Skip to main content

dasalogi rindu

#1
Hari Satu

jeda kini bersenyawa dgn kita
pisahkan raga tapi jiwa tak kuasa
menggantung ragu ditengah rindu
mengusik asa dalam aku tak berlirik

digenggamku terukir kata kau sempat mengucap janji, ini baru hari satu.
bila sampai ku menunggu hingga sepuluh hari kau tak kembali,
jua tak sampai secarik larik yang membisik rindu sudah menggelitik, maka biarkan aku mencari
setengah jiwa yang dibawa kau lari sampai ke ruang bertitik.

-----
#2
Rintik di Malam Dua

ini malam kedua,
aku terduduk diam ditengah gemeritik gerimis yang mencipta sepi semakin mengiris.
kita sudah bertukar pesan singkat, tapi rasanya waktu malah semakin melambat.

masih ada delapan,
baiklah. kunikmati dulu berbagai santapan, nanti baru kita bertukar lagi pesan-pesan tentang rindu dan cerita bertahan.

------
#3
ah!

ah! tiga malam..
t i g a.

kini aku bersemayam bersama para bocah yang memancing tawa, memamerkan baju-baju baru yang dibeli bersama saat diskon ditebar dimana-mana.
tapi rindu tak bisa ditawar-tawar, meski diganti dengan sanak saudara yang menuturkan cinta dan tunjangan hari raya.

ah..
mana kabarmu sayang??
sedari tadi aku menunggu-nunggu, tapi yang kudapat malah kabar yang semakin mengganggu.

------
#4
Jeda

hari ini terkubur sepi. kamu lenyap dimakan masa.
tak ada berita.


maka tak ada cerita.

-------
#5

disini ramai.
bagaimana disana?


nampaknya belum ada setitik rindu darimu, sedangkan milikku sudah hampir rimbun menggelitik batin ini.
aku sudah memilin kata, tak terungkap tersungkur mati dibalik nisan perkara
tak kuasa aku bertanya, ada apa disana, bermanjakah kau dengannya?
karena disini, belum mau aku terluka lunta menderu dera lara.


jadi aku memilih membisu, biar hatiku yang menerka, akankah surga atau neraka setelah kita kembali bersua.
-----

#6
Yang Tak Selesai

ingat sajak tentang rindu dulu?
yang kubuat saat kau tengah melaju dan aku menunggu?

ya, sajak tentang hari sebanyak dasa.
sajak tentang aku yang menanti sampai kau kembali.

sajak yang kini hanya semakin berjarak.
kita tak lagi di tapak yang sama untuk dijejak.

hari keenam. dan kisah kita tenggelam. aku berhenti menyulam cerita, yang ada hanya prasangka.
dan kini, kenang yang meluka.

Comments

  1. Wah, blog nya bagus nih (desainnya)..

    lu suka sastra juga ya, wah boleh donk kapan-kapan kita diskusi. hehe

    jgn lupa mampir ke blog ane ye,,! :P

    http://kumpulansajaktooftolenk.blogspot.com/

    http://manshurzikri.wordpress.com/

    salam kenal!
    :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…