Skip to main content

Posts

Showing posts from 2011

*no title* *oh! i mean it!*

oke, jadi gini.. sejak gue punya bb *tsah. pamer! hahah* gue hampir ga pernah megang hp nokia gue yang teramat sangat gue cintai itu.. beneran ini mah.. kasian sebenernya kan.. padahal hp itu sangat setia menemani masa-masa sulit gue.

nah, kemaren gue lagi "bebenah" hp gue.. terus ga sengaja gue nemu ini..kayanya sih udah cukup lama dibuatnya, soalnya ini pasti bukan buat pacar gue sekarang hahahhaa.. tapi yang namanya karya, ya harus dihargai kan. makanya, disini gue mau menuliskannya deh..
niat awalnya ini jadi sebuah lagu. tapi apa daya, kemampuan bermusik gue sangat payah hahahah.. so here's the poet.. :)
--------------------------
it's a moon in the night, with me alone standing here with no one to talk nothing i ask for more, it just a wish to hold you tonite cause it seems i cant wait longer, no i cant wait any longer.
the tears are just fed up, missing you is just too much the smiles are faked, so whats up? you are all i am about
you are in my heart and i know its not …

Tattoo :)

hellow! i know its been a looooooong time that i havent wrote anything in this blog. i am so sorry, it doesnt mean i am forgotten all of my readers *im speaking like i have millions readers lol!*
well, again.. i am not writing anything related to my poets tonite.i just had a nice chitchat with a far-far away sista, named Syari about having a tattoo. since i was in high school, i really wish to have a tattoo. i wanted a butterfly tattoo in my shoulder. i am thinking about small, simple, and black butterfly in my right shoulder.. but i cant because we are moslems, are not allowed to have this kind of body art. so, what i can do is only admiring to those people who had tattoos. im not kind of every-tattoo-lover. i only love simple, small, and beautiful tattoo. i hate seeing "scary" tattoo like skull or whatever related to crime. what i love is the art.. :)
and tonite, i was browsing a lil bit about the tattoo itself.. and i found an article talking about the meaning of a butterfly …

tentang layang ; sebuah hadiah sederhana

gadis kecil itu tiba-tiba memanggilku lewat media maya.
kami tak saling mengenal. tak pernah saling berjumpa.
hanya saja, aku rasa kami saling tahu siapa peran kami.
ia bercerita tentang harinya. sedang duduk memandangi sesuatu yang menari menghiasi langit sore itu.

layang-layang, ka.
cantik, katanya.

aku katakan padanya, aku juga ingin lihat.
melihat tari dan lekuk layang-layang yang menghias.
ia mengajakku untuk menghampirinya. seolah mengulurkan tangannya untuk meraihku, bersama melihat indahnya langit yang terhias itu.

kami tak saling mengenal.
tak pernah saling sapa.
tapi kurasa, kami saling tahu apa yang ada di dalam hati.

menarilah layang-layang.
hiburlah kami berdua.
yang tak mampu meraihmu karena kau terbang teralu tinggi.
dan hiburlah kami, yang meski tak miliki senarmu. hiburlah kami dengan tarimu yang kami bisa nikmati.

lain kali,
aku kan coba merengkuhmu kembali, ketika putus talimu dan kau hilang arah.
suatu hari,
akan kucoba terbangkanmu kembali. ketika kau pernah jatuh dan terobek semak…

tips survive di perguruan tinggi

ini cuma share aja.. dari hasil pelatihan dan diskusi iseng. jadi sebuah pemikiran.. mudah-mudahan guna :)

--

TIPS SURVIVE DI PERGURUAN TINGGI

Memasuki dunia Perguruan Tinggi berarti siap dengan segala konsekuensi dan perubahan yang akan dialami. tentunya, karena perguruan tinggi akan menuntut mahasiswa baru untuk menjadi pembelajar yang aktif dan tidak hanya "pasrah" diberikan materi oleh pengajar.

ada beberapa hal yang harus diperhatikan untuk dapat berhasil menjalani kehidupan di kampus. dari segi akademik, tentunya mahasiswa dituntut untuk lebih aktif dalam mencari referensi dalam pembelajaran. akan ada banyak tugas-tugas yang mengharuskan mahasiswa membaca banyak bahan dari internet, buku, dan artikel ilmiah lainnya. mahasiswa juga dituntut untuk aktif di kelas dengan sering berpartisipasi dalam kegiatan diskusi. melalui diskusi ini, mahasiswa juga dapat mengembangkan kemampuan berfikir kritisnya, dengan aktif menyumbangkan ide-ide atau memberikan tanggapan dan pertanyaan m…

siapa juaranya?

Tiga bulan terdahulu, kurasa jarak yang mendapatkan tempatnya di podium teratas.
Kini, kurasa lautan lebih unggul memenangkan pertarungan.
Atau..
Mungkin waktu yang justru jadi juara utama dalam permainan ini?


Entahlah.
Karena kini,
Tak lagi kurasa jauh, apalagi dekat.
Tepatnya, tak lagi ada yang terasa.


*

Kereta siang itu.
13 juni 2011
Kamu kembali ke peraduan.

tentang oicha; lupa?

saya lupa Oicha.

Ah! Pasti dusta.
Berhentilah berpura-pura.


*
lepaskan topengmu, kata Oicha dihari itu.
Topeng apa?

Kini tak lagi ada oicha,
jadi hariku tak sempurna karena senja tak lagi menyambut semburat malam.

*
5juni2011.
Iya. Itu dusta.

empat jejak kunang-kunang

#1
merindu yang tak ada.
tak ada rindu pada yang nyata.

#2
sederhana.
dalam gelap bercahaya.
tak bersuara. hanya bercerita bahwa masih ada secercah ceria.

#3
sedikit bergurau di bawah wulan.
terus terbang. terus bergerak. seolah mengajak kakikaki kecil untuk berdansa mengikuti cahaya.

#4
Jejak kunang-kunang.
tak terpahat.
tapi tertambat di lubuk terdalam memori indah kisah tak terikat.

gelang

kerincing gelang pada kaki yang melenggang
tak jenjang
tapi tampaknya masih saja matamata terundang

kaki bergelang diatas ilalang
langkahnya gontai tak jelas arah kemana melintang
tampaknya bimbang
tak berkawan

kaki bergelang bergerak riang
mencuri jejak yang tak terlihat
menapak selat yang bersilat
dan menerjang rindu yang tak bercabang.



*
5juni2011
rindu lagi pada jejak kenang yang terbuang.

dua puluh satu

dua puluh satu. sungguh, kurasa kau tak lagi sabar menunggu tuk kenakan baju pengantin putih dan ucapkan janji setia itu di hadapannya yang berbalut kain putih yang sengaja kalian cari-cari sebagai lambang nantinya kelak kau ingin ingat masa kalian mengikat hati.
dua puluh satu. ketika aku sedang teronggok setengah mati. mengingat jejak apa yang saja yang pernah terpijak di dulunya hari. saat teerbitnya pagi. atau sampai dengan senyapnya bulan yang menyelimuti.
saat ricuhnya pelatar parkir yang dipenuhi pemusik muda, sambil jemari berkaitan satu dan lainnya, sambil berbicara hanya dengan lewat tawa yang tergugah karena lelucon tak penting kawan dan kerabat.
"kalian yang mesra", kata mereka seraya bersama kita. kita. kau dan aku, bukanya dengannya.
dua puluh satu. terbawa aku pada cinta yang dulu pernah ada. pernah terucap bak tak terberaikan.
dulu, lidah kita saling mengikat. kini, kaki-kaki kita menyengkat.



mengapa? karena.. dua puluh satu. dan kita bukan lagi menjadi siapa-siapa.


muda

hey anak muda,
sorot pupil dua mata saling tatap penuh asmara
katakata saling menggoda
jejari saling genggam
pandangi lilin yang terus menyala
meski bara mulai menghempas
dan redup cahaya mulai geragas

hey dua muda,
tidakkah kalian jera
untuk saling bertukar dusta?

jendelatua

Empat celah, belah dua masa
Terpatri kisah yang tak lelah menarinari diatas gelisah
Ada apa gerangan?
Dengan jendela tua yang mengukir kenang
dbaliknya cumbu mesra terbayangbayang

Ketika bulan menguning
bulat menggantung diantara hitam
ada sekelebat tentang kelam
Tapi secercah terang menyusup malam

Jendela tua berkacakaca
Menatap cinta, melangkah berdamping lara

*

nandasani.
april2011

Senja adalah Sahabat

sebuah senja yang merona di pelatar kampus saya.
cantik ya?


menatapnya meski sesaat
meski ia hanya datang dalam sekejap
kenangnya,
di benakku lah ia terlekat.

*




Oicha: Kisah yang Hampir Terlupa

Oicha, sudah lama tak menyapamu.
Apakabar kau disana, Oicha? Nampaknya kamu tak pernah lagi membiarkan cahaya mentari pagi merasuki jiwaku dan terus menyelimutimu dengan kelam malammu. Tak pula kau sematkan satu saja bintang meski kau taburkan kerlipannya di sekitaran lainnya, tapi tidak disini. Tidak disini. Dan tidak untuk hati ini.

Mengapa Oicha?
Nampaknya, kau jenuh aku singgahimu tiap waktu?
Mungkin kau juga sudah karam tak ingin lagi berbagi malam?
Bila siang sudah bukan ditakdirkan untuk kita genggam, apakah kini malam juga harus jadi pualam?

Sudah tanakkah kau kenal aku, Oicha?
Hingga kini kau lebih suka menyapa mereka yang masih muda dan belum mengerti tentang dunia?
Agar kau bisa bodohi dan tiduri mereka dengan sejuta kisah manja. Kisah-kisah yang justru kau buat dari cerita tentang kita di kala senja tiba.
Cerita tentang menunggu waktu dimana kita bisa saling menatap tajam apa-apa yang tersembunyi sepanjang siang dibalik mata-mata lelah, menebak-nebak misteri yang kita tak pernah bi…

sebuah perjalanan: cerita dodol sang penulis

sudah lama ya tak bersastra?iya, saya sedang sibuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang akan jadi syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa psikologi.. :p *a.k.a skripsi*
tapi tentunya, dalam membuat skripsi ini, saya juga mengalami berbagai proses yang asyik masyuk kadang bikin galau, bikin ripuh, bikin deg-degan, tapi seru lah. nah, di post ini, saya mau berbagi satu cerita yaa.. bahasanya siih ga nyastra.. bahasa nyantai kaya saya pake sehari-hari klo lagi gahul sama temen-temen saya..
tapi semoga insightnya bisa didapatkan oleh teman-teman blogger :D
--- Sebuah Perjalanan.
So, here we go. Suatu hari, gue mau ambil data try out untuk alat ukur skripsi gue. So gue berangkatlah ke sebuah SLB di daerah lenteng agung. Gue naik angkot yang benar dan sampai dengan selamat di sekolah itu. ini juga karena udah kesitu sebelumnya, naik ojeg.. tapi tetep aja loh, pas kemaren gue kesana sendiri lagi, gue masih ragu apakah gue turun di tempat yang benar atau tidak. Tapi, yaudah yakin ajalah ya. Eh nyamp…

jawablah..

lancangkah?bila aku mengundangmu untuk menjelajahi hari bersamaku.
sopankah? bila aku mengusap air mata yang menetes di tengah dukamu dan menyisipkan sedikit senyum agar bahagia mendatangimu.
dan, bolehkah? bila aku memintamu, membawaku ke dalam ruang yang kau sebut rongga hatimu?

aku disini. menunggu kau mengulurkan tanganmu, untuk kusambut menggenggam jemarimu.

izinkan, berdua saja.

singkat saja. perbincangan singkat lewat dunia maya di malam yang teralu berangin itu ternyata mengundang saya untuk tersenyum. bukan pembicaraan apa-apa. hanya sapa. tak lama jua, namun entah mengapa rasanya saya terus membayangkan wajahnya yang sederhana.
dibalut busana tidur biru yang agak kebesaran, dengan langit gelap menggantung di depan kamarku, dan koneksi internet yang tampak malu-malu karena kadang dia hadir, lebih seringnya sembunyi di balik alang-alang kemalang, aku terus sibuk mencari-cari kata, berharap agar tak lama lagi akan ada jawab dari tanya-tanya tak penting yang kuajukan demi hanya untuk mendapatkan sedikit saja atensimu. kamu masih asik bersama mereka, kadang kau sempatkan ucap sepatah dua patah, jawab tanya-tanya tak bermakna dariku.
meski lama, dan kantuk sudah mengajak aku mengencani kasurku, aku tetap setia. di balik degub jantungku yang sudah melonjak-lonjak tak keruan. menunggu sepatah selanjutnya di menit-menit berikutnya.
ini bukan pertama kali aku jatuh cint…

dan akhirnya, kau pun tiba.

suratmu tiba di penghujung malam. saat itu, aku memang belum terpejam. karena aku memang sedang menanti sebuah kedatangan.
Ah, Pangeran..
Sungguhpun aku tak mengapa menanti hingga lima semi, hingga matahari muncul lagi. Bahkan tatkala aku dipaksa menanti sampai gugur datang dan saljupun membentang.

Akhirnya, tiba juga kata yang kutunggu dibatas senja setiap masa. Dibatas cakrawala yang semburatnya membuat aku berharap adanya surat. Satu saja. Satu yang membuat lidahku jadi kelu, karena tak mampu lagi lukiskan betapa besar rindu yang kupunya di lubuk ini.

Sungguh,
bait-baitmu membuatku senjaku kembali merona seperti dulu.
*
membaca kisahmu membuatku menepis segala ragu yang sempat menghampiri. bukan, bukan hanya sempat. tapi ia datang beberapa kali. tapi, bukankah manusiawi jika aku merasa tak lagi mampu meyakini apa yang pernah terucap darimu. terdahulu. sebelum masaku menjejaki berbagai tempat. sebelum nafasku dihembuskan di berbagai ruang udara. sebelum aku, menjadi aku yang sekarang sudah …

ah! Rindunya aku menuliskan rindu..

wah! Lama juga aku tak menulis, tak mengurusi si kata-kata dan sejumput makna.
Ya, entahlah. Beberapa waktu kebelakang, rasanya aku sedang tak mood saja merangkaikan bait-bait untuk jadi puisi apalagi prosa yang lebih panjang.

Sejujurnya,
aku merindu.
Tentu, kurasa menulis adalah gairahku.
Dan bayangkan bila geloranya tak tersalurkan.

Gaduh riuh dan mericuh.
Tapi, apa daya, kata sedang tak acuhkan aku.

Jadinya, aku banyak sendiri.
Tapi tak juga buat satu puisi.

Malam ini, baru aku kembali. Baru aku mau kembali menghiasi buku ini dengan rentetan prosa puisi.
Sajakku masih tentang rindu.
Masih tentang dia, sang Oicha.
Masih tentang kebimbangan.
Masih tentang kesalahan atas sebuah kisah perselingkuhan.
Kuharap kalian tak bosan, karena sungguh aku sebenarnya mulai jenuh merangkaikan cerita penuh air mata berlinangan.

Tapi begitulah cara saya berkisah.
Semoga para pembaca tak ikut resah.





***

selamat menikmati :)

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sud…

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari ta…

cardigan biru tua

Aku ingat di satu malam kita jalan.
Beli cardigan, untuk adik.
biru tua warnanya. Kubilang cantik.
Memang benar, cardigannya elegan.
Tapi lalu kau beli dua.
ukurannya berbeda, tapi warnanya sama. Nah, rasanya kutahu itu untuk siapa.

Beberapa bulan, aku lupa.
Aku biasa.
Tetap suka biru tua. Hingga tadi, tak sengaja, kulihat dia pakai cardigan biru tua yang kita beli bersama.

Ah! Sungguh. kujadi ingat lagi.
Benar ternyata, untuk dia kau beli.
Aku jadi ikut biru, lihat biru itu dipakainya.
Kurang pas untuk kulitnya, kurasa.
Atau mungkin, ini karena cemburu saja?

Ah! Tak tahulah.
Yang jelas, kini ku uring-uringan
Jadi sebal karena cardigan.
tega-teganya, dia yang kau belikan.
Saat kita sedang bersama bergandengan tangan.

kisah rindu di pelabuh

Hai sayang,
Lagi-lagi sebuah surat rindu.

Kini, bahkan aku sudah berpindah tempat berpijak, dan kau masih juga tak ada kata yang terucap. aku sedang di tepi pelabuh. Disini gaduh. Banyak sekali yang lalu lalang di depanku. Kau tahu? ini namanya pelabuhan sayang. Darling Harbour. Sungguh, memang sangatlah menawan, apalagi jika malam sudah datang. lampu-lampu itu sungguh membuat hati ditawan.
Dipinggirnya banyak resto, banyak gelato, banyak juga manusia-manusia bertato.
Tapi, mereka tak membuatku melotot, hanya sekilas saja. Sama seperti mereka yang juga sedari tadi lalu lalang di pelabuhan sayang. Hanya sekilas saja, sayang.

Sekilas saja.

mereka tentu tak perhatikan aku yang sudah tiga jam duduk di kursi yang sama, dengan bergelas minuman bersoda yang juga sama dari warung di samping pelabuh. Mereka tentu tak sadar bahwa aku disini hanya seorang diri diantara gaduh. tentu juga, mereka tak tahu bahwa di dalam sudut ini, tersimpan hati yang sedang mengaduh di pinggir pelabuh karena sudah berta…