Skip to main content

Perjalanan Sastra

saya suka menulis... entah sejak kapan saya menulis. seingat saya, jaman SD pun saya membuat puisi-puisi yang kemudian menurut saya gayanya memang anak SD sekali. sederhana.
lalu kemudian, saya menulis hal lain.. keseharian saya.. buku diary, sejak saya kelas 6 SD saya membuat catatan harian di dalam diary dan hal ini berlangsung sampai saya kelas 3 SMA (totalnya mencapai 18 buku). selepas itu, saya mulai melakukan blogging.

biasanya saya menulis keseharian dalam bahasa yang sederhana dan ketawa-ketawa saja, lalu entah darimana saya mengenal jenis tulisan sastra. awalnya, yang saya baca adalah karya-karya milik Kahlil Gibran, seputar cinta... bahasa Kahlil ini mengalir bagai air yang banyak buih-buihnya, harus dipikirkan kenapa bisa begini dan begitu.. lalu, saya beralih bacaan menjadi raditya dika, yang sangat ringan dan isinya memang komedi. sempat terpikir untuk menjadi penulis seperti itu, tapi gagal. saya memang tidak berbakat melucu. :)

pada dasarnya saya suka membaca..
dan saya suka menulis. tidak perduli orang lain suka atau tidak pada tulisan saya. karena menulis adalah cara saya mengekspresikan rasa. rindu khususnya, maka tulisan saya lebih banyak berceritakan tentang cinta dan kerinduan itu sendiri.

saya membaca notes sepupu saya di facebooknya, lalu saya melihat sebuah komentar yang saya anggap begitu cerdas dalam mengupas puisi yang ditulis oleh kakak spupu saya, maka pada suatu kesempatan, saya bertanya padanya tentang orang ini. Hudan Hidayat. begitu namanya, dan saya add saja dia dalam friendlist saya.

saya mulai menulis sastra. dengan gaya bahasa yang kata teman-teman saya "abstrak" dan mereka tidak sepandai itu untuk mengartikannya.

saya menulis sastra, cerita dalam gaya bahasa yang menggunakan analogi. grogi awalnya mencoba "pamer" karya ini pada Bang Hudan, yang sekarang jadi guru saya dalam menuliskan sastra.

dan disinilah saya sekarang, dengan kehadirannya yang terus memberikan saya semangat untuk menulis, adalah blog ini yang merangkum tulisan saya sejak tahun 2008 :)

ya, saya kagum dengan tulisan saya, banyak orang menyukai tulisan saya, guru saya menyukai tulisan saya, tapi.. tetap.. setiap orang punya selera.

pasti ada saja yang menganggap saya berlebihan dalam memilih kata atau bukan seleranya membaca sastra. tidak apa. karena menulis adalah ungkapan jiwa saya :)

terima kasih abang Hudan Hidayat, seorang penulis Indonesia yang sangat rendah hati untuk sekedar mampir membaca coretan-coretan kecil milik saya.. :D

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…