Skip to main content

Oicha, malamku yang sempurna

rasanya baru semalam kita menikmati lampu-lampu yang temaram, mencoba mencari sebuah cerita untuk direkam. sebuah cafe terkenal di pinggiran kota Jakarta menjadi pilihan kita untuk tertawa dalam pekatnya malam dan deru kendaraan yang berkejar ingin segera sampai ke peraduannya.

dan aku bersamamu. menikmati musik romansa yang dilantunkan, tapi nampaknya kita malah sibuk sendiri membuat lagu lain untuk cerita kita dengan sebersit gelak tawa dan celoteh-celoteh manja.


ah, Oicha..
akan sangat kurindukan masa-masa aku menatapnya dengan penuh melas agar kau berhenti menjahiliku dengan jemarimu yang berkeliaran di sekujur lekuk tubuhku.

ah, Oicha..
akan sangat kehilangan senyum darimu saat aku bergelayut manja di lengamu yang menggoda..

ah, Oicha..
akan sangat memimpikan belai lembutmu yang mampu menenangkan gundah yang membuncah ketika kuingat, esok adalah misteri yang tak terpecah.



mungkinkah ketika fajar mulai menyapa semesta, kita masih dalam melodi yang sama?
ketika kau biarkan aku bersandar di bahumu, dekapmu seolah bisikkan..


"tenanglah.. saat kau buka kedua mata, kita masih akan tetap saling mencinta meski aku harus pergi ke negeri tetangga."







*Oiche: malam (irlandia)*
--------------------------------------

Oicha adalah Dia..
siapa dia? ya, anggaplah dia adalah malam saya yang sempurna, karena pagi adalah misteri. namun ia selalu memastikan bahwa kelak saya membuka kedua mata, rasa itu akan terjaga meski ia harus melangkah jauh entah kemana.

terimakasih untuk setiap malam yang kau buat jadi gemerlap..

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…