Sunday, October 24, 2010

titik saturasi

kini sudah sampai titik, air mata tak lagi berarti.
tak ceritakan apa-apa lagi. hanya mengubur histori.

Wednesday, October 13, 2010

Kisah Cinta Pedansa

tajam tatap matamu yang meruncing perhatikan tiap jejak yang kupijak

erat genggam jemarimu tak biarkan selinap jarak

irama yang berdetak, seiring dengan langkah kita bergerak

tak paham apa yang kau ucapkan, yang kita butuhkan hanyalah merasakan.

eratkan. ketika regang mulai datang.

lepaskan. saat kau sudah tak kuat berpegang.

bebaskan.

bila kita tak lagi mampu bertahan.

dan lanjutkan, ketika kita masih ingin berjalan beriringan.

***

aku nikmati dentuman malam ini. meski bass-nya terasa teralu keras. namun, inilah yang kuinginkan, membiarkan diriku tenggelam dalam selimut malam, yang kelam. aku sedang sendirian, tak lepas memori tentang bidang dadamu yang kutatap sesiang tadi. tak dapat kuelakan tatap matamu yang tak lepas ketika kita sedang mencoba mengerti setiap ketukan.

sayangnya, kita hanya bisa bersama ketika itu. dan itu hanya sebatas kewajibanku sebagai seorang pedansa, dan kau adalah pasangan yang dipilihkan untukku.

kau tak lepas memandangku, sejak langkah awal kita beriringan memulai sebuah tarian, meski lagi-lagi aku tahu, ini hanyalah sebuah keharusan. bukan hasrat atau keinginan.

hmm.. aku menyeruput kopi dingin yang sudah tersaji sedari tadi. masih. aku membayangkan senyuman yang kau berikan ketika musik berhenti dan kita menyudahi.

ketika hormat menjadi sebuah penutup, maka tatap itupun tak lagi tertuju padaku.

entah. mengapa serasa ada yang terbelah di balik gaun merah dan senyumku yang kupaksa merekah.

kubayangkan matamu ditengah kerumunan tepuk tangan yang meriah. kunikmati setiap jentik jemarimu yang merengkuh nuraniku. Bolehkah? biarlah musik ini tiada terhenti, hingga kisah kita tiada bertitik.

ah!

lepaslah. dan biarkan aku menyibak lelah.

***

Depok. tengah malam.

untuk seorang pedansa.

-dedicated to my beloved crazy friends in dancesport ui yang sedang jadi fans berat angga. hahahaha-

self-disclosure terhadap 12 hal dalam hidup..

oke.. jadi sebelumnya saya cerita dulu sedikit yaa..

ini adalah tugas sahabat saya, tentang self-disclosure tapi menggunakan kreativitas emosi gitu. gak paham juga tujuannya apa. tapi intinya cukup seru.

judul tugasnya.. "i am from..."

ada 12 analogi yang harus dibuat.. berikut hasil self-disclosure saya :)

  1. (makanan favorite) saya adalah dari tiap bubuk dari tumbukkan biji kopi yang pahit dan berbaur dengan manisnya susu dan gula yang menjadikan saya lebiih terasa nikmat. tersaji panas dikala sore diguyur hujan yang deras, atau dinginnya menyejukkan ketika teriknya siang menghantui. Meski tak semua menyukai, tapi ada beberapa yang kecanduan untuk selalu menikmati.
  2. (pesan orang tua) Saya adalah dari senyum yang kadang tulus, kadang palsu. Meski tak semua yang ditampakan adalah kebahagiaan, tapi ada sebuah ketegaran yang terselip diantara dua bibir yang terkatup membentuk sebuah lekukan senyum. Senyum adalah bahasa universal untuk mengungkapkan rasa bahagia, juga untuk mengatakan bahwa ada sebuah kenyamanan. Dan saya ingin selalu menjadi alasan insan memberikan sebuah senyuman.
  3. (peristiwa) Saya adalah dari sebuah kelahiran. Dimana sebuah kehidupan dan perjuangan dimulai. Merasakan jatuh dan kegagalan, namun terus berjalan hingga dijemput oleh kematian. Saya adalah kelahiran yang meski ketika saya menangis, orang lain dapat bahagia menyambut seorang ‘aku’ dan kehadiran.
  4. (seseorang) Aku adalah dari cerita hidupnya. Ada kisah nestapa dan bahagia. Kadang jadi perkara, seringnya ingin membuat ia bahagia. Aku bisa jadi cerita dia, aku juga senang bercerita tentang dia. Aku adalah tawanya dan juga tetesan air matanya.
  5. (tempat yang aman dan damai) Aku adalah dari atap yang melindungi manusia dari hujan dan terik, aku adalah tembok-tembok yang menghalangi badai menerpa jiwanya. Aku adalah lantai tempat berpijak, dan aku adalah rumah yang menyediakan ruang untuk bersandar, untuk merebah, atau untuk bekerja. Aku adalah rumah yang sanggup memberikan kedamaian, juga pelajaran dari setiap dilemma yang menghadang.
  6. (barang berharga yang tidak akan diberikan pada siapapun) Aku adalah dari liontin perak yang meski bukan barang nomor satu di dunia, juga menempati posisi istimewa, aku tak berkarat, tapi juga tak mulia. Aku liontin perak yang tergantung dekat dengan hati yang terus mencinta. Aku liontin perak yang diberikan dengan penuh makna.
  7. (kejadian yang berulang setiap hari) Aku adalah dari matahari yang terbit dari ufuk timur dan terbenam di barat. Tugasku menerangi tanpa harus menuntut balas diterangi. Aku muncul di siang hari dan sembunyi ketika malam menyambangi. Aku tak harus selalu menyinari sebagai diriku, ada bulan yang bisa jadi perantara sinarku. Kadang aku dimaki, kadang dicari.
  8. (yang dilihat dalam perjalanan menuju kampus) Aku adalah dari penjual Koran. Aku berbagi ilmu yang bukan dari aku. Aku suka bercerita tentang apa yang terjadi, menyapa setiap pejalan kaki untuk sekiranya membeli Koran pagi ini. bukan hanya untuk mendapatkan rejeki, tapi juga ingin membagi misteri yang terjadi sehari ini.
  9. (tempat yang ingin didatangi kembali) Aku adalah dari pantai yang memiliki gelombang dan berdendang diantara sunyi. Aku memiliki butir pasir yang kecil namun berarti kita bersatu dalam sebuah melodi. Aku adalah bisik angin yang menyapa dan membelai halus setiap helaian rambut dengan kelembutan. Aku adalah karang yang diam tapi jadi sebuah pajangan yang menampilkan indahnya penampakan.
  10. (segi positif diri sendiri) Aku adalah dari kata-kata yang berbicara. Menyusun sebuah cerita. Mendatangkan sebuah kisah yang dapat mengubah arah atau menyibak lelah. Aku adalah dari bahasa, cara mengungkapkan rasa. Aku adalah dari puisi yang memiliki arti.
  11. (segi negatif diri sendiri) Aku adalah dari tetes air mata ketika hati tak sanggup menahan pedih. Sebuah isak yang meninggalkan sesak. Keluh diantara peluh selepas berpikir keras atau mengerahkan tenaga untuk bekerja. Aku adalah dari kegagalan yang tak berhenti menghampiri tapi dibalik ada pembelajaran untuk jadi pribadi yang lebih bijak.
  12. (harapan dalam hidup) Aku adalah dari cinta. Cinta adalah bahasa universal. Sebuah rasa yang akan melindungi, mampu membuat bahagia juga ada kisah berair mata. Tidak semua indah, tapi juga tak jadi sia-sia. Cinta membawa pada sebuah pengorbanan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, tapi meski demikian, cinta tak lekang dimakan usia.

hihih. ini sih iseng aja sebenernya, cuma ikut-ikutan Dian aja.. tapi karena emang hobi merangkai kata jadilah tugasnya seperti ini.. :D

ada yang mau ikutan bikin juga?? seru loooh.. :p

Thursday, October 7, 2010

Review psikologis: puisi sedih

lagi pengen sedikit berbagi..
hmm, seharian ini saya sedang 'iseng'.. tidak sengaja saya menemukan hal-hal berikut..

Mas Bamby Cahyadi, seorang cerpenis, mengatakan bahwa beliau membuat banyak sekali cerpen yang bertemakan kesedihan, kematian, kerinduan.

Delbin, salah satu teman saya di komunitas sastra facebook, juga mengatakan bahwa kebanyakan tulisannya bertemakan kesedihan.

Galih Pandu Adi, seorang teman juga di komunitas yang sama, tak lekang dari cerita-cerita kerinduan yang katanya adalah perih yang paling purba.

Tak jauh, pun tulisan saya bertemakan kerinduan dan kehilangan. saya bahkan dapat mengatakan, jangan-jangan saya ini masternya puisi rindu, juaranya prosa sedih, no satu dibidang kata tentang kehilangan. hahaha. ya, 90% tulisan saya mencurahkan sebuah kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Jarang, tentang kebahagiaan. bukan tak ada, namun seringnya sarana menulis ini saya gunakan untuk meluapkan apa yang tidak terungkapkan. hingga hadirlah tulisan-tulisan yang menguras air mata.

jika ingin terlihat sedikit cerdas, maka saya ingin mengulasnya sedikit dari teori psikologi (maklum, sudah semester tujuh di psikologi, ingin sedikit unjuk gigi tentang pengetahuannya yang minim hihihi), Sigmund Freud, bapak psikoanalisa ini, yang nampaknya sudah dikenal dimana-mana, mengemukakan beberapa jenis self defense manusia. represi, supresi, displacement, reaksi formasi, sublimasi, dan lain-lain (saya gak inget dan gak nemu juga di catatan kuliah saya yang super duper tidak lengkap! hehe). sublimasi adalah suatu cara yang digunakan manusia untuk defense dari hasratnya, misalnya kesedihan. sublimasi adalah menyalurkan hasratnya melalui cara-cara yang diterima di masyarakat, misalnya ya tulisan, lukisan, lagu, seni, dan olahraga (kalau freud sendiri selalu memandang dari segi seksualitas), namun tidak terbatas pada segi seksualitas saja. Hal ini juga nampaknya dapat berlaku di kehidupan para penulis.

penulis, yang hobby membuat cerita tentang kesedihan mungkin sebenarnya sedang melakukan sublimasi atas kesedihan, kepedihan, kekecewaan dan berbagai ke-an lainnya melalui tulisannya. daripada saya mengisap ganja dan fly, daripada saya menegak alkohol dan tipsy, daripada saya merokok dan asthma, dan daripada-daripada lainnya yang merupakan bukan cara yang dianggap 'tepat' oleh masyarakat ini membawa para penulis untuk menuangkannya dalam untaian kata-kata, baik puisi, prosa, cerita panjang, pendek, atau flash. lebih diterimakah? tentunya. Bahkan, seorang Bamby Cahyadi kini sudah dikenal melalui ceritanya di koran kompas, atau Ganz yang masuk ke sebuah artikel di Bali.

jadi, apakah semua penulis adalah orang yang tidak bahagia?
hmm, rasanya teralu tergesa juga jika melakukan generalisasi seperti itu.
Mungkin, penulis-penulis ini bukan orang yang menderita, namun karyanya hadir ketika ia harus menyalurkan kesedihannya. maka, jadilah tulisan-tulisan yang menggetarkan, sarat kesedihan.

Lalu, mengapa tidak menulis ketika bahagia?
sebenarnya, saya sendiri kehabisan kata-kata jika harus menuliskan mengapa saya cenderung menulis ketika sedang didera lara. entah, ketika bahagia saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tertawa daripada duduk depan layar dan merangkai kata. ;)

ya, saya tak tahu.
anggaplah saya ini sok tahu. Hihi


Salam!
Keep writing! :)

Tuesday, October 5, 2010

gelisah berpisah

.
.
.

detik melambat
bergerak merambat
hanya sekejap
hingga kata itu terucap

aku menyudah
kita berpisah
kau bergundah
aku berpasrah

dan biarkan air yang menitik itu menggambar luka yang aku derita
jika kau punya bisu yang bercerita, maka aku pilih tawa yang berpura

kita lupa punya janji-puji-kaji
kini yang ada hanya caci-maki-benci

ah!
mari berpindah kisah
kita sudah terlampau lelah
mari berpejam mata
langit sudah gelap gulita

esok lagi saja,
kita susun cerita bahagia
mungkin, sebaiknya tidak berdua

masih untuk Angga

ah angga, teganya.
kau hilang dimaya, apalagi yang nyata.
lalu.. lalu.. lalu..

lalu, aku bagaimana?

angga,
kududuk diam saja
menunggu siang malam terjaga
biar hati yang bicara
dimana akhirnya ia hentikan kelana

angga,
maukah sekali lagi kau dengar aku jujur?
kini aku mulai gugur
tak ditemani sebotol anggur atau mantra-mantra mujur
cuma ingin kau datang dan biar kata kita kembali melebur

cukupkah, angga?
kini tertarikkah kau untuk kembali menikmati sepi
atau malah inginnya kau berlari
mendekap aku yang sedang sendiri

pilihanmu, angga.
dan aku, hanya akan tetap menjaga.

Sunday, October 3, 2010

Untuk Angga, atau siapapun kini namanya

Hey Angga,
apakabarnya kau disana? Masih ingatkah kau dulu kita suka berbagi cerita?
Ya, memang hanya lewat maya, karena sungguhpun kau memang tak nyata ada.

Angga,
Ingatkah ketika aku keluhkan semua derita dan kau membalas dengan kata-kata yang buat aku tertawa?
atau ketika aku ucap syukur atas nikmat, kamu pun mengucap selamat dengan penuh khidmat.

Hey, Angga.
aku tahu kau hanya sebuah nama, dari seorang cinta.
Angga, atau siapapun namamu kau ubah, apapun alamatmu dikotak berisikan chip-chip temuan teknologi terkini, meskipun tak skali lagi saja kita mengucap kata dan tak ada lagi kisah-kisah yang di telaah, sungguhpun aku tetap jatuh cinta.

Untuk angga, yang kuungkap setelah sekian masa.
dan ternyata, masih dia yang sama dengan cerita cintaku sejak semasa sma.


sampai berjumpa lagi, Angga.
semoga lain kali, kita bisa bertatap muka dan saling bicara lewat bola mata yang tak usah lagi ada tipu daya.

**

Angga adalah cinta maya, di penghujung 2006 dan sepanjang 2007. cinta yang menemani saya sampai saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa di tempat yang menjadi mimpi saya..
Ia tak mau berkata siapa dirinya, sampai saya meraih mimpi, sampai saya settle dengan hidup saya. Begitu ktanya, maka saya bersabar..


Agustus 2007,
akhirnya angga membuka jati dirinya, dengan menyebutkan sebuah panggilan sayang, dari cinta dimasa sma sampai aku jadi dewasa.

angga, atau siapapun kau ubah namamu.
tetap saja, kau cintaku yang dulu :)

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks