Saturday, December 24, 2011

*no title* *oh! i mean it!*

oke, jadi gini.. sejak gue punya bb *tsah. pamer! hahah* gue hampir ga pernah megang hp nokia gue yang teramat sangat gue cintai itu.. beneran ini mah.. kasian sebenernya kan.. padahal hp itu sangat setia menemani masa-masa sulit gue.

nah, kemaren gue lagi "bebenah" hp gue.. terus ga sengaja gue nemu ini..
kayanya sih udah cukup lama dibuatnya, soalnya ini pasti bukan buat pacar gue sekarang hahahhaa.. tapi yang namanya karya, ya harus dihargai kan. makanya, disini gue mau menuliskannya deh..

niat awalnya ini jadi sebuah lagu. tapi apa daya, kemampuan bermusik gue sangat payah hahahah.. so here's the poet.. :)

--------------------------

it's a moon in the night, with me alone standing here with no one to talk
nothing i ask for more, it just a wish to hold you tonite
cause it seems i cant wait longer, no i cant wait any longer.

the tears are just fed up, missing you is just too much
the smiles are faked, so whats up?
you are all i am about

you are in my heart and i know its not alrite
but here deep inside, i cant let you out
every kiss we made out, let me fall deeper in every rhyme

for now, i just cant be with you for a while
but i wish, someday we'll just have a story
and live a nite with a memory
dont blame me for this love story
i cant say i dont love you, im sorry

dont ask me to leave you behind my daily
now, you are my airy

you are in my heart and i know its not alrite
but here deep inside, i cant let you out
every kiss we made out, let me fall deeper in every rhyme

be here and just sing for me
life remains a mystery
i wish we're not getting into misery,
so please say you will love me



what a sad song.. hahahaha.


Tattoo :)

hellow! i know its been a looooooong time that i havent wrote anything in this blog. i am so sorry, it doesnt mean i am forgotten all of my readers *im speaking like i have millions readers lol!*

well, again..
i am not writing anything related to my poets tonite.i just had a nice chitchat with a far-far away sista, named Syari about having a tattoo.
since i was in high school, i really wish to have a tattoo. i wanted a butterfly tattoo in my shoulder. i am thinking about small, simple, and black butterfly in my right shoulder.. but i cant because we are moslems, are not allowed to have this kind of body art. so, what i can do is only admiring to those people who had tattoos. im not kind of every-tattoo-lover. i only love simple, small, and beautiful tattoo. i hate seeing "scary" tattoo like skull or whatever related to crime. what i love is the art.. :)

and tonite, i was browsing a lil bit about the tattoo itself.. and i found an article talking about the meaning of a butterfly tattoo :)

enjoy..

Butterfly designs can have a lot of meanings, depending on the person or culture. Here's an overview:

Butterfly tattoo design

  • Often a butterfly tattoo is a symbol of rebirthand transformation: the "ugly" and slow caterpillar transforms inside its cocoon to the beautiful creature that a butterfly is. Having a tattoo of a butterfly symbolizes a new life, a new beginning after having gone through some rough times.
  • Delicate beauty: a butterfly is small and very delicate, but also very colorful and full of beautiful details. On the other hand, it is not so delicate like most people think: contrary to the widespread belief, you can't kill a butterfly by touching its wings.
  • A butterfly tattoo can be a symbol of freedom.
  • In some cultures, like the Christian, the butterfly symbolizes a person's soul. The Greek word for butterfly for example, also means soul.
  • In Japan they believe that if a butterfly flies into your guestroom, the person you love the most will come to you soon.
  • Also in Japan, a large swarm of butterflies is seen as a bad omen.
  • The Russian word for butterfly resembles the word for grandmother.
  • In China, two butterflies fluttering together are a symbol for love.
  • In some cultures it means good luck when a butterfly lands on you (imagine the luck you'll be having when you have one on you permanently).
  • The phrase "having butterflies in your stomach" is a way of saying you are in love (or just very very nervous).
  • For the ancient Aztecs, butterflies were the souls of deceased warriors or women who died while giving birth.
  • For some people a butterfly means peace.
  • And for some people the butterfly resembles a woman's genitals (Rorsach anyone?).


and i wish to have one like this:

Monday, August 1, 2011

tentang layang ; sebuah hadiah sederhana

gadis kecil itu tiba-tiba memanggilku lewat media maya.
kami tak saling mengenal. tak pernah saling berjumpa.
hanya saja, aku rasa kami saling tahu siapa peran kami.
ia bercerita tentang harinya. sedang duduk memandangi sesuatu yang menari menghiasi langit sore itu.

layang-layang, ka.
cantik, katanya.

aku katakan padanya, aku juga ingin lihat.
melihat tari dan lekuk layang-layang yang menghias.
ia mengajakku untuk menghampirinya. seolah mengulurkan tangannya untuk meraihku, bersama melihat indahnya langit yang terhias itu.

kami tak saling mengenal.
tak pernah saling sapa.
tapi kurasa, kami saling tahu apa yang ada di dalam hati.

menarilah layang-layang.
hiburlah kami berdua.
yang tak mampu meraihmu karena kau terbang teralu tinggi.
dan hiburlah kami, yang meski tak miliki senarmu. hiburlah kami dengan tarimu yang kami bisa nikmati.

lain kali,
aku kan coba merengkuhmu kembali, ketika putus talimu dan kau hilang arah.
suatu hari,
akan kucoba terbangkanmu kembali. ketika kau pernah jatuh dan terobek semak belukar.
nanti,
ku bantu kau menari lagi, agar suatu hari, ada orang lain yang mampu menikmatimu hiasi hari. seperti kami, saat ini.

adik kecil,
jadilah layang-layang yang kini kau nikmati.
terbanglah bebas.
dan yakinkan,
bahwa disana, tanpa pernah kau sadari.
seseorang mengawasi langkahmu.
dan lainnya, menikmati tarimu.
hingga nanti kau dewasa, kaulah yang akan menjadi histori.
tentang layang-layang cantik penghias senja di sore hari.

*
2 Agustus 2011.
untuk adik kecil, Syari.
selamat ulang tahun.
kuharap kamu bisa jadi hiasan langit yang menghibur hati.
*kamu adalah kesayangannya dia yang kusayang J

Wednesday, July 27, 2011

tips survive di perguruan tinggi

ini cuma share aja.. dari hasil pelatihan dan diskusi iseng. jadi sebuah pemikiran.. mudah-mudahan guna :)

--

TIPS SURVIVE DI PERGURUAN TINGGI

Memasuki dunia Perguruan Tinggi berarti siap dengan segala konsekuensi dan perubahan yang akan dialami. tentunya, karena perguruan tinggi akan menuntut mahasiswa baru untuk menjadi pembelajar yang aktif dan tidak hanya "pasrah" diberikan materi oleh pengajar.

ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dapat berhasil menjalani kehidupan di kampus. dari segi akademik, tentunya mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dalam mencari referensi dalam pembelajaran. akan ada banyak tugas-tugas yang mengharuskan mahasiswa membaca banyak bahan dari internet, buku, dan artikel ilmiah lainnya. mahasiswa juga dituntut untuk aktif di kelas dengan sering berpartisipasi dalam kegiatan diskusi. melalui diskusi ini, mahasiswa juga dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritisnya, dengan aktif menyumbangkan ide-ide atau memberikan tanggapan dan pertanyaan mengenai hal-hal yang didiskusikan.

manajemen waktu adalah hal-hal yang harus dikembangkan oleh mahasiswa. ketika mahasiswa tidak memiliki manajemen waktu yang baik, mahasiswa tersebut akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran yang cukup padat di dunia perkuliahan. dalam pembelajaran di perguruan tinggi, Singgih (2005) dalam bukunya "Sukses Belajar di Perguruan Tinggi" mengatakan bahwa seorang mahasiswa harus memiliki self-regulation yang baik, yaitu mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengatur dirinya sendiri dalam pencapaian target yang telah ia tentukan. salah satu hal yang terkait dalam self regulation ini adalah kemampuan mengatur waktu dan prioritas mahasiswa itu.

lalu, mengapa mengatur prioritas menjadi penting?
hal ini dikarenakan seorang mahasiswa bukan hanya dituntut sukses di bidang akademis. keseimbangan antara kegiatan non-akademik dan akademis juga harus diperhatikan. banyak kegiatan non akademik yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. tentunya, kegiatan non akademik ini juga akan menyita waktu mahasiswa. oleh karena itu, mahasiswa harus pandai menentukan prioritasnya dalam mencapai keberhasilannya di perguruan tinggi.

kegiatan non akademik diperlukan agar mahasiswa dapat survive secara sosial. ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk membuka jaringan pertemanan yang luas, apalagi dijaman sekarang ini yang sudah difasilitasi oleh berbagai teknologi jaringan sosial yang mudah dan murah.

dalam kehidupan kampus, berani berkenalan dengan orang baru adalah suatu keharusan. semakin banyak mengenal orang, akan semakin banyak keuntungan yang akan didapatkan oleh mahasiswa. mengenal banyak orang ini dapat dilakukan dengan mengikuti kegiatan non akademik tadi, contohnya adalah bergabung dengan organisasi kemahasiswaan yang ada di fakultas maupun universitas, mengikuti kegiatan kepanitiaan, dan menjalin hubungan yang baik dengan seluruh civitas, termasuk staff dan dosen.
ada pula anjuran untuk mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat, misalnya klub debat, klub tari. selain mendapatkan kenalan, mahasiswa juga dapat mengembangkan bakatnya di bidang yang diminatinya.

tidak hanya kegiatan organisasi atau kepanitiaan, sering mengunjungi kantin di fakultas lain yang ada teman yang dikenal juga akan membuka pintu untuk mengenal orang lain. minta teman kita mengajak temannya yang lain, nantinya akan terus berkembang hingga jaringan terus meluas. atau sering berkunjung ke kosan teman yang memiliki teman di fakultas lain, lalu saling berkenalan dan menjadi teman.

berani menyapa dan selalu berusaha ramah adalah kunci utama dapat mengenal banyak orang yang nantinya akan sangat membantu berbagai mahasiswa dalam kegiatan perkuliahan. pinjam buku, referensi dosen, pemahaman materi, diskusi belajar (informal, dan GRATIS :p), dan mudah-mudahan bisa jadi link untuk kerja nantinya.

mau yang double untungnya?
coba ambil mata kuliah lintas fakultas. selain bisa mendapatkan teman baru di fakultas lain, kita juga mendapatkan tambahan ilmu . meskipun memang prosedurnya agak sedikit sulit, tapi worth it koq :)

--
selamat berkuliah dan mengenal dunia baru, kawan :)

Friday, July 1, 2011

oicha;rindu

kamu adalah malam.
Sesuatu yang kutunggu ketika senja berlalu.


*
oicha; rindu.
2juli2011.

Monday, June 13, 2011

siapa juaranya?

Tiga bulan terdahulu, kurasa jarak yang mendapatkan tempatnya di podium teratas.
Kini, kurasa lautan lebih unggul memenangkan pertarungan.
Atau..
Mungkin waktu yang justru jadi juara utama dalam permainan ini?


Entahlah.
Karena kini,
Tak lagi kurasa jauh, apalagi dekat.
Tepatnya, tak lagi ada yang terasa.


*

Kereta siang itu.
13 juni 2011
Kamu kembali ke peraduan.

Sunday, June 5, 2011

tentang oicha; lupa?

saya lupa Oicha.

Ah! Pasti dusta.
Berhentilah berpura-pura.


*
lepaskan topengmu, kata Oicha dihari itu.
Topeng apa?

Kini tak lagi ada oicha,
jadi hariku tak sempurna karena senja tak lagi menyambut semburat malam.

*
5juni2011.
Iya. Itu dusta.

empat jejak kunang-kunang

#1
merindu yang tak ada.
tak ada rindu pada yang nyata.

#2
sederhana.
dalam gelap bercahaya.
tak bersuara. hanya bercerita bahwa masih ada secercah ceria.

#3
sedikit bergurau di bawah wulan.
terus terbang. terus bergerak. seolah mengajak kakikaki kecil untuk berdansa mengikuti cahaya.

#4
Jejak kunang-kunang.
tak terpahat.
tapi tertambat di lubuk terdalam memori indah kisah tak terikat.

gelang

kerincing gelang pada kaki yang melenggang
tak jenjang
tapi tampaknya masih saja matamata terundang

kaki bergelang diatas ilalang
langkahnya gontai tak jelas arah kemana melintang
tampaknya bimbang
tak berkawan

kaki bergelang bergerak riang
mencuri jejak yang tak terlihat
menapak selat yang bersilat
dan menerjang rindu yang tak bercabang.



*
5juni2011
rindu lagi pada jejak kenang yang terbuang.

Saturday, May 14, 2011

dua puluh satu

dua puluh satu.
sungguh, kurasa kau tak lagi sabar menunggu tuk kenakan baju pengantin putih dan ucapkan janji setia itu di hadapannya yang berbalut kain putih yang sengaja kalian cari-cari sebagai lambang nantinya kelak kau ingin ingat masa kalian mengikat hati.

dua puluh satu.
ketika aku sedang teronggok setengah mati.
mengingat jejak apa yang saja yang pernah terpijak di dulunya hari.
saat teerbitnya pagi. atau sampai dengan senyapnya bulan yang menyelimuti.

saat ricuhnya pelatar parkir yang dipenuhi pemusik muda, sambil jemari berkaitan satu dan lainnya, sambil berbicara hanya dengan lewat tawa yang tergugah karena lelucon tak penting kawan dan kerabat.

"kalian yang mesra", kata mereka seraya bersama kita.
kita. kau dan aku, bukanya dengannya.

dua puluh satu.
terbawa aku pada cinta yang dulu pernah ada.
pernah terucap bak tak terberaikan.

dulu, lidah kita saling mengikat.
kini, kaki-kaki kita menyengkat.




mengapa?
karena..
dua puluh satu.
dan kita bukan lagi menjadi siapa-siapa.



muda

hey anak muda,
sorot pupil dua mata saling tatap penuh asmara
katakata saling menggoda
jejari saling genggam
pandangi lilin yang terus menyala
meski bara mulai menghempas
dan redup cahaya mulai geragas

hey dua muda,
tidakkah kalian jera
untuk saling bertukar dusta?

jendelatua

Empat celah, belah dua masa
Terpatri kisah yang tak lelah menarinari diatas gelisah
Ada apa gerangan?
Dengan jendela tua yang mengukir kenang
dbaliknya cumbu mesra terbayangbayang

Ketika bulan menguning
bulat menggantung diantara hitam
ada sekelebat tentang kelam
Tapi secercah terang menyusup malam

Jendela tua berkacakaca
Menatap cinta, melangkah berdamping lara

*

nandasani.
april2011

Tuesday, May 10, 2011

Senja adalah Sahabat

sebuah senja yang merona di pelatar kampus saya.
cantik ya?


menatapnya meski sesaat
meski ia hanya datang dalam sekejap
kenangnya,
di benakku lah ia terlekat.

*




Oicha: Kisah yang Hampir Terlupa

Oicha, sudah lama tak menyapamu.
Apakabar kau disana, Oicha? Nampaknya kamu tak pernah lagi membiarkan cahaya mentari pagi merasuki jiwaku dan terus menyelimutimu dengan kelam malammu. Tak pula kau sematkan satu saja bintang meski kau taburkan kerlipannya di sekitaran lainnya, tapi tidak disini. Tidak disini. Dan tidak untuk hati ini.

Mengapa Oicha?
Nampaknya, kau jenuh aku singgahimu tiap waktu?
Mungkin kau juga sudah karam tak ingin lagi berbagi malam?
Bila siang sudah bukan ditakdirkan untuk kita genggam, apakah kini malam juga harus jadi pualam?

Sudah tanakkah kau kenal aku, Oicha?
Hingga kini kau lebih suka menyapa mereka yang masih muda dan belum mengerti tentang dunia?
Agar kau bisa bodohi dan tiduri mereka dengan sejuta kisah manja. Kisah-kisah yang justru kau buat dari cerita tentang kita di kala senja tiba.
Cerita tentang menunggu waktu dimana kita bisa saling menatap tajam apa-apa yang tersembunyi sepanjang siang dibalik mata-mata lelah, menebak-nebak misteri yang kita tak pernah bisa bagi pada sesiapa. Menerka apa saja yang tak terlihat, entah benar entah salah. Siapa peduli? Yang penting kita bisa saling berkelit lidah membuat basah gersang hati yang sudah mengering sepanjang hari.

Hanya malam yang kita punya,
Tapi kini, tak lagi ingin kau berbagi malam.
Dan tinggalah pekat dan bisu yang menyapa, tak ada lagi senyum manja
Apalagi gelisah ketika kita tak dikuasakannya saling mendekap dan hanya bisa menjiati malam dengan kata-kata selezat kue aram-aram dan janji yang terdengar seputih susu sapi yang baru terperah.
Hanya desah yang membuat ragu, apakah nafsu kan tertahan hingga esok
Kita terseok masa, mencaci dusta, dan kembali berbuat dosa.
Di sebuah malam. Sebuah malam berangin, tak berbintang, tak berbulan.
Tapi kita, tetap bermadu.


sumber: sayapbulanpurnama.blogspot.com


*suatu sore
10052011.
Ingat Oicha.

sebuah perjalanan: cerita dodol sang penulis

sudah lama ya tak bersastra?
iya, saya sedang sibuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang akan jadi syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa psikologi.. :p *a.k.a skripsi*

tapi tentunya, dalam membuat skripsi ini, saya juga mengalami berbagai proses yang asyik masyuk kadang bikin galau, bikin ripuh, bikin deg-degan, tapi seru lah. nah, di post ini, saya mau berbagi satu cerita yaa.. bahasanya siih ga nyastra.. bahasa nyantai kaya saya pake sehari-hari klo lagi gahul sama temen-temen saya..

tapi semoga insightnya bisa didapatkan oleh teman-teman blogger :D

---
Sebuah Perjalanan.

So, here we go.

Suatu hari, gue mau ambil data try out untuk alat ukur skripsi gue. So gue berangkatlah ke sebuah SLB di daerah lenteng agung. Gue naik angkot yang benar dan sampai dengan selamat di sekolah itu. ini juga karena udah kesitu sebelumnya, naik ojeg.. tapi tetep aja loh, pas kemaren gue kesana sendiri lagi, gue masih ragu apakah gue turun di tempat yang benar atau tidak. Tapi, yaudah yakin ajalah ya. Eh nyampe juga. Hoohoho. *bangga*

Naaaah, ternyata, sampe sana gue mendapatkan kabar gembira.. jadi sebenernya SLB ini tuh terdiri dari SD sampai SMA tapi terbagi jadi dua tempat, SMP sama SMA digabung, dan SD-nya misah. Rencana sebelumnya, hari itu gue memang akan mendatangi kedua sekolah tersebut untuk ngumpulin 50 guru. Namun, ternyata Allah lagi baik sama gue, tepat hari itu semua guru lagi kumpul di sekolah yang gue datengin, jadi gue cukup naro kuisioner disana dan dapatlah 40 orang guru. Yippieeee..

Seneng dong? Iyalah!

Urusan gue di slb X sudah selesai jam 8-an, wah gue mikir... mendingan gue pake waktu ini untuk ke SLB lain lagi, at least cari 10 guru lagi biar genap 50.

Maka, putuslah sebuah keputusan.. (apa deh??) gue akan ke sekolah yang ada di jalan jagakarsa.. deket kan tuh. Pasti ga akan nyasar dong. Yaiyalaaahh.. jagakarsa doang.. cetek bok.. orang seperti gue yang mana memiliki kemampuan spasial rendah aja pasti bisa kok nyampe jagakarsa.. *pongah*

Gue keluar dari sekolah X and catch 04 to pasar minggu. I know, for sure, where Tama Jakarsa is.. so, harusnya jalan jagakarsa gakan jauh-jauh dari situ.

Gue pun duduk tenang dan yakin bahwa hari itu gue akan sampai dengan selamat di sekolah Y berbekal pengetahuan letak universitas jagakarsa.

Setelah sekian menit dalam perjalanan dari lenteng agung, sampailah gue di depan univ tama jagakarsa... well, gue pasang mata baik-baik, mencari plang jalan bertuliskan.. “JALAN R. JAGAKARSA”.

10 meter dari universitas.. bukan jalan r. Jagakarsa

20 meter dari universitas.. masih bukan jalan r. Jagakarsa

30 meter..

40 meter..

50 meter.. gue mulai panik. *damn.. where am i going?”, tapi masih sok cool sok tenang sok tau arah dan tujuan

100 meter.. 200 meter.. makin galau, gak tau arah dan tujuan... dan akhirnya memutuskan menurunkan ego dan bertanya pada ibu2 yang duduk di sbelah gue..

Gue dengan sok imut dan manis: “bu, maaf.. kalo jalan r. Jagakarsa tuh dimana ya bu?”..

Ibu-ibu bertampang lempeng (leumpeung, datar, bukan lempeng, lempengan.. aahh gimana sih spellingnyaaaah??): “wah, gatau mba. Coba turun aja di pasar minggu ntar..”

Glek! Pasar minggu? Hmm, jauh juga ya? Haha. Tapi yasuda, gue nurut aja. Gue mikir, mungkin jalan jagakarsa ada deket2 situ. Klo gak ada, ya balik arah aja menuju univ tama jagakarsa. Singkat cerita, gue pun turun di pasar minggu. Dan memutuskan untuk nyebrang karena gue tau bahwa jagakarsa letaknya sebelum pasar minggu, gampangnya, gue kan tinggal muter balik.

Iya gak? Iyya dong.. cerdasss! :p

Maka setelah gue nyebrang, gue bertanya pada bapa2 tukang ojek.. eh tak dinyana.. pertanyaan “dimanakan jalan raya jagakarsa” bisa memicu terjadinya konferensi tukang ojek. J ada sekitar 5 tukang ojeg yang mengerubungi gue yang hari itu manis banget dengan kaos lengan panjang hitam polos dan syal warna gading kehijauan.. (bayangin deh tuh warna syalnya kaya gimana.. huahaha..). aih, intermezonya ga penting lagi deh.. setelah beberapa saat membuat bapak2 tukang ojeg itu bingung, gue memutuskan untuk nanya sama polisi aja.. biar aman.

Bapa polisi ada di seberang jalan, jadi gue nyebrang lagi. Bolak balik aja ngeksis kaya setrikaan.

Udah deh, ceritanya kepanjangan.. intinyaaa, gue akhirnya naik angkot yang dibilangin bapak polisi, tapi ternyata bapak polisi boong sama aku, dan aku dibuatnya nyasar.. masa mau ke jagakarsa, gue nyasar sampe PEJATEN dan TB. SIMATUPANG *buat yang gak tau jarak antara pejaten sama jagakarsa, apalagi tb simatupang sama jagakarsa, silahkan berhenti sebentar dan search di google!! Sumpah bok itu jauh banget.. lol!*

Ga penting cerita nyasarnya, soalnya itu cuma akan meyakinkan kalian betapa dodolnya gue. Tapi gue ingin mengambil sebuah insight dari perjalanan panjang gue ini.. (hazeeeegghh..)

Pernah gak sih berfikir, untuk terus aja jalan meskipun lo gak tau dimana tepatnya tujuan lo berada? Tapi lo cuma punya keyakinan, bahwa lo akan sampai di tujuan itu dengan bekal pengetahuan yang lo punya? Nah, itu yang gue alami kan. Sebenernya simpel aja, setelah gue melalui perjalanan muter-muter panjang keliling2 sampe mana tau, memakan waktu kurang lebih satu jam, tuker angkot sampe 4 kali, terus gue menemukan.. sekolah Y bisa dicapai hanya dengan waktu 15 menit dengan menggunakan satu kali angkot.. dari sekolah X! Tapi gue taunya ya ke jagakarsa adalah naik angkot 04 dan gue melakukan itu.. siapa yang tau bahwa salah naik angkot ini membawa gue pada perjalanan panjang dan pemikiran mendalam tentang kehidupan.. (bwihihihih...)

Tapiii.. seandainya, gue tidak melalui jalan panjang itu.. gue gak akan mengenal jalan menuju pejaten, gue gakan tau bahwa 17a muncul-muncul di TB simatupang, bahwa ada namanya daerah jati padang setelah kebagusan, bahwa ada banyak sekali hal kecil yang kita gak perhatikan karena hanya tau jalan besar.. padahal ada gang-gang juga ada kehidupan didalamnya. Dan itupun membuat gue berfikir.. betapa gue baru mengenal sangat sedikit dari daerah ini, padahal jakarta selatan tuh gedenya ampun-ampunan, apalagi keseluruhan kota jakartanya.. apalagi jawa baratnya, apalagi indonesia, apalagi bumi ini. Jadi pengen merefleksikan ini pada kehidupan.. well, gue berfikir gue sudah cukup tau banyak tentang kehidupan gue, 21 tahun cuuuyy.. lama banget tuu idup.. tapi ternyata.. mungkin gue baru tau jalan-jalan besarnya loh, masih kecil banget proporsi yang gue kenal, masih banyak hal asing yang belum gue ketahui, masih banyak tempat yang belum gue singgahi dan hal yang belum gue alami, masih banyak things out there that still been hidden from my sight, and maybe someday.. i’ll cover it.. on my own way.

Dan ketika gue nyasar.. gue berani terus berjalan meskipun gue masih belum tau tepat dimana letak tujuan gue. Tapi gue tetep punya tujuan. Thats kinda life thingy. Itukan idup, kita gak akan tau pasti what gonna happen tomorrow about our plans.. but still, we have to have something to reach. Meskipun lagi-lagi yang pasti di hidup ini adalah ketidakpastian.

Namun, meskipun menurut gue nyasar gue (yang agak kelewatan dodolnya itu) menghasilkan hal baik dalam diri gue, gak berarti untuk mencapai sebuah tujuan kita harus nyasar dulu.. akan lebih baik emang klo kita udah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga perjalanan jadi lebih efektif dan efisien.. :p

Better to prepare everything, but if doesnt go smooth.. then dont be afraid to take a new way to reach a destination. Could be a such journey, though.. :p

Wednesday, March 23, 2011

jawablah..

lancangkah?
bila aku mengundangmu untuk menjelajahi hari bersamaku.

sopankah?
bila aku mengusap air mata yang menetes di tengah dukamu dan menyisipkan sedikit senyum agar bahagia mendatangimu.

dan,
bolehkah?
bila aku memintamu, membawaku ke dalam ruang yang kau sebut rongga hatimu?


aku disini.
menunggu kau mengulurkan tanganmu, untuk kusambut menggenggam jemarimu.

Tuesday, March 22, 2011

izinkan, berdua saja.

singkat saja.
perbincangan singkat lewat dunia maya di malam yang teralu berangin itu ternyata mengundang saya untuk tersenyum.
bukan pembicaraan apa-apa. hanya sapa.
tak lama jua, namun entah mengapa rasanya saya terus membayangkan wajahnya yang sederhana.

dibalut busana tidur biru yang agak kebesaran, dengan langit gelap menggantung di depan kamarku, dan koneksi internet yang tampak malu-malu karena kadang dia hadir, lebih seringnya sembunyi di balik alang-alang kemalang, aku terus sibuk mencari-cari kata, berharap agar tak lama lagi akan ada jawab dari tanya-tanya tak penting yang kuajukan demi hanya untuk mendapatkan sedikit saja atensimu. kamu masih asik bersama mereka, kadang kau sempatkan ucap sepatah dua patah, jawab tanya-tanya tak bermakna dariku.

meski lama, dan kantuk sudah mengajak aku mengencani kasurku, aku tetap setia. di balik degub jantungku yang sudah melonjak-lonjak tak keruan. menunggu sepatah selanjutnya di menit-menit berikutnya.

ini bukan pertama kali aku jatuh cinta.
sebelumnya, aku pernah setia.
tapi memang kisah hati tak bisa dibaca-baca apalagi di terka-terka.

cinta.
mungkin belum tepat jika aku bilang ini cinta.
sebut sajalah aku terkagum. membaca rangkai kata puitismu, melihat hasil keelokan alam yang kau abadikan dalam bingkai lensa. seolah bait dan potret memaparkan betapa elok jika kita bisa bersama membangun puisi kita dalam keindahan potret indah nirwana cinta.

izinkanlah. berdua saja.


jangan (lagi) ada orang ketiga.


***
Depok, 22 maret 2011
hey, kamu. orang baru.
terimakasih sapaan singkatnya tadi malam :)

Saturday, March 5, 2011

dan akhirnya, kau pun tiba.

suratmu tiba di penghujung malam. saat itu, aku memang belum terpejam. karena aku memang sedang menanti sebuah kedatangan.

Ah, Pangeran..

Sungguhpun aku tak mengapa menanti hingga lima semi, hingga matahari muncul lagi. Bahkan tatkala aku dipaksa menanti sampai gugur datang dan saljupun membentang.

Akhirnya, tiba juga kata yang kutunggu dibatas senja setiap masa. Dibatas cakrawala yang semburatnya membuat aku berharap adanya surat. Satu saja. Satu yang membuat lidahku jadi kelu, karena tak mampu lagi lukiskan betapa besar rindu yang kupunya di lubuk ini.

Sungguh,
bait-baitmu membuatku senjaku kembali merona seperti dulu.

*

membaca kisahmu membuatku menepis segala ragu yang sempat menghampiri.
bukan, bukan hanya sempat. tapi ia datang beberapa kali. tapi, bukankah manusiawi jika aku merasa tak lagi mampu meyakini apa yang pernah terucap darimu. terdahulu. sebelum masaku menjejaki berbagai tempat. sebelum nafasku dihembuskan di berbagai ruang udara. sebelum aku, menjadi aku yang sekarang sudah menjelang jadi manusia dewasa.

bertahun menunggu surat balasmu ternyata tak membuatku jemu. tak merubahku dari Nadia yang dulu, yang masih menggilaimu. dan semoga, semoga kau masih pangeranku yang waktu itu. yang masih membiarkanku lelap di pelukmu sambil menikmati hembus angin yang teralu kencang. sambil menatap nanar senja yang mulai bimbang karena akan segera digantikan malam.
tapi, tak mengapa. seperti katamu, senja tak pernah membenci malam.

seperti aku,
meski kau tak pernah lagi datang,
nampaknya membencimu adalah pekerjaan paling sial dan menyusahkan.
dan aku akan menyerah sebelum berjuang.


Pangeran,
kau sudah sampai.
sudah di hamparan yang selalu kita bicarakan.
bagaimana rasanya? sungguh, aku bertanya apa rasanya bersandingan denganmu diatas hijau yang sedikit basah karena ditetesi hujan. apa rasanya menatap indah lampu kota Paris yang gemerlap. ditemani alunan musik klasik dari pengamen yang konser di trotoarsambil berdoa, berharap ada pejalan kaki mau menyisihkan satu dua euro untuknya membeli roti isi di pagi hari. menikmati pasta-pasta yang dijual di sepanjang jalan, sambil menenggak sebotol soda. mendengar lonceng dari gereja tua di seberang sungai. membicarakan orang-orang yang tidak kita kenal lalu mentertawakannya sampai terpingkal-pingkal. ah... bagaimana Gabriel bisa membuat taman seindah ini. ataukah, hanya terasa begitu indah karena aku bersamamu.

ah seandainya.
seandainya saja imajiku ini nyata. aku bisa ada disampingmu ketika kau menuliskan bait-bait indah dalam suratmu itu, Pangeran.

aku sangat ingin disana saat ini. bukan. bukan hanya karena pemandangan yang pasti luar biasa yang membuatku iri. tapi sungguh, membayangkan ada di sampingmu yang membuatku ngeri.

aku begitu takut. takut waktu berlari teralu terburu hingga kembali memisahkan kebersamaan paling mesra. takut bila jemari kita tak bisa lagi saling menggegam dan malam kembali kelam. aku takut, bila aku dipaksa lagi menunggu hingga batas waktu yang tak tentu untuk kembali lenyap dalam kenikmatan mencumbumu.

Pangeran,
bilakah gugur nanti kita kan bersama meleburkan semua rindu?
entah. entah di bumi belah mana.
tak perduli, selama kau yang menduduki kursi kayu disampingku.

*

angin sudah bertiup lagi. sudah gelap lagi. aku duduk disini sejak sore tadi. di belakangku terdapat bangunan paling terkenal seantero Australia. gedung dimana berbagai opera dimainkan, berbagai lakon diperankan. aku tak tertarik menyaksikan. aku hanya butuh pijar lampu ini untuk menerangi sebagian kecil hatiku yang masih gelap. meskipun surat ini sudah ada di genggamku, namun aku masih inginkan adamu.

di depanku masih ada feri yang bergidik kesana-kemari. masih dengan lampu-lampu yang menghiasi. masih dengan para penumpang yang sedari tadi mondar-mandir. entah mabuk, entah memang sedang sengaja memamerkan pakaiannya yang bermerk mahal itu. entah. dan akupun tak ingin bertanya. aku tak perduli.

di penghujung malam kota Sydney, aku sendiri disini. menyaksikan bulan tersenyum seperti ia baru saja bertemu dengan kekasih hatinya. menikmati alunan musik klasik dari gedung opera, bersamaan dengan aku menikmati bintik rindu yang menggelitik di dalam lubukku. mengingat semua yang terjadi beberapa semi lalu. mengenang kembali senja yang temaram lalu berganti malam, di dekapmu.

esok hari, saat kita berjumpa lagi.
entah seperti apa cerita yang menghampiri.
tak perlu kau tanyakan tentang bara itu?
ia selalu menyala di perapian dalam rumah hatiku. tempat kusimpan segala tentang dirimu.

aku harus segera pulang, Pangeran.
aku tak ingin ditinggal kereta terakhir menuju tempatku tinggal.
ya, akupun masih harus berkutat dengan berbagai laporan, namun tak apa. biarlah aku gunakan sejenak untuk membaca sebuah surat.
surat yang sudah lima semi kutunggu. sejak saat aku menikmati dinginnya Hokkaido, menikmati Gugurnya Bern dan hingga kini, musim panas Sydney ku lewati
akhirnya, dan akhirnya aku menikmati bait-baitmu.

kini,
biarkan aku memimpikan,
kapan aku menikmati hadirmu?




**

Bogor, 6 Maret 2011.

Nadia pun tak mampu berkata, hanya seutas senyum penuh makna dalam perjalanan panjangnya menuju stasiun kereta, sambil digenggamnya surat dari yang tercinta.

Friday, March 4, 2011

ah! Rindunya aku menuliskan rindu..

wah! Lama juga aku tak menulis, tak mengurusi si kata-kata dan sejumput makna.
Ya, entahlah. Beberapa waktu kebelakang, rasanya aku sedang tak mood saja merangkaikan bait-bait untuk jadi puisi apalagi prosa yang lebih panjang.

Sejujurnya,
aku merindu.
Tentu, kurasa menulis adalah gairahku.
Dan bayangkan bila geloranya tak tersalurkan.

Gaduh riuh dan mericuh.
Tapi, apa daya, kata sedang tak acuhkan aku.

Jadinya, aku banyak sendiri.
Tapi tak juga buat satu puisi.

Malam ini, baru aku kembali. Baru aku mau kembali menghiasi buku ini dengan rentetan prosa puisi.
Sajakku masih tentang rindu.
Masih tentang dia, sang Oicha.
Masih tentang kebimbangan.
Masih tentang kesalahan atas sebuah kisah perselingkuhan.
Kuharap kalian tak bosan, karena sungguh aku sebenarnya mulai jenuh merangkaikan cerita penuh air mata berlinangan.

Tapi begitulah cara saya berkisah.
Semoga para pembaca tak ikut resah.





***

selamat menikmati :)

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sudahlah.

aku kembali menjejak detak detik yang rambatnya masih kurasa lambat.
tak ada kabar, apalagi mawar.

kini pasti kau sudah nyenyak.
malamku..
kembali hambar.

tak apalah,
Esok jua kau sudah akan segera berpisah lagi dengan si pengagum mawar.
dan aku,
tak lagi ditawan cemburu yang membakar.
hingga senyumpun dapat kembali ditebar.

kusimpan dulu mimpi tentang sang mawar,
mungkin esok, bila jua tak kudapati sekuntum, kupilih saja bunga bunga lain yang sedang ranum.
kali-kali, bisa membuatmu terkagum.


**

Depok, 4 maret 2011.
tengah malam yang hambar, tanpa harum mawar.

sesungguhnya,
karena tak ada kabar.

*kupeluk saja gulingku erat.
biarlah, esok juga aku lupa sesaat.
ya, aku mau bermimpi dulu.
siapa tau kutemui pangeran penuh rindu, bawakan aku mawar ungu.

selamat malam,
selamat menikmati bacaan. :)

Thursday, March 3, 2011

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari tadi merambati gelombang mikro penyambung getar suara kami.

"lupakan. Aku cuma mau telpon, bertanya kabar"
"kenapa bukan lewat sms saja? Lebih hemat."
"aku ingin dengar suara kamu aja"
"kenapa?"

Ah! Astaga! usiamu dua puluh tiga. Tapi kamu terus bertanya mengapa seperti bocah usia dua. Yang tak paham lihat benda asing. Atau memang selama ini kamu tak pernah paham? Hingga kamu terus bertanya mengapa? Atau malah, cita-citamu jadi dosen logika, semuanya harus dilandasi tanya kenapa?

Lalu, aku jadi bicara sendiri.
"memangnya aku paham?"

Ya, sungguh. Tak ada yang bisa kupahami dari sebuah kisah irrasional ini.
Katanya, aku cantik, menarik. Tapi lalu kenapa harus padanya mataku terus melirik? Menantinya setiap detik?

Untuk kembali memelukku erat.
Tanpa harus ada sesuatu yang membuat cerita ini dijalani dengan teralu berat.

Sudahlah, aku sedang ingin bersenang.
Mendengar celoteh menyebalkan darinya, menggodaku sampai marah dan nantinya, aku dibiarkan bermanja-manja.

"aku mau dipeluk.."
"mana bisa?"

Lagi-lagi. Sulit sekali membawamu pada sebuah imaji. Semu memang, tapi biar saja. Kali ini hanya itu yang kita punya. Anggaplah, aku ada dan biarkan tubuhku jatuh di bidang dadamu untuk sekian menit berikutnya kau dekap sampai aku terlelap.

"peluk aku"
"..."
"tolong, aku hanya butuh kau mengucapkannya, aku tahu, kita tak bisa saling mendekap. Tapi ucapkan, itu sudah membuatku lebih tenang"
"kemarikan, kudekap erat. Pejamkan matamu dan biarkan aku menemani dalam gelap"

Aku menghela nafas panjang. Kuhembus perlahan. Dia benci aku menangis. Maka, sebelum tetesan ini membanjiri, sebaiknya segera aku tepis.

Aku berbisik, lirih.
"cepat pulang, aku merindukanmu"

Di seberang sana,
seseorang dengan telepon genggam di tangan kanannya, memeluk guling sambil mengusap ujung matanya yang tiba-tiba basah.
Dan hatinya berkata, "segera. Karena aku juga tak lagi kuasa menahan rindu terasa"

Tanpa suara. Aku bisa merasakannya.

Tinggal sesaat.
Kita nikmati saja sisa-sisa pertahanan yang semakin sekarat.
Temani dulu aku sampai terlelap, dan biarkan kita saling mendekap.
Meski hanya di dalam benak.




**
Depok yang dingin,
8 feb 2011.

cardigan biru tua

Aku ingat di satu malam kita jalan.
Beli cardigan, untuk adik.
biru tua warnanya. Kubilang cantik.
Memang benar, cardigannya elegan.
Tapi lalu kau beli dua.
ukurannya berbeda, tapi warnanya sama. Nah, rasanya kutahu itu untuk siapa.

Beberapa bulan, aku lupa.
Aku biasa.
Tetap suka biru tua. Hingga tadi, tak sengaja, kulihat dia pakai cardigan biru tua yang kita beli bersama.

Ah! Sungguh. kujadi ingat lagi.
Benar ternyata, untuk dia kau beli.
Aku jadi ikut biru, lihat biru itu dipakainya.
Kurang pas untuk kulitnya, kurasa.
Atau mungkin, ini karena cemburu saja?

Ah! Tak tahulah.
Yang jelas, kini ku uring-uringan
Jadi sebal karena cardigan.
tega-teganya, dia yang kau belikan.
Saat kita sedang bersama bergandengan tangan.

kisah rindu di pelabuh

Hai sayang,
Lagi-lagi sebuah surat rindu.

Kini, bahkan aku sudah berpindah tempat berpijak, dan kau masih juga tak ada kata yang terucap. aku sedang di tepi pelabuh. Disini gaduh. Banyak sekali yang lalu lalang di depanku. Kau tahu? ini namanya pelabuhan sayang. Darling Harbour. Sungguh, memang sangatlah menawan, apalagi jika malam sudah datang. lampu-lampu itu sungguh membuat hati ditawan.
Dipinggirnya banyak resto, banyak gelato, banyak juga manusia-manusia bertato.
Tapi, mereka tak membuatku melotot, hanya sekilas saja. Sama seperti mereka yang juga sedari tadi lalu lalang di pelabuhan sayang. Hanya sekilas saja, sayang.

Sekilas saja.

mereka tentu tak perhatikan aku yang sudah tiga jam duduk di kursi yang sama, dengan bergelas minuman bersoda yang juga sama dari warung di samping pelabuh. Mereka tentu tak sadar bahwa aku disini hanya seorang diri diantara gaduh. tentu juga, mereka tak tahu bahwa di dalam sudut ini, tersimpan hati yang sedang mengaduh di pinggir pelabuh karena sudah bertahun aku masih menjejak kisah sama yang dipisah jarak.

Kini langit sedang tak galak. matahari tak mau lelah menyinari. Membuat aku, semakin tak ingin berlari dan tetap menyendiri.
Mengingat semua memori, yang sedikit2 lenyap termakan hari.. Atau seperti kisah ferri yang terus berputar kemana namun kembali di pelabuh yang sama.

Aku, yang sudah berpindah. Namun tetap hidup dalam satu kisah.

Bagaimana kamu disana?
Masihkah kau menantikan kita mencipta cerita?
Sekedar canda tawa?
Juga kisah manja.
Kabari aku, sayang.
Aku sudah mulai lelah menanti berita.. yang kini mulai menjadi derita.

**
anomali sydney, 12 januari 2011.

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks