Wednesday, March 23, 2011

jawablah..

lancangkah?
bila aku mengundangmu untuk menjelajahi hari bersamaku.

sopankah?
bila aku mengusap air mata yang menetes di tengah dukamu dan menyisipkan sedikit senyum agar bahagia mendatangimu.

dan,
bolehkah?
bila aku memintamu, membawaku ke dalam ruang yang kau sebut rongga hatimu?


aku disini.
menunggu kau mengulurkan tanganmu, untuk kusambut menggenggam jemarimu.

Tuesday, March 22, 2011

izinkan, berdua saja.

singkat saja.
perbincangan singkat lewat dunia maya di malam yang teralu berangin itu ternyata mengundang saya untuk tersenyum.
bukan pembicaraan apa-apa. hanya sapa.
tak lama jua, namun entah mengapa rasanya saya terus membayangkan wajahnya yang sederhana.

dibalut busana tidur biru yang agak kebesaran, dengan langit gelap menggantung di depan kamarku, dan koneksi internet yang tampak malu-malu karena kadang dia hadir, lebih seringnya sembunyi di balik alang-alang kemalang, aku terus sibuk mencari-cari kata, berharap agar tak lama lagi akan ada jawab dari tanya-tanya tak penting yang kuajukan demi hanya untuk mendapatkan sedikit saja atensimu. kamu masih asik bersama mereka, kadang kau sempatkan ucap sepatah dua patah, jawab tanya-tanya tak bermakna dariku.

meski lama, dan kantuk sudah mengajak aku mengencani kasurku, aku tetap setia. di balik degub jantungku yang sudah melonjak-lonjak tak keruan. menunggu sepatah selanjutnya di menit-menit berikutnya.

ini bukan pertama kali aku jatuh cinta.
sebelumnya, aku pernah setia.
tapi memang kisah hati tak bisa dibaca-baca apalagi di terka-terka.

cinta.
mungkin belum tepat jika aku bilang ini cinta.
sebut sajalah aku terkagum. membaca rangkai kata puitismu, melihat hasil keelokan alam yang kau abadikan dalam bingkai lensa. seolah bait dan potret memaparkan betapa elok jika kita bisa bersama membangun puisi kita dalam keindahan potret indah nirwana cinta.

izinkanlah. berdua saja.


jangan (lagi) ada orang ketiga.


***
Depok, 22 maret 2011
hey, kamu. orang baru.
terimakasih sapaan singkatnya tadi malam :)

Saturday, March 5, 2011

dan akhirnya, kau pun tiba.

suratmu tiba di penghujung malam. saat itu, aku memang belum terpejam. karena aku memang sedang menanti sebuah kedatangan.

Ah, Pangeran..

Sungguhpun aku tak mengapa menanti hingga lima semi, hingga matahari muncul lagi. Bahkan tatkala aku dipaksa menanti sampai gugur datang dan saljupun membentang.

Akhirnya, tiba juga kata yang kutunggu dibatas senja setiap masa. Dibatas cakrawala yang semburatnya membuat aku berharap adanya surat. Satu saja. Satu yang membuat lidahku jadi kelu, karena tak mampu lagi lukiskan betapa besar rindu yang kupunya di lubuk ini.

Sungguh,
bait-baitmu membuatku senjaku kembali merona seperti dulu.

*

membaca kisahmu membuatku menepis segala ragu yang sempat menghampiri.
bukan, bukan hanya sempat. tapi ia datang beberapa kali. tapi, bukankah manusiawi jika aku merasa tak lagi mampu meyakini apa yang pernah terucap darimu. terdahulu. sebelum masaku menjejaki berbagai tempat. sebelum nafasku dihembuskan di berbagai ruang udara. sebelum aku, menjadi aku yang sekarang sudah menjelang jadi manusia dewasa.

bertahun menunggu surat balasmu ternyata tak membuatku jemu. tak merubahku dari Nadia yang dulu, yang masih menggilaimu. dan semoga, semoga kau masih pangeranku yang waktu itu. yang masih membiarkanku lelap di pelukmu sambil menikmati hembus angin yang teralu kencang. sambil menatap nanar senja yang mulai bimbang karena akan segera digantikan malam.
tapi, tak mengapa. seperti katamu, senja tak pernah membenci malam.

seperti aku,
meski kau tak pernah lagi datang,
nampaknya membencimu adalah pekerjaan paling sial dan menyusahkan.
dan aku akan menyerah sebelum berjuang.


Pangeran,
kau sudah sampai.
sudah di hamparan yang selalu kita bicarakan.
bagaimana rasanya? sungguh, aku bertanya apa rasanya bersandingan denganmu diatas hijau yang sedikit basah karena ditetesi hujan. apa rasanya menatap indah lampu kota Paris yang gemerlap. ditemani alunan musik klasik dari pengamen yang konser di trotoarsambil berdoa, berharap ada pejalan kaki mau menyisihkan satu dua euro untuknya membeli roti isi di pagi hari. menikmati pasta-pasta yang dijual di sepanjang jalan, sambil menenggak sebotol soda. mendengar lonceng dari gereja tua di seberang sungai. membicarakan orang-orang yang tidak kita kenal lalu mentertawakannya sampai terpingkal-pingkal. ah... bagaimana Gabriel bisa membuat taman seindah ini. ataukah, hanya terasa begitu indah karena aku bersamamu.

ah seandainya.
seandainya saja imajiku ini nyata. aku bisa ada disampingmu ketika kau menuliskan bait-bait indah dalam suratmu itu, Pangeran.

aku sangat ingin disana saat ini. bukan. bukan hanya karena pemandangan yang pasti luar biasa yang membuatku iri. tapi sungguh, membayangkan ada di sampingmu yang membuatku ngeri.

aku begitu takut. takut waktu berlari teralu terburu hingga kembali memisahkan kebersamaan paling mesra. takut bila jemari kita tak bisa lagi saling menggegam dan malam kembali kelam. aku takut, bila aku dipaksa lagi menunggu hingga batas waktu yang tak tentu untuk kembali lenyap dalam kenikmatan mencumbumu.

Pangeran,
bilakah gugur nanti kita kan bersama meleburkan semua rindu?
entah. entah di bumi belah mana.
tak perduli, selama kau yang menduduki kursi kayu disampingku.

*

angin sudah bertiup lagi. sudah gelap lagi. aku duduk disini sejak sore tadi. di belakangku terdapat bangunan paling terkenal seantero Australia. gedung dimana berbagai opera dimainkan, berbagai lakon diperankan. aku tak tertarik menyaksikan. aku hanya butuh pijar lampu ini untuk menerangi sebagian kecil hatiku yang masih gelap. meskipun surat ini sudah ada di genggamku, namun aku masih inginkan adamu.

di depanku masih ada feri yang bergidik kesana-kemari. masih dengan lampu-lampu yang menghiasi. masih dengan para penumpang yang sedari tadi mondar-mandir. entah mabuk, entah memang sedang sengaja memamerkan pakaiannya yang bermerk mahal itu. entah. dan akupun tak ingin bertanya. aku tak perduli.

di penghujung malam kota Sydney, aku sendiri disini. menyaksikan bulan tersenyum seperti ia baru saja bertemu dengan kekasih hatinya. menikmati alunan musik klasik dari gedung opera, bersamaan dengan aku menikmati bintik rindu yang menggelitik di dalam lubukku. mengingat semua yang terjadi beberapa semi lalu. mengenang kembali senja yang temaram lalu berganti malam, di dekapmu.

esok hari, saat kita berjumpa lagi.
entah seperti apa cerita yang menghampiri.
tak perlu kau tanyakan tentang bara itu?
ia selalu menyala di perapian dalam rumah hatiku. tempat kusimpan segala tentang dirimu.

aku harus segera pulang, Pangeran.
aku tak ingin ditinggal kereta terakhir menuju tempatku tinggal.
ya, akupun masih harus berkutat dengan berbagai laporan, namun tak apa. biarlah aku gunakan sejenak untuk membaca sebuah surat.
surat yang sudah lima semi kutunggu. sejak saat aku menikmati dinginnya Hokkaido, menikmati Gugurnya Bern dan hingga kini, musim panas Sydney ku lewati
akhirnya, dan akhirnya aku menikmati bait-baitmu.

kini,
biarkan aku memimpikan,
kapan aku menikmati hadirmu?




**

Bogor, 6 Maret 2011.

Nadia pun tak mampu berkata, hanya seutas senyum penuh makna dalam perjalanan panjangnya menuju stasiun kereta, sambil digenggamnya surat dari yang tercinta.

Friday, March 4, 2011

ah! Rindunya aku menuliskan rindu..

wah! Lama juga aku tak menulis, tak mengurusi si kata-kata dan sejumput makna.
Ya, entahlah. Beberapa waktu kebelakang, rasanya aku sedang tak mood saja merangkaikan bait-bait untuk jadi puisi apalagi prosa yang lebih panjang.

Sejujurnya,
aku merindu.
Tentu, kurasa menulis adalah gairahku.
Dan bayangkan bila geloranya tak tersalurkan.

Gaduh riuh dan mericuh.
Tapi, apa daya, kata sedang tak acuhkan aku.

Jadinya, aku banyak sendiri.
Tapi tak juga buat satu puisi.

Malam ini, baru aku kembali. Baru aku mau kembali menghiasi buku ini dengan rentetan prosa puisi.
Sajakku masih tentang rindu.
Masih tentang dia, sang Oicha.
Masih tentang kebimbangan.
Masih tentang kesalahan atas sebuah kisah perselingkuhan.
Kuharap kalian tak bosan, karena sungguh aku sebenarnya mulai jenuh merangkaikan cerita penuh air mata berlinangan.

Tapi begitulah cara saya berkisah.
Semoga para pembaca tak ikut resah.





***

selamat menikmati :)

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sudahlah.

aku kembali menjejak detak detik yang rambatnya masih kurasa lambat.
tak ada kabar, apalagi mawar.

kini pasti kau sudah nyenyak.
malamku..
kembali hambar.

tak apalah,
Esok jua kau sudah akan segera berpisah lagi dengan si pengagum mawar.
dan aku,
tak lagi ditawan cemburu yang membakar.
hingga senyumpun dapat kembali ditebar.

kusimpan dulu mimpi tentang sang mawar,
mungkin esok, bila jua tak kudapati sekuntum, kupilih saja bunga bunga lain yang sedang ranum.
kali-kali, bisa membuatmu terkagum.


**

Depok, 4 maret 2011.
tengah malam yang hambar, tanpa harum mawar.

sesungguhnya,
karena tak ada kabar.

*kupeluk saja gulingku erat.
biarlah, esok juga aku lupa sesaat.
ya, aku mau bermimpi dulu.
siapa tau kutemui pangeran penuh rindu, bawakan aku mawar ungu.

selamat malam,
selamat menikmati bacaan. :)

Thursday, March 3, 2011

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari tadi merambati gelombang mikro penyambung getar suara kami.

"lupakan. Aku cuma mau telpon, bertanya kabar"
"kenapa bukan lewat sms saja? Lebih hemat."
"aku ingin dengar suara kamu aja"
"kenapa?"

Ah! Astaga! usiamu dua puluh tiga. Tapi kamu terus bertanya mengapa seperti bocah usia dua. Yang tak paham lihat benda asing. Atau memang selama ini kamu tak pernah paham? Hingga kamu terus bertanya mengapa? Atau malah, cita-citamu jadi dosen logika, semuanya harus dilandasi tanya kenapa?

Lalu, aku jadi bicara sendiri.
"memangnya aku paham?"

Ya, sungguh. Tak ada yang bisa kupahami dari sebuah kisah irrasional ini.
Katanya, aku cantik, menarik. Tapi lalu kenapa harus padanya mataku terus melirik? Menantinya setiap detik?

Untuk kembali memelukku erat.
Tanpa harus ada sesuatu yang membuat cerita ini dijalani dengan teralu berat.

Sudahlah, aku sedang ingin bersenang.
Mendengar celoteh menyebalkan darinya, menggodaku sampai marah dan nantinya, aku dibiarkan bermanja-manja.

"aku mau dipeluk.."
"mana bisa?"

Lagi-lagi. Sulit sekali membawamu pada sebuah imaji. Semu memang, tapi biar saja. Kali ini hanya itu yang kita punya. Anggaplah, aku ada dan biarkan tubuhku jatuh di bidang dadamu untuk sekian menit berikutnya kau dekap sampai aku terlelap.

"peluk aku"
"..."
"tolong, aku hanya butuh kau mengucapkannya, aku tahu, kita tak bisa saling mendekap. Tapi ucapkan, itu sudah membuatku lebih tenang"
"kemarikan, kudekap erat. Pejamkan matamu dan biarkan aku menemani dalam gelap"

Aku menghela nafas panjang. Kuhembus perlahan. Dia benci aku menangis. Maka, sebelum tetesan ini membanjiri, sebaiknya segera aku tepis.

Aku berbisik, lirih.
"cepat pulang, aku merindukanmu"

Di seberang sana,
seseorang dengan telepon genggam di tangan kanannya, memeluk guling sambil mengusap ujung matanya yang tiba-tiba basah.
Dan hatinya berkata, "segera. Karena aku juga tak lagi kuasa menahan rindu terasa"

Tanpa suara. Aku bisa merasakannya.

Tinggal sesaat.
Kita nikmati saja sisa-sisa pertahanan yang semakin sekarat.
Temani dulu aku sampai terlelap, dan biarkan kita saling mendekap.
Meski hanya di dalam benak.




**
Depok yang dingin,
8 feb 2011.

cardigan biru tua

Aku ingat di satu malam kita jalan.
Beli cardigan, untuk adik.
biru tua warnanya. Kubilang cantik.
Memang benar, cardigannya elegan.
Tapi lalu kau beli dua.
ukurannya berbeda, tapi warnanya sama. Nah, rasanya kutahu itu untuk siapa.

Beberapa bulan, aku lupa.
Aku biasa.
Tetap suka biru tua. Hingga tadi, tak sengaja, kulihat dia pakai cardigan biru tua yang kita beli bersama.

Ah! Sungguh. kujadi ingat lagi.
Benar ternyata, untuk dia kau beli.
Aku jadi ikut biru, lihat biru itu dipakainya.
Kurang pas untuk kulitnya, kurasa.
Atau mungkin, ini karena cemburu saja?

Ah! Tak tahulah.
Yang jelas, kini ku uring-uringan
Jadi sebal karena cardigan.
tega-teganya, dia yang kau belikan.
Saat kita sedang bersama bergandengan tangan.

kisah rindu di pelabuh

Hai sayang,
Lagi-lagi sebuah surat rindu.

Kini, bahkan aku sudah berpindah tempat berpijak, dan kau masih juga tak ada kata yang terucap. aku sedang di tepi pelabuh. Disini gaduh. Banyak sekali yang lalu lalang di depanku. Kau tahu? ini namanya pelabuhan sayang. Darling Harbour. Sungguh, memang sangatlah menawan, apalagi jika malam sudah datang. lampu-lampu itu sungguh membuat hati ditawan.
Dipinggirnya banyak resto, banyak gelato, banyak juga manusia-manusia bertato.
Tapi, mereka tak membuatku melotot, hanya sekilas saja. Sama seperti mereka yang juga sedari tadi lalu lalang di pelabuhan sayang. Hanya sekilas saja, sayang.

Sekilas saja.

mereka tentu tak perhatikan aku yang sudah tiga jam duduk di kursi yang sama, dengan bergelas minuman bersoda yang juga sama dari warung di samping pelabuh. Mereka tentu tak sadar bahwa aku disini hanya seorang diri diantara gaduh. tentu juga, mereka tak tahu bahwa di dalam sudut ini, tersimpan hati yang sedang mengaduh di pinggir pelabuh karena sudah bertahun aku masih menjejak kisah sama yang dipisah jarak.

Kini langit sedang tak galak. matahari tak mau lelah menyinari. Membuat aku, semakin tak ingin berlari dan tetap menyendiri.
Mengingat semua memori, yang sedikit2 lenyap termakan hari.. Atau seperti kisah ferri yang terus berputar kemana namun kembali di pelabuh yang sama.

Aku, yang sudah berpindah. Namun tetap hidup dalam satu kisah.

Bagaimana kamu disana?
Masihkah kau menantikan kita mencipta cerita?
Sekedar canda tawa?
Juga kisah manja.
Kabari aku, sayang.
Aku sudah mulai lelah menanti berita.. yang kini mulai menjadi derita.

**
anomali sydney, 12 januari 2011.

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks