Thursday, March 3, 2011

kisah rindu di pelabuh

Hai sayang,
Lagi-lagi sebuah surat rindu.

Kini, bahkan aku sudah berpindah tempat berpijak, dan kau masih juga tak ada kata yang terucap. aku sedang di tepi pelabuh. Disini gaduh. Banyak sekali yang lalu lalang di depanku. Kau tahu? ini namanya pelabuhan sayang. Darling Harbour. Sungguh, memang sangatlah menawan, apalagi jika malam sudah datang. lampu-lampu itu sungguh membuat hati ditawan.
Dipinggirnya banyak resto, banyak gelato, banyak juga manusia-manusia bertato.
Tapi, mereka tak membuatku melotot, hanya sekilas saja. Sama seperti mereka yang juga sedari tadi lalu lalang di pelabuhan sayang. Hanya sekilas saja, sayang.

Sekilas saja.

mereka tentu tak perhatikan aku yang sudah tiga jam duduk di kursi yang sama, dengan bergelas minuman bersoda yang juga sama dari warung di samping pelabuh. Mereka tentu tak sadar bahwa aku disini hanya seorang diri diantara gaduh. tentu juga, mereka tak tahu bahwa di dalam sudut ini, tersimpan hati yang sedang mengaduh di pinggir pelabuh karena sudah bertahun aku masih menjejak kisah sama yang dipisah jarak.

Kini langit sedang tak galak. matahari tak mau lelah menyinari. Membuat aku, semakin tak ingin berlari dan tetap menyendiri.
Mengingat semua memori, yang sedikit2 lenyap termakan hari.. Atau seperti kisah ferri yang terus berputar kemana namun kembali di pelabuh yang sama.

Aku, yang sudah berpindah. Namun tetap hidup dalam satu kisah.

Bagaimana kamu disana?
Masihkah kau menantikan kita mencipta cerita?
Sekedar canda tawa?
Juga kisah manja.
Kabari aku, sayang.
Aku sudah mulai lelah menanti berita.. yang kini mulai menjadi derita.

**
anomali sydney, 12 januari 2011.

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks