Wednesday, March 17, 2010

balasan yang terlambat datang

*sebuah tulisan yang terinspirasi dari sebuah karya milik senior saya, aris azhari gunawan: sepotong surat tanpa alamat*

Balasan yang datang terlambat
Untuk seorang pangeran tak bernama,

Suratmu datang sesaat setelah terbesit episode tentang kita di malam kita berjumpa. Aku memikirkannya dan kepulan asap penggalan dari kisah kita yang berakhir secara sempurna cukup keras kepala karena tak jua dapat kuusir-usir rupanya dari kepalaku yang mulai pening di musim pendingin. Kini, lebih dari satu jajaran benua yang memisahkan raga kita. Mungkin juga, sebenarnya, hati kita.

Disini, aku hanya berbalut baju hangat rajutan berwarna jingga yang pernah kau sampirkan di bahuku. Kamu bilang, pemburuannya sampai ke pasar budaya di Ancol, tapi tak apa karena ternyata senyumku berharga lebih dari tiap peluh dan rupiah sejumlah beribu puluh yang kau kucurkan siang itu, demi aku. Demi jingga, warna kesukaanku. Hari itu, ulang tahunku, kedua puluh satu, tepat tiga puluh satu hari yang lalu. Rasanya belum teralu lama dari saat terakhir kali kulitmu itu membelai gurat bahagia di wajahku. Jingga. Iya, seperti warna senja yang dulu pernah kita saksikan berdua. Dengan soundtrack suara ombak saling berkejaran dan pada akhirnya sedikitnya membuat kita tertawa-tawa, karena tampaknya diam-diam ombak merambati kaki-kaki kita yang terbungkus gundukan pasir. Di pantai itu, dikala tanganmu yang hangat memelukku erat, disaat kau izinkan aku untuk menyandarkan tubuhku karena lelah menunggu matahari untuk segera tenggelam dan digantikannya dengan bintang-bintang yang dapat menambah kesyahduan malam kita.

Ya, pangeran. Di malam itu. Dimana mega memang tampak begitu gelap. Hingga kita dibutakan, tanpa dapat menyadari bahwa kelak disajikannya gemintang yang gemerlap. Jika saja, aku lebih sabar menanti, kamu lebih sabar menunggu. Kita lebih memberikan waktu untuk diri kita, hingga tersibak pekatnya mega yang menggantung malam itu.


Jika saja…
Jika saja…
Dan jika saja…

Lalu, kudapati aku duduk di taman ini, pangeran
Bulu kudukku mulai berdiri. Aku kedinginan. Rasanya angin ini menusuk-nusukku sampai tulang-tulangku jadi ngilu. Aku bingung, ngilunya bukan Cuma di tetulangku, tapi disini, pangeran. Di dada ini, rasanya seperti ada yang menancapkan panah. Sakit. Seraya tusukkannya terasa, sayup-sayup diantara ramainya taman ini, kumendengar bisiknya, ia merindu. Merindu kamu. Kamu, tuan perfeksionis, yang selalu sibuk dengan tumpukan berkas-berkas yang kamu koreksi, kamu teliti sehingga tak boleh ada satupun kesalahan yang membekas. Tapi ternyata, noda itu malah menempel pada naskah kita. Noktah berwarna merah yang artinya berdarah. Luka yang berdarah dan menganga sampai kita tak mungkin lagi bisa berjumpa.

Pangeran, di tempatku sekarang, kudengar musik itu. Ingat tidak? Sebuah lagu kenangan yang pernah kita nyanyikan bersama disebuah bilik karaoke di kota Jakarta? Sebuah lagu lama dari Garth Brooke – teach me how to dream…

Teach me how to dream
Help me make a wish
If I wish for you, will you make my wish come true

Pangeran, saat itu pertama kali kamu mengucapkan kita itu, kata yang menjadi awal perjalanan panjang kita. Aku cinta, katamu. Ya, mimpiku. Kau mengajari aku bermimpi dan membantuku mewujudkan apa yang aku inginkan. Apa yang kuingin miliki dari ribuan mimpi yang kuuntai, dan terima kasih, kau adalah satu yang terindah di empat puluh tujuh bulan dimana kita melangkah pada jejak yang sama arahnya, dengan ritme yang seirama. Namun, tiba-tiba saja, ada tembokan dari baja yang menyebabkan kita harus menyusuri jalur berbeda. Maka kita berbalik arah. Sendiri. Seperti kini, hanya aku dan semilir angin yang daritadi sudah membisiki aku untuk segera kembali ke kamarku dengan penghangat ruangan yang akan membuatku nyaman. Tapi, sebaliknya… kehangatan itu hanya akan menambahkan lagi jumlah bait yang mengingatkan aku pada dekapmu kala semilir angin yang serupa di pesisir itu bertiup. Hingga akhirnya, aku terlelap dan mendapatkan empat puluh tujuh bulan berlalu sudah. Aku sudah tersadar dari mimpiku. Sendiri disini.

Pangeran, surat ini harus jadi saksi perpisahan terakhir kau dan aku. Sudah tiba waktunya kita berjalan dengan jiwa kita masing-masing, meninggalkan kenangan tentang masa lalu kelabu yang pernah terlukis dalam halaman-halaman itu. Selamat jalan, nyatanya aku bukan lagi permaisuri yang bersanding di samping singgasanamu kala malam itu, penat mengajakmu bercanda bersama dengan berkas dari kertas yang rasanya ingin kau lumat saja, seperti bibir bibir segar yang tak lagi dapat kau acuhkan dari kedip dan lirik lirik genit dimasa kata tak lagi bersahabat. Maaf, bila kecupku sudah tak lagi dapat kau hisap seperti dulu. Mari pangeran, biar senja kita terjaga tanpa luka berdarah yang lebih parah.

Depok, 17 Maret 2010
*sendirian di sebuah kosan yang penghuninya sedang latihan futsal*

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks