Skip to main content

episode 2: Purnama di Pantai Parai

Malam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu.
Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga.

Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja.

Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata.
Sampai kudongakkan kepalaku menatap hitamnya langit, yang malam ini ditemani purnama.
“kenapa tidak ada bintang malam ini?” kubilang begitu
“mendung” jawabmu
Aku nyengir jail, “bukan itu, karena bintangnya ada dihatimu”
Lalu sunyi berubah jadi bahak.
[seandainya kau mau petikkan beberapa untukku], batinmu
[aku benar-benar ingin petikkan beberapa bintang untuk hatimu], batinku
“kalian gila… asal jangan benar-benar jatuh cinta saja”, dia masih tertawa.

Kita : …. [berharap rasa itu tak benar-benar nyata]




Nandasani, Ciawi, 250809

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…