Monday, July 26, 2010

Surat untuk Senja

Senja jingga, hari ini aku tak sempat menyapamu. aku terburu mengejar gerbong-gerbong yang dipadati insan yang akan pulang ke peraduannya.

Biasanya, aku bisa sedikit mengintip dari balik kaca jendela dari sepanjang perjalananku menjejak rel-rel yang berjajar rapi tak pernah mendekat, tapi jua tak pernah menjauh satu sama lain. Stagnan saja mereka di tempatnya masing-masing. Menjalani tugas meski kadang sudah teralu letih memikul beban yang sama-sama saja setiap waktunya. Hanya saja, kadang dari lintasan yang berlawanan arah.

Senja, jinggamu terlewatkan dari pandanganku. Pupilku tak berhasil menangkap potret indahmu waktu tadi. Meski mungkin, esok masih ada kesempatan lain untuk aku memandangi warnamu yang menggelitik batinku untuk slalu mengagumimu.

Senja yang jingga, kucerita sedikit ya.
Tadi dikereta, semua jendela jadi cermin. Ada yang mencoba untuk menengok apa yang ada dibalik kaca, namun sia-sia. Yang ada hanya pantulan rambut panjang yang tergerai lurus sempurna, tubuh mungil dengan kaus kebesaran dan membawa sebuah tas khas perempuan jaman sekarang. Matanya sedikit mencekung, ada semburat kelelahan atau kekecewaan atau kekhawatiran atau ketakutan atau justru sebuah harapan. mata itu mencoba mencari sesuatu dibalik cermin, tapi yang ia lihat hanyalah dirinya yang masih kebingungan, tanpa jawaban.

Ia kecewa, sebesar apapun usahanya membesarkan bola matanya untuk mencuri-curi pandang apa yang ada dbalik sang kaca, dia hanya akan semakin melihat dirinya. Hingga akhirnya ia menundukkan kepalanya, sekejap terpejam untuk menikmati gelap yang pekat karena semua cahaya dihalangi kelopaknya. Ia menunggu hingga ia sampai ditempatnya turun untuk kembali memijak tanah, dan pintupun terbuka pada sebuah tempat tujuannya. Ia tersadar, bahwa ia hanya perlu bersabar, menjalani waktu diatas rel yang berkejar dengan gesek kereta untuk hingga akhirnya menghantarkan pada yang ia sedari tadi ia ingin ketahui. Apa yang ada dibalik kaca.

Senja, ia adalah aku. aku yang akan hanya menjalani waktu-waktu di dalam gerbong yang melaju hingga waktu menghantar aku padamu, jingga. Tunggu aku sekejap lagi, senja. Aku sudah mencapai siang. Sebentar lagi kita jumpa.

*midnite. 260710*
Dibatas malam yang meresah, aku butuh ruang untuk berkeluh kesah dan membiarkan mataku membasah..

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks