Skip to main content

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sudahlah.

aku kembali menjejak detak detik yang rambatnya masih kurasa lambat.
tak ada kabar, apalagi mawar.

kini pasti kau sudah nyenyak.
malamku..
kembali hambar.

tak apalah,
Esok jua kau sudah akan segera berpisah lagi dengan si pengagum mawar.
dan aku,
tak lagi ditawan cemburu yang membakar.
hingga senyumpun dapat kembali ditebar.

kusimpan dulu mimpi tentang sang mawar,
mungkin esok, bila jua tak kudapati sekuntum, kupilih saja bunga bunga lain yang sedang ranum.
kali-kali, bisa membuatmu terkagum.


**

Depok, 4 maret 2011.
tengah malam yang hambar, tanpa harum mawar.

sesungguhnya,
karena tak ada kabar.

*kupeluk saja gulingku erat.
biarlah, esok juga aku lupa sesaat.
ya, aku mau bermimpi dulu.
siapa tau kutemui pangeran penuh rindu, bawakan aku mawar ungu.

selamat malam,
selamat menikmati bacaan. :)

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…