Friday, March 4, 2011

tentang mawar.

tinggal berapa lama?

detak detik di jamku rasanya lama sekali. meski aku tak butuh gelar sarjana untuk dapat tahu bahwa detik tak kenal tempat, ia akan begitu saja merambat.

Ah!
aku tak pernah santai jika kuingat kau sedang disana, pada sebuah ruang dan masa dengan dirinya. rasanya dadaku selalu disesaki sesuatu yang begitu besar, yang menghambat aliran nafasku, hingga aku seolah hampir mati tercekik.

Apalagi, ketika aku membayangkan senyum manisnya menyambutmu di pintu saat kau bawakan sebatang mawar merah yang hampir layu untuknya.
Tak peduli. Hampir layu pun tetap saja mawar namanya.
Lalu, mawar itu digenggamnya erat. berduri. Tapi ia juga tak peduli, tetap saja mawar namanya.

Mana mawar untukku?
sungguh. Tak adil rasanya bagiku. Aku yang menunggu-nunggu, tapi hanya dapat janji palsu.

Siapa aku?
ya, benar. siapa gerangan sosok tak pandai menawar ini?
aku hanya bisa bersolek, dengan sedikit luka hati yang tersobek.
dan sudah gitu, tak pula dijumpakannya dengan si penawar hati yang robek.

ya sudahlah.

aku kembali menjejak detak detik yang rambatnya masih kurasa lambat.
tak ada kabar, apalagi mawar.

kini pasti kau sudah nyenyak.
malamku..
kembali hambar.

tak apalah,
Esok jua kau sudah akan segera berpisah lagi dengan si pengagum mawar.
dan aku,
tak lagi ditawan cemburu yang membakar.
hingga senyumpun dapat kembali ditebar.

kusimpan dulu mimpi tentang sang mawar,
mungkin esok, bila jua tak kudapati sekuntum, kupilih saja bunga bunga lain yang sedang ranum.
kali-kali, bisa membuatmu terkagum.


**

Depok, 4 maret 2011.
tengah malam yang hambar, tanpa harum mawar.

sesungguhnya,
karena tak ada kabar.

*kupeluk saja gulingku erat.
biarlah, esok juga aku lupa sesaat.
ya, aku mau bermimpi dulu.
siapa tau kutemui pangeran penuh rindu, bawakan aku mawar ungu.

selamat malam,
selamat menikmati bacaan. :)

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks