Skip to main content

sang diri

Kamu pertanyakan seribu kali mengapa aku masih menyimpan semua rasa ini. Semua rasa yang katanya tak akan pernah aku terima balasnya. Kamu bingung, tapi tetap disini bersamaku. Entah jua kau menikmatinya atau sekadar basa-basi. Entahlah, dan saat ini aku sedang tak ingin mengerti.

Kamu pertanyakan juga apa rasanya kehilangan. Dan aku terdiam, mengingat apa yang aku rasa waktu sebelumnya, saat aku dipaksa mengatakan perpisahan meski rasanya harus mengiris luka di nadi sendiri. Mataku tak jelas menatap kemana. Ah, peduli amat. Begitulah kehilangan. Tak habis seribu kata jika aku harus memaparkannya. Intinya, hilang. Kehilangan.

Lalu kau bercerita tentang wanita. Kau pertanyakan tentang mereka. Kenapa ini kenapa itu dan aku menjawab sepengetahuanku. Itu saja, mungkin berbeda-beda setiap wanita. Tapi mereka senang dipuja, percayalah.

Dengan semilir angin malam yang pastinya akan membuat perutku kembung semalaman, dan segelas teh tawar hangat, aku dan kamu berbagi cerita tentang masa lalu. Juga tentang wanitamu. Lalu kenapa kau bersamaku?

Lagi-lagi, bukan saatnya aku harus mengerti.

Aku terbiasa menikmati apa yang ada saat ini. Esok adalah misteri. Mungkinkah kau masih ada atau bisa saja tinggal kenang yang membayang.

Dan kamu adalah hidupku hari ini. Bukan bagian dari masa laluku yang tak akan terulang, semanis apapun cerita yang tercipta, bukan masa depan yang masih hidup dalam angan yang melayang. Kamu, aku, disini hari ini. Jadi, nikmati saja dengan hati.



Wanitamu, diseberang sana.
Maafkan sang jalang ini.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…