Skip to main content

self-disclosure terhadap 12 hal dalam hidup..

oke.. jadi sebelumnya saya cerita dulu sedikit yaa..

ini adalah tugas sahabat saya, tentang self-disclosure tapi menggunakan kreativitas emosi gitu. gak paham juga tujuannya apa. tapi intinya cukup seru.

judul tugasnya.. "i am from..."

ada 12 analogi yang harus dibuat.. berikut hasil self-disclosure saya :)

  1. (makanan favorite) saya adalah dari tiap bubuk dari tumbukkan biji kopi yang pahit dan berbaur dengan manisnya susu dan gula yang menjadikan saya lebiih terasa nikmat. tersaji panas dikala sore diguyur hujan yang deras, atau dinginnya menyejukkan ketika teriknya siang menghantui. Meski tak semua menyukai, tapi ada beberapa yang kecanduan untuk selalu menikmati.
  2. (pesan orang tua) Saya adalah dari senyum yang kadang tulus, kadang palsu. Meski tak semua yang ditampakan adalah kebahagiaan, tapi ada sebuah ketegaran yang terselip diantara dua bibir yang terkatup membentuk sebuah lekukan senyum. Senyum adalah bahasa universal untuk mengungkapkan rasa bahagia, juga untuk mengatakan bahwa ada sebuah kenyamanan. Dan saya ingin selalu menjadi alasan insan memberikan sebuah senyuman.
  3. (peristiwa) Saya adalah dari sebuah kelahiran. Dimana sebuah kehidupan dan perjuangan dimulai. Merasakan jatuh dan kegagalan, namun terus berjalan hingga dijemput oleh kematian. Saya adalah kelahiran yang meski ketika saya menangis, orang lain dapat bahagia menyambut seorang ‘aku’ dan kehadiran.
  4. (seseorang) Aku adalah dari cerita hidupnya. Ada kisah nestapa dan bahagia. Kadang jadi perkara, seringnya ingin membuat ia bahagia. Aku bisa jadi cerita dia, aku juga senang bercerita tentang dia. Aku adalah tawanya dan juga tetesan air matanya.
  5. (tempat yang aman dan damai) Aku adalah dari atap yang melindungi manusia dari hujan dan terik, aku adalah tembok-tembok yang menghalangi badai menerpa jiwanya. Aku adalah lantai tempat berpijak, dan aku adalah rumah yang menyediakan ruang untuk bersandar, untuk merebah, atau untuk bekerja. Aku adalah rumah yang sanggup memberikan kedamaian, juga pelajaran dari setiap dilemma yang menghadang.
  6. (barang berharga yang tidak akan diberikan pada siapapun) Aku adalah dari liontin perak yang meski bukan barang nomor satu di dunia, juga menempati posisi istimewa, aku tak berkarat, tapi juga tak mulia. Aku liontin perak yang tergantung dekat dengan hati yang terus mencinta. Aku liontin perak yang diberikan dengan penuh makna.
  7. (kejadian yang berulang setiap hari) Aku adalah dari matahari yang terbit dari ufuk timur dan terbenam di barat. Tugasku menerangi tanpa harus menuntut balas diterangi. Aku muncul di siang hari dan sembunyi ketika malam menyambangi. Aku tak harus selalu menyinari sebagai diriku, ada bulan yang bisa jadi perantara sinarku. Kadang aku dimaki, kadang dicari.
  8. (yang dilihat dalam perjalanan menuju kampus) Aku adalah dari penjual Koran. Aku berbagi ilmu yang bukan dari aku. Aku suka bercerita tentang apa yang terjadi, menyapa setiap pejalan kaki untuk sekiranya membeli Koran pagi ini. bukan hanya untuk mendapatkan rejeki, tapi juga ingin membagi misteri yang terjadi sehari ini.
  9. (tempat yang ingin didatangi kembali) Aku adalah dari pantai yang memiliki gelombang dan berdendang diantara sunyi. Aku memiliki butir pasir yang kecil namun berarti kita bersatu dalam sebuah melodi. Aku adalah bisik angin yang menyapa dan membelai halus setiap helaian rambut dengan kelembutan. Aku adalah karang yang diam tapi jadi sebuah pajangan yang menampilkan indahnya penampakan.
  10. (segi positif diri sendiri) Aku adalah dari kata-kata yang berbicara. Menyusun sebuah cerita. Mendatangkan sebuah kisah yang dapat mengubah arah atau menyibak lelah. Aku adalah dari bahasa, cara mengungkapkan rasa. Aku adalah dari puisi yang memiliki arti.
  11. (segi negatif diri sendiri) Aku adalah dari tetes air mata ketika hati tak sanggup menahan pedih. Sebuah isak yang meninggalkan sesak. Keluh diantara peluh selepas berpikir keras atau mengerahkan tenaga untuk bekerja. Aku adalah dari kegagalan yang tak berhenti menghampiri tapi dibalik ada pembelajaran untuk jadi pribadi yang lebih bijak.
  12. (harapan dalam hidup) Aku adalah dari cinta. Cinta adalah bahasa universal. Sebuah rasa yang akan melindungi, mampu membuat bahagia juga ada kisah berair mata. Tidak semua indah, tapi juga tak jadi sia-sia. Cinta membawa pada sebuah pengorbanan, kekecewaan, kesedihan, kemarahan, tapi meski demikian, cinta tak lekang dimakan usia.

hihih. ini sih iseng aja sebenernya, cuma ikut-ikutan Dian aja.. tapi karena emang hobi merangkai kata jadilah tugasnya seperti ini.. :D

ada yang mau ikutan bikin juga?? seru loooh.. :p

Comments

  1. (Kesan) Lewat sajak singkat memaknai kreasi ini.. Di dingin pagi berjalan bersebelahan dengan pegunungan. mentari menguning terbit tersaksikan oleh dua mata, dan juga dirasakan oleh sebuah hati yang takjub akan fenomenanya. Hangat merasuk tubuh dan mengalir hingga ruas-ruas pemikiran...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…