Friday, December 17, 2010

satu terakhir, sayang

keluarkan semuanya... jangan ada yang disimpan sendiri lagi”, lalu tangan itu memelukku erat.

Berapa lama lagi sisa waktunya? Benarkah hari ini sudah tiba? Aku meracau sendiri di dalam hatiku, masih tidak terima. Masih tidak tahu apa yang harus kulakukan agar waktu mau berdamai denganku dan berjalan lebih lambat. Sedikit saja. Sedikit lagi saja biarkan aku bersamanya.

Aku mendekapkan diriku lebih dalam lagi di pelukkannya yang sebentar lagi hanya akan menjadi sisa sisa bayang dari semua kenang yang akan terbungkus rapi di dalam brankas memori. Sebuah dekap yang sebentar lagi hanya akan menjadi cerita cerita yang menggoda untuk kembali di buka, namun akan memancing sedemikian banyak tetes air mata. Kenangan. Tentang dekapan.

Aku tak berkata apa-apa sepanjang perjalanan. Biarkan diam yang menyampaikan semua pesan kehilangan. Aku hanya ingin menghabiskannya dengan sebuah dekapan, dan menurutku... semua itu sudah cukup menggambarkan apa yang kita inginkan. Langit ikut menangiskan kepergianmu. Entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi selepas kau terbang menuju pulau di seberang.

Apa aku masih sanggup membuka mata?
Apakah aku masih bisa menghirup wanginya udara tanpa feromonmu yang terus menggodaku untuk selalu ada di sekitarmu?
Masihkah aku tertawa lepas seperti ketika kau melontarkan sepotong jenaka?

Bis ini berjalan teralu cepat, waktu juga serasa berlari.
Tunggu... tunggu... sebentar saja... aku belum puas mendekapnya...
Mengapa kita sudah sampai di terminal dua?

Sepuluh menit serasa sekejap mata, lalu kau datang dengan senyum yang tak dapat lagi kuartikan... lalu hanya lantai yang menjadi saksi kebisuan kita, seraya tangan kita tak ingin saling melepaskan, juga demikian adanya hati ini meneriakkan tak ingin adanya perpisahan.
Tapi sudah tiba waktunya... pukul lima, dan bis putih itu tiba,
Satu kecup saja sayang...

Dan laut pun resmi menjadi batas diantara kita.
Esok, tolong rambatkan suara.. agar aku tahu, kau baik-baik saja. Kita baik-baik saja.
Dan katakan, sampai jumpa... bukan selamat tinggal atau sejenisnya.




**

2 comments:

Dhani Apriandi said...

Hiks... Bagus, Nan. Sebuah perpisahan yang tidak lagi dapat dielakkan... Ada yang ingin menetes.... Ah sudah... mendung merah dari pelupuk mata yang menumpahkannya...

nanda kecil said...

iya, dhani. suatu perpisahan yang menyakitkan namun harus diikhlaskan..

jangan ditahan,, biarkan ia mengalir.. agar tak terbendung dan membuncah tak terarah.. :)

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks