Wednesday, June 23, 2010

lima bait


//1//
tidak banyak bicara adalah satu dari sifatmu di malam-malam awal kita bertemu. tatap malu-malu juga satu dari atribut yang selalu aku kenakan setiap aku bertemu denganmu. dulu. semua itu hanya ada di kisah masa sebelum waktu menumbuhkan rasa yang tak sengaja tertanam. meski tak kau izinkan berbuah dan hanya sampai daun yang merimbuni, guguran rindu seolah tak pernah puaskan jejak yang pernah kita pijak.

//2//
waktu mulai berkejaran dengan nafsu kita untuk terus saling bertemu dan mengusir jemu. meski hanya diisi dengan alur tak tentu, atau nafas berderu ingin dekapmu. juga bibir yang selalu ingin memburu kata rindu darimu. senyum kecil yang jahil. tepuk yang manjakan mata yang mengantuk. bisikan yang menggetarkan di tengah malam yang berisik. kamu yang aku selalu aku nantikan untuk kujamu dengan segala peramu.

//3//
malam yang sepi dan kau katakan hati itu memilihku. hanya saja tak izinkan untuk aku miliki. siapa yang peduli, yang pasti hati kita terpilin kasih yang putih. lalu, masa bergulir begitu saja mengiringi setiap buih dari debur cinta yang saling berkejar di samudra penghidupan. meski harus mengarunginya dengan koci yang tak teralu megah, kita mendayungnya seirama dengan lembayung yang terayun.

//4//
dan pada akhirnya, aku tak perlu lagi pertanyakan. karena liku perjalanan sudah aku lumpuhkan.
disinilah. aku menyulam lagi benang cerita yang akan menghangatkan hati layaknya sebuah baju penghangat di musim pendingin.

//5//
aku cinta kamu. lagu-lagu bersyair cinta aku dendangkan, tarian-tarian menggoda di pamerkan. hati penuh rindu aku persembahkan.

ini untukmu, kekasihku.
jangan terburu. kita nikmati saja waktu yang menyisakan cemburu dihati insan yang mengganggu.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks