Skip to main content

biar kugenggam hatimu, sahabatku

kemarikan sahabatku terkasih, biar kusambut tanganmu yg mencari2 pegangan. genggam saja syg, aku rela walau aliran darah harus tersumbat, sampai kram sudah jemariku, tak apa.. asalkan kau gantikan dengan damainya hatimu.

mungkin kau tak sanggup bersenandung tentang bebanmu.. aku juga demikian, tak jua temu sajak tepat tuk ringankan cemasmu, syg..
jadi genggam saja.. biar pedihmu aliri arteriku, biar terbagi jadi kau tak sendiri..

untukmu jua sahabatku yg lain, yg tak kalah dicintai oleh hati ini. Jangan iri bila tak kurengkuh bahumu.. walau tak kuikatkan jemariku pada milikmu, hati ini sudah terikat pada jiwamu.. ku rasakan getar2 kekecewaanmu pada dunia, ku selami mimpi2 yg kau rangkai menjadi buket indah. ku bersamamu stiap waktu..

Wahai para sahabatku,
menangislah padaku, kusediakan kau semangkuk waktu dan seporsi ksediaan tuk temani bulir2 airmatamu..

aku ingin menyuguhkan sesendok gula untuk kepahitanmu.. rasakan semuanya lewat arterimu, rasakan melalui rambatan udara yg membelai hatimu.. lewat deru2 kereta para ksatria, lewat hembus2 angin, lewat molekul2 yg menghantarkan kecintaanku pada kalian..

kugenggam erat jemarimu yg basah karena panik mengambil alih waktumu, aku terpejam tapi kulihat kegundahanmu. genggam saja sayang.. ku bagi bahagia miliku untukmu, agar senyum itu dapat kunikmati lagi..

sahabatku yg satu lagi..
kerengkuh hatimu walau tak satu sentipun kusentuh tubuhmu.. kucoba balut lukamu dgn perban2 pengertian dan empati akan sakit hati..
kemari sayang.. kupeluk kamu.. walau tak seujung jaripun ku menyentuh kulitmu.. terasa, sayang? jika belum, berikan aku sejumput waktu agar kita bisa bertemu dan kulingkarkan lenganku memelukmu..

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…