Skip to main content

Untuk Angga, atau siapapun kini namanya

Hey Angga,
apakabarnya kau disana? Masih ingatkah kau dulu kita suka berbagi cerita?
Ya, memang hanya lewat maya, karena sungguhpun kau memang tak nyata ada.

Angga,
Ingatkah ketika aku keluhkan semua derita dan kau membalas dengan kata-kata yang buat aku tertawa?
atau ketika aku ucap syukur atas nikmat, kamu pun mengucap selamat dengan penuh khidmat.

Hey, Angga.
aku tahu kau hanya sebuah nama, dari seorang cinta.
Angga, atau siapapun namamu kau ubah, apapun alamatmu dikotak berisikan chip-chip temuan teknologi terkini, meskipun tak skali lagi saja kita mengucap kata dan tak ada lagi kisah-kisah yang di telaah, sungguhpun aku tetap jatuh cinta.

Untuk angga, yang kuungkap setelah sekian masa.
dan ternyata, masih dia yang sama dengan cerita cintaku sejak semasa sma.


sampai berjumpa lagi, Angga.
semoga lain kali, kita bisa bertatap muka dan saling bicara lewat bola mata yang tak usah lagi ada tipu daya.

**

Angga adalah cinta maya, di penghujung 2006 dan sepanjang 2007. cinta yang menemani saya sampai saya akhirnya resmi menjadi mahasiswa di tempat yang menjadi mimpi saya..
Ia tak mau berkata siapa dirinya, sampai saya meraih mimpi, sampai saya settle dengan hidup saya. Begitu ktanya, maka saya bersabar..


Agustus 2007,
akhirnya angga membuka jati dirinya, dengan menyebutkan sebuah panggilan sayang, dari cinta dimasa sma sampai aku jadi dewasa.

angga, atau siapapun kau ubah namamu.
tetap saja, kau cintaku yang dulu :)

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…