Skip to main content

izinkan, berdua saja.

singkat saja.
perbincangan singkat lewat dunia maya di malam yang teralu berangin itu ternyata mengundang saya untuk tersenyum.
bukan pembicaraan apa-apa. hanya sapa.
tak lama jua, namun entah mengapa rasanya saya terus membayangkan wajahnya yang sederhana.

dibalut busana tidur biru yang agak kebesaran, dengan langit gelap menggantung di depan kamarku, dan koneksi internet yang tampak malu-malu karena kadang dia hadir, lebih seringnya sembunyi di balik alang-alang kemalang, aku terus sibuk mencari-cari kata, berharap agar tak lama lagi akan ada jawab dari tanya-tanya tak penting yang kuajukan demi hanya untuk mendapatkan sedikit saja atensimu. kamu masih asik bersama mereka, kadang kau sempatkan ucap sepatah dua patah, jawab tanya-tanya tak bermakna dariku.

meski lama, dan kantuk sudah mengajak aku mengencani kasurku, aku tetap setia. di balik degub jantungku yang sudah melonjak-lonjak tak keruan. menunggu sepatah selanjutnya di menit-menit berikutnya.

ini bukan pertama kali aku jatuh cinta.
sebelumnya, aku pernah setia.
tapi memang kisah hati tak bisa dibaca-baca apalagi di terka-terka.

cinta.
mungkin belum tepat jika aku bilang ini cinta.
sebut sajalah aku terkagum. membaca rangkai kata puitismu, melihat hasil keelokan alam yang kau abadikan dalam bingkai lensa. seolah bait dan potret memaparkan betapa elok jika kita bisa bersama membangun puisi kita dalam keindahan potret indah nirwana cinta.

izinkanlah. berdua saja.


jangan (lagi) ada orang ketiga.


***
Depok, 22 maret 2011
hey, kamu. orang baru.
terimakasih sapaan singkatnya tadi malam :)

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…