Skip to main content

kepingan memoir


malam ini purnama. seperti purnama yang sudah-sudah, aku cuma memandangnya sendiri. beberapa waktu lalu, biasanya kulekatkan bola mata untuk tatap bulat penuh bercahaya itu dengan sedikit harap bisa menemukan celah untuk mendekapnya. tapi, akhir-akhir ini, purnama hanya ku kilas saja. karena aku akan merindu bila teralu lama membiarkan tatapku hanyut dalam memori kita.
"kita?"
apakah makna yang terselip di dalam rangkaian huruf yang membentuk kata kita?
aku kamu dan purnama.

masih. bukan hanya kamu yang ingat guyon yang membuat wajahku ini merah padam. tapi aku juga ingat, ikat janji yang hanya mampu terjalin lewat hati dibalik semua mimpi. karena mimpi untuk bersama adalah tabu diucapkan di depan mereka. hanya di dalam lubuk, terpendam tak terucap. tak apa. yang terpenting adalah terasa.

malam ini. entah kenapa kita berjumpa. memang, dua pulau yang memisah tak mampu bersatu untuk temu tubuh kita atau izinkan bola mata saling menatap. hanya rangkai-rangkai rasa yang menjadikan kita nyata. berapa lama? berapa lama kita harus saling membisu untuk akhirnya mengucap rindu?
berapa wanita yang perlu kau cinta untuk akhirnya menemukan bahwa bukanlah mereka yang kau puja. dan berapa lama aku harus menunggu untuk ungkapkan kemelut lagu sendu yang selama ini kulantunkan dalam asa yang tak terjaga.

"maaf, aku begitu takut bersamamu. karena kita tahu. kita tak boleh melewatinya lagi."
"kau main-main denganku?"
"justru karena aku tak pernah main-main denganmu, maka ketakutan itu bersarang disini. di dalam hati ini. aku ingin melampaui. tapi tak mungkin terjadi"

------------

purnama, mana hak-ku untuk mencinta tanpa dosa?
aku sudah kehilangannya, bersama seorang wanita ia berbahagia. ya, maka kusembahkan senyum tanpa rahasia akan aku mencintanya. masih. namun ku lepaskan karena aku tahu bersamanya dia akan temukan kehidupan bebas nestapa.

lalu, kedua kalinya. haruskah aku lagi-lagi berdosa karena mempunyai rasa? kusimpuhkan pula benih itu, tak kutabur agar tak usah berkembang. namun, nampaknya tak kuasa aku bila harus menahan rindu. biarlah tabu, tapi aku hanya ingin dalam dekapmu.

kini, haruskah aku menunggu dirinya yang masih berputar dalam labirin hatinya? mencari jawab yang tak tahu tanyanya apa?

-------------------------

untukmu,
kurindu. semoga sebuah pesan pendek mampu lukiskan betapa memori kita yang juga tak panjang itu berarti untukku.

dan masih. aku mengenang purnama kita yang terakhir.
dengan dekap eratmu disela-sela angin yang terhembus, berpacu dengan buru nafasmu yang seolah katakan "aku tak ingin lepaskanmu."

tapi inilah kita. disini kita mengucap cinta dan juga selamat jalan.

ingatkan aku, kita slalu bersama. dan hanya kata itu yang kita punya.
---------------------------------

malam.
dengan denting gitar yang terpetik. senar-senar yang kau rayu dengan merdu. sambil menyulut mild yang terburu. sebuah bait terlantun..

"Oh kasih, janganlah pergi
Tetaplah kau s’lalu di sini
Jangan biarkan diriku sendiri
Larut di dalam sepi"


air mataku menitik. ku hanya bisa dekap kamu lewat tatap.
"maaf, pesawatku jam delapan. dan itu akhir dari semua perjalanan"
----------------------

sungguh. aku benci harus melihat arlojiku. kini jarumnya sudah mendekati angka tujuh. dan kau masih tak kunjung menjemputku. pesawatku akan tinggal landas pukul delapan. kamu dimana?

--------------------

lalu kuhampiri tubuhmu. demam. tinggi. pasti karena malam tadi kita menikmati sinaran itu bersama, sedangkan jaketmu kau sematkan di tubuhku. kau pasti sakit. atau kau pura-pura sakit sehingga tak perlu mengantar kepergianku?
aku menangis. hanya bisa kupeluk kamu. sekali lagi. sebelum smua benar-benar pergi.
----------------

aku sudah di tempat dudukku.
selamat tinggal. aku benci harus meninggalkanmu dalam sepi.
semoga lain waktu, ada masa untuk kita saling melagu.
aku sayang kamu.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…