Skip to main content

imaji rasi-onal

"kamu selalu merasionalkan apapun yang aku lakukan ke kamu. Padahal sudah jelas-jelas, adanya rasa ini saja tidak rasional"

Dan kamu terdiam di seberang sana. Membenarkan apa yang baru saja saya ucapkan, tapi hanya dalam hati. Karena kamu tak akan pernah rela menyianyiakan kesempatan adu mulut hilang begitu saja. Tapi, saya rasa, dan kita ketahui berdua, itulah yang membuat rasa kita terus membara.

Setiap pertengakaran disengaja itulah yang menjadi bumbu sedap di setiap perjumpaan, juga disaat kita di jemput perpisahan. ya, setiap keributan itu yang membuat kita jadi saling merindukan. Tanpanya, kita hanya jadi sepasang mesra. Biasa.

Lalu, setelah beberapa jenak, kau bersuara.

"kenapa gak rasional?"

Kini, aku yang mendapat giliran dihinggapi kebisuan.
'karena kau miliknya, dan aku tahu itu. Tak seharusnya ada frasa 'kita berdua', ini sebuah dosa'
hanya hatiku yang bergumam.
Mulutku diam.

"kenapa?"
Lagi, dia bertanya dan memecah hening yang sedari tadi merambati gelombang mikro penyambung getar suara kami.

"lupakan. Aku cuma mau telpon, bertanya kabar"
"kenapa bukan lewat sms saja? Lebih hemat."
"aku ingin dengar suara kamu aja"
"kenapa?"

Ah! Astaga! usiamu dua puluh tiga. Tapi kamu terus bertanya mengapa seperti bocah usia dua. Yang tak paham lihat benda asing. Atau memang selama ini kamu tak pernah paham? Hingga kamu terus bertanya mengapa? Atau malah, cita-citamu jadi dosen logika, semuanya harus dilandasi tanya kenapa?

Lalu, aku jadi bicara sendiri.
"memangnya aku paham?"

Ya, sungguh. Tak ada yang bisa kupahami dari sebuah kisah irrasional ini.
Katanya, aku cantik, menarik. Tapi lalu kenapa harus padanya mataku terus melirik? Menantinya setiap detik?

Untuk kembali memelukku erat.
Tanpa harus ada sesuatu yang membuat cerita ini dijalani dengan teralu berat.

Sudahlah, aku sedang ingin bersenang.
Mendengar celoteh menyebalkan darinya, menggodaku sampai marah dan nantinya, aku dibiarkan bermanja-manja.

"aku mau dipeluk.."
"mana bisa?"

Lagi-lagi. Sulit sekali membawamu pada sebuah imaji. Semu memang, tapi biar saja. Kali ini hanya itu yang kita punya. Anggaplah, aku ada dan biarkan tubuhku jatuh di bidang dadamu untuk sekian menit berikutnya kau dekap sampai aku terlelap.

"peluk aku"
"..."
"tolong, aku hanya butuh kau mengucapkannya, aku tahu, kita tak bisa saling mendekap. Tapi ucapkan, itu sudah membuatku lebih tenang"
"kemarikan, kudekap erat. Pejamkan matamu dan biarkan aku menemani dalam gelap"

Aku menghela nafas panjang. Kuhembus perlahan. Dia benci aku menangis. Maka, sebelum tetesan ini membanjiri, sebaiknya segera aku tepis.

Aku berbisik, lirih.
"cepat pulang, aku merindukanmu"

Di seberang sana,
seseorang dengan telepon genggam di tangan kanannya, memeluk guling sambil mengusap ujung matanya yang tiba-tiba basah.
Dan hatinya berkata, "segera. Karena aku juga tak lagi kuasa menahan rindu terasa"

Tanpa suara. Aku bisa merasakannya.

Tinggal sesaat.
Kita nikmati saja sisa-sisa pertahanan yang semakin sekarat.
Temani dulu aku sampai terlelap, dan biarkan kita saling mendekap.
Meski hanya di dalam benak.




**
Depok yang dingin,
8 feb 2011.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…