Skip to main content

Malam jumat remang

rasanya sudah lama kita tak berdiam seperti ini. Tak seucapun kita berkata. Tapi dengar hati kita menyuarakannya. Kerinduan itu.

hanya kita bertiga yang merasakan getarannya. Getar persahabatan yang menggegam erat urat kepercayaan. Tali2 perjalanan yang mengikatkan memoir2 tak terlupakan, membiarkan bahasa2 yang tak seorangpun memahaminya. Hanya kita. Dan milik kitalah, misteri yang membahagiakan ini.

Dan kalanya tali2 pengikat itu mulai meregang, biarkanlah.. Sisakan ruang agar kita dapat bergerak. Harus ada nikmat yang tak menyesak. Hingga akan tercipta lagi tawa tawa yang tergelak.

Sahabat, kututup malam remang dengan senang. Melahap kenangan, tak kan ada habisnya bersama kalian. Bersama canda, juga air mata. Bersama dekap kala dekat, dan keluh saat jauh. Kulumatkan pengharapan, jika suatu saat kudapat bekukan waktu agar kekal nama kita di gurat hatiku.

-------------------

------------------------


*friendster menyelamatkan foto-foto kita :)*

Comments

  1. ihiiiyyyy..... komen lagi aaahhhh...

    ehm... bagus ya puisinyaaaaa,, benar2 indaaaahhh.... apalagi kalo kemudian dibacakan oleh sahabat2nya kala jauh dan sendiri... hihiii..

    eh, tapi kalo ni gue baca sendiri ya, beneran bagus lho. merinding gue....ckckckck...

    oya, ada pesan dari ade gue: huaaaaa!!! kata2nyaaa!! keren bangeeett!!!!!

    demikianlah komentar saya, terima kasih....

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…