Thursday, April 29, 2010

baiklah, kali ini bukan puisi atau prosa :)

baiklah. ini berawal dari kisah saya sambil ngobrol dengan seorang kawan. katanya blog ini isinya koq puisi semua.

ya, namanya juga buku sastra kan.. heheh. tapi baiklah, mungkin ada baiknya kalau saya juga menceritakan kisah-kisah dibalik penulisan puisi ini. gak semua sih, karena toh saya gak berniat curhat panjang lebar di blog ini.

tadi siang, saya chat dengan seorang penulis lagi, nama di FB dia adalah Pohon Kopi Putih. saya juga gak tau koq filosofi namanya seperti itu, tapi nama aslinya adalah Radnan. dia penulis yang juga hebat. menurut saya, seorang penulis dikatakan hebat saat mereka mau membuka mata melihat tulisan dari penulis lainnya untuk kemudian memberikan komentar, pujian atau kritik yang memotivasi dan membangun "junior" atau "rekan"nya.

dan itulah yang terjadi pada saya dan tuan Kopi ini.
saya meminta kritik untuk tulisan saya. sayangnya, memang tadi koneksi lagi dudul dan akhirnya kami disconnect di tengah pembicaraan.

baru satu hal yang sempat terucap.
"pengembangan tema"

ya, saya sangat mengakui dan menyadari bahwa tulisan saya berangkat dari satu tema. cinta, perpisahan, kesedihan. dan kenapa akhirnya tidak berkembang, karena hampir semua tulisan berbasis pengalaman. :p
(jadi saya baru paham, hidup saya penuh tekanan juga. hahahah)

baiklah. saya akan mencoba untuk mengembangkan tema. dan saya yakin saya bisa :D

Monday, April 26, 2010

kepingan memoir


malam ini purnama. seperti purnama yang sudah-sudah, aku cuma memandangnya sendiri. beberapa waktu lalu, biasanya kulekatkan bola mata untuk tatap bulat penuh bercahaya itu dengan sedikit harap bisa menemukan celah untuk mendekapnya. tapi, akhir-akhir ini, purnama hanya ku kilas saja. karena aku akan merindu bila teralu lama membiarkan tatapku hanyut dalam memori kita.
"kita?"
apakah makna yang terselip di dalam rangkaian huruf yang membentuk kata kita?
aku kamu dan purnama.

masih. bukan hanya kamu yang ingat guyon yang membuat wajahku ini merah padam. tapi aku juga ingat, ikat janji yang hanya mampu terjalin lewat hati dibalik semua mimpi. karena mimpi untuk bersama adalah tabu diucapkan di depan mereka. hanya di dalam lubuk, terpendam tak terucap. tak apa. yang terpenting adalah terasa.

malam ini. entah kenapa kita berjumpa. memang, dua pulau yang memisah tak mampu bersatu untuk temu tubuh kita atau izinkan bola mata saling menatap. hanya rangkai-rangkai rasa yang menjadikan kita nyata. berapa lama? berapa lama kita harus saling membisu untuk akhirnya mengucap rindu?
berapa wanita yang perlu kau cinta untuk akhirnya menemukan bahwa bukanlah mereka yang kau puja. dan berapa lama aku harus menunggu untuk ungkapkan kemelut lagu sendu yang selama ini kulantunkan dalam asa yang tak terjaga.

"maaf, aku begitu takut bersamamu. karena kita tahu. kita tak boleh melewatinya lagi."
"kau main-main denganku?"
"justru karena aku tak pernah main-main denganmu, maka ketakutan itu bersarang disini. di dalam hati ini. aku ingin melampaui. tapi tak mungkin terjadi"

------------

purnama, mana hak-ku untuk mencinta tanpa dosa?
aku sudah kehilangannya, bersama seorang wanita ia berbahagia. ya, maka kusembahkan senyum tanpa rahasia akan aku mencintanya. masih. namun ku lepaskan karena aku tahu bersamanya dia akan temukan kehidupan bebas nestapa.

lalu, kedua kalinya. haruskah aku lagi-lagi berdosa karena mempunyai rasa? kusimpuhkan pula benih itu, tak kutabur agar tak usah berkembang. namun, nampaknya tak kuasa aku bila harus menahan rindu. biarlah tabu, tapi aku hanya ingin dalam dekapmu.

kini, haruskah aku menunggu dirinya yang masih berputar dalam labirin hatinya? mencari jawab yang tak tahu tanyanya apa?

-------------------------

untukmu,
kurindu. semoga sebuah pesan pendek mampu lukiskan betapa memori kita yang juga tak panjang itu berarti untukku.

dan masih. aku mengenang purnama kita yang terakhir.
dengan dekap eratmu disela-sela angin yang terhembus, berpacu dengan buru nafasmu yang seolah katakan "aku tak ingin lepaskanmu."

tapi inilah kita. disini kita mengucap cinta dan juga selamat jalan.

ingatkan aku, kita slalu bersama. dan hanya kata itu yang kita punya.
---------------------------------

malam.
dengan denting gitar yang terpetik. senar-senar yang kau rayu dengan merdu. sambil menyulut mild yang terburu. sebuah bait terlantun..

"Oh kasih, janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu di sini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepi"


air mataku menitik. ku hanya bisa dekap kamu lewat tatap.
"maaf, pesawatku jam delapan. dan itu akhir dari semua perjalanan"
----------------------

sungguh. aku benci harus melihat arlojiku. kini jarumnya sudah mendekati angka tujuh. dan kau masih tak kunjung menjemputku. pesawatku akan tinggal landas pukul delapan. kamu dimana?

--------------------

lalu kuhampiri tubuhmu. demam. tinggi. pasti karena malam tadi kita menikmati sinaran itu bersama, sedangkan jaketmu kau sematkan di tubuhku. kau pasti sakit. atau kau pura-pura sakit sehingga tak perlu mengantar kepergianku?
aku menangis. hanya bisa kupeluk kamu. sekali lagi. sebelum smua benar-benar pergi.
----------------

aku sudah di tempat dudukku.
selamat tinggal. aku benci harus meninggalkanmu dalam sepi.
semoga lain waktu, ada masa untuk kita saling melagu.
aku sayang kamu.

Wednesday, April 21, 2010

sajak tiga: Galih Pandu Adi dan Nanda Sani

akhirnya, setelah sekian lama aku "bolos" nulis, aku mulai lagi nih.. emang harus ada pancingannya dulu.. :p

seorang Galih Pandu Adi, seorang penulis yang emang aduhai saya kagumi ini, ternyata masih mau berbalas puisi sama saya. hihihi..

so here it is, our third poems. enjoy! :)
-------------------------------------------------------
sajak tiga.

"aku seperti menelan maut, saat puntung rokokmu itu kau sulut. sebagaimana sayap izra'il mengepak tinggi. lalu kepalaku merasa terjuntai dari langit-langit kamarmu. ada yang berdesah. seiring gerak arloji. sebuah nama ia sebut? kau atau aku." (Galih Pandu Adi, 2010)

"Masa bodoh, siapa saja yang tersebut. Kau. Aku. Kita. Itu satu. Satu makna. Seperti langit-langit yang hanya menatap sedari tadi, tanpa satu kata yang terlontar, seperti angin-angin yang membisikkan eja-eja kata namamu.
rokokku habis tersulut. aku sekarang berlutut. " (Nanda Sani, 2010)

"maka akankah kau cukupkan ini seperti daun pintu yang patah saat bulan tengah mengeja gelisah kita? kepul rokokmu masih tergantung. perlahan menjadi payung dalam arakan melati dan tudung keranda. kitapun sama-sama luput mereka. apa yang sedari tadi merayap di kolong ranjang kita." (Galih Pandu Adi, 2010)

"hanya terseok dan ngeok kayu-kayu rapuh yang tak kunjung patah. disela kepul asap yang mewabah, kau titip pedang sebilah, juga dengan potongan hati yang terbelah. entah, aku pun mulai jengah" (Nanda Sani, 2010)

"jika jengah alamatkan resahmu di atas tungku. mari mulai menanak.. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Lalu kita habiskan sepiring resah. dimalam sengit, kita terpingit gundah. " (Nanda Sani, 2010)

"selesai semua itu juga kau seduh gelisah tak tentu. langit tak beranjak ke mana-mana. ia masih saja di atas. tak terjangkau. "(Galih Pandu Adi, 2010)

"dan kita masih disini. tak tentu arah, kemana melangkah. yang pasti hanya aku, dan angan tentang kau" (Nanda Sani, 2010)

"maka kita kenangkan saja jejak-jejak juga sajak-sajak saat malam makin tua dan runtuh di kolong ranjang kita. karena telah ku ketuk pintu dari takdir atas namamu. dan kau terus berjalan, melewati gang-gang sepi sampai pintu terbuka dan percakapan di mulai kembali. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Kita mulai episode baru. Dengan hembu nafas yang berderu-deru, nampaknya hasratku mulai memburu. Merindu kepul asap rokok mild dari sakuku. Kita duduk saja. Mencari satu kata untuk jadi awal sandiwara." (Nanda Sani, 2010)

"ya, inilah percakapan kita yang takkan mampu dipahami oleh sesiapun juga. sekalipun ini sandiwara bukankah ini garis yang telah tercoret di dinding kita. aku mencipta peta dari sana tanpa kompas atau arah angin. ku hidangkan secangkir kopi dan kita sama-sama mengendap bersama ampasnya" (Galih Pandu Adi, 2010)

"kututup percakapan malam dengan mata terpejam. Biar lekat dalam pekat. dinding kita yang terpeta, menjadikan cerita tak berujung lara." (Nanda Sani, 2010)

cappucino dingin

sore itu. ya, saya terduduk di sebuah pojokkan kafe. ditemani segelas cappucino dingin dengan cream cantik diatasnya, dan sebuah oreo cheesecake yang saya gemari.

saya sendiri. melihat lalu lalang jalanan yang dipadati para pendatang. mereka pasti punya urusannya sendiri-sendiri. seperti saya, yang juga sedang duduk membenahi hati.

dia hanya teralu baik. teralu manis sehingga membuat hati menangis. Lalu, saya mentertawakan diri saya sendiri ditepi gerimis. Ya. rasa yang mulai terkikis untuknya, karena digantikannya oleh benih-benih yang tadinya aku pikir akan kembang mekar jadi mawar. Oya, mawar. indah berduri. Indah bukan hari-hari perjalanan kita? namun, duri yang saya tiduri ternyata mulai membuat saya perih.

sepertinya, baru beberapa waktu yang lalu kita berjalan di trotoar sepi itu, menyusuri sabtu yang sebenarnya kelabu. abu-abu untukku. karena memang tak pernah ada bening yang tersuling.

dan, hari ini.
saya yakin, yakin untuk membuatnya tampak jelas. dan ternyata, begitu tersibak. hitam itu disana. saya tidak suka kopi hitam, saya menyukai susu. perjalanan ini seperti susu dan kopi. Manis dan pahit. Cappucino dingin. karena pada akhirnya, kebekuan yang menjadi teman sepiku disini.

Masih rintik, dan air mata ini mulai menitik. izinkan aku menangisi kepergianku, menangisi akhir dari manis dan getir. karena artinya, sebentar lagi adalah hambar yang hanya boleh ditawar.


-18april10.rumah-

Friday, April 16, 2010

hati yang merdeka

tirai kelam sudah kusibak dengan cahaya. cahaya yang dipancar dari kedua bola mata. bola mata yang bicara. meski kata bukan medianya.

kugantung senyum dan kalung syukur. belur sudah habis babaknya. kini tergiur menempati ruangnya. menikmati likaliku alur yang teratur.

ku pasangkan tiang hati ini. kupasung ragu yang menderu. dipelatar altar kusulam doa menjalar. menyelam nada, juga asmara berkobar.

kukibar nikmat atas kebebasan. kala mencinta bukan alasan untuk jadi teraniaya.

patung dalam abu

aku jadi patung dalam abu.
bukan meragu, tapi tak jua aku dapat melagu.
keping rayumu menyumbat alir2 dalam nadiku. memenuhi ruang2 dalam labirin waktuku. menyesatkanku dalam lamun dan rindu.

Berpuluh minggu kau hanyutkan aku.
Ku tenggelam dalam samudera hatimu.
Entah kapan bisa kumelabuh, karena perahuku sudah tak lagi sanggup dikayuh.
Tubuhku sudah berpeluh, juga gaun yang mulai kumuh.

Jika bukan aku yang meragu, mengapa aku masih mematung dalam abu?
tak ingin kujemput hitam, tapi tak jua kulihat bayangnya putih. aku mulai letih. Sebentar lagi bisa jadi perih.

aku bosan mematung dalam abu.
Bisakah kau tuang ragu dalam tungku?
Biar terbakar semua api-api cemburu.

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks