Wednesday, April 21, 2010

cappucino dingin

sore itu. ya, saya terduduk di sebuah pojokkan kafe. ditemani segelas cappucino dingin dengan cream cantik diatasnya, dan sebuah oreo cheesecake yang saya gemari.

saya sendiri. melihat lalu lalang jalanan yang dipadati para pendatang. mereka pasti punya urusannya sendiri-sendiri. seperti saya, yang juga sedang duduk membenahi hati.

dia hanya teralu baik. teralu manis sehingga membuat hati menangis. Lalu, saya mentertawakan diri saya sendiri ditepi gerimis. Ya. rasa yang mulai terkikis untuknya, karena digantikannya oleh benih-benih yang tadinya aku pikir akan kembang mekar jadi mawar. Oya, mawar. indah berduri. Indah bukan hari-hari perjalanan kita? namun, duri yang saya tiduri ternyata mulai membuat saya perih.

sepertinya, baru beberapa waktu yang lalu kita berjalan di trotoar sepi itu, menyusuri sabtu yang sebenarnya kelabu. abu-abu untukku. karena memang tak pernah ada bening yang tersuling.

dan, hari ini.
saya yakin, yakin untuk membuatnya tampak jelas. dan ternyata, begitu tersibak. hitam itu disana. saya tidak suka kopi hitam, saya menyukai susu. perjalanan ini seperti susu dan kopi. Manis dan pahit. Cappucino dingin. karena pada akhirnya, kebekuan yang menjadi teman sepiku disini.

Masih rintik, dan air mata ini mulai menitik. izinkan aku menangisi kepergianku, menangisi akhir dari manis dan getir. karena artinya, sebentar lagi adalah hambar yang hanya boleh ditawar.


-18april10.rumah-

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks