Skip to main content

balasan yang terlambat datang

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah karya milik senior saya, aris azhari gunawan: sepotong surat tanpa alamat*

Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,

Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.

Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.

Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.


Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…

Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.

Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…

Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true

Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.

Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.

Depok, 17 Maret 2010
*sendirian di sebuah kosan yang penghuninya sedang latihan futsal*

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…