Skip to main content

Surat untuk Senja

Senja jingga, hari ini aku tak sempat menyapamu. aku terburu mengejar gerbong-gerbong yang dipadati insan yang akan pulang ke peraduannya.

Biasanya, aku bisa sedikit mengintip dari balik kaca jendela dari sepanjang perjalananku menjejak rel-rel yang berjajar rapi tak pernah mendekat, tapi jua tak pernah menjauh satu sama lain. Stagnan saja mereka di tempatnya masing-masing. Menjalani tugas meski kadang sudah teralu letih memikul beban yang sama-sama saja setiap waktunya. Hanya saja, kadang dari lintasan yang berlawanan arah.

Senja, jinggamu terlewatkan dari pandanganku. Pupilku tak berhasil menangkap potret indahmu waktu tadi. Meski mungkin, esok masih ada kesempatan lain untuk aku memandangi warnamu yang menggelitik batinku untuk slalu mengagumimu.

Senja yang jingga, kucerita sedikit ya.
Tadi dikereta, semua jendela jadi cermin. Ada yang mencoba untuk menengok apa yang ada dibalik kaca, namun sia-sia. Yang ada hanya pantulan rambut panjang yang tergerai lurus sempurna, tubuh mungil dengan kaus kebesaran dan membawa sebuah tas khas perempuan jaman sekarang. Matanya sedikit mencekung, ada semburat kelelahan atau kekecewaan atau kekhawatiran atau ketakutan atau justru sebuah harapan. mata itu mencoba mencari sesuatu dibalik cermin, tapi yang ia lihat hanyalah dirinya yang masih kebingungan, tanpa jawaban.

Ia kecewa, sebesar apapun usahanya membesarkan bola matanya untuk mencuri-curi pandang apa yang ada dbalik sang kaca, dia hanya akan semakin melihat dirinya. Hingga akhirnya ia menundukkan kepalanya, sekejap terpejam untuk menikmati gelap yang pekat karena semua cahaya dihalangi kelopaknya. Ia menunggu hingga ia sampai ditempatnya turun untuk kembali memijak tanah, dan pintupun terbuka pada sebuah tempat tujuannya. Ia tersadar, bahwa ia hanya perlu bersabar, menjalani waktu diatas rel yang berkejar dengan gesek kereta untuk hingga akhirnya menghantarkan pada yang ia sedari tadi ia ingin ketahui. Apa yang ada dibalik kaca.

Senja, ia adalah aku. aku yang akan hanya menjalani waktu-waktu di dalam gerbong yang melaju hingga waktu menghantar aku padamu, jingga. Tunggu aku sekejap lagi, senja. Aku sudah mencapai siang. Sebentar lagi kita jumpa.

*midnite. 260710*
Dibatas malam yang meresah, aku butuh ruang untuk berkeluh kesah dan membiarkan mataku membasah..

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…