Skip to main content

sebuah diskusi

ini bukan salah satu karya sastra, bukan puisi atau prosa. hanya sebuah pemikiran dari wanita tak ada kerjaan.

Permata sedang merenungi hidupnya, tidak bahagia, tapi sebenarnya tidak juga merana. hanya saja, jalan yang ditempuhnya agak berbeda. unik. atau radikal? ya, bebaslah masyarakat mau bicara apa. ada yang memujinya karena keberaniannya, ada juga yang menumpahkan sumpah dan serapah atas apa yang dipilihnya. beberapa lainnya, cenderung tak perdulikan apa yang dijalaninya. urus masing-masing karena semua sudah sibuk dengan hal nya sendiri. individualis.

dan ia sudah cukup dewasa untuk mengerti risiko yang mungkin ia harus tanggung atas perlakuannya.

baru hari ini ia berfikir.
mengapa ia melakukannya? ia bukan manusia yang terlahir jahat, ia dibesarkan di keluarga terhormat. lalu, apa yang menjadikannya laknat?

ia termenung, parasnya putih bersih dan pakaiannya yang sedikit terbuka tertiup angin, berhasil memajang bahu indahnya yang disembunyikan dibalik kardigan abu. mengapa ia harus memilihnya? meski ia tahu betul kepada siapa hati pria itu diberikan. dan bukan untuknya.

lalu?
ya, mereka hanya menikmatinya.
meski disana, wanita itu terluka menanti pejantannya untuk kembali dalam dekap peluk setelah tahun berganti angka dan purnama sampai bosan menyapanya yang masih sendiri saja. prianya tak kunjung pulang membawa sayang. tak pernah tahu ia bahwa diseberang lautan, sang pria berbagi kemesraan.

dan sang Permata tahu, meski sang pria bersamanya, sang wanita itu bukan dirinya. bukan ia pemilik rusuk yang dicintainya.

dan ia hanyalah wanita. yang mencoba bahagia, meski caranya tak biasa.

Permata masih mencari jawabnya..
mengapa ia masih bertahan menjadi wanita kedua yang menyakiti sesama kaumnya. kaum yang hanya bisa dipilih, tanpa bisa pernah memilih.
dan salahkah, bila Permata sekali menjadi penjahat untuk menjadikan dirinya merasakan cinta?

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…