Skip to main content

Kisah Cinta Pedansa

tajam tatap matamu yang meruncing perhatikan tiap jejak yang kupijak

erat genggam jemarimu tak biarkan selinap jarak

irama yang berdetak, seiring dengan langkah kita bergerak

tak paham apa yang kau ucapkan, yang kita butuhkan hanyalah merasakan.

eratkan. ketika regang mulai datang.

lepaskan. saat kau sudah tak kuat berpegang.

bebaskan.

bila kita tak lagi mampu bertahan.

dan lanjutkan, ketika kita masih ingin berjalan beriringan.

***

aku nikmati dentuman malam ini. meski bass-nya terasa teralu keras. namun, inilah yang kuinginkan, membiarkan diriku tenggelam dalam selimut malam, yang kelam. aku sedang sendirian, tak lepas memori tentang bidang dadamu yang kutatap sesiang tadi. tak dapat kuelakan tatap matamu yang tak lepas ketika kita sedang mencoba mengerti setiap ketukan.

sayangnya, kita hanya bisa bersama ketika itu. dan itu hanya sebatas kewajibanku sebagai seorang pedansa, dan kau adalah pasangan yang dipilihkan untukku.

kau tak lepas memandangku, sejak langkah awal kita beriringan memulai sebuah tarian, meski lagi-lagi aku tahu, ini hanyalah sebuah keharusan. bukan hasrat atau keinginan.

hmm.. aku menyeruput kopi dingin yang sudah tersaji sedari tadi. masih. aku membayangkan senyuman yang kau berikan ketika musik berhenti dan kita menyudahi.

ketika hormat menjadi sebuah penutup, maka tatap itupun tak lagi tertuju padaku.

entah. mengapa serasa ada yang terbelah di balik gaun merah dan senyumku yang kupaksa merekah.

kubayangkan matamu ditengah kerumunan tepuk tangan yang meriah. kunikmati setiap jentik jemarimu yang merengkuh nuraniku. Bolehkah? biarlah musik ini tiada terhenti, hingga kisah kita tiada bertitik.

ah!

lepaslah. dan biarkan aku menyibak lelah.

***

Depok. tengah malam.

untuk seorang pedansa.

-dedicated to my beloved crazy friends in dancesport ui yang sedang jadi fans berat angga. hahahaha-

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…