Thursday, March 3, 2011

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari tadi merambati gelombang mikro penyambung getar suara kami.

"lupakan. Aku cuma mau telpon, bertanya kabar"
"kenapa bukan lewat sms saja? Lebih hemat."
"aku ingin dengar suara kamu aja"
"kenapa?"

Ah! Astaga! usiamu dua puluh tiga. Tapi kamu terus bertanya mengapa seperti bocah usia dua. Yang tak paham lihat benda asing. Atau memang selama ini kamu tak pernah paham? Hingga kamu terus bertanya mengapa? Atau malah, cita-citamu jadi dosen logika, semuanya harus dilandasi tanya kenapa?

Lalu, aku jadi bicara sendiri.
"memangnya aku paham?"

Ya, sungguh. Tak ada yang bisa kupahami dari sebuah kisah irrasional ini.
Katanya, aku cantik, menarik. Tapi lalu kenapa harus padanya mataku terus melirik? Menantinya setiap detik?

Untuk kembali memelukku erat.
Tanpa harus ada sesuatu yang membuat cerita ini dijalani dengan teralu berat.

Sudahlah, aku sedang ingin bersenang.
Mendengar celoteh menyebalkan darinya, menggodaku sampai marah dan nantinya, aku dibiarkan bermanja-manja.

"aku mau dipeluk.."
"mana bisa?"

Lagi-lagi. Sulit sekali membawamu pada sebuah imaji. Semu memang, tapi biar saja. Kali ini hanya itu yang kita punya. Anggaplah, aku ada dan biarkan tubuhku jatuh di bidang dadamu untuk sekian menit berikutnya kau dekap sampai aku terlelap.

"peluk aku"
"..."
"tolong, aku hanya butuh kau mengucapkannya, aku tahu, kita tak bisa saling mendekap. Tapi ucapkan, itu sudah membuatku lebih tenang"
"kemarikan, kudekap erat. Pejamkan matamu dan biarkan aku menemani dalam gelap"

Aku menghela nafas panjang. Kuhembus perlahan. Dia benci aku menangis. Maka, sebelum tetesan ini membanjiri, sebaiknya segera aku tepis.

Aku berbisik, lirih.
"cepat pulang, aku merindukanmu"

Di seberang sana,
seseorang dengan telepon genggam di tangan kanannya, memeluk guling sambil mengusap ujung matanya yang tiba-tiba basah.
Dan hatinya berkata, "segera. Karena aku juga tak lagi kuasa menahan rindu terasa"

Tanpa suara. Aku bisa merasakannya.

Tinggal sesaat.
Kita nikmati saja sisa-sisa pertahanan yang semakin sekarat.
Temani dulu aku sampai terlelap, dan biarkan kita saling mendekap.
Meski hanya di dalam benak.




**
Depok yang dingin,
8 feb 2011.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks