Wednesday, March 3, 2010

luka

Lamat lamat aku nikmati.
Irisan demi irisan dari kata kata itu. Mengikatku semakin erat. Semakin kuat. pilu merambat, menyapa mayat yg bersemayam dengan jiwa tersayat.

Mana kini kau bilang cinta?
smua cuma racikan kata yang seolah jadikan aku permata?
Kini, terbalut luka kupejam mata.
Tak inginkah kau belai gurat senyum yang miris tersisa? Terlukis pedih menangis miris?
Tak adakah inginmu tuk balutkan darahku yg mengalir dari hati yg telah tercabik? Tak ibakah kamu?

Tak terasakah olehmu, tiap nafas yg tertiup sebutkan namamu
Dimana jiwaku menapaki hari bersamamu
Tak terdengarkah olehmu, nyanyian ombak itu kusampaikan untukmu
Bukan hanya diterang purnamamu, namun disetiap waktuku
Disaat ku melagu, meragu, bahwa memang rasa itu utuh untukku

harapku adalah nadi itu kita miliki bersama, satukan asaku dengan milikmu..
memang terpisah raga, tapi kuharap derap jiwa melangkah bersama..

Itu harapku

Bukan milikmu, karena nyatanya kau berjalan sendiri.
higga aku tak sanggup berdiri.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks