Thursday, October 7, 2010

Review psikologis: puisi sedih

lagi pengen sedikit berbagi..
hmm, seharian ini saya sedang 'iseng'.. tidak sengaja saya menemukan hal-hal berikut..

Mas Bamby Cahyadi, seorang cerpenis, mengatakan bahwa beliau membuat banyak sekali cerpen yang bertemakan kesedihan, kematian, kerinduan.

Delbin, salah satu teman saya di komunitas sastra facebook, juga mengatakan bahwa kebanyakan tulisannya bertemakan kesedihan.

Galih Pandu Adi, seorang teman juga di komunitas yang sama, tak lekang dari cerita-cerita kerinduan yang katanya adalah perih yang paling purba.

Tak jauh, pun tulisan saya bertemakan kerinduan dan kehilangan. saya bahkan dapat mengatakan, jangan-jangan saya ini masternya puisi rindu, juaranya prosa sedih, no satu dibidang kata tentang kehilangan. hahaha. ya, 90% tulisan saya mencurahkan sebuah kesedihan, kekecewaan, kemarahan. Jarang, tentang kebahagiaan. bukan tak ada, namun seringnya sarana menulis ini saya gunakan untuk meluapkan apa yang tidak terungkapkan. hingga hadirlah tulisan-tulisan yang menguras air mata.

jika ingin terlihat sedikit cerdas, maka saya ingin mengulasnya sedikit dari teori psikologi (maklum, sudah semester tujuh di psikologi, ingin sedikit unjuk gigi tentang pengetahuannya yang minim hihihi), Sigmund Freud, bapak psikoanalisa ini, yang nampaknya sudah dikenal dimana-mana, mengemukakan beberapa jenis self defense manusia. represi, supresi, displacement, reaksi formasi, sublimasi, dan lain-lain (saya gak inget dan gak nemu juga di catatan kuliah saya yang super duper tidak lengkap! hehe). sublimasi adalah suatu cara yang digunakan manusia untuk defense dari hasratnya, misalnya kesedihan. sublimasi adalah menyalurkan hasratnya melalui cara-cara yang diterima di masyarakat, misalnya ya tulisan, lukisan, lagu, seni, dan olahraga (kalau freud sendiri selalu memandang dari segi seksualitas), namun tidak terbatas pada segi seksualitas saja. Hal ini juga nampaknya dapat berlaku di kehidupan para penulis.

penulis, yang hobby membuat cerita tentang kesedihan mungkin sebenarnya sedang melakukan sublimasi atas kesedihan, kepedihan, kekecewaan dan berbagai ke-an lainnya melalui tulisannya. daripada saya mengisap ganja dan fly, daripada saya menegak alkohol dan tipsy, daripada saya merokok dan asthma, dan daripada-daripada lainnya yang merupakan bukan cara yang dianggap 'tepat' oleh masyarakat ini membawa para penulis untuk menuangkannya dalam untaian kata-kata, baik puisi, prosa, cerita panjang, pendek, atau flash. lebih diterimakah? tentunya. Bahkan, seorang Bamby Cahyadi kini sudah dikenal melalui ceritanya di koran kompas, atau Ganz yang masuk ke sebuah artikel di Bali.

jadi, apakah semua penulis adalah orang yang tidak bahagia?
hmm, rasanya teralu tergesa juga jika melakukan generalisasi seperti itu.
Mungkin, penulis-penulis ini bukan orang yang menderita, namun karyanya hadir ketika ia harus menyalurkan kesedihannya. maka, jadilah tulisan-tulisan yang menggetarkan, sarat kesedihan.

Lalu, mengapa tidak menulis ketika bahagia?
sebenarnya, saya sendiri kehabisan kata-kata jika harus menuliskan mengapa saya cenderung menulis ketika sedang didera lara. entah, ketika bahagia saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk tertawa daripada duduk depan layar dan merangkai kata. ;)

ya, saya tak tahu.
anggaplah saya ini sok tahu. Hihi


Salam!
Keep writing! :)

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks