Saturday, March 5, 2011

dan akhirnya, kau pun tiba.

suratmu tiba di penghujung malam. saat itu, aku memang belum terpejam. karena aku memang sedang menanti sebuah kedatangan.

Ah, Pangeran..

Sungguhpun aku tak mengapa menanti hingga lima semi, hingga matahari muncul lagi. Bahkan tatkala aku dipaksa menanti sampai gugur datang dan saljupun membentang.

Akhirnya, tiba juga kata yang kutunggu dibatas senja setiap masa. Dibatas cakrawala yang semburatnya membuat aku berharap adanya surat. Satu saja. Satu yang membuat lidahku jadi kelu, karena tak mampu lagi lukiskan betapa besar rindu yang kupunya di lubuk ini.

Sungguh,
bait-baitmu membuatku senjaku kembali merona seperti dulu.

*

membaca kisahmu membuatku menepis segala ragu yang sempat menghampiri.
bukan, bukan hanya sempat. tapi ia datang beberapa kali. tapi, bukankah manusiawi jika aku merasa tak lagi mampu meyakini apa yang pernah terucap darimu. terdahulu. sebelum masaku menjejaki berbagai tempat. sebelum nafasku dihembuskan di berbagai ruang udara. sebelum aku, menjadi aku yang sekarang sudah menjelang jadi manusia dewasa.

bertahun menunggu surat balasmu ternyata tak membuatku jemu. tak merubahku dari Nadia yang dulu, yang masih menggilaimu. dan semoga, semoga kau masih pangeranku yang waktu itu. yang masih membiarkanku lelap di pelukmu sambil menikmati hembus angin yang teralu kencang. sambil menatap nanar senja yang mulai bimbang karena akan segera digantikan malam.
tapi, tak mengapa. seperti katamu, senja tak pernah membenci malam.

seperti aku,
meski kau tak pernah lagi datang,
nampaknya membencimu adalah pekerjaan paling sial dan menyusahkan.
dan aku akan menyerah sebelum berjuang.


Pangeran,
kau sudah sampai.
sudah di hamparan yang selalu kita bicarakan.
bagaimana rasanya? sungguh, aku bertanya apa rasanya bersandingan denganmu diatas hijau yang sedikit basah karena ditetesi hujan. apa rasanya menatap indah lampu kota Paris yang gemerlap. ditemani alunan musik klasik dari pengamen yang konser di trotoarsambil berdoa, berharap ada pejalan kaki mau menyisihkan satu dua euro untuknya membeli roti isi di pagi hari. menikmati pasta-pasta yang dijual di sepanjang jalan, sambil menenggak sebotol soda. mendengar lonceng dari gereja tua di seberang sungai. membicarakan orang-orang yang tidak kita kenal lalu mentertawakannya sampai terpingkal-pingkal. ah... bagaimana Gabriel bisa membuat taman seindah ini. ataukah, hanya terasa begitu indah karena aku bersamamu.

ah seandainya.
seandainya saja imajiku ini nyata. aku bisa ada disampingmu ketika kau menuliskan bait-bait indah dalam suratmu itu, Pangeran.

aku sangat ingin disana saat ini. bukan. bukan hanya karena pemandangan yang pasti luar biasa yang membuatku iri. tapi sungguh, membayangkan ada di sampingmu yang membuatku ngeri.

aku begitu takut. takut waktu berlari teralu terburu hingga kembali memisahkan kebersamaan paling mesra. takut bila jemari kita tak bisa lagi saling menggegam dan malam kembali kelam. aku takut, bila aku dipaksa lagi menunggu hingga batas waktu yang tak tentu untuk kembali lenyap dalam kenikmatan mencumbumu.

Pangeran,
bilakah gugur nanti kita kan bersama meleburkan semua rindu?
entah. entah di bumi belah mana.
tak perduli, selama kau yang menduduki kursi kayu disampingku.

*

angin sudah bertiup lagi. sudah gelap lagi. aku duduk disini sejak sore tadi. di belakangku terdapat bangunan paling terkenal seantero Australia. gedung dimana berbagai opera dimainkan, berbagai lakon diperankan. aku tak tertarik menyaksikan. aku hanya butuh pijar lampu ini untuk menerangi sebagian kecil hatiku yang masih gelap. meskipun surat ini sudah ada di genggamku, namun aku masih inginkan adamu.

di depanku masih ada feri yang bergidik kesana-kemari. masih dengan lampu-lampu yang menghiasi. masih dengan para penumpang yang sedari tadi mondar-mandir. entah mabuk, entah memang sedang sengaja memamerkan pakaiannya yang bermerk mahal itu. entah. dan akupun tak ingin bertanya. aku tak perduli.

di penghujung malam kota Sydney, aku sendiri disini. menyaksikan bulan tersenyum seperti ia baru saja bertemu dengan kekasih hatinya. menikmati alunan musik klasik dari gedung opera, bersamaan dengan aku menikmati bintik rindu yang menggelitik di dalam lubukku. mengingat semua yang terjadi beberapa semi lalu. mengenang kembali senja yang temaram lalu berganti malam, di dekapmu.

esok hari, saat kita berjumpa lagi.
entah seperti apa cerita yang menghampiri.
tak perlu kau tanyakan tentang bara itu?
ia selalu menyala di perapian dalam rumah hatiku. tempat kusimpan segala tentang dirimu.

aku harus segera pulang, Pangeran.
aku tak ingin ditinggal kereta terakhir menuju tempatku tinggal.
ya, akupun masih harus berkutat dengan berbagai laporan, namun tak apa. biarlah aku gunakan sejenak untuk membaca sebuah surat.
surat yang sudah lima semi kutunggu. sejak saat aku menikmati dinginnya Hokkaido, menikmati Gugurnya Bern dan hingga kini, musim panas Sydney ku lewati
akhirnya, dan akhirnya aku menikmati bait-baitmu.

kini,
biarkan aku memimpikan,
kapan aku menikmati hadirmu?




**

Bogor, 6 Maret 2011.

Nadia pun tak mampu berkata, hanya seutas senyum penuh makna dalam perjalanan panjangnya menuju stasiun kereta, sambil digenggamnya surat dari yang tercinta.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks