Skip to main content

another colaboration : FIRASAT

mungkin saya itu harus dipancing kali ya untuk nulis. heheh. jadi hobinya kolaborasi. coba deh dibaca yang ini :)

inilah hasil kolaborasi jari dan imaji
antara mega hadiyanti khairunnisa dengan nanda sani
sebuah tulisan dengan alur entah kemana :P
di ambang akhir malam dan awal hari :)



FIRASAT?



sore
diambang terang dan gelap
diantara nyata dan bayang
sesuatu jatuh menghentakku dari sudut atas kiri kamar yang tersorot sisa-sisa cahaya lelah,
braakkkkkkkkkk...
gambarmu yang terpampang rapi terjun bebas kelantai putih kosong di depanku
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kutatap lekat, ada hasrat untuk mendekap.. Tapi ku hanya diam meratap..
sosokmu, matamu yang besar kini membuatku gusar, seperti ada magnet2 elektro yang mengakibatkan rusaknya detak jantungku di detik ku melihat sorot itu. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

henti tatapku terpaku ditempat dimana bayang-bayang memutar
antara ketakutan dan keinginan tahuan
ada apa disana?
ditempatmu?
puluhan hari setelah kabar menjadi sesuatu yang mahal
ketika hilang menjadi sesuatu yang akrab menyaru hobi
Ada apa, kasihku?
(mega hadiyanti khairunnisa)

Mungkinkah desiran darah dalam nadiku ingin sampaikan sesuatu? Saat lidahku jadi kelu dan tak mampu membuat lagu..
Kamu disana, di ruang yang tak terbayang, ada apa? ada apa?
Aku menunggu, kasih.. Bila saja memang tak lagi ada frasa yang dapat rangkaikan makna, biarkan sepi yang menjadi mediasi firasat kita. Dalam sunyi, sendiri.. kutanya pada hati. Ada apa, kasihku?
(nanda sani)

mungkinkah ini hanya kiriman rindu?
atau memang sesuatu telah terjadi padamu?
bayangmu kabur lalu samar tak manenentu...
kudekap tanya. kutitp doa.
semoga ini hanya rindu. hanya rindu.
(mega hadiyanti khairunnisa)

Kuangkat pigura itu. Sudah tampak usang, sedikit berdebu dengan lumuran rindu. Dulu kupajang dengan kasih sayang. Kini, Rindu itu jadi terlarang. Sayang, kemarikan sisa rasa yang terjaga, biar ku lelang daripada terbuang.
Ah! Pasti kubermimpi, mana pula mungkin kau ingat aku. Disana kau bersamanya, kekasih. Bersamanya. Hingga kupupus malam sepi bersama perih yang menghunus.
Bukan.. Ini bukan rindu. Kutak mau ini rindu. Ini.. ini apa, kasihku?
(nanda sani)

hempas nafasku semoga tak menjadi bahan tawa rindu yang menjulang.
akan ku apakan firasat yang datang seenak jidat?
mau diapakaan harapan yang tak beruang?
sudah ku tutup semua pintu untuk menerima rindu.
aku tidak mau.
sulitkah firasat ini terjawab?
butiran-butiran kaca ini minta ku apakan?
entah, lagi-lagi entar selalu jadi pelarian.
disini aku ketakutan.
sementara kamu disana hangat bersamanya.
bersamanya.
(mega hadiyanti kharunnisa)

kumendekap sang tanya seraya menunggu waktu menjawab segala rasa.
Belingbeling itu mengerling, memohon agar ia tak ditimbun di bawah pohon kerinduan, yang jadi potongan2 kenangan yang terlupakan.
Tidak. Pigura itu masih kusimpan. Biar lelap dalam hayatku yang menggenang. Biarlah, nanti juga namanya tinggal jadi bayang.

(nanda sani)

Comments

  1. ya! biarlah figur itu ikut tersimpan, taj turut terserak seperti pecahan pigura yang tak sempat tersimpan karena bagiannya yang kecil dan abstrak.
    (panji rizky praba riyanto)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…