Monday, March 1, 2010

kopi hitam semalaman

Malam itu aku duduk di beranda rumahku, bercakap dengan seorang kawan baru,
yang sebenarnya belum teralu aku kenal. Ditemani semilir angin, segelas kopi
tubruk yang hitam, dan percakapan basa-basi. Tawa-tawa kecil mulai mendatangi
kami, kekakuan mulai mencair… sampailah kami pada topik yang tak pernah lepas
dari kehidupan orang muda, cinta.

Aku dan dia sedang mengeluhkan kehidupan cinta kami masing-masing, dia
bercerita betapa kelamnya hari yang dia jalani dengan bayangan kekasih
terakhirnya yang terpaksa ia tinggalkan. Aku? Heh… hanya dapat menghela napas
panjang untuk menunjukan bahwa kisah yang kupunya juga sama gelapnya dengan
yang dia baru saja sampaikan.

Sejam kemudian, aku merasa telah mengenal dia dari beberapa tahun silam,
seluruh kehidupan cintanya terbongkar padaku, bahwa dia pernah benar-benar
jatuh cinta pada gadis berusia 6 tahun lebih muda darinya, polos, lucu, dan
mampu menyajikan lelucon hangat ataupun dongeng simpel yang akhirnya dapat
ditebak. Tapi, si gadis kecil tadi mampu membuat temanku ini duduk diam selama
enam jam untuk mendapati si kecil ketiduran diwaktu mereka ngobrol lewat sms. Katanya,
tatapan si kecil tadi mudah sekali dibaca, kekaguman pada dirinya, yang
menjadikannya lebih kuat setiap hari, lepaskan beban kekhwatiran dalam lubuk
hatinya. Temanku hanya tertawa tipis, mengingat kenangan mereka, miris dan
menipu diriku serta dirinya sendiri dibalik senyum tadi. Kutanyakan pada dia, kenapa
mereka berpisah? Temanku terdiam, entah tak tahu mau menjawab apa atau tidak
ingin dirinya mengingat lagi alasan menyakitkan itu. Aku pun menebak-nebak
dalam hati. Tapi gagal… tak kutemukan sedikitpun celah untuk mendapatkan
jawabannya.

Si kecil tadi, diakuinya, merupakan seleranya yang jauh melenceng, jauh
dari kriteria dewasa, tapi itu yang dia cari. Dia cukup lelah dengan
kedewasaan, dia butuh seorang yang masih bisa berimajinasi, larut dalam
khayalannya. “dari dulu aku ingin menjadi putri”, ceritanya pada temanku di
suatu malam, respon temanku, yang kebetulan sudah teralu sering dalam dunianya
orang dewasa adalah “mimpi tuh yang realistis”, tapi si kecil menjawab “mimpi
tuh ga perlu realistis, namanya aja mimpi, boleh suka-suka dong”. Temanku diam
sejenak, berfikir… “iya juga ya? Mimpi kok realistis?”. Seketika dia berubah menjadi
orang yang lebih “muda”.

Tapi, lagi-lagi temanku tersenyum tipis, miris. Dia bilang, dia sayang si
kecil, tapi dia tidak mampu melakukan apapun, mereka berbeda dalam satu hal.
Aku sempat bingung, tentu saja mereka berbeda, usianya saja terpaut cukup jauh
darinya, pemikirannya juga berbeda, dia begitu dewasa, begitu complicated.
Sedangkan si gadis manis ini, khayalannya saja masih sebatas ingin menjadi
seorang putri seperti di dalam dongeng. Begitu polos…

Aku mulai menceritakan apa yang terjadi pada diriku, bahwa perjuanganku
juga berat, perjuangan melawan ombak-ombak besar dan bergelombang dalam arungan
samudra percintaanku. Walaupun pada ujungnya, aku tahu semua itu menjadi suatu
pelajaran paling berharga dalam hidupku.

Aku, seorang wanita yang kata teman-temanku memiliki sejuta pesona untuk
menarik pria manapun yang melihatku, tapi entah mengapa aku melihat diriku
biasa-biasa saja, bahkan teralu biasa, selalu gampang ‘melirik’ pria
disekelilingku, walau teman-temanku mengatakan merekalah yang melirikku, bahkan
beberapa mengatakan dengan berlebihan bahwa mereka bukan hanya melirik, tetapi
memerhatikan gerak-gerikku. Ironisnya, aku malah jatuh ke dalam cinta seseorang
yang sudah dimiliki orang lain, parahnya, aku tak mampu berpaling. Memalukan.
Itulah aku, beberapa bulan menjalani hubungan tanpa ikatan dengan pria si
pendua, perang dingin dengan kekasihnya yang tidak mengenalku, berperang dengan
nuraniku yang mengatakan aku salah. Akhirnya aku berpisah, namun aku masih
tidak berpaling. Perasaan terdalamku masih untuk dirinya, hingga beberapa tahun
berikutnya, dia kembali. Kembali untuk pergi selamanya. Bukan mati, karena
sebenarnya mati lebih baik daripada dia meninggalkan aku untuk wanita lain.

Selanjutnya, aku menjalani hidupku seperti biasanya, setidaknya itulah yang
terlihat oleh beberapa orang. Aku berhasil menemukan pria, yang kalau
kubanding-banding, jauh lebih baik daripada dia yang hanya menjadikan aku si
nomor dua.

Beberapa saat setelah itu, pembicaraan aku dan temanku hanya sedikit mengajak
kata-kata. Kami lebih banyak menyertakan diam dan tenggelam dalam kenangan
masing-masing. Seolah masa lalu mengejar kami kembali, menarik kami, memaksa
kami untuk merasakan lagi rasa senang, sedih, gundah dan gulana masa itu.
Gambaran-gambaran beberapa waktu kebelakang seolah bermain-main di depan kami,
menari-nari, menunjukkan dirinya kembali,

Beep. Tiba-tiba suara dari handphone temanku memecah kesunyian yang daritadi
ikut ‘nimbrung’ bersama kami. “dia”. Gumam kecil suara temanku, suaranya lebih
berat dari yang tadi kudengar. “pertanyaan kecil, simpel, selalu seperti itu
caranya mencairkan kebekuan diantara kami. Begitu tertebak. Klasik. menarik”.
Lalu dia diam lagi, meletakan telepon genggamnya, matanya menunjukan
sinar-sinar keinginan menjawab setiap tanya kecil yang dilontarkan gadisnya.
Tapi dia mengurungkannya, mengubur dalam-dalam, menimbunnya dengan sejuta
alasan yang menurutnya logis, yang menurutnya, bukan menurut si kecil, lebih
baik dilakukan. “kami berbeda” lalu dia kembali membisu.

Aku, yang sedari tadi hanya melirik kearahnya, akhirnya mengeluarkan
kata-kata yang tak pernah aku susun sebelumnya, “semua didunia ini diciptakan
berbeda, karena jika semua sama, aku tidak sanggup membayangkannya, betapa
membosankan hidup ini. Kemana pun kamu melangkah, kamu akan bertemu dengan
orang yang memiliki wajah yang sama, baju yang sama, rumah yang sama,
pemandangan yang sama. Ah… pasti juga akan membingungkan bukan, harusnya kamu
bersyukur karena kamu berbeda, perbedaan kalian akan saling melengkapi. Kamu
kolot dan dewasa, dia begitu polos dan lugu, lucu, masih banyak imaji yang akan
membuat kedewasaanmu lengkap, lengkap karena kamu tak pernah meninggalkan
masa-masa kecil dan indahmu melalui imajinya, dia pun akan dewasa dalam dunia
khayalnya, menjadi putri yang hidup dengan pangeran yang dapat mengajarkannya
kebijaksanaan, bukan hanya keindahan khayal, tapi caranya menerima kenyataan
yang kadang tidak sesuai dengan khayalan. Kalian akan lengkap jika bersama”

Tapi dia hanya diam… lama. Sampai akhirnya dia mengucapkan “tapi, kami
akan lengkap tanpa perbedaan itu”. Aku berfikir sebentar dan mulai mengerti…
mereka berbeda keyakinan, tentu. Apa lagi yang tidak bisa ditolerir?

Selesai aku menguliahi dia dengan segala kesoktahuan aku, dia hanya
tersenyum “terima kasih”. Aku membalas senyumnya. “kamu tahu? Kadang menjadi
yang kedua, merupakan yang lebih spesial daripada yang pertama, yang kedua,
walaupun terdengar seolah ada di peringkat dua, kadang menjadi perhatian utama.
Kamu pernah tidak berfikir mengapa dia menjadikanmu yang kedua? Karena kamu
spesial, kamu memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang pertama, kamu
pernah terfikir mengapa dia tak mau melepas dirimu? Karena dia takut kehilangan
kamu, takut tidak pernah menemukan lagi sosok se-spesial kamu. Karena
menurutnya, kamulah yang menjadi pelengkap dalam hidupnya. Namun, mungkin tetap
saja keegoisan yang menang. Pria, mereka memang seperti itu, ingin menunjukkan
bahwa dirinya tangguh dan mampu meraih apapun yang mereka inginkan. Dia bangga
bisa memiliki dua, diantara mereka yang untuk mendapatkan satu saja, harus
menyeret harga dirinya, menjatuhkan lawan-lawannya, dan menerima akhirnya
mereka kalah. Apalagi, kau yang didapatkannya. Kau yang begitu istimewa, bahkan
disemua mata lelaki, siapapun akan tertarik padamu”. Aku hampir tersedak
ludahku sendiri. Mencoba memahami apa yang baru saja lelaki ini katakan padaku.
“satu yang salah pada dirinya, dia akhirnya memilih membiarkanmu pergi dari
hidupnya… itu bodoh” dia melanjutkan. Aku merasakan darah mengalir begitu
cepat, membuat jantungku harus bekerja dua kali lebih keras dari biasanya.

Dia tersenyum lagi… “aku melakukannya juga, Sandra”. Akhirnya dia
menyebut namaku, Sandra. “aku pria bodoh yang menduakan, lalu membiarkannya
pergi… hilang bersama masa laluku. Tapi dia kembali datang, membayangiku,
setiap malam, meminta aku menebus dosaku padanya. Sampai pada akhirnya, aku
bisa mengusirnya lagi, kedua kalinya, karena gadis kecil tadi. Yang hanya dapat
ku kagumi, tanpa dapat aku miliki. Tapi, dengan dia hidup dalam anganku, dia
akan tetap sempurna, seperti apa yang aku inginkan. Dan aku menyukainya tetap
seperti itu”. Mungkin kini dia telah melupakan bayanganku, bayang yang selalu
gentayangan menagih janjinya yang tak pernah dia tepati, bayang yang selalu
menghantarkan rinduku padanya. “aku juga sudah melupakannya, Dimas. Dia telah
pergi tertiup angin yang berhembus kearah masa lalu. Menenggelamkannya didasar
lautan kegelapan, tertimbun pasir di pantai kesedihan. Aku akan terus naik ke
gunung, dimana aku akan merasakan kesejukan karena hijau dan rindangnya
pepohonan, tempat dimana aku akan melihat dunia dengan pandangan yang lebih
luas, meninggalkan jauh pantai dan laut kesedihanku. Dia dibelakangku. Jauh.
Aku mendaki bersama penjagaku, seseorang yang selalu setia menemaniku,
menungguku dalam langkah yang tertatih menginjak bebatuan gunung, menggegam
erat tanganku saat aku harus melalui lekukan terjang dan curam. Kami akan
mencapai puncaknya, bersama.” Dan aku tersenyum.

Malam itu, semilir angin dan dua gelas kopi hitam yang telah habis
diseruput kami telah membawa kami pada perenungan kisah masing-masing. kami,
mampu melihat lebih dalam untuk kisah lawan, membukakan pintu terang untuk
kami. Kehitaman cinta kami, telah diseruput habis seperti kopi hitam yang ada
di dalam gelas tadi. Hanya akan ada ampas yang dibuang, menyatu dengan tanah,
terkubur, dan mungkin… hanya mungkin, akan diam dihalaman rumah kami,
menemani kami dalam kebahagiaan.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks