Skip to main content

surat kedua

aku sedang duduk di pengayun pada taman yang berlapangkan luas dengan serendeng bunga-bunga merah yang sedang merekah. indah. ada tetes-tetes yang mengembun di dedaun yang masih hijau, begitu pun pada yang mulai menguning tanda sudah cukup umur.
dengan berbalut syal jingga yang dulu kau beli di Ancol dulu, aku merasakan kehangatan yang masih sama.

Pangeran, sudah semi lagi. sudah dua surat aku tulis untukmu, tapi tak kunjung juga aku terima balas darimu.
mana?
sejak dipertengahan gugur aku menggurat kata-kata untukmu, sampai kini tak jua ada secarik larik yang katakan kau merindu. aku menunggu. apa mungkin karena memang surat itu, tak pernah sampai di tanganmu, tak pernah kata demi katanya kau baca dengan bola mata yang bergerak-gerak mengikuti memori kita yang dialiri sejuta rasa. ya, mungkin saja saat pria tua itu menyampaikan sebuah amplop berwarna gading ini, kau sedang tak ada di tempat, hingga surat ini hanya diletakkan dimeja tempat dulu kau pajang pigura gambar kita berdua.

dulu. dulu. semua cerita tentang masa dahulu.
sepertinya hanya aku saja yang tinggal dimasa sebelum "aku" sekarang. mungkinkah kau juga terjebak dalam mesin waktu hingga rasanya meski tahun-tahun berlalu, kisah itu masih berlaku?
mesin waktu. aku tersenyum membayangkan apabila nyata adanya sang mesin waktu, dengan emisi yang bisa membawa aku kembali ke tahun-tahun penuh lagu yang kita dendangkan berdua. tidak hanya di tepi pantai yang landai. tapi juga di serigai kota yang gemerlap, di warung tenda, di motor tua, di beranda. lagu-lagu yang menjadi satu. satu dengan mimpi dan harap kita yang terlahap masa.

Pangeran,
aku kedinginan.
ternyata, meski surya sudah menerangi daratanku, tapi ada angin yang masih menusuk tulang-tulangku.
ya, pangeran..
dia memang sudah menghangati sebagian dari aku, tapi setengahnya, masih mencarimu.


*tulisan ini adalah kisah berlanjut dari "balasan yang datang terlambat"

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…