Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2010

baiklah, kali ini bukan puisi atau prosa :)

baiklah. ini berawal dari kisah saya sambil ngobrol dengan seorang kawan. katanya blog ini isinya koq puisi semua.

ya, namanya juga buku sastra kan.. heheh. tapi baiklah, mungkin ada baiknya kalau saya juga menceritakan kisah-kisah dibalik penulisan puisi ini. gak semua sih, karena toh saya gak berniat curhat panjang lebar di blog ini.

tadi siang, saya chat dengan seorang penulis lagi, nama di FB dia adalah Pohon Kopi Putih. saya juga gak tau koq filosofi namanya seperti itu, tapi nama aslinya adalah Radnan. dia penulis yang juga hebat. menurut saya, seorang penulis dikatakan hebat saat mereka mau membuka mata melihat tulisan dari penulis lainnya untuk kemudian memberikan komentar, pujian atau kritik yang memotivasi dan membangun "junior" atau "rekan"nya.

dan itulah yang terjadi pada saya dan tuan Kopi ini.
saya meminta kritik untuk tulisan saya. sayangnya, memang tadi koneksi lagi dudul dan akhirnya kami disconnect di tengah pembicaraan.

baru satu hal yang sempat teruc…

kepingan memoir

malam ini purnama. seperti purnama yang sudah-sudah, aku cuma memandangnya sendiri. beberapa waktu lalu, biasanya kulekatkan bola mata untuk tatap bulat penuh bercahaya itu dengan sedikit harap bisa menemukan celah untuk mendekapnya. tapi, akhir-akhir ini, purnama hanya ku kilas saja. karena aku akan merindu bila teralu lama membiarkan tatapku hanyut dalam memori kita.
"kita?"
apakah makna yang terselip di dalam rangkaian huruf yang membentuk kata kita?
aku kamu dan purnama.

masih. bukan hanya kamu yang ingat guyon yang membuat wajahku ini merah padam. tapi aku juga ingat, ikat janji yang hanya mampu terjalin lewat hati dibalik semua mimpi. karena mimpi untuk bersama adalah tabu diucapkan di depan mereka. hanya di dalam lubuk, terpendam tak terucap. tak apa. yang terpenting adalah terasa.

malam ini. entah kenapa kita berjumpa. memang, dua pulau yang memisah tak mampu bersatu untuk temu tubuh kita atau izinkan bola mata saling menatap. hanya rangkai-rangkai rasa yang menjadikan ki…

sajak tiga: Galih Pandu Adi dan Nanda Sani

akhirnya, setelah sekian lama aku "bolos" nulis, aku mulai lagi nih.. emang harus ada pancingannya dulu.. :p

seorang Galih Pandu Adi, seorang penulis yang emang aduhai saya kagumi ini, ternyata masih mau berbalas puisi sama saya. hihihi..

so here it is, our third poems. enjoy! :)
-------------------------------------------------------
sajak tiga.

"aku seperti menelan maut, saat puntung rokokmu itu kau sulut. sebagaimana sayap izra'il mengepak tinggi. lalu kepalaku merasa terjuntai dari langit-langit kamarmu. ada yang berdesah. seiring gerak arloji. sebuah nama ia sebut? kau atau aku." (Galih Pandu Adi, 2010)

"Masa bodoh, siapa saja yang tersebut. Kau. Aku. Kita. Itu satu. Satu makna. Seperti langit-langit yang hanya menatap sedari tadi, tanpa satu kata yang terlontar, seperti angin-angin yang membisikkan eja-eja kata namamu.
rokokku habis tersulut. aku sekarang berlutut. " (Nanda Sani, 2010)

"maka akankah kau cukupkan ini seperti daun pintu yang patah sa…

cappucino dingin

sore itu. ya, saya terduduk di sebuah pojokkan kafe. ditemani segelas cappucino dingin dengan cream cantik diatasnya, dan sebuah oreo cheesecake yang saya gemari.

saya sendiri. melihat lalu lalang jalanan yang dipadati para pendatang. mereka pasti punya urusannya sendiri-sendiri. seperti saya, yang juga sedang duduk membenahi hati.

dia hanya teralu baik. teralu manis sehingga membuat hati menangis. Lalu, saya mentertawakan diri saya sendiri ditepi gerimis. Ya. rasa yang mulai terkikis untuknya, karena digantikannya oleh benih-benih yang tadinya aku pikir akan kembang mekar jadi mawar. Oya, mawar. indah berduri. Indah bukan hari-hari perjalanan kita? namun, duri yang saya tiduri ternyata mulai membuat saya perih.

sepertinya, baru beberapa waktu yang lalu kita berjalan di trotoar sepi itu, menyusuri sabtu yang sebenarnya kelabu. abu-abu untukku. karena memang tak pernah ada bening yang tersuling.

dan, hari ini.
saya yakin, yakin untuk membuatnya tampak jelas. dan ternyata, begitu tersibak. h…

hati yang merdeka

tirai kelam sudah kusibak dengan cahaya. cahaya yang dipancar dari kedua bola mata. bola mata yang bicara. meski kata bukan medianya.

kugantung senyum dan kalung syukur. belur sudah habis babaknya. kini tergiur menempati ruangnya. menikmati likaliku alur yang teratur.

ku pasangkan tiang hati ini. kupasung ragu yang menderu. dipelatar altar kusulam doa menjalar. menyelam nada, juga asmara berkobar.

kukibar nikmat atas kebebasan. kala mencinta bukan alasan untuk jadi teraniaya.

patung dalam abu

aku jadi patung dalam abu.
bukan meragu, tapi tak jua aku dapat melagu.
keping rayumu menyumbat alir2 dalam nadiku. memenuhi ruang2 dalam labirin waktuku. menyesatkanku dalam lamun dan rindu.

Berpuluh minggu kau hanyutkan aku.
Ku tenggelam dalam samudera hatimu.
Entah kapan bisa kumelabuh, karena perahuku sudah tak lagi sanggup dikayuh.
Tubuhku sudah berpeluh, juga gaun yang mulai kumuh.

Jika bukan aku yang meragu, mengapa aku masih mematung dalam abu?
tak ingin kujemput hitam, tapi tak jua kulihat bayangnya putih. aku mulai letih. Sebentar lagi bisa jadi perih.

aku bosan mematung dalam abu.
Bisakah kau tuang ragu dalam tungku?
Biar terbakar semua api-api cemburu.