Skip to main content

selamat menikmati

for laughter we've shared every night,
for talks in day when sun is bright,
for hands holding me in the dark,
for shoulder i borrowed because im tired,
for teasing me and make me laugh,
i love you, and i am saying it from the heart

kata-kata itu mengalir begitu saja. sejenak setelah kebersamaan kita harus diakhiri lantaran bulan sudah mulai mencapai tempatnya yang tertinggi dan jarum jam yang tak mau mengalah dan tak jua hendak menghentikan detaknya.

tidak apa, dalam benakku.
hari ini memang sudah teralu larut untuk dinikmati, meski aku selalu menyukai sinaran bulan penuh yang mampu menerangi mega yang sudah pekat oleh malam. esok jua, ketika langit mulai memerah dan matahari kembali dari peraduannya, aku akan kembali melihat wajahmu yang berseri setelah mandi pagi, lengkap dengan kemeja birumu yang sedikit kebesaran tapi kau teralu malas untuk membawanya ke tukang jahit di seberang jalan sana. aku akan menemukanmu dengan wajah yang terbilas wudhu subuhmu, dengan senyum yang berhasil memamerkan deretan putih rapih gigimu yang selalu membuatku ingin ikut memberikan seringai kecil. aku akan menemukanmu yang sudah wangi dengan khasmu yang selalu membuatku tak sanggup lepaskan angan tentang bagaimana rasanya berdekapan denganmu.

malam itu. theater empat di salah satu sinema di pinggiran kota jakarta menjadi pilihan tempat kita membuncahkan kerinduan atas pertemuan yang harus tertunda tiga hari lamanya. hanya tiga hari dan rasanya kerinduanku sudah bisa dipanen seperti padi-padi yang sudah menguning dan siap untuk ditumbuk menjadi beras. dan kerinduanku, sudah siap kau lahap untuk kita kenyangkan dengan segenap kenang dan kemesraan,

sebuah film action komedi yang bermain di layar lebar. dibintangi dua selebritis terkenal dunia, kita menikmatinya. bukan karena sinema yang terus berkejar dengan waktu yang terus berpacu, nafas kita juga saling memburu.
lalu, kau menggenggamnya.
"bolehkah?", izinmu.
kujawab dengan membiarkan jariku menyelinap ruang diantara jejarimuu untuk kau belai kemudian. dan aku, mendekap lenganmu untuk sekian saat.

aku tak ingin kau melepaskanku, karena kugenggam kau erat di dalam hatiku.

kekasihku, jika masanya tiba kau memilih untuk pergi, maka aku membebaskanmu..
melangkahlah, dengan keyakinan yang tak tergoyah, untuk meraih segenap apa yang kau perjuangkan.. dan percayalah, tak ada yang sia-sia.

hidupku adalah hari ini. maka malam ini, kumenikmati.
tak ingin aku tenggalamkan mimpi yang mungkin harus terbunuh mati oleh kisah-kisah tak pasti dimasa nanti.
dan biarkan waktu lampau tak lagi merenggut masaku kini. karena disini, aku hidup bersamamu. karena dimasa kini, kau memberiku nafas yang mungkin tak lagi kumiliki nanti.

dan kini,
aku mencintaimu.
bukan lampau, dan aku tak berjanji untuk nanti.
yang ada.. masa kini, dan disini.
selamat menikmati.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…