Saturday, May 14, 2011

dua puluh satu

dua puluh satu.
sungguh, kurasa kau tak lagi sabar menunggu tuk kenakan baju pengantin putih dan ucapkan janji setia itu di hadapannya yang berbalut kain putih yang sengaja kalian cari-cari sebagai lambang nantinya kelak kau ingin ingat masa kalian mengikat hati.

dua puluh satu.
ketika aku sedang teronggok setengah mati.
mengingat jejak apa yang saja yang pernah terpijak di dulunya hari.
saat teerbitnya pagi. atau sampai dengan senyapnya bulan yang menyelimuti.

saat ricuhnya pelatar parkir yang dipenuhi pemusik muda, sambil jemari berkaitan satu dan lainnya, sambil berbicara hanya dengan lewat tawa yang tergugah karena lelucon tak penting kawan dan kerabat.

"kalian yang mesra", kata mereka seraya bersama kita.
kita. kau dan aku, bukanya dengannya.

dua puluh satu.
terbawa aku pada cinta yang dulu pernah ada.
pernah terucap bak tak terberaikan.

dulu, lidah kita saling mengikat.
kini, kaki-kaki kita menyengkat.




mengapa?
karena..
dua puluh satu.
dan kita bukan lagi menjadi siapa-siapa.



muda

hey anak muda,
sorot pupil dua mata saling tatap penuh asmara
katakata saling menggoda
jejari saling genggam
pandangi lilin yang terus menyala
meski bara mulai menghempas
dan redup cahaya mulai geragas

hey dua muda,
tidakkah kalian jera
untuk saling bertukar dusta?

jendelatua

Empat celah, belah dua masa
Terpatri kisah yang tak lelah menarinari diatas gelisah
Ada apa gerangan?
Dengan jendela tua yang mengukir kenang
dbaliknya cumbu mesra terbayangbayang

Ketika bulan menguning
bulat menggantung diantara hitam
ada sekelebat tentang kelam
Tapi secercah terang menyusup malam

Jendela tua berkacakaca
Menatap cinta, melangkah berdamping lara

*

nandasani.
april2011

Tuesday, May 10, 2011

Senja adalah Sahabat

sebuah senja yang merona di pelatar kampus saya.
cantik ya?


menatapnya meski sesaat
meski ia hanya datang dalam sekejap
kenangnya,
di benakku lah ia terlekat.

*




Oicha: Kisah yang Hampir Terlupa

Oicha, sudah lama tak menyapamu.
Apakabar kau disana, Oicha? Nampaknya kamu tak pernah lagi membiarkan cahaya mentari pagi merasuki jiwaku dan terus menyelimutimu dengan kelam malammu. Tak pula kau sematkan satu saja bintang meski kau taburkan kerlipannya di sekitaran lainnya, tapi tidak disini. Tidak disini. Dan tidak untuk hati ini.

Mengapa Oicha?
Nampaknya, kau jenuh aku singgahimu tiap waktu?
Mungkin kau juga sudah karam tak ingin lagi berbagi malam?
Bila siang sudah bukan ditakdirkan untuk kita genggam, apakah kini malam juga harus jadi pualam?

Sudah tanakkah kau kenal aku, Oicha?
Hingga kini kau lebih suka menyapa mereka yang masih muda dan belum mengerti tentang dunia?
Agar kau bisa bodohi dan tiduri mereka dengan sejuta kisah manja. Kisah-kisah yang justru kau buat dari cerita tentang kita di kala senja tiba.
Cerita tentang menunggu waktu dimana kita bisa saling menatap tajam apa-apa yang tersembunyi sepanjang siang dibalik mata-mata lelah, menebak-nebak misteri yang kita tak pernah bisa bagi pada sesiapa. Menerka apa saja yang tak terlihat, entah benar entah salah. Siapa peduli? Yang penting kita bisa saling berkelit lidah membuat basah gersang hati yang sudah mengering sepanjang hari.

Hanya malam yang kita punya,
Tapi kini, tak lagi ingin kau berbagi malam.
Dan tinggalah pekat dan bisu yang menyapa, tak ada lagi senyum manja
Apalagi gelisah ketika kita tak dikuasakannya saling mendekap dan hanya bisa menjiati malam dengan kata-kata selezat kue aram-aram dan janji yang terdengar seputih susu sapi yang baru terperah.
Hanya desah yang membuat ragu, apakah nafsu kan tertahan hingga esok
Kita terseok masa, mencaci dusta, dan kembali berbuat dosa.
Di sebuah malam. Sebuah malam berangin, tak berbintang, tak berbulan.
Tapi kita, tetap bermadu.


sumber: sayapbulanpurnama.blogspot.com


*suatu sore
10052011.
Ingat Oicha.

sebuah perjalanan: cerita dodol sang penulis

sudah lama ya tak bersastra?
iya, saya sedang sibuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang akan jadi syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa psikologi.. :p *a.k.a skripsi*

tapi tentunya, dalam membuat skripsi ini, saya juga mengalami berbagai proses yang asyik masyuk kadang bikin galau, bikin ripuh, bikin deg-degan, tapi seru lah. nah, di post ini, saya mau berbagi satu cerita yaa.. bahasanya siih ga nyastra.. bahasa nyantai kaya saya pake sehari-hari klo lagi gahul sama temen-temen saya..

tapi semoga insightnya bisa didapatkan oleh teman-teman blogger :D

---
Sebuah Perjalanan.

So, here we go.

Suatu hari, gue mau ambil data try out untuk alat ukur skripsi gue. So gue berangkatlah ke sebuah SLB di daerah lenteng agung. Gue naik angkot yang benar dan sampai dengan selamat di sekolah itu. ini juga karena udah kesitu sebelumnya, naik ojeg.. tapi tetep aja loh, pas kemaren gue kesana sendiri lagi, gue masih ragu apakah gue turun di tempat yang benar atau tidak. Tapi, yaudah yakin ajalah ya. Eh nyampe juga. Hoohoho. *bangga*

Naaaah, ternyata, sampe sana gue mendapatkan kabar gembira.. jadi sebenernya SLB ini tuh terdiri dari SD sampai SMA tapi terbagi jadi dua tempat, SMP sama SMA digabung, dan SD-nya misah. Rencana sebelumnya, hari itu gue memang akan mendatangi kedua sekolah tersebut untuk ngumpulin 50 guru. Namun, ternyata Allah lagi baik sama gue, tepat hari itu semua guru lagi kumpul di sekolah yang gue datengin, jadi gue cukup naro kuisioner disana dan dapatlah 40 orang guru. Yippieeee..

Seneng dong? Iyalah!

Urusan gue di slb X sudah selesai jam 8-an, wah gue mikir... mendingan gue pake waktu ini untuk ke SLB lain lagi, at least cari 10 guru lagi biar genap 50.

Maka, putuslah sebuah keputusan.. (apa deh??) gue akan ke sekolah yang ada di jalan jagakarsa.. deket kan tuh. Pasti ga akan nyasar dong. Yaiyalaaahh.. jagakarsa doang.. cetek bok.. orang seperti gue yang mana memiliki kemampuan spasial rendah aja pasti bisa kok nyampe jagakarsa.. *pongah*

Gue keluar dari sekolah X and catch 04 to pasar minggu. I know, for sure, where Tama Jakarsa is.. so, harusnya jalan jagakarsa gakan jauh-jauh dari situ.

Gue pun duduk tenang dan yakin bahwa hari itu gue akan sampai dengan selamat di sekolah Y berbekal pengetahuan letak universitas jagakarsa.

Setelah sekian menit dalam perjalanan dari lenteng agung, sampailah gue di depan univ tama jagakarsa... well, gue pasang mata baik-baik, mencari plang jalan bertuliskan.. “JALAN R. JAGAKARSA”.

10 meter dari universitas.. bukan jalan r. Jagakarsa

20 meter dari universitas.. masih bukan jalan r. Jagakarsa

30 meter..

40 meter..

50 meter.. gue mulai panik. *damn.. where am i going?”, tapi masih sok cool sok tenang sok tau arah dan tujuan

100 meter.. 200 meter.. makin galau, gak tau arah dan tujuan... dan akhirnya memutuskan menurunkan ego dan bertanya pada ibu2 yang duduk di sbelah gue..

Gue dengan sok imut dan manis: “bu, maaf.. kalo jalan r. Jagakarsa tuh dimana ya bu?”..

Ibu-ibu bertampang lempeng (leumpeung, datar, bukan lempeng, lempengan.. aahh gimana sih spellingnyaaaah??): “wah, gatau mba. Coba turun aja di pasar minggu ntar..”

Glek! Pasar minggu? Hmm, jauh juga ya? Haha. Tapi yasuda, gue nurut aja. Gue mikir, mungkin jalan jagakarsa ada deket2 situ. Klo gak ada, ya balik arah aja menuju univ tama jagakarsa. Singkat cerita, gue pun turun di pasar minggu. Dan memutuskan untuk nyebrang karena gue tau bahwa jagakarsa letaknya sebelum pasar minggu, gampangnya, gue kan tinggal muter balik.

Iya gak? Iyya dong.. cerdasss! :p

Maka setelah gue nyebrang, gue bertanya pada bapa2 tukang ojek.. eh tak dinyana.. pertanyaan “dimanakan jalan raya jagakarsa” bisa memicu terjadinya konferensi tukang ojek. J ada sekitar 5 tukang ojeg yang mengerubungi gue yang hari itu manis banget dengan kaos lengan panjang hitam polos dan syal warna gading kehijauan.. (bayangin deh tuh warna syalnya kaya gimana.. huahaha..). aih, intermezonya ga penting lagi deh.. setelah beberapa saat membuat bapak2 tukang ojeg itu bingung, gue memutuskan untuk nanya sama polisi aja.. biar aman.

Bapa polisi ada di seberang jalan, jadi gue nyebrang lagi. Bolak balik aja ngeksis kaya setrikaan.

Udah deh, ceritanya kepanjangan.. intinyaaa, gue akhirnya naik angkot yang dibilangin bapak polisi, tapi ternyata bapak polisi boong sama aku, dan aku dibuatnya nyasar.. masa mau ke jagakarsa, gue nyasar sampe PEJATEN dan TB. SIMATUPANG *buat yang gak tau jarak antara pejaten sama jagakarsa, apalagi tb simatupang sama jagakarsa, silahkan berhenti sebentar dan search di google!! Sumpah bok itu jauh banget.. lol!*

Ga penting cerita nyasarnya, soalnya itu cuma akan meyakinkan kalian betapa dodolnya gue. Tapi gue ingin mengambil sebuah insight dari perjalanan panjang gue ini.. (hazeeeegghh..)

Pernah gak sih berfikir, untuk terus aja jalan meskipun lo gak tau dimana tepatnya tujuan lo berada? Tapi lo cuma punya keyakinan, bahwa lo akan sampai di tujuan itu dengan bekal pengetahuan yang lo punya? Nah, itu yang gue alami kan. Sebenernya simpel aja, setelah gue melalui perjalanan muter-muter panjang keliling2 sampe mana tau, memakan waktu kurang lebih satu jam, tuker angkot sampe 4 kali, terus gue menemukan.. sekolah Y bisa dicapai hanya dengan waktu 15 menit dengan menggunakan satu kali angkot.. dari sekolah X! Tapi gue taunya ya ke jagakarsa adalah naik angkot 04 dan gue melakukan itu.. siapa yang tau bahwa salah naik angkot ini membawa gue pada perjalanan panjang dan pemikiran mendalam tentang kehidupan.. (bwihihihih...)

Tapiii.. seandainya, gue tidak melalui jalan panjang itu.. gue gak akan mengenal jalan menuju pejaten, gue gakan tau bahwa 17a muncul-muncul di TB simatupang, bahwa ada namanya daerah jati padang setelah kebagusan, bahwa ada banyak sekali hal kecil yang kita gak perhatikan karena hanya tau jalan besar.. padahal ada gang-gang juga ada kehidupan didalamnya. Dan itupun membuat gue berfikir.. betapa gue baru mengenal sangat sedikit dari daerah ini, padahal jakarta selatan tuh gedenya ampun-ampunan, apalagi keseluruhan kota jakartanya.. apalagi jawa baratnya, apalagi indonesia, apalagi bumi ini. Jadi pengen merefleksikan ini pada kehidupan.. well, gue berfikir gue sudah cukup tau banyak tentang kehidupan gue, 21 tahun cuuuyy.. lama banget tuu idup.. tapi ternyata.. mungkin gue baru tau jalan-jalan besarnya loh, masih kecil banget proporsi yang gue kenal, masih banyak hal asing yang belum gue ketahui, masih banyak tempat yang belum gue singgahi dan hal yang belum gue alami, masih banyak things out there that still been hidden from my sight, and maybe someday.. i’ll cover it.. on my own way.

Dan ketika gue nyasar.. gue berani terus berjalan meskipun gue masih belum tau tepat dimana letak tujuan gue. Tapi gue tetep punya tujuan. Thats kinda life thingy. Itukan idup, kita gak akan tau pasti what gonna happen tomorrow about our plans.. but still, we have to have something to reach. Meskipun lagi-lagi yang pasti di hidup ini adalah ketidakpastian.

Namun, meskipun menurut gue nyasar gue (yang agak kelewatan dodolnya itu) menghasilkan hal baik dalam diri gue, gak berarti untuk mencapai sebuah tujuan kita harus nyasar dulu.. akan lebih baik emang klo kita udah mempersiapkan segala sesuatunya sehingga perjalanan jadi lebih efektif dan efisien.. :p

Better to prepare everything, but if doesnt go smooth.. then dont be afraid to take a new way to reach a destination. Could be a such journey, though.. :p

Search This Blog

© Copyright by Buku Sastra Nanda | Template by BloggerTemplates | Blog Trick at Blog-HowToTricks