Skip to main content

episode 4: dillema seribu tanya

tanya seribu tanya yg sudah ribuan kali kamu ulangi
tetap itu2 saja
tetap tentang cinta yg tak jelas arahnya mau kmana

Kmu tanya, tanya yg juga aku pertanyakan
Knapa aku, knapa kamu, knapa harus ada aku dan kamu yg menjadi satu frase bermakna cinta
cinta yg tak tentu mau dibawa kemana
memang kau pikir aku ini tahu jawabnya
jika iya, maka tak usahlah aku disini tertawa tawa
tertawa yg tak jelas artinya apa
mungkin pasrah atau bentuk kecewa
ini namanya dilema.
Mau kemana sama saja
sama hancurnya kita berdua.

Aku tak tau ujung cinta kita jadi apa
cuma saja, aku tahu kini kita masih bisa menikmatinya
maka, diam sajalah.
stagnan di zona nyaman, walau hati merasa terancam.
lebih baik
daripada kita mati bunuh diri
tak kuasa tahan pedihnya patah hati

jadi, simpan saja itu seribu tanya yg beribu kali kamu ulangi
biar saja, kita manjakan isi hati ini
beri waktt barang sedetik untuk menari2 diatas melodi
melodi yg sendu karena cemburu
atau merdu karena sedang pandai melagu
ah! kamu jadi candu
bisa benar2 mati aku tanpamu

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…