Skip to main content

Oicha: Kisah yang Hampir Terlupa

Oicha, sudah lama tak menyapamu.
Apakabar kau disana, Oicha? Nampaknya kamu tak pernah lagi membiarkan cahaya mentari pagi merasuki jiwaku dan terus menyelimutimu dengan kelam malammu. Tak pula kau sematkan satu saja bintang meski kau taburkan kerlipannya di sekitaran lainnya, tapi tidak disini. Tidak disini. Dan tidak untuk hati ini.

Mengapa Oicha?
Nampaknya, kau jenuh aku singgahimu tiap waktu?
Mungkin kau juga sudah karam tak ingin lagi berbagi malam?
Bila siang sudah bukan ditakdirkan untuk kita genggam, apakah kini malam juga harus jadi pualam?

Sudah tanakkah kau kenal aku, Oicha?
Hingga kini kau lebih suka menyapa mereka yang masih muda dan belum mengerti tentang dunia?
Agar kau bisa bodohi dan tiduri mereka dengan sejuta kisah manja. Kisah-kisah yang justru kau buat dari cerita tentang kita di kala senja tiba.
Cerita tentang menunggu waktu dimana kita bisa saling menatap tajam apa-apa yang tersembunyi sepanjang siang dibalik mata-mata lelah, menebak-nebak misteri yang kita tak pernah bisa bagi pada sesiapa. Menerka apa saja yang tak terlihat, entah benar entah salah. Siapa peduli? Yang penting kita bisa saling berkelit lidah membuat basah gersang hati yang sudah mengering sepanjang hari.

Hanya malam yang kita punya,
Tapi kini, tak lagi ingin kau berbagi malam.
Dan tinggalah pekat dan bisu yang menyapa, tak ada lagi senyum manja
Apalagi gelisah ketika kita tak dikuasakannya saling mendekap dan hanya bisa menjiati malam dengan kata-kata selezat kue aram-aram dan janji yang terdengar seputih susu sapi yang baru terperah.
Hanya desah yang membuat ragu, apakah nafsu kan tertahan hingga esok
Kita terseok masa, mencaci dusta, dan kembali berbuat dosa.
Di sebuah malam. Sebuah malam berangin, tak berbintang, tak berbulan.
Tapi kita, tetap bermadu.


sumber: sayapbulanpurnama.blogspot.com


*suatu sore
10052011.
Ingat Oicha.

Comments

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…