Skip to main content

Review psikologis: puisi sedih

lagi pengen sedikit berbagi..
hmm, seharian ini saya sedang 'iseng'.. tidak sengaja saya menemukan hal-hal berikut..

Mas Bamby Cahyadi, seorang cerpenis, mengatakan bahwa beliau membuat banyak sekali cerpen yang bertemakan kesedihan, kematian, kerinduan.

Delbin, salah satu teman saya di komunitas sastra facebook, juga mengatakan bahwa kebanyakan tulisannya bertemakan kesedihan.

Galih Pandu Adi, seorang teman juga di komunitas yang sama, tak lekang dari cerita-cerita kerinduan yang katanya adalah perih yang paling purba.

Tak jauh, pun tulisan saya bertemakan kerinduan dan kehilangan. saya bahkan dapat mengatakan, jangan-jangan saya ini masternya puisi rindu, juaranya prosa sedih, no satu dibidang kata tentang kehilangan. hahaha. ya, 90% tulisan saya mencurahkan sebuah kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Jarang, tentang kebahagiaan. bukan tak ada, namun seringnya sarana menulis ini saya gunakan untuk meluapkan apa yang tidak terungkapkan. hingga hadirlah tulisan-tulisan yang menguras air mata.

jika ingin terlihat sedikit cerdas, maka saya ingin mengulasnya sedikit dari teori psikologi (maklum, sudah semester tujuh di psikologi, ingin sedikit unjuk gigi tentang pengetahuannya yang minim hihihi), Sigmund Freud, bapak psikoanalisa ini, yang nampaknya sudah dikenal dimana-mana, mengemukakan beberapa jenis self defense manusia. represi, supresi, displacement, reaksi formasi, sublimasi, dan lain-lain (saya gak inget dan gak nemu juga di catatan kuliah saya yang super duper tidak lengkap! hehe). sublimasi adalah suatu cara yang digunakan manusia untuk defense dari hasratnya, misalnya kesedihan. sublimasi adalah menyalurkan hasratnya melalui cara-cara yang diterima di masyarakat, misalnya ya tulisan, lukisan, lagu, seni, dan olahraga (kalau freud sendiri selalu memandang dari segi seksualitas), namun tidak terbatas pada segi seksualitas saja. Hal ini juga nampaknya dapat berlaku di kehidupan para penulis.

penulis, yang hobby membuat cerita tentang kesedihan mungkin sebenarnya sedang melakukan sublimasi atas kesedihan, kepedihan, kekecewaan dan berbagai ke-an lainnya melalui tulisannya. daripada saya mengisap ganja dan fly, daripada saya menegak alkohol dan tipsy, daripada saya merokok dan asthma, dan daripada-daripada lainnya yang merupakan bukan cara yang dianggap 'tepat' oleh masyarakat ini membawa para penulis untuk menuangkannya dalam untaian kata-kata, baik puisi, prosa, cerita panjang, pendek, atau flash. lebih diterimakah? tentunya. Bahkan, seorang Bamby Cahyadi kini sudah dikenal melalui ceritanya di koran kompas, atau Ganz yang masuk ke sebuah artikel di Bali.

jadi, apakah semua penulis adalah orang yang tidak bahagia?
hmm, rasanya teralu tergesa juga jika melakukan generalisasi seperti itu.
Mungkin, penulis-penulis ini bukan orang yang menderita, namun karyanya hadir ketika ia harus menyalurkan kesedihannya. maka, jadilah tulisan-tulisan yang menggetarkan, sarat kesedihan.

Lalu, mengapa tidak menulis ketika bahagia?
sebenarnya, saya sendiri kehabisan kata-kata jika harus menuliskan mengapa saya cenderung menulis ketika sedang didera lara. entah, ketika bahagia saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tertawa daripada duduk depan layar dan merangkai kata. ;)

ya, saya tak tahu.
anggaplah saya ini sok tahu. Hihi


Salam!
Keep writing! :)

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…