Skip to main content

sajak tiga: Galih Pandu Adi dan Nanda Sani

akhirnya, setelah sekian lama aku "bolos" nulis, aku mulai lagi nih.. emang harus ada pancingannya dulu.. :p

seorang Galih Pandu Adi, seorang penulis yang emang aduhai saya kagumi ini, ternyata masih mau berbalas puisi sama saya. hihihi..

so here it is, our third poems. enjoy! :)
-------------------------------------------------------
sajak tiga.

"aku seperti menelan maut, saat puntung rokokmu itu kau sulut. sebagaimana sayap izra'il mengepak tinggi. lalu kepalaku merasa terjuntai dari langit-langit kamarmu. ada yang berdesah. seiring gerak arloji. sebuah nama ia sebut? kau atau aku." (Galih Pandu Adi, 2010)

"Masa bodoh, siapa saja yang tersebut. Kau. Aku. Kita. Itu satu. Satu makna. Seperti langit-langit yang hanya menatap sedari tadi, tanpa satu kata yang terlontar, seperti angin-angin yang membisikkan eja-eja kata namamu.
rokokku habis tersulut. aku sekarang berlutut. " (Nanda Sani, 2010)

"maka akankah kau cukupkan ini seperti daun pintu yang patah saat bulan tengah mengeja gelisah kita? kepul rokokmu masih tergantung. perlahan menjadi payung dalam arakan melati dan tudung keranda. kitapun sama-sama luput mereka. apa yang sedari tadi merayap di kolong ranjang kita." (Galih Pandu Adi, 2010)

"hanya terseok dan ngeok kayu-kayu rapuh yang tak kunjung patah. disela kepul asap yang mewabah, kau titip pedang sebilah, juga dengan potongan hati yang terbelah. entah, aku pun mulai jengah" (Nanda Sani, 2010)

"jika jengah alamatkan resahmu di atas tungku. mari mulai menanak.. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Lalu kita habiskan sepiring resah. dimalam sengit, kita terpingit gundah. " (Nanda Sani, 2010)

"selesai semua itu juga kau seduh gelisah tak tentu. langit tak beranjak ke mana-mana. ia masih saja di atas. tak terjangkau. "(Galih Pandu Adi, 2010)

"dan kita masih disini. tak tentu arah, kemana melangkah. yang pasti hanya aku, dan angan tentang kau" (Nanda Sani, 2010)

"maka kita kenangkan saja jejak-jejak juga sajak-sajak saat malam makin tua dan runtuh di kolong ranjang kita. karena telah ku ketuk pintu dari takdir atas namamu. dan kau terus berjalan, melewati gang-gang sepi sampai pintu terbuka dan percakapan di mulai kembali. " (Galih Pandu Adi, 2010)

"Kita mulai episode baru. Dengan hembu nafas yang berderu-deru, nampaknya hasratku mulai memburu. Merindu kepul asap rokok mild dari sakuku. Kita duduk saja. Mencari satu kata untuk jadi awal sandiwara." (Nanda Sani, 2010)

"ya, inilah percakapan kita yang takkan mampu dipahami oleh sesiapun juga. sekalipun ini sandiwara bukankah ini garis yang telah tercoret di dinding kita. aku mencipta peta dari sana tanpa kompas atau arah angin. ku hidangkan secangkir kopi dan kita sama-sama mengendap bersama ampasnya" (Galih Pandu Adi, 2010)

"kututup percakapan malam dengan mata terpejam. Biar lekat dalam pekat. dinding kita yang terpeta, menjadikan cerita tak berujung lara." (Nanda Sani, 2010)

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…