Skip to main content

Sabtu

Sabtu. Banyak orang lebih senangnya menyebutnya sebagai malam Minggu. Menjadikannya malam yang lebih istimewa dari malam-malam lainnya. Tak tahu darimana asalnya, siapa yang membuat Sabtu malam, atau malam Minggu menjadi sebuah momen berharga yang seharusnya dilewatkan dengan hal berbeda.

Untukku? Sama saja.

Malam Minggu hanyalah malam biasa yang akan aku lewati sama seperti malam senin, malam selasa, malam rabu, sampai dengan malam sabtu nantinya. Bedanya? hm. aku bisa tidur lebih larut karena aku tahu, esok aku tak harus terburu mendahului matahari menyapa bumi. Tak seperti hari lainnya dimana pukul setengah lima, aku harus menarik diriku dari kenyamanan paling murni. Mimpi. Ya, kurasa itulah satu-satunya yang membuat malam Minggu terasa lebih istimewa untukku.

Sabtu ini, adalah Sabtu kedua tanpa dirinya dan aku sudah merindukannya. Aku yakin, dia juga begitu, meskipun dia bahagia dengan yang dicintanya. Bukan lagi terpisah blok rumah, bukan dengan jalanan aspal yang sudah mulai bolong-bolong dan selalu aku protes setiap kali aku bertandang ke kediamannya, bukan lagi dengan kode telepon lokal-interlokal, bukan lagi dengan jarak ratusan kilometer dan kita maki karena bisa menahan perjumpaan kita. Rasanya beberapa Sabtu lalu, yang menjadi penghalang perjumpaan kita hanyalah macetnya ibu kota, jadwal gereja-mu, dan jadwal tidur siangku.

Sabtu ini,
dunia kita dibelah samudera.
jaringan internasional.
warna langit yang berbeda.
zona waktu yang terpaut berjam-jam dan menjadikan,
siang dan malam sama-sama bukan waktu yang mau bersahabat bagi kita.

Dulu, kau di Jakarta saja kita melempar sejuta alasan untuk menunda perjumpaan.
Kini... apalagi yang bisa dikatakan?
Aku mau menjalani masa yang terlewati di jalanan ibu kota, aku mau menunggumu berdoa pada BapakMu yang di syurga, aku rela tidur siangku tertunda, asalkan.. asalkan saja kita bertiga bisa kembali bertukar cerita seperti dulu kala.

***

Kurasakan kembali desir lima tahun yang lalu, di pertama kali kita saling bertemu.
Masih malu-malu dan mencoba menciptakan first impression terbaik. Tak usah dibantah, aku ingat aku gagal di menit kelima. BANG! begitu saja, aku merasakan nyaman yang terlalu bersama kalian berdua. Untung saja tak sempat aku bercerita mengenai kandasnya cinta remaja yang tak lama kemudian kalian tahu juga.
Kau sedang berpuasa saat itu, mukamu masih lugu, bicaramu begitu halus. aku tau, kau baik hati. Tidak seperti dia, yang parasnya secantik bidadari, tetapi ternyata lebih lincah daripada wajahnya yang ayu mendayu. Aku tak tau apa-apa tentang kalian berdua, dan tak pernah terbayangkan.. tahun-tahun berikutnya, sejuta cerita kita bagi. Apa yang tak kita lewati?

lima tahun.
masihkah kau ingat berapa banyak tawa yang kita bagi?
berapa banyak air mata yang kita lalui?
seberapa sakitnya ketika salah satu dari kita tersakiti?
bagaimana bahagianya ketika kita meraih mimpi?

life's go on.
you'll never be alone.




i miss us..


***

Sabtu.
Kita memang tak pernah bersama di Malam Minggu.
Tapi tak mengapa, malam minggu memang tak pernah istimewa.
Yang kurasa, selama empat tahun kemarin.. Senin sampai Jumat, kita bisa saling bercerita dan berbagi rasa.
Maka, malam minggu tak pernah istimewa, tanpa kalian berdua.






dedicated for my two bestest friends in my life..

Comments

  1. coretan pengalaman jiwa yang enak dan renyah dibaca...sangat mengalir...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

cerpen 6 halaman, 2nd part :)

selamat malaaaam, pembaca setia Buku Sastra.. :D

terima kasih atas doa dan dukungannya, akhirnya si cerpen 7 halaman yang beberapa waktu lalu sempat aku ceritakan, dan baru selesai di h-1 pengumpulan dan merupakan cerpen yang diikutkan dalam kompetisi menulis cerpen bertemakan travelling dari Mizan.. berhasil menjadi juara :D

hahhahha. saya senang sekali..
terima kasih.. bagi yang tertarik membaca, silahkan diunduh di link ini :)

hanya sementara

Aku sedang terduduk sendiri di kamarku. sambil terus mencoba merangkai kata bahwa aku sedang merindukanmu. tetapi entah mengapa, kini mulai sulit aku mencari padanan yang tepat. entah karena sudah teralu lama aku larut bersamamu, hingga hampir saja aku lupa apa rasanya merindukan dan bagaimana aku bisa menyampaikan kerinduan.

hatiku terasa kosong. terasa hampa. sejak kamu memutuskan untuk menjejak tanah di pulau yang lain, sejak kita hanya sebatas halo dan apakabar via gelombang canggih yang dinamakan telepon, sejak kamu tak lagi dapat kusentuh, hingga rupamu hanyalah berupa sebuah pigura tak bergerak.
Aneh.

Semua ini tidak pernah aku mengerti.
mengapa seolah dunia yang tadinya sudah kita bangun sempurna, harus kamu runtuhkan lagi. untuk kita belajar dari awalnya dan mencoba mengatakan pada diri kita masing-masing bahwa suatu hari nanti kita akan mengerti mengapa seperti ini yang terjadi.
mengapa kamu memilih untuk melangkah lebih jauh, dan mengapa aku memilih untuk menunggu?

cinta?

a…

puisi paralel - Nanda Sani & Galih Pandu Adi

kemarin sempet chatting bentar sama salah satu penulis dari komunitas yang tidak sengaja terbentuk di fesbuk, kalo sang suhu sih bilangnya "sastrawan facebook'. ya, jujur aja, udah hampir 2 bulan ini gw belum menghasilkan karya sastra apapun lagi.. tapi obrolan sama orang ini kemaren membuat gw menjadi menulis sebait2 rangkaian kata.. lalu kami setuju untuk nyoba bikin puisi paralel..

berikut cuplikan yang udah ada.. :)

“Tiga langkah. Cukup tiga langkah mundur yang sanggup membuat waktu seolah tak lagi bergerak maju. Stagnan. Memori itu mulai mengikatku, menjeratku. Kini aku menghadap lagi pada jerit-jerit luka. Luka yang pernah ada karena cinta. Lagi-lagi, menganga dan rasanya masih sama saja. Padahal tadinya aku piker, aku sudah mati rasa.” (Nanda Sani, 9 Febuari 2010)

“maka di kursi terasmu ini aku datang tanpa mengetuk pintu. Memilin jejak debu di lantai menjadi namamu juga riwayat yang sempat tercatat dari yang tanggal dan sempat tertinggal. Barangkali kita memang lelah men…