu-pintu yang dibuka. disana ada rahasia yang harus kita ziarahi dengan doa. lihatlah betapa Tuhan maha bijak, atas segala yang tampak, sampai segala sesuatu yang tak berwujudpun turut mengamini jejak. duh, sang rahasia dari pemilik rahasia. hijab apa yang hendak kau buka sampai kita lagi-lagi merasa alpha." (Galih Pandu Adi, 2010)

"aku masih teralu takut menyibak tirai yang menyembunyikan makna itu. sudah lelah kecewa dengan fakta yang berbeda dengan mimpi. dimana hati tak lagi berbentuk rapi. izinkan aku tinggal disini. diam. stagnan. tak usah kemana, mencari apa yang sudah tampak. meminta apa yang tak mungkin diberi." (Nanda Sani, 2010)

"istirahatlah. dalam diam, ada perjalanan yang lebih melelahkan..." (Galih Pandu Adi, 2010)
-------------------------------



---------------------------------------
huahahaha.. sebenernya agak merasa tertindas kelas sih.. kayanya Tuan Galih Pandu Adi ini punya skill 10 tingkat diatas gw.. hihi.. tapi apa salahnya mencoba toh?? buktinya gw jadi termotivasi lagi untuk menulis lagi :)

waaaww.. aku fans berat sama Galih Pandu Adi... :)

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks