Skip to main content

satu terakhir, sayang

keluarkan semuanya... jangan ada yang disimpan sendiri lagi”, lalu tangan itu memelukku erat.

Berapa lama lagi sisa waktunya? Benarkah hari ini sudah tiba? Aku meracau sendiri di dalam hatiku, masih tidak terima. Masih tidak tahu apa yang harus kulakukan agar waktu mau berdamai denganku dan berjalan lebih lambat. Sedikit saja. Sedikit lagi saja biarkan aku bersamanya.

Aku mendekapkan diriku lebih dalam lagi di pelukkannya yang sebentar lagi hanya akan menjadi sisa sisa bayang dari semua kenang yang akan terbungkus rapi di dalam brankas memori. Sebuah dekap yang sebentar lagi hanya akan menjadi cerita cerita yang menggoda untuk kembali di buka, namun akan memancing sedemikian banyak tetes air mata. Kenangan. Tentang dekapan.

Aku tak berkata apa-apa sepanjang perjalanan. Biarkan diam yang menyampaikan semua pesan kehilangan. Aku hanya ingin menghabiskannya dengan sebuah dekapan, dan menurutku... semua itu sudah cukup menggambarkan apa yang kita inginkan. Langit ikut menangiskan kepergianmu. Entahlah, aku tak tahu apa yang akan terjadi selepas kau terbang menuju pulau di seberang.

Apa aku masih sanggup membuka mata?
Apakah aku masih bisa menghirup wanginya udara tanpa feromonmu yang terus menggodaku untuk selalu ada di sekitarmu?
Masihkah aku tertawa lepas seperti ketika kau melontarkan sepotong jenaka?

Bis ini berjalan teralu cepat, waktu juga serasa berlari.
Tunggu... tunggu... sebentar saja... aku belum puas mendekapnya...
Mengapa kita sudah sampai di terminal dua?

Sepuluh menit serasa sekejap mata, lalu kau datang dengan senyum yang tak dapat lagi kuartikan... lalu hanya lantai yang menjadi saksi kebisuan kita, seraya tangan kita tak ingin saling melepaskan, juga demikian adanya hati ini meneriakkan tak ingin adanya perpisahan.
Tapi sudah tiba waktunya... pukul lima, dan bis putih itu tiba,
Satu kecup saja sayang...

Dan laut pun resmi menjadi batas diantara kita.
Esok, tolong rambatkan suara.. agar aku tahu, kau baik-baik saja. Kita baik-baik saja.
Dan katakan, sampai jumpa... bukan selamat tinggal atau sejenisnya.




**

Comments

  1. Hiks... Bagus, Nan. Sebuah perpisahan yang tidak lagi dapat dielakkan... Ada yang ingin menetes.... Ah sudah... mendung merah dari pelupuk mata yang menumpahkannya...

    ReplyDelete
  2. iya, dhani. suatu perpisahan yang menyakitkan namun harus diikhlaskan..

    jangan ditahan,, biarkan ia mengalir.. agar tak terbendung dan membuncah tak terarah.. :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…