Skip to main content

lima bait


//1//
tidak banyak bicara adalah satu dari sifatmu di malam-malam awal kita bertemu. tatap malu-malu juga satu dari atribut yang selalu aku kenakan setiap aku bertemu denganmu. dulu. semua itu hanya ada di kisah masa sebelum waktu menumbuhkan rasa yang tak sengaja tertanam. meski tak kau izinkan berbuah dan hanya sampai daun yang merimbuni, guguran rindu seolah tak pernah puaskan jejak yang pernah kita pijak.

//2//
waktu mulai berkejaran dengan nafsu kita untuk terus saling bertemu dan mengusir jemu. meski hanya diisi dengan alur tak tentu, atau nafas berderu ingin dekapmu. juga bibir yang selalu ingin memburu kata rindu darimu. senyum kecil yang jahil. tepuk yang manjakan mata yang mengantuk. bisikan yang menggetarkan di tengah malam yang berisik. kamu yang aku selalu aku nantikan untuk kujamu dengan segala peramu.

//3//
malam yang sepi dan kau katakan hati itu memilihku. hanya saja tak izinkan untuk aku miliki. siapa yang peduli, yang pasti hati kita terpilin kasih yang putih. lalu, masa bergulir begitu saja mengiringi setiap buih dari debur cinta yang saling berkejar di samudra penghidupan. meski harus mengarunginya dengan koci yang tak teralu megah, kita mendayungnya seirama dengan lembayung yang terayun.

//4//
dan pada akhirnya, aku tak perlu lagi pertanyakan. karena liku perjalanan sudah aku lumpuhkan.
disinilah. aku menyulam lagi benang cerita yang akan menghangatkan hati layaknya sebuah baju penghangat di musim pendingin.

//5//
aku cinta kamu. lagu-lagu bersyair cinta aku dendangkan, tarian-tarian menggoda di pamerkan. hati penuh rindu aku persembahkan.

ini untukmu, kekasihku.
jangan terburu. kita nikmati saja waktu yang menyisakan cemburu dihati insan yang mengganggu.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…