Tuesday, May 25, 2010

rampai melati di pelaminan

kubiarkanlah waktu mengejar
meninggalkan kita dalam ketertinggalan
dalam sejumput penyeselan yang tak terungkapkan
kutuangkan segala kepasrahan.

bila saatnya, kita dipertemukan
maka kurasa tabir tersibak menjawab segala pertanyaan
namun, jika kita bukanlah jadi kehendak Tuhan
maka kuserahkan segala asa dan angan

Tuhan,
mohon kabulkan apa yang akan aku sampaikan..
--------------------------------------------

kuritmekan nada-nada yang terdengar dari kamar belakang. rupanya sedang ada perayaan. tapi aku memilih disini untuk menyepi karena aku sedang tak mood berbasa-basi. kini aku harus menyapu ragu, membasuh peluh yang mengeluh. dalam diri ini kudengar ada yang mengaduh, seperti keluh. nada-nada yang mengaduh ini lama-lama buatku tersentuh.

kudekatkan telingaku untuk mendengar lebih jelas apa yang terjadi di benak ini. aku mengetahuinya, seperti menyadarinya ada yang tak pada tempatnya, jadi ngilu-ngilu. kubuka lebar-lebar kelopak mataku agar aku dapat jelas menilai apa yang gerangan mengerang begitu garang di lubuk terdalam. kuraba luka yang menganga di permukaannya. dalam. sudah mengering, tapi masih tinggal disana.

kusimpuhkan diriku diatas sajadah tua pemberian ayahku, memilih untuk pasrah dan berserah. saat darah sudah tak lagi bermakna sebagai harta yang tak boleh dijarah.

Tuhan, dengarkan dia dalam doanya. bahagiakan kami dalam keterpisahan.
sebentar lagi, aku akan melihat sebuah undangan pernikahan.

--------------------------------------------------

serampai melati terangkai dan semat di sanggul pengantin wanitamu. kebaya putih yang membalutnya membuat ia tampak suci dan manis. dan akulah disini yang menangis. bukan miris atau teriris. hanya ingin mencoba menepis gerimis yang membasahi kelopak mataku.

setelah hari ini, setelah ijabmu selesai diucapkan dalam satu tarik nafas yang tak dibubuhi serpihan ragu, setelah kau kecup mesra kening wanita disampingmu dengan mengamit lengannya yang kau lingkarkan cincin emas bertuliskan nama kalian,
sungguh.. aku yakin..




aku akan sangat merindukanmu.




dan aku akan terus di persimpanganku menuju rumahku. dimana kekosongan yang kan mengisi penuh di dalamnya.

------------------------------------------------------------------
suara gaduh itu masih mengaduh di dalam peluh.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks