Skip to main content

cappucino dingin

sore itu. ya, saya terduduk di sebuah pojokkan kafe. ditemani segelas cappucino dingin dengan cream cantik diatasnya, dan sebuah oreo cheesecake yang saya gemari.

saya sendiri. melihat lalu lalang jalanan yang dipadati para pendatang. mereka pasti punya urusannya sendiri-sendiri. seperti saya, yang juga sedang duduk membenahi hati.

dia hanya teralu baik. teralu manis sehingga membuat hati menangis. Lalu, saya mentertawakan diri saya sendiri ditepi gerimis. Ya. rasa yang mulai terkikis untuknya, karena digantikannya oleh benih-benih yang tadinya aku pikir akan kembang mekar jadi mawar. Oya, mawar. indah berduri. Indah bukan hari-hari perjalanan kita? namun, duri yang saya tiduri ternyata mulai membuat saya perih.

sepertinya, baru beberapa waktu yang lalu kita berjalan di trotoar sepi itu, menyusuri sabtu yang sebenarnya kelabu. abu-abu untukku. karena memang tak pernah ada bening yang tersuling.

dan, hari ini.
saya yakin, yakin untuk membuatnya tampak jelas. dan ternyata, begitu tersibak. hitam itu disana. saya tidak suka kopi hitam, saya menyukai susu. perjalanan ini seperti susu dan kopi. Manis dan pahit. Cappucino dingin. karena pada akhirnya, kebekuan yang menjadi teman sepiku disini.

Masih rintik, dan air mata ini mulai menitik. izinkan aku menangisi kepergianku, menangisi akhir dari manis dan getir. karena artinya, sebentar lagi adalah hambar yang hanya boleh ditawar.


-18april10.rumah-

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…