Saturday, August 28, 2010

sebuah diskusi

ini bukan salah satu karya sastra, bukan puisi atau prosa. hanya sebuah pemikiran dari wanita tak ada kerjaan.

Permata sedang merenungi hidupnya, tidak bahagia, tapi sebenarnya tidak juga merana. hanya saja, jalan yang ditempuhnya agak berbeda. unik. atau radikal? ya, bebaslah masyarakat mau bicara apa. ada yang memujinya karena keberaniannya, ada juga yang menumpahkan sumpah dan serapah atas apa yang dipilihnya. beberapa lainnya, cenderung tak perdulikan apa yang dijalaninya. urus masing-masing karena semua sudah sibuk dengan hal nya sendiri. individualis.

dan ia sudah cukup dewasa untuk mengerti risiko yang mungkin ia harus tanggung atas perlakuannya.

baru hari ini ia berfikir.
mengapa ia melakukannya? ia bukan manusia yang terlahir jahat, ia dibesarkan di keluarga terhormat. lalu, apa yang menjadikannya laknat?

ia termenung, parasnya putih bersih dan pakaiannya yang sedikit terbuka tertiup angin, berhasil memajang bahu indahnya yang disembunyikan dibalik kardigan abu. mengapa ia harus memilihnya? meski ia tahu betul kepada siapa hati pria itu diberikan. dan bukan untuknya.

lalu?
ya, mereka hanya menikmatinya.
meski disana, wanita itu terluka menanti pejantannya untuk kembali dalam dekap peluk setelah tahun berganti angka dan purnama sampai bosan menyapanya yang masih sendiri saja. prianya tak kunjung pulang membawa sayang. tak pernah tahu ia bahwa diseberang lautan, sang pria berbagi kemesraan.

dan sang Permata tahu, meski sang pria bersamanya, sang wanita itu bukan dirinya. bukan ia pemilik rusuk yang dicintainya.

dan ia hanyalah wanita. yang mencoba bahagia, meski caranya tak biasa.

Permata masih mencari jawabnya..
mengapa ia masih bertahan menjadi wanita kedua yang menyakiti sesama kaumnya. kaum yang hanya bisa dipilih, tanpa bisa pernah memilih.
dan salahkah, bila Permata sekali menjadi penjahat untuk menjadikan dirinya merasakan cinta?

sang diri

Kamu pertanyakan seribu kali mengapa aku masih menyimpan semua rasa ini. Semua rasa yang katanya tak akan pernah aku terima balasnya. Kamu bingung, tapi tetap disini bersamaku. Entah jua kau menikmatinya atau sekadar basa-basi. Entahlah, dan saat ini aku sedang tak ingin mengerti.

Kamu pertanyakan juga apa rasanya kehilangan. Dan aku terdiam, mengingat apa yang aku rasa waktu sebelumnya, saat aku dipaksa mengatakan perpisahan meski rasanya harus mengiris luka di nadi sendiri. Mataku tak jelas menatap kemana. Ah, peduli amat. Begitulah kehilangan. Tak habis seribu kata jika aku harus memaparkannya. Intinya, hilang. Kehilangan.

Lalu kau bercerita tentang wanita. Kau pertanyakan tentang mereka. Kenapa ini kenapa itu dan aku menjawab sepengetahuanku. Itu saja, mungkin berbeda-beda setiap wanita. Tapi mereka senang dipuja, percayalah.

Dengan semilir angin malam yang pastinya akan membuat perutku kembung semalaman, dan segelas teh tawar hangat, aku dan kamu berbagi cerita tentang masa lalu. Juga tentang wanitamu. Lalu kenapa kau bersamaku?

Lagi-lagi, bukan saatnya aku harus mengerti.

Aku terbiasa menikmati apa yang ada saat ini. Esok adalah misteri. Mungkinkah kau masih ada atau bisa saja tinggal kenang yang membayang.

Dan kamu adalah hidupku hari ini. Bukan bagian dari masa laluku yang tak akan terulang, semanis apapun cerita yang tercipta, bukan masa depan yang masih hidup dalam angan yang melayang. Kamu, aku, disini hari ini. Jadi, nikmati saja dengan hati.



Wanitamu, diseberang sana.
Maafkan sang jalang ini.

Wednesday, August 25, 2010

Oicha, malamku yang sempurna

rasanya baru semalam kita menikmati lampu-lampu yang temaram, mencoba mencari sebuah cerita untuk direkam. sebuah cafe terkenal di pinggiran kota Jakarta menjadi pilihan kita untuk tertawa dalam pekatnya malam dan deru kendaraan yang berkejar ingin segera sampai ke peraduannya.

dan aku bersamamu. menikmati musik romansa yang dilantunkan, tapi nampaknya kita malah sibuk sendiri membuat lagu lain untuk cerita kita dengan sebersit gelak tawa dan celoteh-celoteh manja.


ah, Oicha..
akan sangat kurindukan masa-masa aku menatapnya dengan penuh melas agar kau berhenti menjahiliku dengan jemarimu yang berkeliaran di sekujur lekuk tubuhku.

ah, Oicha..
akan sangat kehilangan senyum darimu saat aku bergelayut manja di lengamu yang menggoda..

ah, Oicha..
akan sangat memimpikan belai lembutmu yang mampu menenangkan gundah yang membuncah ketika kuingat, esok adalah misteri yang tak terpecah.



mungkinkah ketika fajar mulai menyapa semesta, kita masih dalam melodi yang sama?
ketika kau biarkan aku bersandar di bahumu, dekapmu seolah bisikkan..


"tenanglah.. saat kau buka kedua mata, kita masih akan tetap saling mencinta meski aku harus pergi ke negeri tetangga."







*Oiche: malam (irlandia)*
--------------------------------------

Oicha adalah Dia..
siapa dia? ya, anggaplah dia adalah malam saya yang sempurna, karena pagi adalah misteri. namun ia selalu memastikan bahwa kelak saya membuka kedua mata, rasa itu akan terjaga meski ia harus melangkah jauh entah kemana.

terimakasih untuk setiap malam yang kau buat jadi gemerlap..

Lenggok


biar aku berdansa
seiring ritma dan irama yang samar terdengar telinga
dengan raga yang sudah setengah jiwa
juga jemari yang ragu berlaga

biar aku melangkah
menyusuri lagu yang berdebu
menatap bayang binar mata yang menyiar
sebuah asa yang kini mulai pudar

biar kulekuk tengkuk dan lutut
menyamai hati yang mulai beringsut
pandang yang mulai berkabut
dan kita yang sudah kalut

-------------------------





depok. pagi. 26 agustus 2010.
ditengah gigilnya jemari dan tebal selimut yang gagal menghangatkan

Monday, August 16, 2010

kisah tentang aku, kamu, dan malam

Malam, terimakasih. kau biarkan dia menjamu aku dengan sejumput pelipur jemu yang termangu. aku terkaku-kaku melihat laku yang tak lazim di mataku.

akan kupastikan, aku merindu malam-malam seperti ini. masa yang mana harus kukayuh sampai berpeluh untuk menatap wajahmu yang menggodaku untuk menyimpan bayangnya di dinding benakku. agar selalu kutau rupawan dari kasih dalam kemesraan.

malam, terimakasih lagi. kau hidangkan dirinya untuk aku nikmati dengan hati. semoga dia juga tersenyum menjalani gulir detik bersama di tengah angin yang menghembus dan dingin mengcengkramku. bukan, dia tidak memberikan sebuah pelukan, hanya sejumput kekhawatiran. dan malam, sungguh kini aku memikirkannya.

sayang, bersenanglah denganku.
jika ragu mulai menghantuimu, maka berilah waktu untuk menjawab berbagai tanya yang mengganggu. hingga akhirnya ada masa kau yakin untuk bersamaku.
tak perlu terburu, kita nikmati saja hari yang tersisa selama masih bisa bergandeng menapak jalan yang sama.

sajak-sajak belum selesai

aku bukan mengungkungmu, hanya memelukmu.

***

ditengah gersang, dia oase yang menyegarkan dan hembuskan kehidupan
disiang kala matahari berdiri menantang, kau tiupkan angin-angin surga yang menyejukkan.

***

bayang, aku hanya bisa mengikutimu karena lampu-lampu hanya senang menyoroti ragamu. paras yang sempurna yang jadikan daya tarik setiap insan yang menatap ke arahmu.
dan aku, masih jadi bayang.

***

kukalungkan senyum di malam itu. saat kau merangkulkan bahagia di pundak kananku.
masa-masa itu, dimana kita tertawa karena canda yang hanya dimengerti kita berdua.

roda ini melaju teralu cepat, angin juga bertiup teralu lebat. aku serasa terbang dan melayang, tapi seperti mati karena jadi hilang kendali. tak perduli dengan apa yang akan terjadi di sekelilingku ini. dengan lantunan lagu yang berdentum hebat di telingaku, aku mendengar bisik dari dalam diri yang terus bertanya apa yang gerangan akan terjadi dalam hitungan sekian hari.

mungkin, kamu akan jadi bayang. bukan hanya kenangan yang dalam angan.

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks