Skip to main content

Posts

Showing posts from March, 2011

jawablah..

lancangkah?bila aku mengundangmu untuk menjelajahi hari bersamaku.
sopankah? bila aku mengusap air mata yang menetes di tengah dukamu dan menyisipkan sedikit senyum agar bahagia mendatangimu.
dan, bolehkah? bila aku memintamu, membawaku ke dalam ruang yang kau sebut rongga hatimu?

aku disini. menunggu kau mengulurkan tanganmu, untuk kusambut menggenggam jemarimu.

izinkan, berdua saja.

singkat saja. perbincangan singkat lewat dunia maya di malam yang teralu berangin itu ternyata mengundang saya untuk tersenyum. bukan pembicaraan apa-apa. hanya sapa. tak lama jua, namun entah mengapa rasanya saya terus membayangkan wajahnya yang sederhana.
dibalut busana tidur biru yang agak kebesaran, dengan langit gelap menggantung di depan kamarku, dan koneksi internet yang tampak malu-malu karena kadang dia hadir, lebih seringnya sembunyi di balik alang-alang kemalang, aku terus sibuk mencari-cari kata, berharap agar tak lama lagi akan ada jawab dari tanya-tanya tak penting yang kuajukan demi hanya untuk mendapatkan sedikit saja atensimu. kamu masih asik bersama mereka, kadang kau sempatkan ucap sepatah dua patah, jawab tanya-tanya tak bermakna dariku.
meski lama, dan kantuk sudah mengajak aku mengencani kasurku, aku tetap setia. di balik degub jantungku yang sudah melonjak-lonjak tak keruan. menunggu sepatah selanjutnya di menit-menit berikutnya.
ini bukan pertama kali aku jatuh cint…

dan akhirnya, kau pun tiba.

suratmu tiba di penghujung malam. saat itu, aku memang belum terpejam. karena aku memang sedang menanti sebuah kedatangan.
Ah, Pangeran..
Sungguhpun aku tak mengapa menanti hingga lima semi, hingga matahari muncul lagi. Bahkan tatkala aku dipaksa menanti sampai gugur datang dan saljupun membentang.

Akhirnya, tiba juga kata yang kutunggu dibatas senja setiap masa. Dibatas cakrawala yang semburatnya membuat aku berharap adanya surat. Satu saja. Satu yang membuat lidahku jadi kelu, karena tak mampu lagi lukiskan betapa besar rindu yang kupunya di lubuk ini.

Sungguh,
bait-baitmu membuatku senjaku kembali merona seperti dulu.
*
membaca kisahmu membuatku menepis segala ragu yang sempat menghampiri. bukan, bukan hanya sempat. tapi ia datang beberapa kali. tapi, bukankah manusiawi jika aku merasa tak lagi mampu meyakini apa yang pernah terucap darimu. terdahulu. sebelum masaku menjejaki berbagai tempat. sebelum nafasku dihembuskan di berbagai ruang udara. sebelum aku, menjadi aku yang sekarang sudah …

ah! Rindunya aku menuliskan rindu..

wah! Lama juga aku tak menulis, tak mengurusi si kata-kata dan sejumput makna.
Ya, entahlah. Beberapa waktu kebelakang, rasanya aku sedang tak mood saja merangkaikan bait-bait untuk jadi puisi apalagi prosa yang lebih panjang.

Sejujurnya,
aku merindu.
Tentu, kurasa menulis adalah gairahku.
Dan bayangkan bila geloranya tak tersalurkan.

Gaduh riuh dan mericuh.
Tapi, apa daya, kata sedang tak acuhkan aku.

Jadinya, aku banyak sendiri.
Tapi tak juga buat satu puisi.

Malam ini, baru aku kembali. Baru aku mau kembali menghiasi buku ini dengan rentetan prosa puisi.
Sajakku masih tentang rindu.
Masih tentang dia, sang Oicha.
Masih tentang kebimbangan.
Masih tentang kesalahan atas sebuah kisah perselingkuhan.
Kuharap kalian tak bosan, karena sungguh aku sebenarnya mulai jenuh merangkaikan cerita penuh air mata berlinangan.

Tapi begitulah cara saya berkisah.
Semoga para pembaca tak ikut resah.





***

selamat menikmati :)

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sud…

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari ta…

cardigan biru tua

Aku ingat di satu malam kita jalan.
Beli cardigan, untuk adik.
biru tua warnanya. Kubilang cantik.
Memang benar, cardigannya elegan.
Tapi lalu kau beli dua.
ukurannya berbeda, tapi warnanya sama. Nah, rasanya kutahu itu untuk siapa.

Beberapa bulan, aku lupa.
Aku biasa.
Tetap suka biru tua. Hingga tadi, tak sengaja, kulihat dia pakai cardigan biru tua yang kita beli bersama.

Ah! Sungguh. kujadi ingat lagi.
Benar ternyata, untuk dia kau beli.
Aku jadi ikut biru, lihat biru itu dipakainya.
Kurang pas untuk kulitnya, kurasa.
Atau mungkin, ini karena cemburu saja?

Ah! Tak tahulah.
Yang jelas, kini ku uring-uringan
Jadi sebal karena cardigan.
tega-teganya, dia yang kau belikan.
Saat kita sedang bersama bergandengan tangan.

kisah rindu di pelabuh

Hai sayang,
Lagi-lagi sebuah surat rindu.

Kini, bahkan aku sudah berpindah tempat berpijak, dan kau masih juga tak ada kata yang terucap. aku sedang di tepi pelabuh. Disini gaduh. Banyak sekali yang lalu lalang di depanku. Kau tahu? ini namanya pelabuhan sayang. Darling Harbour. Sungguh, memang sangatlah menawan, apalagi jika malam sudah datang. lampu-lampu itu sungguh membuat hati ditawan.
Dipinggirnya banyak resto, banyak gelato, banyak juga manusia-manusia bertato.
Tapi, mereka tak membuatku melotot, hanya sekilas saja. Sama seperti mereka yang juga sedari tadi lalu lalang di pelabuhan sayang. Hanya sekilas saja, sayang.

Sekilas saja.

mereka tentu tak perhatikan aku yang sudah tiga jam duduk di kursi yang sama, dengan bergelas minuman bersoda yang juga sama dari warung di samping pelabuh. Mereka tentu tak sadar bahwa aku disini hanya seorang diri diantara gaduh. tentu juga, mereka tak tahu bahwa di dalam sudut ini, tersimpan hati yang sedang mengaduh di pinggir pelabuh karena sudah berta…