Wednesday, April 21, 2010

sajak tiga: Galih Pandu Adi dan Nanda Sani

akhirnya, setelah sekian lama aku "bolos" nulis, aku mulai lagi nih.. emang harus ada pancingannya dulu.. :p

seorang Galih Pandu Adi, seorang penulis yang emang aduhai saya kagumi ini, ternyata masih mau berbalas puisi sama saya. hihihi..

so here it is, our third poems. enjoy! :)
-------------------------------------------------------
sajak tiga.

"aku seperti menelan maut, saat puntung rokokmu itu kau sulut. sebagaimana sayap izra'il mengepak tinggi. lalu kepalaku merasa terjuntai dari langit-langit kamarmu. ada yang berdesah. seiring gerak arloji. sebuah nama ia sebut? kau atau aku." (Galih Pandu Adi, 2010)

"Masa bodoh, siapa saja yang tersebut. Kau. Aku. Kita. Itu satu. Satu makna. Seperti langit-langit yang hanya menatap sedari tadi, tanpa satu kata yang terlontar, seperti angin-angin yang membisikkan eja-eja kata namamu.
rokokku habis tersulut. aku sekarang berlutut. " (Nanda Sani, 2010)

"maka akankah kau cukupkan ini seperti daun pintu yang patah saat bulan tengah mengeja gelisah kita? kepul rokokmu masih tergantung. perlahan menjadi payung dalam arakan melati dan tudung keranda. kitapun sama-sama luput mereka. apa yang sedari tadi merayap di kolong ranjang kita." (Galih Pandu Adi, 2010)

"hanya terseok dan ngeok kayu-kayu rapuh yang tak kunjung patah. disela kepul asap yang mewabah, kau titip pedang sebilah, juga dengan potongan hati yang terbelah. entah, aku pun mulai jengah" (Nanda Sani, 2010)

"jika jengah alamatkan resahmu di atas tungku. mari mulai menanak.. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Lalu kita habiskan sepiring resah. dimalam sengit, kita terpingit gundah. " (Nanda Sani, 2010)

"selesai semua itu juga kau seduh gelisah tak tentu. langit tak beranjak ke mana-mana. ia masih saja di atas. tak terjangkau. "(Galih Pandu Adi, 2010)

"dan kita masih disini. tak tentu arah, kemana melangkah. yang pasti hanya aku, dan angan tentang kau" (Nanda Sani, 2010)

"maka kita kenangkan saja jejak-jejak juga sajak-sajak saat malam makin tua dan runtuh di kolong ranjang kita. karena telah ku ketuk pintu dari takdir atas namamu. dan kau terus berjalan, melewati gang-gang sepi sampai pintu terbuka dan percakapan di mulai kembali. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Kita mulai episode baru. Dengan hembu nafas yang berderu-deru, nampaknya hasratku mulai memburu. Merindu kepul asap rokok mild dari sakuku. Kita duduk saja. Mencari satu kata untuk jadi awal sandiwara." (Nanda Sani, 2010)

"ya, inilah percakapan kita yang takkan mampu dipahami oleh sesiapun juga. sekalipun ini sandiwara bukankah ini garis yang telah tercoret di dinding kita. aku mencipta peta dari sana tanpa kompas atau arah angin. ku hidangkan secangkir kopi dan kita sama-sama mengendap bersama ampasnya" (Galih Pandu Adi, 2010)

"kututup percakapan malam dengan mata terpejam. Biar lekat dalam pekat. dinding kita yang terpeta, menjadikan cerita tak berujung lara." (Nanda Sani, 2010)

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks