Skip to main content

Posts

Showing posts from May, 2011

dua puluh satu

dua puluh satu. sungguh, kurasa kau tak lagi sabar menunggu tuk kenakan baju pengantin putih dan ucapkan janji setia itu di hadapannya yang berbalut kain putih yang sengaja kalian cari-cari sebagai lambang nantinya kelak kau ingin ingat masa kalian mengikat hati.
dua puluh satu. ketika aku sedang teronggok setengah mati. mengingat jejak apa yang saja yang pernah terpijak di dulunya hari. saat teerbitnya pagi. atau sampai dengan senyapnya bulan yang menyelimuti.
saat ricuhnya pelatar parkir yang dipenuhi pemusik muda, sambil jemari berkaitan satu dan lainnya, sambil berbicara hanya dengan lewat tawa yang tergugah karena lelucon tak penting kawan dan kerabat.
"kalian yang mesra", kata mereka seraya bersama kita. kita. kau dan aku, bukanya dengannya.
dua puluh satu. terbawa aku pada cinta yang dulu pernah ada. pernah terucap bak tak terberaikan.
dulu, lidah kita saling mengikat. kini, kaki-kaki kita menyengkat.



mengapa? karena.. dua puluh satu. dan kita bukan lagi menjadi siapa-siapa.


muda

hey anak muda,
sorot pupil dua mata saling tatap penuh asmara
katakata saling menggoda
jejari saling genggam
pandangi lilin yang terus menyala
meski bara mulai menghempas
dan redup cahaya mulai geragas

hey dua muda,
tidakkah kalian jera
untuk saling bertukar dusta?

jendelatua

Empat celah, belah dua masa
Terpatri kisah yang tak lelah menarinari diatas gelisah
Ada apa gerangan?
Dengan jendela tua yang mengukir kenang
dbaliknya cumbu mesra terbayangbayang

Ketika bulan menguning
bulat menggantung diantara hitam
ada sekelebat tentang kelam
Tapi secercah terang menyusup malam

Jendela tua berkacakaca
Menatap cinta, melangkah berdamping lara

*

nandasani.
april2011

Senja adalah Sahabat

sebuah senja yang merona di pelatar kampus saya.
cantik ya?


menatapnya meski sesaat
meski ia hanya datang dalam sekejap
kenangnya,
di benakku lah ia terlekat.

*




Oicha: Kisah yang Hampir Terlupa

Oicha, sudah lama tak menyapamu.
Apakabar kau disana, Oicha? Nampaknya kamu tak pernah lagi membiarkan cahaya mentari pagi merasuki jiwaku dan terus menyelimutimu dengan kelam malammu. Tak pula kau sematkan satu saja bintang meski kau taburkan kerlipannya di sekitaran lainnya, tapi tidak disini. Tidak disini. Dan tidak untuk hati ini.

Mengapa Oicha?
Nampaknya, kau jenuh aku singgahimu tiap waktu?
Mungkin kau juga sudah karam tak ingin lagi berbagi malam?
Bila siang sudah bukan ditakdirkan untuk kita genggam, apakah kini malam juga harus jadi pualam?

Sudah tanakkah kau kenal aku, Oicha?
Hingga kini kau lebih suka menyapa mereka yang masih muda dan belum mengerti tentang dunia?
Agar kau bisa bodohi dan tiduri mereka dengan sejuta kisah manja. Kisah-kisah yang justru kau buat dari cerita tentang kita di kala senja tiba.
Cerita tentang menunggu waktu dimana kita bisa saling menatap tajam apa-apa yang tersembunyi sepanjang siang dibalik mata-mata lelah, menebak-nebak misteri yang kita tak pernah bi…

sebuah perjalanan: cerita dodol sang penulis

sudah lama ya tak bersastra?iya, saya sedang sibuk menuliskan sebuah karya ilmiah yang akan jadi syarat kelulusan saya sebagai mahasiswa psikologi.. :p *a.k.a skripsi*
tapi tentunya, dalam membuat skripsi ini, saya juga mengalami berbagai proses yang asyik masyuk kadang bikin galau, bikin ripuh, bikin deg-degan, tapi seru lah. nah, di post ini, saya mau berbagi satu cerita yaa.. bahasanya siih ga nyastra.. bahasa nyantai kaya saya pake sehari-hari klo lagi gahul sama temen-temen saya..
tapi semoga insightnya bisa didapatkan oleh teman-teman blogger :D
--- Sebuah Perjalanan.
So, here we go. Suatu hari, gue mau ambil data try out untuk alat ukur skripsi gue. So gue berangkatlah ke sebuah SLB di daerah lenteng agung. Gue naik angkot yang benar dan sampai dengan selamat di sekolah itu. ini juga karena udah kesitu sebelumnya, naik ojeg.. tapi tetep aja loh, pas kemaren gue kesana sendiri lagi, gue masih ragu apakah gue turun di tempat yang benar atau tidak. Tapi, yaudah yakin ajalah ya. Eh nyamp…