Skip to main content

episode 5: purna yang (tidak lagi) sempurna

sejak malam itu, untukku, purnama takan pernah lg sama. tak akan pernah menjadi sempurna seperti malam disaat melodi kita sedang ceria dipenuhi kasih cinta.
Kini, jiwanya telah hilang sebagian, telah dicuri walau sesungguhnya purnama tidak rela dipaksa memberi cintanya. tapi purnama tak mampu lakukan apa-apa. purnama tak lagi sempurna, stidaknya untukku.

Mungkin ini akhir dari dilema seribu tanyaku, dimana akhirnya sudah terlihat jurang kematian tempatku bunuh diri, bukan lagi hanya bayang atau tatapan ilusi. Ya, bukankah jiwa kita mati bersama disana? Sama2 terjun bebas pada suratan abadi dunia dimana habis daya kala kita coba menyangkalnya, mencoba mengubahnya sampai tersayat dan habislah darah yg mengalir dalam nadi kita. Henti sudah detak jantung di detik berikutnya, di detik yg melantunkan irama tersendu sepanjang masa kita berdua.
Melodi kenyataan. Melodi fakta dan realita yg tak lagi merdu.
Aku hanya tinggal menunggu waktu itu, yg pasti tiba. menunggu melodi itu kematian jiwa dan rasa yg meninggalkan asa.

Dilema bukan lagi suatu permainan yg menyenangkan, bukan lg tekateki yg harap temukan jawabnya. sudah jelas kini. Kelak kau tinggal datang bawa satu tangkai kembang mawar bagi persemayaman abadiku, dimana selaput hitam atas nama kekecewaan yg menjadi kain kafanku. Itu saja. sama seperti yg slalu aku minta saat jantungku masih berdenyut bersamamu. Saat dimana jiwamu menghangatkan bekunya hatiku, saat raga tak berjumpa tapi melodi kita selalu sama.

senyumku berarti pasrah.
menatap purnama yg tak lg istimewa, karena separuh jiwanya telah diambil paksa.
Dan purnama tak pernah lagi sempurna, sejak rasa menyanding hampa.
semoga saja, pelaminan kita sudah siap di surga.

nandasani, ciawi, 240909 ; pagi

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…