Monday, March 1, 2010

episode 2: Purnama di Pantai Parai

Malam ini purnama. Aku sedang di pesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang ramah mengajak helai-helai rambutku berdansa seraya menikmati nyanyian dari debur ombak yang mesra menyapa pantai. Batu-batu tinggi berbaris tidak karuan, tak apa. Mereka juga menikmati alunannya melodi ombak tadi. Aku… menikmati sayup-sayup gelombang sonik yang cukup kukenali. Tertawa-tawa, bercanda di beranda sebelah. Renyah. Aku menyukai detakan dan tekanan yang menandakan antusiasmu terhadap mimpi-mimpimu yang kau dongengkan. Kamu dan sepupu kita disitu, yang kuajak lepas penat sementara di kampung kelahiran bapaknya, bapakku, dan bapakmu.
Seru. Akhirnya aku terbawa untuk nimbrung juga.

Lalu, larutlah kita bertiga. Masih di malam purnama, dipesisir pantai Parai dengan semilir-semilir angin yang mengajak rambutku, rambutmu berdansa menikmati irama-irama sang ombak yang kini mulai genit, mencolek-colek bebatuan yang sedari tadi hanya menonton saja.

Sunyi sebentar. Kita bertiga tidak berkata-kata.
Sampai kudongakkan kepalaku menatap hitamnya langit, yang malam ini ditemani purnama.
“kenapa tidak ada bintang malam ini?” kubilang begitu
“mendung” jawabmu
Aku nyengir jail, “bukan itu, karena bintangnya ada dihatimu”
Lalu sunyi berubah jadi bahak.
[seandainya kau mau petikkan beberapa untukku], batinmu
[aku benar-benar ingin petikkan beberapa bintang untuk hatimu], batinku
“kalian gila… asal jangan benar-benar jatuh cinta saja”, dia masih tertawa.

Kita : …. [berharap rasa itu tak benar-benar nyata]




Nandasani, Ciawi, 250809

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks