Sunday, May 30, 2010

surat (bukan) cinta biasa

suatu hari, aku pernah menulis surat cinta. surat cinta bersajak sebagai hadiah ulang tahun adikku. Lalu, kau juga minta satu. Jangan yang berat-berat, yang sederhana saja. Maka, kubuatkan kau selembar surat cinta seperti yang kau minta.
Surat cinta dengan kertas biasa, tinta biasa, bahasa biasa. Tapi, sungguh tertuang cinta yang bukan biasa disetiap lariknya yang berucap lewat kata.

Bukan cinta biasa, seperti lagu siti nurhaliza kesukaan kita. Ya, sungguhpun aku merasa, tak pernah ada cinta yang biasa. apalagi jika untukmu, yang memang kuakui luar biasa.

Disana, dia banjiriku dengan sejuta puja, tentang parasku yang terjaga, tentang apapun dari diriku yang dia anggap slalu istimewa. dia sembahkan aku sesaji rasa, hujani dengan kata cinta, hanya untuk menunggu aku ucap kata 'ya'. jika aku tak salah, sudah sampai tahun kedua, dan hatiku masih sama. Masih tak bisa menerima. Tahun kedua, dan hatiku memang bukan untuk dia.

dan, kini. Kau. Berapa lama kita bersama? Sebut, satu saja puja tentang apa saja dariku. Pernah. dua kali, cantik katamu. yang lalu tak pernah kau akui.
Bulan-bulan berlalu, ternyata hati tanpa kuduga berkata padaku, ia memilihmu.
kau yang senang mencubitiku, mengejekku, dan menunjukkan kau memperhatikanku lewat caramu.

Lewat lengan yang tak berhenti jahiliku,
Lewat tatap yang selalu mengawasiku,
lewat hati yang masih ragu, meski sudah kau akui.. kau juga menyayangiku.

Dengan semua itu, kau tabur senyum dibibirku, temani setiap detik sepiku..
Dan dengan semua itu, buat aku.. yakin mencintaimu :)

Tuesday, May 25, 2010

rampai melati di pelaminan

kubiarkanlah waktu mengejar
meninggalkan kita dalam ketertinggalan
dalam sejumput penyeselan yang tak terungkapkan
kutuangkan segala kepasrahan.

bila saatnya, kita dipertemukan
maka kurasa tabir tersibak menjawab segala pertanyaan
namun, jika kita bukanlah jadi kehendak Tuhan
maka kuserahkan segala asa dan angan

Tuhan,
mohon kabulkan apa yang akan aku sampaikan..
--------------------------------------------

kuritmekan nada-nada yang terdengar dari kamar belakang. rupanya sedang ada perayaan. tapi aku memilih disini untuk menyepi karena aku sedang tak mood berbasa-basi. kini aku harus menyapu ragu, membasuh peluh yang mengeluh. dalam diri ini kudengar ada yang mengaduh, seperti keluh. nada-nada yang mengaduh ini lama-lama buatku tersentuh.

kudekatkan telingaku untuk mendengar lebih jelas apa yang terjadi di benak ini. aku mengetahuinya, seperti menyadarinya ada yang tak pada tempatnya, jadi ngilu-ngilu. kubuka lebar-lebar kelopak mataku agar aku dapat jelas menilai apa yang gerangan mengerang begitu garang di lubuk terdalam. kuraba luka yang menganga di permukaannya. dalam. sudah mengering, tapi masih tinggal disana.

kusimpuhkan diriku diatas sajadah tua pemberian ayahku, memilih untuk pasrah dan berserah. saat darah sudah tak lagi bermakna sebagai harta yang tak boleh dijarah.

Tuhan, dengarkan dia dalam doanya. bahagiakan kami dalam keterpisahan.
sebentar lagi, aku akan melihat sebuah undangan pernikahan.

--------------------------------------------------

serampai melati terangkai dan semat di sanggul pengantin wanitamu. kebaya putih yang membalutnya membuat ia tampak suci dan manis. dan akulah disini yang menangis. bukan miris atau teriris. hanya ingin mencoba menepis gerimis yang membasahi kelopak mataku.

setelah hari ini, setelah ijabmu selesai diucapkan dalam satu tarik nafas yang tak dibubuhi serpihan ragu, setelah kau kecup mesra kening wanita disampingmu dengan mengamit lengannya yang kau lingkarkan cincin emas bertuliskan nama kalian,
sungguh.. aku yakin..




aku akan sangat merindukanmu.




dan aku akan terus di persimpanganku menuju rumahku. dimana kekosongan yang kan mengisi penuh di dalamnya.

------------------------------------------------------------------
suara gaduh itu masih mengaduh di dalam peluh.

Monday, May 24, 2010

Perjalanan Sastra

saya suka menulis... entah sejak kapan saya menulis. seingat saya, jaman SD pun saya membuat puisi-puisi yang kemudian menurut saya gayanya memang anak SD sekali. sederhana.
lalu kemudian, saya menulis hal lain.. keseharian saya.. buku diary, sejak saya kelas 6 SD saya membuat catatan harian di dalam diary dan hal ini berlangsung sampai saya kelas 3 SMA (totalnya mencapai 18 buku). selepas itu, saya mulai melakukan blogging.

biasanya saya menulis keseharian dalam bahasa yang sederhana dan ketawa-ketawa saja, lalu entah darimana saya mengenal jenis tulisan sastra. awalnya, yang saya baca adalah karya-karya milik Kahlil Gibran, seputar cinta... bahasa Kahlil ini mengalir bagai air yang banyak buih-buihnya, harus dipikirkan kenapa bisa begini dan begitu.. lalu, saya beralih bacaan menjadi raditya dika, yang sangat ringan dan isinya memang komedi. sempat terpikir untuk menjadi penulis seperti itu, tapi gagal. saya memang tidak berbakat melucu. :)

pada dasarnya saya suka membaca..
dan saya suka menulis. tidak perduli orang lain suka atau tidak pada tulisan saya. karena menulis adalah cara saya mengekspresikan rasa. rindu khususnya, maka tulisan saya lebih banyak berceritakan tentang cinta dan kerinduan itu sendiri.

saya membaca notes sepupu saya di facebooknya, lalu saya melihat sebuah komentar yang saya anggap begitu cerdas dalam mengupas puisi yang ditulis oleh kakak spupu saya, maka pada suatu kesempatan, saya bertanya padanya tentang orang ini. Hudan Hidayat. begitu namanya, dan saya add saja dia dalam friendlist saya.

saya mulai menulis sastra. dengan gaya bahasa yang kata teman-teman saya "abstrak" dan mereka tidak sepandai itu untuk mengartikannya.

saya menulis sastra, cerita dalam gaya bahasa yang menggunakan analogi. grogi awalnya mencoba "pamer" karya ini pada Bang Hudan, yang sekarang jadi guru saya dalam menuliskan sastra.

dan disinilah saya sekarang, dengan kehadirannya yang terus memberikan saya semangat untuk menulis, adalah blog ini yang merangkum tulisan saya sejak tahun 2008 :)

ya, saya kagum dengan tulisan saya, banyak orang menyukai tulisan saya, guru saya menyukai tulisan saya, tapi.. tetap.. setiap orang punya selera.

pasti ada saja yang menganggap saya berlebihan dalam memilih kata atau bukan seleranya membaca sastra. tidak apa. karena menulis adalah ungkapan jiwa saya :)

terima kasih abang Hudan Hidayat, seorang penulis Indonesia yang sangat rendah hati untuk sekedar mampir membaca coretan-coretan kecil milik saya.. :D

Sunday, May 23, 2010

puisi cinta

kala sinar itu menghampiri untuk ucap slamat pagi, kulihat surya tertawa untuk mengirimu dalam meniti hari..

dan, segenggam melati yang seraya membuat hati jadi wangi,
sayang, tersenyumlah dan berikan aku pelangi

Monday, May 17, 2010

surat cinta untuk Opick

untuk cinta yang memang tak pernah sempurna, namun tak pernah jadikan hari sebagai lara..

sayang,
sadarkah kau usiamu bertambah satu lagi di hari ini?
kurasa sudah saatnya, kita menjalin dua hati yang terus bisikkan hasratnya untuk saling memeluk tubuh itu dimalam berbintang yang gemilang.
sayang,
kabarkan usiamu pada dewi-dewi langit yang sedang curi-curi menatap
katakan pada mereka, mengenai kata-kata yang selalu kau dekap
tak mampu terungkap
karena kau malu mengakui
bila rasa kita sudah rimbun di masing-masing hati
sayang,
kemarikan pergelangan tangan milikmu
berhentilah menatapku dengan sejuta ragu
biarkan terpejam, nikmati khidmat malam
kan ku s'limuti kau dengan puja yang kusulam
sayang,
lelapkan..
tenggelamkan jiwamu yang menggemuruh
rusuh
ku sandarkan damai jiwaku pada milikmu
agar senyum yang selalu kau rengkuh
dalam sisa nafas dan deru jantungmu yang memburu
kualiri sepenuh hati & cintaku..


selamat ulang tahun, adikku..

Sunday, May 16, 2010

gantung diri

dan biarkan aku sampaikan
apa yang lama terpendam, terkunci rapat dalam lemari penyimpan yang mulai berdebu pekat
dalam suara yang sedikit tercekat..

kukabarkan berita...
selama ini cuma aku yang menyimpan sejuta kata
sejuta kata yang berakar satu makna..



ayah, maaf aku sudahi semua sandiwara ini.
kusudah putuskan nadi dan tak lagi ingin jadi budak kemudi nuranimu.
tak mau aku sendiri dibukit sepi, bila iya aku harus tetap disini.
maka biarkan aku jadi mayat yang terbujur kaku dengan meninggalkan liku dan tanggalkan laku yang tak sesuai dengan harapmu.

dan ibu.
biarkan aku menjadi bayang dalam sebuah malam
jadi kilau yang kilapkan bola mata coklatmu yang indah
dan biarkan aku hidup, di dalam arterimu...

karena nyata hadirku..
hanya buihkan sendu yang menderu tak berujung..

selamat jalan.
tali ini, akan habiskan semua perkara yang jadi lara.
-------------------------------------------

*hahahahha.. saya menulis asal lagi.. haduuuh, kemana gairahku yaa???*

Wednesday, May 12, 2010

cerpen 6 hal :o

Huaaaa.. dan saya masih belum menuliskan satu katapun..

enam.. halaman..

memangnya enam itu berarti pendek? apa indikator dari dimensi pendek dan panjang? apa maknanya jika enam halaman tapi isinya hanya ngalor-ngidul gak jelas, gak kena..

baiklah..
ini hanya pembelaan saya yang hanya bisa menulis cerita PENDEK. dua paragraf. dua halaman paling top.

seruput serbuk kopi

Kuseruput kata kata yang mengalir di layar yang sejak pagi kupandang. pahitnya mulai menggerogoti kerongkonganku, manis gulanya mulai pudar karena kini yang keteguk hanyalah ampas-ampas dari secangkir kopi yang semalam kuseduh untukmu. kopi yang kau tinggal di laci batinku.


aku kepahitan. tapi aku tak jera dipahitkan oleh bubuk rayumu. yang nantinya akan kunikmati lewat ampas yang kau tinggal di meja penantianku.


*image taken from http://me-ander.blogspot.com/2007/03/time-for-cup-of-coffee-to-wake-you-up.html*

Friday, May 7, 2010

jeda

baru saja. sepertinya baru beberapa waktu yang lalu saya merasa menemukan cahaya lentera itu lagi. saya merasa diterangi lagi seperti sebelumnya. namun, tampaknya saya salah. itu bukan lentera.. hanya lilin. yang kini sudah meredup dan akan segera padam.

ada jarak lagi. ada jeda lagi. ada kosong lagi.
setelah satu paragraf padat yang sarat makna dan kata. maka kita sampai lagi pada jeda yang membisu. yang membiarkan kita merindu akan adanya kata lagi setelah berminggu-minggu. berapa minggu? entahlah. karena dalam dua belas minggu, aku dan kamu akan menjadi gagu. kita akan kaku. katakata beku. mati layu.

ini masanya. masa kita mencipta jarak. harusnya memang ada jarak.

dua belas minggu. aku menunggu kamu.
:')

sebuah perjalanan

hidup ini menempuh banyak jalan. belok. lurus. simpang. atau apapun bentuknya. dan wajib hukumnya kita memilih.

ini jalan saya. dan itu jalan kamu. begitulah manusia hidup. kadang kala, ada masanya jalan dilaluinya berdua. berdampingan.

ya. saya sebenarnya tidak ingin berpuisi atau bersajak disini. karena saat ini saya sedang mengalami writer's block, while seharusnya saya menulis sebuah cerpen untuk sebuah sayembara yang deadlinenya adalah tanggal 16 nanti.

cerpen 6 hal. ya, dan mengisahkan tentang perjalanan. rasanya ide tentang apa yang akan dituangkan sudah meloncat-loncat ingin segera dituliskan, namun entah kenapa kumpulan kata malah sedang tidak bersahabat dengan saya. huuff..

perjalanan. sastra dan perjalanan. akan menjadi tema yang manis bila saya berhasil menemukan kunci untuk memulainya.

doakan saya ya!

Monday, May 3, 2010

untuk om saya

saya lagi iseng buka-buka blog saya jaman tulisannya masih ALAY. hahaha. tapi disalah satu post saya menemukan puisi ini. ini adalah untuk seorang om saya yang udah tenang di surga. :)

Om Darma.. i love you..

-----------------------------------------------

Aku termenung dalam lamunan panjangku

Resah hatiku rindu dirimu

Matamu seakan tajam menatapku

Tanganmu seolah erat merengkuh tubuhku

Tapi tanpamu bukanlah belenggu

Aku tau kau masih mau aku maju

Kami memang ada di surgawi

Tapi kamu adalah pelangi

Warnai kelam hati ini

ommie,, kau adalah inspirasi dalam
sunyi pagi ini…

Saturday, May 1, 2010

Mega Hadiyanti K. & Nanda Sani : tanpa judul

dibalik tirai kerinduan kusematkan doa keselamatan, kala tapak2 yang menjajaki kehilangan tujuan akan kecintaan, keraguan mengambil alih singgasana kerajaan tuan.
Bersembunyi hamba dibalik kekalutan, dimana terkalungkan sebesit pengharapan.

Tuan, kulayangkan sepotong surat tak berisikan, biar tuan yang tuliskan, kisah panjang yang tidak sempat tertunang.
kosong

tidak lagi ilusi-ilusi menari di dalam.
ambang terus mengambang
aku layangkan kaki-kaki telanjang terus berlari mencari isi sejati
kokoh kau lenyap diantara pasti
tuan, adakah kau mencari?
akankah kau kembali?
atau ini hanya terus menjadi ilusi-ilusi yang tak mengisi
tak beruang
tak beruang

harapan hanya terus mengetuk ruang yang sengaja tak ku hiraukan
Ku jemput malam sepi menyanding hampa bersamaan.
Menyelami kenangan dan angan yang tinggal dalam sangkar bayang kehilangan.
Jika semua dapat terulang, tuan dan aku adalah manifes dari kebahagian.

Kisahnya dilayangkan saja, tuan. Biar melanglang diatas pelataran mimpi yang sudah usang. tuan pasti dengar angin2 itu sampaikan kata sayang, meski ruang tuan abaikan.
kelak jika semua rasa yg hilang menjulang terbang bebas bersama layang-layang, bisa kita nikmati indah udara atas di tempat yg berbeda dengan terpaan kenangan yang sama. entah menjadi rindu atau hanya sebuah masa lalu. kini, terbanglah engakau dan bayangan. Jangan dulu kau sisakan bahan-bahan pembuat rindu... biar ku tenang dalam sepi yg datar.

Bukit kenangan itu tampak indah, tuan. Hanya saja, kapan kita mampu mendakinya hingga tak cuma dipandang selayang.. Ku ingin memegang tangan tuan, dengan elusan sayang..
Tuan, selamat malam.

Aku harus segera pulang.
entah mau diapakan rasa-rasa yg hilang pergi berkeliaran. tidak tahu, biar waktu menjawab semua tanyaku. kali ini saya harus pulang. saya ingin pulang .

another colaboration : FIRASAT

mungkin saya itu harus dipancing kali ya untuk nulis. heheh. jadi hobinya kolaborasi. coba deh dibaca yang ini :)

inilah hasil kolaborasi jari dan imaji
antara mega hadiyanti khairunnisa dengan nanda sani
sebuah tulisan dengan alur entah kemana :P
di ambang akhir malam dan awal hari :)



FIRASAT?



sore
diambang terang dan gelap
diantara nyata dan bayang
sesuatu jatuh menghentakku dari sudut atas kiri kamar yang tersorot sisa-sisa cahaya lelah,
braakkkkkkkkkk...
gambarmu yang terpampang rapi terjun bebas kelantai putih kosong di depanku
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kutatap lekat, ada hasrat untuk mendekap.. Tapi ku hanya diam meratap..
sosokmu, matamu yang besar kini membuatku gusar, seperti ada magnet2 elektro yang mengakibatkan rusaknya detak jantungku di detik ku melihat sorot itu. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

henti tatapku terpaku ditempat dimana bayang-bayang memutar
antara ketakutan dan keinginan tahuan
ada apa disana?
ditempatmu?
puluhan hari setelah kabar menjadi sesuatu yang mahal
ketika hilang menjadi sesuatu yang akrab menyaru hobi
Ada apa, kasihku?
(mega hadiyanti khairunnisa)

Mungkinkah desiran darah dalam nadiku ingin sampaikan sesuatu? Saat lidahku jadi kelu dan tak mampu membuat lagu..
Kamu disana, di ruang yang tak terbayang, ada apa? ada apa?
Aku menunggu, kasih.. Bila saja memang tak lagi ada frasa yang dapat rangkaikan makna, biarkan sepi yang menjadi mediasi firasat kita. Dalam sunyi, sendiri.. kutanya pada hati. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

mungkinkah ini hanya kiriman rindu?
atau memang sesuatu telah terjadi padamu?
bayangmu kabur lalu samar tak manenentu...
kudekap tanya. kutitp doa.
semoga ini hanya rindu. hanya rindu.
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kuangkat pigura itu. Sudah tampak usang, sedikit berdebu dengan lumuran rindu. Dulu kupajang dengan kasih sayang. Kini, Rindu itu jadi terlarang. Sayang, kemarikan sisa rasa yang terjaga, biar ku lelang daripada terbuang.
Ah! Pasti kubermimpi, mana pula mungkin kau ingat aku. Disana kau bersamanya, kekasih. Bersamanya. Hingga kupupus malam sepi bersama perih yang menghunus.
Bukan.. Ini bukan rindu. Kutak mau ini rindu. Ini.. ini apa, kasihku?
(nanda sani)

hempas nafasku semoga tak menjadi bahan tawa rindu yang menjulang.
akan ku apakan firasat yang datang seenak jidat?
mau diapakaan harapan yang tak beruang?
sudah ku tutup semua pintu untuk menerima rindu.
aku tidak mau.
sulitkah firasat ini terjawab?
butiran-butiran kaca ini minta ku apakan?
entah, lagi-lagi entar selalu jadi pelarian.
disini aku ketakutan.
sementara kamu disana hangat bersamanya.
bersamanya.
(mega hadiyanti kharunnisa)

kumendekap sang tanya seraya menunggu waktu menjawab segala rasa.
Belingbeling itu mengerling, memohon agar ia tak ditimbun di bawah pohon kerinduan, yang jadi potongan2 kenangan yang terlupakan.
Tidak. Pigura itu masih kusimpan. Biar lelap dalam hayatku yang menggenang. Biarlah, nanti juga namanya tinggal jadi bayang.

(nanda sani)

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks